
Icha tersenyam-senyum sendiri di dalam kamarnya. Lamaran Mbara yang secara tiba-tiba membuat hatinya berbunga-bunga. Bahkan dia terus memeluk dan menciumi bunga pengantin pemberian Mbara.
"Ternyata yang Kak Naura katakan memang benar. Mengungkapkan cinta kepada Allah lebih menyenangkan. Akhirnya aku bisa mendapatkan cinta Kak Mbara tanpa harus merendahkan diriku," ucap Icha mengingat semua nasehat sang kakak.
"Tapi Kak Naura sedang apa ya?" gumam Icha bertanya pada dirinya sendiri.
Saat Icha sibuk berbicara pada dirinya sendiri tiba-tiba dia mendengar suara ketukan dari luar kamarnya. Penasaran siapa yang ingin menemuinya malam-malam seperti ini, Icha langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. Dia mengintip dari lobang kecil di pintu itu dan melihat Mbara yang sedang berdiri di luar.
"Kak Mbara!" gumam Icha berpikir lalu membuka pintu.
"Hai! kau belum tidur?" tanya Mbara gugup ketikan melihat Icha berdiri di depannya.
"Belum! memangnya ada apa?"
"Aku lapar! apa kau mau menemaniku keluar?"
Mendengar ajakan Mbara, Icha nampak berpikir sejenak.
"Tapi, hari sudah larut malam," ucap Icha melirik jam tangannya.
"Tidak apa-apa. Aku sekalian mau mengajakmu ke suatu tempat," ucap Mbara tersenyum.
"Apa Kak Mbara sudah menyiapkan kejutan romantis untukku?" tanya Icha dengan pedenya.
Mendengar tebakan Icha yang benar apa adanya, Mbara langsung mengeleng kecil. Icha memang bar-bar dan kekanak-kanakan jadi Mbara harus punya kesabaran yang tinggi untuk menghadapinya.
"Ayo! apa kau tidak mau melihat kejutannya?" tanya Mbara tersenyum.
"Tunggu!"
Brakkk...
Icha repleks menutup pintu dengan kuat sehingga membuat Mbara sontak terkejut. Mbara berusaha mengelus dadanya pelan lalu berdiri untuk menunggu Icha. Sedangkan Icha di dalam kamarnya langsung bersorak ria. Dia merasa sangat bahagia karena Mbara telah menyiapkan kejutan untuknya.
"Kak Mbara sudah menyiapkan kejutan untukku. Jadi aku harus tampil cantik," ucap Icha mulai membongkar isi kopernya.
__ADS_1
Dia mencari pakaian yang cocok untuknya dan mengenakannya secepat mungkin. Tidak lupa Icha juga mengihias wajahnya dengan make up agar Mbara terpesona akan kecantikannya. Setelah memastikan penampilannya telah sempurna Icha langsung keluar dan menemui Mbara.
"Kau sudah siap?" tanya Mbara menatap penampilan Icha dari atas sampai bawah.
"Bagaimana penampilanku? apa aku terlihat cantik?" tanya Icha memutar tubuhnya di depan Mbara.
"Cantik! kau sangat cantik," ucap Mbara tersenyum.
"Benarkah? ternyata aku cantik," ucap Icha tersipu malu.
"Bagaimanapun penampilanmu, kau akan terlihat sangat cantik di mataku. Itu semua karena aku mencintaimu. Karena cinta ini kau terlihat sangat cantik dan sempurna," ucap Mbara tersenyum.
Mendengar gombalan Mbara, Icha langsung tersenyum malu. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah merona.
"Ayo!" ucap Mbara menjulurkan tangannya kepada Icha.
Dengan senang hati Icha menerima tangan Mbara dan mengengamnya dengan erat. Mereka berjalan menelusuri koridor hotel sambil bergandengan tangan dengan mesra. Walaupun udara malam yang sangat dingin dan menusuk sampai ke tulang. Tidak membuat pasangan yang sedang di mabuk asmara itu menghentikan niatnya.
Sesampainya di mobil Mbara langsung membuka pintu untuk Icha. Melihat itu Icha langsung tersenyum lalu masuk kedalam mobil sambil tersenyum bahagia. Mbara langsung melindungi kepala Icha mengunakan tangannya agar tidak terbentur. Melihat perhatian kecil dari Mbara hati Icha langsung berbunga-bunga tidak karuan.
"Kau sudah siap?" tanya Mbara menatap Icha.
Icha dengan cepat mengangukkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat semangat Icha, Mbara langsung tersenyum kecil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mbara membawa Icha ke sebuah taman mini di pinggir kota.
