
Dengan sekali tamparan Elisa langsung jatuh tersungkur di lantai, dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Dia menatap Raygan yang berdiri di depannya dengan raut yang sangat menakutkan. Bahkan semua pengawal yang ada di sana langsung tercengang dengan perbuatan Raygan.
Tuan muda mereka yang selalu menghormati wanita, bahkan tidak pernah meninggikan suaranya kepada wanita kini telah mengangkat tangannya kepada Elisa. Bahkan Raygan tidak memperdulikan keadaan Elisa yang sedang hamil besar. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menghukum Elisa karena telah berani menyakiti Wanitanya.
"Katakan di mana Naura?" tanya Raygan berjongkok di depan Elisa dengan raut wajahnya yang memancarkan kemarahaan yang sangat besar.
"A... aku tidak tau!" ucap Elisa ketakutan.
Mendengar ucapan Elisa, Raygan langsung tersenyum sinis. Dia menatap Elisa dengan tatapan tajam tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Dia tidak akan membiarkan Elisa lolos begitu saja.
"Kau tidak tau? lalu apa yang kau tau? Ha!" teriak Raygan sehingga membuat Elisa langsung menangis ketakutan.
Nyalinya tiba-tiba menghilang ntah kemana. Mulutnya yang sedari tadi terus mengoceh kini hanya mampu gemetar ketakutan. Dia meremas tangannya tidak berani menatap wajah Raygan. Bibirnya yang robek akibat tamparan Raygan tak terasa sakit sedikitpun. Karena ketakutannya jauh lebih besar daripada rasa sakit wajahnya.
"Katakan! dinamana Naura?" ucap Raygan mencengkaram kasar wajah Elisa.
"A.. aku tidak tau. Setelah mama menyuruh para pembunuh bayaran itu, mereka juga ikut menghilang bersama Naura. Aku tidak tau apapun lagi setelah itu. Bahkan mama juga menghilang tanpa kabar sejak semalam," jelas Elisa sambil gemetar ketakutan.
Plakkk...
Satu tamparan kembali mendarat di wajah Elisa. Tidak puas dengan itu Raygan langsung menjambak kasar rambut Elisa.
"Kau jangan berbohong. Aku tau kau pasti tau sesuatu," teriak Raygan.
"Aku... aku tidak berbohong. Aku tidak tau Naura ada di mana," ucap Elisa menangis sambil memegang tangan Raygan.
"Tuan! sepertinya dia tidak berbohong. Kami sudah mencari keberadaan Rini, tapi dia juga menghilang sejak semalam. Bahkan Ronal juga menghilang di waktu yang sama saat nyonya menghilang," ucap Mbara tiba-tiba datang.
"Apa kau sudah menghubungi Gabryel?" tanya Raygan menatap datar Mbara, sambil melepar kasar tubuh Elisa.
__ADS_1
"Su.. sudah, Tuan. Tapi nomornya tidak dapat di hubungi," jelas Mbara menunduk tidak berani menatap wajah menyeramkan Raygan.
Arghhh....
Bughh...
Teriak Raygan frustasi dan melayangkan tinjunya ke dinding sebagai pelampiasan amarahnya. Dengan seketika dinding yang tadinya berdiri kokoh kini sedikit retak dan di aliri darah yang keluar dari tangan Raygan. Melihat aksi gila Raygan, Elisa langsung menangis kesegukan membayangkan bagaimana nasibnya setelah ini.
"Tuan! ponsel anda," ucap Mbara memberikan ponsel Raygan yang berbunyi.
Raygan menatap ponselnya. Dia menatap layar ponselnya yang sedang berbunyi karna pangilan dari pria mistirius yang selalu menghubunginya. Dengan cepat Raygan menekan tombol hijau lalu meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo!" ucap Raygan datar tanpa ekspresi.
"Jika kau ingin bertemu Naura? maka datanglah ke rumah sakit xxx. Dia menunggumu! Nanti akan ada anak buahku yang menunggumu di depan rumah sakit itu," ucap pria mistirius itu lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Kurung dia! jangan biarkan dia lolos. Jika perlu jangan beri dia makan dan minum," perintah Raygan kepada seluruh pengawalnya yang bertugas menjaga Elisa.
"Jika dia berani menyakiti wanitaku tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Untuk apa aku perduli kepadanya? Jika perlu lemparkan saja dia ke perkarangan buaya bersama bayi yang ada di dalam kandungannya," ucap Raygan tanpa ada belas kasihan sedikitpun.
