
Rini dan Elissa menatap remeh Naura yang datang dengan membawa daftar menu di tangannya. Sedangkan Gabryel menatap kagum Naura yang kini terlihat semakin cantik saja. Wajahnya putih bersih dan memancarkan kebahagiaan. Tubuhnya semakin berisi sehingga membuat postur tubuhnya semakin indah.
Sangat beda dengan Naura yang dulu saat masih menjadi istri Gabryel. Dulu wajahnya Naura terlihat sedikit tua karna penuh tekanan dan juga tubuhnya yang sedikit kurus dan tidak terurus. Jujur saja Gabryel merasa sangat kagum dengan kecantikan Naura yang selama ini tidak dia lihat. Tapi, Gabryel berusaha menyembunyikan kekagumannya agar Naura tidak besar kepala.
"Maaf! Jangan buat keributan di sini. Kalian mau pesan apa?" ucap Naura berusaha tersenyum di depan mantan mertuanya dan juga mantan madunya itu.
"Baiklah, pelayan. Mana daftar menu ya." ucap Elissa tersenyum sinis sambil menatap penampilan Naura dari atas sampai bawah.
"Silahkan di lihat-lihat, Nyonya." ucap Naura tersenyum sambil meletakkan daftar menu di atas meja.
"Aku tidak menyangka jika kau lebih memilih jadi pelayan dari pada menjadi menantu Patrick." ucap Gabryel membuka suaranya.
"Saya memilih apa yang membuat saya senang. Untuk apa hidup di dalam kemewahan jika di jadikan seperti binatang. Lebih baik saya hidup dengan cara saya sendiri dan saya bebas melakukan apa saja yang saya mau." ucap Naura menatap Gabryel penuh dengan kebencian.
"Lagian bagus kau pergi dari kehidupan kami. Karna kepergianmu kami mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah. Aku harap suatu saat nanti kau tidak membuat ke sialan di keluarga pria lain. Karna dia harus menelan pil pahit tidak bisa memiliki keturunan karna dirimu yang mandul." ucap Rini tersenyum.
"Maaf! Anda bukan Allah yang bisa menentukan kehidupan seseorang. Jadi jangan asal bicara jika belum tau kepastiannya. Bisa-bisa anda malu sendiri karna ucapan anda." ucap Naura tersenyum sinis.
"Ternyata mantan menantu keluarga Patrick tidak punya etika dalam berbicara ya. Pantas saja kau di ceraikan oleh Gabryel." ucap Elissa dengan lantang berusaha untuk mempermalukan Naura.
"Maaf! Saya bicara tentang keyataan. Jadi saya tidak merasa jika saya tidak mempunyai etika bicara sama sekali." ucap Naura lantang.
"Apa begini pelayanan restoran ternama yang naik daun dalam sekejab?" ucap Rini lantang sehingga semua tamu restoran menatap ke arah mereka.
"Maaf! Kami sudah memberikan layanan terbaik kami. Jika kalian merasa tidak puas silahkan. Pintu keluar ada di sana." ucap Naura sopan.
"Dasar kau! Pelayan tidak tau diri. Masih jadi pelayan saja sombongnya minta ampun. Pasti semua orang yang dulu memujimu merasa sangat kecewa jika mereka tau sifat aslimu yang sebenarnya." ucap Elissa penuh amarah.
__ADS_1
"Saya tidak menyembunyikan apapun dari mereka tentang saja. Jadi jangan membongkar kedok anda sendiri di depan umum." ucap Naura tersenyum.
"Dasar kau! Saya sangat beruntung karna kau sudah berpisah dengan putra saya. Sudah miskin tapi tidak tau diri." ucap Rini menatap remeh Naura.
"Maaf! Saya yang lebih beruntung karna telah berpisah dengan putra anda. Saya sadar jika saya miskin tapi, setidaknya saya tidak miskin hati seperti anda." ucap Naura tetap terlihat tenang tanpa ada emosi sedikitpun.
Mendengar ucapan Naura emosi Rini semakin memuncang. Dia menghina Naura bahkan merendahkan Naura di depan umum. Tapi, Naura terlihat tetap tenang dan membalas ucapan mereka dengan penuh kesabaran.
"Dasar kau wanita sombong. Saya menyesal karna dulu sempat menjadi mertuamu. Jika dulu saya tau sifat aslimu saya tidak akan pernah menerimamu untuk masuk kedalam keluarga saya. Tapi, setidaknya saya masih beruntung karna kau sudah keluar dari keluarga kami dengan suka rela." ucap Rini menatap kesal Naura.