Sesampainya di tempat tujuan, Mbara langsung menepikan mobilnya. Mata Icha langsung berbinar ketika melihat taman yang telah di terangi oleh cahaya lampu. Di tambah lagi dengan bantuan cahaya rembulan membuat suasana di taman itu menjadi sangat indah.
"Ayo!" ucap Mbara membukakan pintu untuk Icha sambil menjulurkan tangannya.
Dengan cepat Icha menerima sambutan tangan Mbara lalu turun dari mobilnya. Dari sana Icha dapat melihat di tengah-tengah taman itu, ada meja makan yang telah di hias dengan indah. Bahkan Icha dapat melihat beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Kak!" ucap Icha tersenyum haru.
"Apa kau suka?" tanya Mbara tersenyum.
"Aku suka!" ucap Icha sambil mengangukkan kepalanya. Tidak lupa dengan matanya yang berkaca-kaca penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Ayo!" ucap Mbara merangkul mesra pinggang Icha lalu membawanya memasuki taman itu.
Setelah sampai di meja makan, Mbara mendudukkan Icha. Setelah memastikan Icha duduk dengan nyaman, Mbara duduk di depan Icha. Tidak perselang lama datang dua orang wanita yang berpakaian ala pelayan. Mereka meletakkan beberapa jenis makanan di depan Icha dan Mbara.
Melihat makanan yang begitu banyak, cacing di perut Icha langsung bersorak ria. Mbara yang sudah paham betul dengan sifat Icha hanya tersenyum kecil. Dia menyuruh Icha untuk memakan makanan yang dia mau.
"Kau pasti lapar! ayo di makan," ucap Mbara tersenyum.
Mendengar ucapan Mbara, Icha langsung mengantuk kecil. Dia mengambil hidangan yang ada di depannya lalu menyantapnya dengan pelan. Icha menatap semua dekorasi yang telah Mbara siapkan dengan penuh haru. Suasana yang begitu tenang dan juga dokorasi yang sangat romantis membuat Icha merasa sangat bahagia.
"Apa kau suka?" tanya Mbara menatap Icha yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Aku sangat suka. Aku tidak menyangka jika ternyata kakak sangat romantis," ucap Icha menatap kagum Mbara.
"Demi orang yang kita cintai, kita akan rela melakukan apapun. Asalkan kita bisa melihat orang yang kita cintai bahagia," ucap Mbara tersenyum lalu menyodorkan sesendok makanan ke Icha.
Icha hanya tersenyum kecil lalu menerima suapan yang di berikan Mbara. Icha terus menatap kagum Mbara yang kini telah menatapnya, dan memperlakukannya dengan sangat istimewa. Padahal dulu Mbara selalu menghindarinya dan merasa kesal saat berada di dekatnya. Namun semuanya telah berubah, Mbara malah melamarnya dengan sangat romantis dan ingin hidup bersama dengannya.
Setelah selesai menyantap makanan mereka, Mbara berlahan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang telah dia siapkan. Dia berlahan bangkit dari duduknya dan menekuk satu kakinya di tanah. Mbara langsung membuka kotak perhiasan itu tepat di depan Icha.
"Apa boleh aku memasangkan cincin ini di jari manismu?" ucap Mbara mengengam tangan Icha.
Tidak mau membuang waktu Icha langsung menganguk dengan cepat. Sebagai kode jika Icha mengijinkannya. Melihat persetujuan dari Icha, Mbara langsung tersenyum bahagia. Dia memasangkan cincin itu di jari manis Icha, lalu mencium punggung tangan Icha dengan mesra.
"Apa kau mau berdansa?" tanya Mbara tersenyum.
"Tentu saja!" ucap Icha bangkit dari duduknya.
Mbara langsung melingkarkan kedua tangannya di pingang Icha. Icha dengan malu-malu melingkarkan kedua tangannya di leher Mbara. Melihat tingkah Icha yang malu-malu kucing, Mbara hanya tersenyum kecil sambil menatap wajah cantik Icha.
Mbara dan Icha berdansa bersama diiringi irama musik biola yang romantis. Keduanya menumpahkan semua kebahagiaan mereka, di bawah rembulan dan juga bintang-bintang yang menjadi saksi kebahagiaan keduanya.
Penantian dan doa Icha selama ini tidak sia-sia. Dia akhirnya mendapatkan cinta Mbara. Bahkan sebentar lagi hubungan mereka akan di bawa ke ikatan suci pernikahan. Semua cerita dan perjalanan hidup akan berakhir bahagia. Asalkan kita mampu menjalaninya dengan penuh keiklasan dan perjuangan.
Bersambung....
__ADS_1