Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 15


__ADS_3

"Mas! Aku bosen di apartement sendirian. Untuk sementara aku tingal di mension utama ya." ucap Elissa bersandar manja kepada Gabryel.


"Tapi, Naura tingal di sana, Sayang. Apa kalian tidak akan bertengkar nantinya?" ucap Gabryel.


"Tidak! Kau lihat sendirikan jika aku dan Kak Naura tidak pernah bertengkar. Bahkan dia merestui hubungan kita." ucap Elissa.


"Lagian jika aku tingal di sana kau tidak perlu kesana kemari lagi, Sayang. Kau bahkan bisa menemui kami kapanpun kau mau. Jika kau bosan dengan Kak Naura kau hanya perlu pindah ke kamarku saja." ucap Elissa berusaha meyakinkan Gabryel.


"Baiklah! Tapi, aku bicarakan dengan Naura dulu ya."


"Kalau begitu aku ikut. Kita meminta izin kepada Kak Naura bersama-sama."


"Tapi, Sayang."


"Pliss! Aku janji tidal akan membuat masalah dengan Kak Naura." ucap Elissa menyatukan kedua tangannya.


"Baiklah! Tapi, kau tidak boleh membuka mulut tanpa seizinku."


"Apa aku harus mengelem mulutku ini?"


"Bukan seperti itu, Sayang. Nanti ketika aku meminta izin dari Naura kau diam saja. Biar aku yang menyakinkan Naura sendiri." ucap Gabryel mencium gemas wajah Elissa.


"Siap, Komandan!" ucap Elissa memberi hormat.


"Kau memang pandai mengambil hatiku. Tapi, aku mau melakukan pemanasan terlebih dulu." ucap Gabryel menjajah tubuh Elissa dengan rakusnya.


...----------------...


Naura merendam dirinya sambil bermain air seorang diri. Dia bernyanyi sambil memainkan busa sabun di tubuhnya. Ntah mengapa hatinya langsung berbunga-bunga ketika mendapatkan misi terakhirnya. Naura terus tertawa bahagia sambil melayangkan senyuman indahnya sehinga membuat para pelayan yang melihatnya menjadi kebingungan.


"Bi, Nyonya muda kenapa? Sepertinya dia sedang bahagia? Apa tuan muda sudah menyadari kesalahan yang di lakukannya selama ini?" ucap para pelayan kepada Bi Tini.

__ADS_1


"Saya juga tidak tau. Mungkin nyonya sedang bahagia saat ini. Kalian tidak usah merusak moment bahagia nyonya. Sekarang kalian kembali bekerja saja." ucap Bi Tini menyuruh sumua pelayan untuk bubar.


"Semoga saja nyonya bisa selalu bahagia seperti ini ya. Nyonya orang baik, jadi dia pantas untuk bahagia." bisik-bisik para pelayan sambil kembali mengerjakan tugas mereka.


Mendengar ucapan para pelayan itu, Bi Tini hanya membuang napasnya pelan lalu menatap ke arah kamar Naura sambil tersenyum. Dia berharap semoga Naura terus bahagia seperti ini.


Setelah selesai merendam dirinya Naura membersihkan tubuhnya dengan air bersih. Dia menatap wajahnya di pantulan cermin sambil tersenyum bahagia.


"Akhirnya jalan kemenanganmu telah terbuka lebar, Naura. Waktunya kau buktikan siapa dirimu yang sebenarnya. Sudah cukup mereka menghinamu dan memperlakukanmu layaknya seekor binatang. Sekarang waktunya kau bangkit dan tunjukkan kepada mereka jika kau bukan Naura yang mereka kenal." ucap Naura tersenyum sinis sambil memancarakan aura kemarahannya yang selama ini dia pendam.


Naura melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju lemarinya dan mengenakan gaun terbaiknya. Bukan hanya itu, dia juga mengumpulkan semua pakaiannya dan meletakkannya kedalam koper. Setelah memastikan semuanya telah tersimpan dia duduk di meja riasnya untuk merias wajahnya.


Naura mengoleskan make up tipis di wajahnya sambil tersenyum kecil. Dia membuka laci dan mengambil sebuah amplop yang dia simpan di dalam sana.


"Waktunya melakukan misi terakhirku." ucap Naura tersenyum lalu bangkit dari duduknya.


Dia menarik kopernya keluar dari kamarnya sambil tersenyum bahagia. Kebetulan saat Naura ingin keluar dari pintu utama tiba-tiba Gabryel memasuki pintu urama bersama Elissa. Gabryel langsung membulatkan matanya ketika melihat Naura membawa koper dan juga berpenampilan sangat rapi.


