
Naura menatap dekorasi yang sangat indah yang telah di siapkan Raygan. Taman yang ada di pingir kolam renang di penuhi lilin yang di tata dengan sangat indah untuk menerangi malam yang begitu gelap. Naura menatap makanan yang telah tertata rapi di meja makan sambil tersenyum haru.
"Ayo di makan! Apa kau tidak suka dengan menunya?" tanya Raygan melihat Naura hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Aku sangat suka. Apa ini semua kau yang menyiapkannya?" tanya Naura menatap lekat Raygan.
Mendengar pertanyaan Naura, Raygan hanya tersenyum kecil lalu menarik kursinya di samping Naura. Dia menatap lekat wajah Naura dan menyingkirkan ramput Naura yang menutupi wajah cantiknya karna hembusan angin malam.
"Lebih baik kau makan saja sekarang. Karna masih ada kejutan lain yang akan menantimu," ucap Raygan mulai menyuapi Naura.
"Ray! Aku bisa makan sendiri,"
"Kau bisa makan sendiri jika aku tidak ada di sampingmu. Jika kau melakukan apapun seorang diri lalu untuk apa diriku?" ucap Raygan sambil menyuapi Naura dengan lembut.
Melihat itu, Naura hanya bisa tersipu malu. Dia menerima setiap suapan yang diberikan Raygan dengan begitu lahapnya. Melihat Naura yang sekarang bisa tersenyum dengan lepas berlahan hati Raygan langsung merasa bahagia. Dia merasa sangat bahagia karena kini bisa menghujani Naura dengan kasih sayang dan juga kebahagiaan yang dia berikan.
"Menu penutupnya, Tuan," ucap Mbara membawa dua potong kue sebagai makanan penutup.
"Mbara! Kau," ucap Naura terkejut ketika melihat Mbara mengenakan pakaian pelayan.
"Dia memiliki begitu banyak bakat. Jadi, kenapa kita tidak mengunakan setiap bakat yang dia miliki," ucap Raygan tersenyum tanpa dosa.
Melihat tingkah Raygan, Naura hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan. Naura mencoba memakan kue yang ada di depannya sambil bercanda ria dengan Raygan.
"Sayang! Lihat itu," ucap Raygan ketika melihat bintang jatuh.
"Kau percaya hal itu, Ray?"
"Em! Tidak. Tapi apa salahnya jika kita mencobanya. Sekarang pejamkan matamu," ucap Raygan mengengam tangan Naura lalu memejamkan matanya.
Melihat itu, Naura langsung mengikuti Raygan. Dia memejamkan matanya lalu berdoa di dalam hatinya.
"Sudah?" tanya Raygan ketika melihat Naura membuka matanya.
"Sudah!"
"Kalau boleh aku tau kau meminta apa?"
"Hadiah!"
"Hadiah?" tanya Raygan mengerutkan keningnya bingung.
"Aku meminta kepada Allah agar segera memberikan hadiah atas semua cobaan yang aku lewati selama ini,"
"Doamu sudah di kabulkan," ucap Raygan tersenyum lalu memberi kode kepada para anak buahnya.
"Ini, Tuan," ucap Mbara memberikan kotak perhiasan kepada Raygan.
"Ray! Apa itu?" tanya Naura mengerutkan keningnya binggung.
__ADS_1
"Berlian yang indah untuk berlian yang sesunguhnya," ucap Raygan membuka kotak perhiasan yang berisi kalung berlian yang sangat indah.
"Ray!" ucap Naura dengan mata berkaca-kaca melihat semua pemberian Raygan kepadanya.
"Ini tidak seberapa, Sayang. Jika di bandingkan dengan dirimu," ucap Raygan lalu memasangkan kalung indah itu di leher jenjang Naura.
"Terima kasih," ucap Naura sambil menatap kalung yang kini telah melekat di lehernya.
"Jangan salahkan aku, jika aku menciummu karna kau mengucapkan kata-kata itu lagi," ancam Raygan.
"Terima kasih, Ray," ucap Naura mengulang kata-katanya.
Mendengar itu Raygan langsung tersenyum sinis. Dia menatap bibir mungil Naura lalu menempelkan bibirnya di sana. Raygan berlahan m*l*m*t bibir Naura dengan lembut. Naura yang menikmati itu langsung melingkarkan tangannya di leher Raygan.
"Sialan! mereka malah asik sendiri," gumam Mbara kesal melihat tingkah tuan mudanya itu.
"Hidupkan musiknya," ucap Mbara menyuruh pelayan untuk menghidupkan musik untuk Raygan dan Naura.
Mendengar musik sudah di mainkan Raygan berlahan melepaskan ciumannya. Dia berdiri dari duduknya lalu menjulurkan tangannya kepada Naura.
