
Mendengar Mbara yang menghubungi Candra. Yulia dan Icha langsung berangkat ke rumah sakit secepatnya. Mereka melihat keadaan Naura yang semakin drop. Icha tidak ada henti-hentinya menangis. Dia menatap Naura dari kaca pintu sambil terus meneteskan air matanya.
"Bibi! Kakak, Bi," ucap Icha tidak kuasa melihat keadaan Naura.
"Naura pasti baik-baik saja. Kau tenang saja," ucap Yulia membujuk Icha.
"Apa kami boleh masuk, Dok?" tanya Candra melihat kepada dokter yang keluar dari ruangan Naura.
"Kalian boleh melihatnya, ayo," ucap dokter mempersilahkan.
Candra, Yulia dan Icha langsung masuk dan menatap Naura yang terbaring lemah. Icha langsung duduk di samping Naura lalu mengengam erat tangan Naura.
"Kak! kenapa kakak sangat suka tidur terus seperti ini? Tadi Kak Mbara juga mengatakan jika keadaan kakak semakin memburuk. Kenapa kakak terus seperti ini? apa kakak tidak menyayangi Icha lagi? apa kakak tidak perduli lagi dengan Icha?" ucap Icha menagis kesegukan sambil menciumi punggung tangan Naura.
"Apa kau tau jika Kak Raygan sudah sangat berubah karenamu. Dia tidak pernah lagi tersenyum. Bahkan dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar sambil memandang fotomu. Dia setiap hari menangis karena memikirkanmu. Apa kau tidak pernah memikirkan dia? apa kau tidak lagi mencintai dia? Jika kau mencintainya, cepat bangunlah. Kembalikan Kak Raygan yang dulu. Kembalikan senyumannya yang sudah lama menghilang," ucap Icha menangis kesegukan menangkup kan wajahnya di telapak tangan Naura.
Air matanya terus mengalir hingga memenuhi telapak tangan Naura. Hingga telapak tangan Naura menjadi basah karena air mata Icha. Namun, Tiba-tiba Icha merasakan tangan Naura yang bergerak. Tangan Naura seperti sedang kengelus wajahnya dan menghapus air matanya.
"Kak Naura!" ucap Icha ketika melihat mata Naura berlahan terbuka.
"Bibi, Paman! Kak Naura," ucap Icha tersenyum penuh kebahagiaan sambil memanggil Candra dan Yulia.
"Naura kau sudah sadar sayang?" tanya Yulia mendekati Naura.
"Ded cepat pangil dokter," ucap Yulia tersenyum bahagia.
Tidak mau membuang waktu Candra langsung menekan tombol darurat yang ada di ruangan itu. Mendengar suara tombol itu dokter dan suster langsung berlari ke ruangan Naura secepatnya.
"Dok! Kak Naura sudah sadar" ucap Icha melihat Naura yang berlahan membuka matanya.
"Di mana aku?" ucap Naura lirih sambil memperhatikan area sekitarnya yang terlihat masih remang-remang.
"Nyonya muda sudah sadar. Coba pejamkan matanya dan buka pelan-pelan," ucap Dokter sambil memeriksa keadaan Naura.
__ADS_1
Naura berlahan mengikuti arahan Dokter. Dia kembali memejamkan matanya dan membukanya secara berlahan. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia berlahan menatap semua orang yang ada di sana.
"Icha! Mana Ray?" tanya Naura menatap Icha dengan lekat.
"Kak Ray! Kak Ray sedang keluar sebentar," ucap Icha mengelus rambut panjang Naura.
"Ma! Pa!" ucap Naura kembali sambil menatap Candra dan Yulia.
"Ia, Sayang. Mama dan Papa ada di sini. Kau tenang saja ya. Raygan sebentar lagi akan datang," ucap Yulia tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Naura.
...----------------...
Doorr....
Arghhh....
"Kau sudah gila, Ray!" teriak Mbara mengangkat tangan Raygan, sehingga peluru yang ada di dalamnya tidak jadi menembus kepala Elisa.
"Arghh... sakit! Tolong," ucap Elisa merintik kesakitan.
"Apa! Naura sudah sadar?" ucap Raygan tersenyum penuh kebahagiaan.