"Maaf! Saya yang beruntung karna telah keluar dari keluarga kehidupan putra anda. Tapi, jangan samakan saja dengan anda. Karna yang anda katakan barusan adalah cerminan diri anda. Jangan bongkar aib kalian sendiri di depan umum. Bisa-bisa kalian yang malu sendiri nantinya." ucap Naura tersenyum tipis.
"Cukup Naura! Apa seperti ini layananmu kepada tamumu. Jika pemilik restoran ini tau pasti kau dipecat sekarang juga." ucap Gabryel membuka suara.
"Maaf! Saya memberikan pelayanan sesuai karakter tamu saya." ucap Naura santai.
"Ada apa, Tuan." ucap salah satu pelayan memberanikan diri mendekati mereka.
"Apa kalian kenal siapa saya?" ucap Gabryel menatap tajam seluruh pelayan yang ada di sana.
"Anda adalah Gabryel patrick. Seorang pengusaha ternama di kota ini." ucap pelayan itu.
"Jadi, beginikah pelayan yang kalian berikan kepada kami?" ucap Gabryel tegas.
"Maaf, Tuan. Kami memberikan pelayanan terbaik kami kepada seluruh tamu kami." ucap pelayan itu.
"Pangil pemilik restoran ini sekarang juga. Beraninya pelayannya menghina kami. Jika kami mau kami bisa membeli restoran ini beserta seluruh pegawainya dengan sekejab." ucap Elissa penuh kesombongan.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Tidak semua bisa di beli dengan uang." ucap pelayan itu lantang.
"Memang berapa yang kalian inginkan untuk memberikan pelayanan terbaik untuk kami?" ucap Rini menatap pelayan itu penuh amarah.
"Apa anda tidak pernah mendapatkan pelayanan yang baik, sehingga anda menayakan harga pelayanan kami? Jika anda merasa tidak puas dengan pelayanan kami. Maka, silahkan cari restoran lain yang mampu memberikan pelayanan terbaiknya untuk kalian. Untuk harga pelayanan terbaik kami mohon maaf. Anda tidak akan bisa membelinya." ucap pelayan itu dengan tegas.
"Dasar kau!" teriak Rini mengeluarkan wajah aslinya dan mengangkat tangannya bersiap untuk menampar pelayan di depannya.
Dengan sigap Naura menangkap tangan Rini lalu menatapnya dengan penuh amarah. Kali ini perbuatan Rini sudah kelewat batas. Naura tidak akan tinggal diam jika karyawannya di perlakukan seperti itu di depannya. Berlahan ingatan Naura tentang perlakukan Rini dan Gabryel kembali terlintas di pikirannya.
"Jika anda ingin di hormati, maka hormatilah orang lain terlebih dahulu. Jika anda ingin di perlakukan dengan baik, maka bersikap baiklah kepada orang di sekitar anda terlebih dulu. Apa anda tau jika perlakukan orang kepada anda adalah cerminan dari sifat anda sendiri." ucap Naura menatap tajam Rini lalu menepis kasar tangan Rini.
"Jika anda tidak puas dengan pelayanan saya, maka silahkan keluar dari restoran saya sekarang juga. Karna kami masih banyak tamu yang harus kami layani. Maaf! Kami tidak punya waktu untuk melayani anda." ucap Naura tegas sehingga lembuat Rini dan Elissa tercengang dengan ucapan Naura.
"Kalian semua kembali ke pekerjaan kalian." ucap Naura kepada seluruh pegawainya.
"Baik, Nyonya." ucap semua pegawai Naura lalu kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
"Untuk apa kalian masih di sini? Apa perlu aku memangil penjaga untuk menyeret kalian keluar dari sini?" ucap Naura menatap Rini, Elissa dan Gabryel masih terdiam menatapnya.
"Jika kami tau ini adalah restoranmu. Kami tidak akan sudi menginjakkan kaki kami di sini." ucap Rini penuh kekesalan lalu menarik tangan Elissa untuk keluar dari sana.
"Terima kasih atas kunjungannya. Jangan kembali lagi ya." ucap Naura tersenyum menatap kepergian para orang sombong itu.
Dia menatap para tamu yang mengabdikan moment itu. Dengan sekejab berita itu menyebar luas dan mengemparkan seluruh penjuru kota.
"Kau tidak akan bisa menyembunyikan bangkai terlalu lama. Kalian boleh memfitnahku dan mengatakan yang tidak-tidak tentangku. Tapi, kalian juga yang akan mengungkapkan kebenarannya. Tanpa perlu merepotkanku." gumam Naura tersenyum sinis.
__ADS_1