
Naura dan Raygan telah berdiri di atas altar pernikahan. Naura bersiap-siap untuk melemparkan bunga pernikahan kepada para jomblo yang telah mengantri di belakangnya. Namun, saat hitungan ketiga Naura malah tidak jadi melemparkan bunga itu.
Dia memberikan bunga itu kepada Mbara yang berdiri tidak jauh dari mereka. Melihat kode dari Naura dan Raygan, Mbra dengan cepat berlari mengambil bunga itu dari tangan Naura. Mbara langsung menghampiri Icha di gerombolan para jomblo itu. Mbara menemukan satu kakinya di lantai lalu mengengam tangan Icha.
"Kau!" ucap Icha gugup sambil menatap ke semua tamu yang melihat mereka.
"Icha! maaf karena selama ini aku tidak pernah melihatmu. Maaf, karena aku tidak pernah mengangap kehadiranmu. Tapi setelah kau menjaga jarak dariku, aku menjadi sadar jika aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku baru sadar jika selama ini aku mencintaimu," ucap Mbara menatap lekat wajah Icha.
"Icha! maukah kau menikah denganku. Aku tau aku hanya karyawan dari pamanmu. Tapi aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Aku akan selalu ada di sampingmu dan aku akan menjalankan tugasku sebagai suami dengan baik. Aku mohon terimalah lamaranku," ucap Mbara kembali sambil menyodorkan bunga pengantin kepada Icha.
"Terima... Terima..." teriak Raygan bersorak dari altar pernikahan, di ikuti oleh para tamu lainnya.
"Ia! aku menerima lamaran kakak," ucap Icha tersenyum malu sambil mengigit kukunya.
"Apa! kakak tidak dengar," ucap Mbara tersenyum kecil.
"Ia! aku mau jadi istri Kak Mbara," ucap Icha dengan lantang sehingga membuat semua orang bersorak bahagia.
"Terima kasih," ucap Mbara menitikkan air mata kebahagiaannya.
Saat Mbara bangkit dan berdiri di depan Icha, Icha langsung melompat kedalam pelukan Mbara. Mbara dengan sigap menangkap tubuh Icha lalu memeluknya penuh kebahagiaan. Mbara mengendong tubuh Icha lalu memutarnya penuh kebahagiaan.
Icha langsung menyatukan keningnya dengan kening Mbara dan melingkarkan kedua tangannya di leher Mbara. Sehingga Mbara dapat merasakan deru napas Icha yang menembus kulit wajahnya. Mbara menatap wajah cantik Icha yang terlihat jelas dari dekat sambil tersenyum.
"Apa aku bilang. Kakak pasti akan jatuh cinta kepadaku. Kakak saja yang sok jual mahal," ucap Icha tersenyum sambil mencubit hidung mancung Mbara.
"Kau benar! maaf karena kakak terlalu keras kepala," ucap Mbara tersenyum.
"Ehem! ternyata benar, jika orang sedang kabaran maka dia akan mengangap dunia ini miliknya berdua. Sedangkan kami semua hanya mengontrak," dehem Candra menatap tajam Mbara.
"Eh! tuan besar," ucap Mbara terkekeh kecil lalu menurunkan tubuh Icha.
__ADS_1
"Paman! paman menggangu acara saja. Jika paman mau, lakukan saja sama bibi," ucap Icha memasukkan bibirnya kesal.
"Eh ini mulut! gak boleh seperti itu," ucap Mbara memukul kecil mulut Icha.
"Apa acara lamarannya sudah selesai? Kami sudah menunggu acara lain," ucap Raygan membuang napasnya pelan.
"Gak tau apa, jika aku mau malam pertama," gumam Raygan kesal.
Mendengar ucapan Naura yang berdiri di sampingnya langsung menunduk malu. Walaupun hanya gumaman tapi Raygan berbicara cukup keras, sehingga semua orang dapat mendengarnya.
"Ehem! ternyata ada yang gak sabaran. Sudah kita lanjutkan saja acara yang selanjutnya," ucap Mbara terkekeh sambil mengoda Raygan.
"Ray!" ucap Naura tersipu malu sambil mencubit kecil perut Raygan.
"Aw! sakit sayang. Tapi yang akau katakan benar apa adanya. Memangnya kau tidak mau," ucap Rayga mengoda Naura sambil menaik turunkan alisnya.