"Benar! Dia sudah sadar. Dia sedang menunggumu," ucap Mbara dingin tanpa ekspresi.
"Terima kasih," ucap Raygan tersenyum lalu berlari keluar dari ruangan itu.
"Arghh... Tolong! Tolong bayiku," pekik Elissa menangis kesakitan.
"Tu... tuan!" teriak Mbara melihat darah yang mengalir dari kedua paha Elisa.
"Bawa dia ke rumah sakit. Selamatkan bayi yang ada dalam kandungannya," ucap Raygan dingin lalu kembali melangkahkan kakinya.
Dengan cepat Raygan masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar bertemu denga Naura. Dia berharap jika Naura benar-benar sadar dari kosannya dan bisa berkumpul kembali dengannya.
__ADS_1
...----------------...
"Apa kau tau kau sudah sangat sering menyakiti nyonya muda. Bukan hanya menyakiti fisiknya, tapi kau juga sudah menyakiti mentalnya berkali-kali. Aku tau apa alasanmu melakuka itu. Karena kau menganggap nyonya muda hanyalah wanita miskin yang akan menjadi benalu dalam kehidapanmu. Tapi tanpa kau sadari jika nyonya muda sebenarnya adalah nyonya muda Leonard," ucap Rocky tersenyum sinis sambil memainkan pistolnya tepat di depan wajah Rini.
"Kenapa? kau sekarang menyesal. Kau menyesal karena telah menyia-nyiakan berlian berharga, hanya karena demi mendapatkan sampah di pingir kali. Tapi sayang penyesalaanmu tidak ada gunanya. Karena aku tidak akan membiarkan kau mengusik kehidupan nyonya muda lagi. Aku juga tidak akan membiarkan putramu yang pecundang itu untuk menyakiti nyonya mudaku lagi," ucap Rocky tersenyum sinis karena melihat wajah pucat Rini.
"Kau salah! kau salah karena berani melukai nyonya mudaku. Sekarang waktunya kau mendapatkan balasan atas perbuatanmu," ucap Rocky menodongkan kepalanya tepat di kepala Rini.
Rini memejamkan matanya dan mulai pasrah akan nasibnya saat ini. Namun, melihat wajah pucat Rini, Rocky malah ingin bermain-main lagi dengan wanita tua itu. Dia tidak ingin Rini mati dengan mudah. Dia ingin Rini mati secara berlahan dan juga mengenaskan. Agar Rini tau bagaimana rasanya penderitaan Naura selama ini.
Plakkk....
Arghhh...
Pekik Rini ketika Rocky menpar wajahnya dengan kasar. Dengan sekali tamparan sudut bibirnya langsung robek dan mengeluarkan darah segar. Tidak puas dengan tamparan itu, Rocky kembali mencengkram wajah Rini dan menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Kau tidak akan bisa mati dengan mudah. Karena kematian tidak akan membebaskanmu dari cengkraman ku. Akan aku pastikan kau akan mati berlahan, hingga akhirnya kau yang akan memohon untuk kematianmu sendiri," ucap Rocky melemparkan kasar tubuh Rini ke sembarangan tempat.
"Tu... tuan!" teriak salah satu anak buah Rocky berlari mendekati Rocky sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanya Rocky mengerutkan keningnya binggung.
"Itu tuan! Nyonya muda sudah sadar. Para pengawal yang berjaga di rumah sakit menyuruh tuan untuk segera ke sana. Mereka juga sudah menghubungi Tuan Ronal," jelas pengawal itu tersenyum.
"Benarkah! nyonya sudah sadar," ucap Rocky tersenyum bahagia.
"Ia, Tuan. Lebih baik tuan segera ke sana," ucap anak buah Rocky tersenyum.
"Baiklah! kau awasi wanita ini. Jangan biarkan dia lolos," ucap Rocky tersenyum bahagia lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Sial! kenapa wanita itu bisa masih hidup sih," batin Rini kesal.
"Tapi ini adalah kabar bagus. Aku yakin jika aku memohon kepadanya dia pasti akan memaafkanku. Lagian selama ini aku selalu menyakitinya tapi dia hanya diam saja. Aku yakin kali ini juga sama," batin Rini penuh kelicikan.
__ADS_1
Bersambung....