"Apa kau mau berdansa denganku?" tanya Raygan sambil menatap wajah Naura dengan lekat.
"Tentu saja," ucap Naura menerima sambutan tangan Raygan.
Mereka berdua berdansa bersama di bawah cahaya sinar rembulan yang sangat indah. Raygan berlahan memperet rangkulan tangannya di pinggang Naura sehingga jarak mereka menjadi sangat dekat. Naura yang merasakan hembusan napas Raygan berlahan merasakan ada gejolak yang berbeda pada tubuhnya. Namun, dia berusaha menahan diri karena bagaimanapun dia harus menjaga kehormatannya.
"Apa?"
"Apa sebelum aku, kau pernah memperlakukan wanita lain seistimewa ini?"
"Em!" ucap Raygan nampak berpikir.
Melihat itu Naura langsung memayunkan wajahnya kesal. Dia langsung menduga jika Raygan sudah bisa melakukan hal seromantis ini bersama wanita lain.
"Pernah. Tapi itu dulu. Sekarang aku berdansa dengan masa depanku," ucap Raygan tersenyum.
"Terima kasih?" ucap Naura tersenyum.
"Untuk apa?"
"Karna kau telah menjadikan aku sebagai masa depanmu. Mungkin aku bukan wanita yang pertama yang singgah di hatimu. Tapi aku berharap akulah wanita terakhir yang bisa tinggal menetap di dalam hatimu,"
"Pasti! Karna kau telah mengambil kunci pintu masuk ke dalam hatiku. Jadi tidak akan ada yang bisa masuk tanpa izin darimu,"
"Jika aku mengizinkannya, apa kau bersedia membuka pintu itu?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karna kau telah berhasil menguasai hatiku. Jadi, siapapun yang berusaha masuk ke dalam tidak akan bisa. Karena mereka tidak akan sama seperti dirimu," ucap Raygan kembali mencium bibir Naura.
Naura berlahan melingkarkan tangannya di leher Raygan lalu membalas aksi Raygan. Raygan yang melihat itu langsung merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa membuat Naura melupakan masa lalunya dan kembali membuka lembaran baru bersamanya.
"Akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu, Tuan. Semoga aku bisa segera menyusulmu, agar aku tidak menjadi obat nyamuk seperti ini terus," batin Mbara menatap Raygan dan Naura dengan penuh kebahagiaan.
Setelah selesai dinner bersama, Raygan dan Naura kembali ke mension secepatnya. Karna permintaan Yulia akhirnya, Naura kini tinggal di mension keluarga wilona bersama Icha. Dengan begitu Raygan menjadi mempunyai waktu yang banyak bersama Naura. Namun, Raygan tidak pernah melakukan hal di luar batas. Dia menjaga cinta suci mereka dengan sangat baik.
"Kakak! Kalian akhirnya pulang juga," ucap Icha langsung berlari untuk menyambut Naura dan Raygan.
"Memangnya ada apa? Apa kau merindukan ketampanan kakakmu ini?" tanya Raygan dengan pedenya.
"Pede amat sih," ucap Icha memutar bola matanya memelas.
"Jadi tidak? Lihat apa yang kurang dariku? Jika kau melihat aku tidak tampan. Berarti matamu itu perlu di perbaiki," ucap Raygan kesal.
"Enak saja! Kakak itu harus berkaca dulu,"
"Kenapa aku berkaca? aku bicara yang sebenarnya. Jika aku itu tampan,"
"Sudah! Apa kau tidak lelah? Istirahat sana," ucap Naura menderai perkelahian kedua sepupu itu.
"Baik, tuan putri," ucap Raygan menganguk patuh lalu melangkahkan kakinya meningalkan Naura dan Icha.
Namun, saat baru belangkahkan kakinya. Raygan kembali menghentikan langkahnya lalu menatap Naura dengan lekat.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah," ucap Raygan terseyum.
"Selamat malam," ucap Naura melemparkan senyuman indahnya.
Melihat itu, Icha memayunkan bibirnya kesal melihat Raygan yang mengumbar kemesraan di depannya.
"Ingat di sini ada jomblo," ucap Icha kesal.
Bukannya berhenti karna ucapan Icha, Raygan malah semakin menjadi. Dia kembali mendekati Naura lalu mencium kening Naura tepat di depan Icha.
"Woi! Aku ini manusia bukan setan," ucap Icha kesal.
"Apa kau lupa apa kata orang tua dulu, jika sepasang kekasih berduaan maka yang ketiga itu adalah?" tanya Raygan.
"Setan," ucap Icha dengan polos
"Berarti?" ucap Raygan tekekeh kecil.
"Kakak! Awas kau ya,"
"Ha...ha... Kabur,"
Bersambung......
__ADS_1