"Kau sudah gila! jika Naura tau tentang ini pasti dia akan sangat kecewa kepadamu. Aku tau wanita iblis ini bersalah. Tapi pikirkan bayi yang tidak berdosa yang ada di dalam kandungannya. Apa kau tega, menghilangkan nyawa bayi yang belum menghirup udara dunia walaupun sedetik saja? Setidaknya beri keringanan untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Setelah bayi itu lahir kau boleh menghukum wanita ini semaumu," ucap Mbara menatap Raygan dengan tatapan penuh kecewa.
"Kau lakukan saja apa yang kau mau," ucap Raygan menatap tajam Mbara lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Mendengar ucapan Raygan, Mbara hanya mampu membuang napasnya kasar. Dia menatap punggung Raygan yang berlahan menjauh dengan tatapan penuh rasa iba. Dia tau apa yang di rasakan Raygan saat ini. Terpisah dengan orang yang paling kita cintai memanglah sangat menyakitkan. Bahkan mereka tidak tau bagaimana keadaan Naura saat ini.
"Kurung dia. Jangan biarkan dia lolos. Kalian harus perhatikan keadaan bayinya. Jika ada tanda-tanda dia mau melahirkan segera hubungi aku," ucap Mbara.
"Baik, Tuan," ucap para pengawal itu mengantuk patuh.
__ADS_1
"Ayo!" ucap para pengawal itu menyeret tubuh Elisa kembali ke ruangan gelap itu.
"Naura! dimana kau? cepatlah kembali. Karena hanya kau yang bisa mengendalikannya saat ini," gumam Mbara menatap langit-langit sambil terus berdoa demi keselamatan Naura.
Raygan meningalkan rumah yang dia jadikan tempat untuk menyekap Elisa dengan penuh kekesalan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang di katakan pria mistirius itu. Tangannya yang terluka dan terus mengeluarkan darah di biarkan begitu saja.
Dia tidak perduli dengan keadaannya saat ini, yang ada di pikirannya hanyalah cara untuk bertemu Naura. Rasa cintanya kepada Naura yang sangat besar membuatnya menjadi hilang kendali. Dia tidak perduli dengan apapun lagi selain Naura, Naura dan Naura. Bahkan semenjak menghilangnya Naura dia tidak pernah lagi berbincang hangat dengan keluarganya.
Yulia dan Candra yang paham dengan keadaan putra mereka, hanya mampu menatapnya dengan penuh rasa iba. Mereka terus berdoa agar Naura cepat kembali berkumpul dengan mereka. Karena hanya itu cara agar Raygan bisa kembali seperti Raygan yang dulu lagi.
Sesampainya di rumah sakit Raygan langsung menepikan mobilnya. Dia menatap bangunan yang di penuhi orang-orang yang berlalu lalang dengan tatapan nanarnya. Hingga akhirnya mata Raygan tertuju kepada seorang pria berbadan tegap dan di baluti jas rapi. Raygan berlahan melangkahkan kakinya mendekati pria itu lalu menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Dimana Naura?" tanya Raygan dingin sambil menatap tajam pria itu.
"Nyonya muda ada di dalam. Ayo ikut aku," ucap pria itu melangkahkan kakinya menelusuri koridor rumah sakit.
"Nyonya muda? maksudnya apa?" gumam Raygan binggung lalu mengikuti langkah pria itu.
Jantung Raygan langsung berdetak kencang ketika melihat pria itu membawanya ke ruang ICU. Pikiran Raygan langsung melayang ke mana-mana. Dia tidak bisa membayangkan jika yanga ada di ruangan itu adalah Naura.
"Silahkan masuk!" ucap pria itu mempersilahkan.
Tanpa berpikir panjang, Raygan langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Matanya langsung membulat ketika melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah di atas bangsalnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya di penuhi alat medis sehingga membuat Raygan tidak sanggup lagi membendung air matanya.
"Naura! sayang. Kenapa kau seperti ini? Katakan kepadaku, siapa yang berani membuatmu sampai seperti ini, Sayang," ucap Raygan langsung memeluk Naura dan menangis histeris.
"Tanganmu terluka! aku mohon obatilah. Aku yakin jika nyonya muda melihat itu, pasti dia tidak akan suka," ucap seorang pria memegang punggung Raygan.
"Kau!"
__ADS_1
Bersambung.....