"Ray! aw," ucap Naura kesal sambil memegang perutnya yang tiba-tiba kram.
"Tidak apa-apa. Sepertinya malam pertama kita di tunda dulu deh," ucap Naura tersenyum.
"Kau!"
"Em!" ucap Naura mengantuk sambil tersenyum.
"Alamak! cobaan apa lagi ini," ucap Raygan memekul keningnya pelan lalu menghampaskan tubuhnya di kursi pelaminan.
Sudah lama Raygan menunggu malam ini. Namun, sayangnya ada tamu yang tidak di undang tiba-tiba datang sehingga Raygan harus menahannya lagi. Sedangkan Naura langsung pergi ke toilet untuk mengenakan pembalutnya. Dia tidak mau jika sampai tamu bulanannya mengenai gaun pengantinnya.
...----------------...
Gabryel duduk di sudut ruangan sambil mengendong Elara. Dia menatap kabahagiaan Naura dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali dia naik ke atas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada Naura. Namun, dia tidak punya keberanian sedikitpun. Dia hanya menatap Naura dari kejauhan sambil menyesali semua perbuatannya.
__ADS_1
Andai saja dulu dia tidak menyakiti dan menghianati Naura. Sudah di pastikan Naura akan tetap di sampingnya sampai saat ini. Namun, sangat di sayangkan, Raygan tidak bisa mengunakan kesempatannya dengan baik. Sehingga akhirnya berlian indah yang dulu dia sia-siakan kini jatuh ke tangan pria lain. Pria yang bisa menjaganya dan juga membuatnya lebih istimewa. Tidak seperti Gabryel yang terus menyakiti dan juga melukai fisiknya.
"Akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu, Ra. Aku senang melihatnya. Semoga kelak aku bisa melupakanmu dan membangun lembaran baru di hidupku kembali," gumam Gabryel menatap Naura dengan mata berkaca-kaca.
"Gab! kau ada di sini? apa baby El rewel?" tanya Ronal duduk di samping Gabryel, lalu menoel pipi gembul Baby El yang sangat menggemaskan.
"Tidak! Baby El tidak rewel, Pa. Gabryel hanya ingin sendiri saja," ucap Gabryel tersenyum.
Mendengar ucapan Gabryel, Ronal langsung menatap haru putranya itu. Ronal tau persis bagaimana perasaan Gabryel saat ini. Dia tau Gabryel pasti sangat sedih dengan pernikahan Naura. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Gabryel sendiri yang tidak bisa menjaga kesempatannya dengan baik.
"Kau pasti lelah! kau istirahat saja. Biar Baby El papa yang menjaganya," ucap Ronal mengambil Elara dari gendongan Gabryel.
"Baiklah! jika Baby El menagis antar saja ke kamar Gabryel ya," ucap Gabryel bangkit dari duduknya.
"Baiklah!" ucap Ronal tersenyum mengantuk.
"Gab!" ucap Ronal kembali ketika melihat Gabryel mulai melangkahkan kakinya.
"Apa?" tanya Gabryel menatap Ronal.
"Naura sudah bahagia. Sekarang giliranmu. Bukalah lembaran baru di dalam kehidupanmu bersama Elara. Ingat Elara membutuhkan sosok ibu," ucap Ronal menatap lekat Gabryel.
"Aku akan membuka lembaran baru bersama Elara. Papa tenang saja," ucap Gabryel tersenyum lalu melangkahkan kakinya kembali.
"Membuka lembaran baru? apa mungkin," batin Gabryel sambil melirik Naura yang duduk di atas pelaminan bersama Raygan.
"Mungkin! kau pasti bisa. Ingat penyesalan selalu datang terlambat. Tapi kau tidak boleh larut dalam penyesalan. Karena itu hanya akan membuatmu semakin terpuruh dan jatuh kedalam lembah penyesalan lebih dalam lagi," ucap Rocky tiba-tiba muncul.
"Ingat kebahagiaanmu terletak pada tanganmu sendiri. Naura sudah bahagia dengan pilihannya. Sekarang giliranmu, carilah kebahagiaanmu dan lupakan masa lalumu," ucap Rocky tersenyum sambil menepuk punggung Gabryel.
Setelah mengucapkan kata-katanya Rocky langsung melangkahkan kakinya menjauhi Gabryel. Melihat tingkah Rocky, Gabryel hanya tersenyum kecil sampul mengelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Bersambung.....