"Aku mau berlibur untuk merayakan kebebasanku. Jadi, aku tidak perlu mengatakannya kepadamu." ucap Naura tersenyum sinis.


"Maksudmu apa, Sayang?" ucap Gabryel kebingungan.


"Ini hadiah untukmu. Maaf karna aku terlambat memberikannya." ucap Naura memberikan amplop yang ada di tangannya kepada Naura.


Dengan penuh kebingungan Gabryel membuka amplop itu. Gabryel membulatkan matanya terkejut ketika melihat isi amplop itu adalah surat pangilan dari pengadilan.


"Selamat! Kau berhasil menempati posisiku sebagai Nyonya Muda Patrick. Apa hadiahku menyenangkan hatimu?" ucap Naura meneluk Elissa.


"Terima kasih karna mau mengantikanku untuk berada di sangkar emas ini. Aku harap kau kuat dan bisa bertahan untuk menghadapi semuanya dengan lapang dada. Sesuatu yang kau lihat indah belum tentu selamanya indah. Kau baru bisa mengetahui kebenarannya ketika kau yang menjalaninya sendiri." bisik Naura di teliga Elissa sambil tersenyum kecil.


Mendengar ucapan Naura, Elissa hanya mampu terdiam sambil menatap Naura penuh kebingungan. Setelah mengucapkan isi hatinya kepada Elissa, Naura kini beralih ke Gabryel. Dia menatap wajah tampan Gabryel sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Terima kasih untuk semua hari-hari yang kulewati selama ini. Terima kasih karna kau mengajariku bagaimana kerasnya hidup di dunia ini. Mungkin jika bukan karna dirimu aku tidak akan mampu berdiri tegar seperti sekarang ini. Kau jangan pernah takut jika aku melupakanmu karna, dirimu dan juga semua perbuatanmu telah tersimpan dengan rapi di memori otakku." ucap Naura tersenyum tanpa ada raut kesedihan sedikitpun.


"Dan sekarang waktunya aku mengucapkan selamat tingal kepadamu. Selamat tingal suamiku. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu." ucap Naura mencium bibir Gabryel lalu kembali menarik kopernya.


"Apa kau mengancamku?" ucap Gabryel menahan legan Naura.


"Tidak! Aku tidak mengancammu. Aku hanya ingin hidup bebas dengan pilihanku sendiri. Sekarang nikmatilah hidupmu bersama wanita pilihanmu." ucap Naura melepaskan gengaman Gabryel lalu melangkan kakinya kembali.


"Jika sekali saja kau melangkahkan kakimu keluar dari mension ini. Jangan harap kau bisa kembali lagim" ucap Gabryel penuh amarah sambil menatap pungung Naura.


Mendengar ucapan Gabryel, Naura menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Gabryel.


"Maaf! Aku tidak takut dengan ancamanmu. Karna aku tidak akan mau menyianyiakan kesempatan emas yang datang kepadaku." ucap Naura kembali melangkahkan kakinya.


Saat melangkahkan kakinya keluar dari mension Gabryel, Naura merasa sangat senang. Dia menghirup udara kebebasannya sambil tersenyum bahagia.


"Aku bebas!" teriak Naura penuh kebahagiaan sambil melangkahkan kakinya meningalkan perkarangan mension Gabryel.


"Apa istri pertamamu itu sudah gila? Apa mungkin dia salah minum obat?" ucap Elissa penuh kebingungan ketika melihat Naura pergi dari mension dengan penuh kegembiraan.


"Mungkin dia sedang tertekan. Aku yakin dia pergi hanya untuk menenangkan dirinya. Setelah itu dia akan kembali lagi dengan suka rela. Dia tidak mungkin bisa hidup di kota yang kejam ini seorang diri dan tanpa uang." ucap Gabryel tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya memasuki mension sambil merangkul mesra Elissa.


Sesampainya di taksi yang dia pesan, Naura menatap mension Gabryel yang begitu luas dan megah. Semua penderitaan yang dia alami di dalam sana kembali terlintas di ingatannya.


"Selamat tingal masa lalu, selamat datang masa depan." ucap Naura tersenyum sinis.


Naura telah berhasil melakukan misinya dengan baik. Mulai dari yang mudah dan juga yang sangat sulit dan di luar pikirannya. Tapi, misi terakhirnya memberikan kebahagiaan yang berlimpah kepadanya. Di mana dia harus mengucapkan selamat tingal kepada Gabryel dan kembali membuka lembaran baru di kehidupannya.


Dari misi itu Naura menjadi tau jika ingin mendapat kebahagiaan maka, dia harus melewati semua rintangan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada yang mudah di dunia ini, semuanya membutuhkan proses untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Pada intinya kesabaran dan keikhlasan adalah kunci dari sebuah keberhasilanmu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2