Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 23


__ADS_3

Seperti biasa, pagi-pagi buta Naura bersiap-siap untuk pergi ke restorannya. Dia merendam tubuhnya di bathtub sambil bermain busa sabun dan bernyanyi ria. Setelah keluar dari mension Gabryel hari-hari Naura selalu dia lewati dengan penuh kebahagiaan.


Setelah puas bermain busa sabun Naura keluar dari bathtub dan membersihkan tubuhnya dengan air bersih. Dia berjalan ke ruang ganti lalu mengenakan gaun terbaik yang dia punya. Tidak lupa Naura merias wajahnya dengan make up tipis.


Saat membuka pintu apartemen dia di kejutkan dengan sesosok pria berbadan tegap yang berdiri di depan pintu sambil membelakanginya. Naura memperhatikan postur tubuh pria itu lalu memberanikan diri untuk mendekatinya.


"Papa!" ucap Naura membulatkan matanya ketika melihat ternyata pria itu adalah Ronal mantan papa mertua Naura.


"Apa kabar, Nak? Apa kau sudah melupakan papa?" ucap Ronal tersenyum sambil memandangi wajah cantik Naura.


"Papa datang bersama siapa?"


"Papa datang sendiri."


"Ayo masuk, Pa." uca Naura sopan lalu mempersilahkan Ronal untuk masuk.


Ronal melangkahkan kakinya memasuki apartement Naura. Dia menatap seluruh sudut apartement Naura sambil tersenyum. Bersih dan rapi hanya itu yang ada di dalam pikiran Ronal. Naura memang sangat suka kebersihan jadi tidak heran jika dia sangat suka bersih-bersih.


"Papa duduk dulu ya. Naura akan buatkan teh untuk papa." ucap Naura tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Naura dengan penuh kelembutan membuatkan teh untuk Ronal. Dia melirik Ronal yang duduk sambil memandangi seluruh sudut apartementnya. Setelah selesai Naura menghampiri Ronal dengan membawa secangkir teh dan juga cemilan yang selalu dia sediakan di apartementnya.


"Ayo di minum, Pa." ucap Naura duduk di samping Ronal.


"Terima kasih, Nak." ucap Ronal menerima teh buatan Naura lalu meminumnya.

__ADS_1


"Kau sukses sekarang. Papa banga kepadamu." ucap Ronal menatap kagum kepada Naura.


"Terima kasih, Pa. Naura juga tidak menyangka jika Naura bisa seperti ini."


"Papa tau kau wanita yang kuat dan juga mandiri. Jadi, wajar saja jika kau bisa sukses secepat ini."


"Tapi, kenpa papa tiba-tiba datang ke sini?" ucap Naura memberanikan diri.


"Papa hanya ingin memastikan jika kau sekarang hidup dengan layak. Jujur saja setelah kau keluar dari mension Gabryel, papa sangat menghawatirkanmu." ucap Ronal meletakkan tehnya lalu menatap Naura penuh dengan rasa iba.


"Maafkan papa yang tidak pernah bisa membantumu dari siksaan Gabryel. Papa ini memang papa yang tidak berguna." ucap Ronal menitikkan air matanya mengingat kelakuan Gabryel yang selalu menyiksa Naura.


"Papa tidak salah. Lagian aku bersyukur karna pernah mengalami penderitaan itu. Dari penderitaan itu aku banyak belajar tentang kerasnya hidup. Hingga akhirnya aku bisa sukses seperti sekarang ini." ucap Naura tersenyum.


"Aamiin. Terima kasih banyak, Pa." ucap Naura tersenyum penuh keteduhan.


Setelah puas berbincang-bincang kecil, Ronal langsung pamit untuk kembali ke kantornya. Melihat kehidupan Naura yang telah sukses dengan mata kepalanya sendiri, membuat perasaan Ronal semakin lega. Dia menjadi lebih tenang setelah melihat kehidupan Naura dengan matanya sendiri.


Setelah melihat Ronal meningalkan perkarangan apartementnya, Naura langsung mengendarai sepeda motornya menuju restoran. Naura memang belum memiliki mobil, bukan karna tidak punya uang. Tapi, Naura lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting dulu.


Bagi Naura memiliki mobil hanya akan mengurangi uang tabungannya. Dia ingin mengembangkan restorannya dulu baru membeli mobil. Lagian Naura sudah memiliki sepada motor yang bisa dia kendarai kemana saja. Bagi Naura itu saja sudah sangat cukup.


Karna kedatangan Ronal, akhirnya Naura berangkat ke restoran agak siang. Naura memang selalu berangkat pagi untuk mengindari kemacetan di jalan kota yang begitu padat. Naura melihat suasana jalan kota yang begitu padat.


Naura terus melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Dia bersyukur karna jalanan kota masih lancar walapun kendaraan yang sudah semakin padat. Naura tiba-tiba mrnghentikan sepeda motornya ketika melihat lampu merah mulai menyala.

__ADS_1


"Maaf, Neng. Minta sedekahnya." terlihat seorang wanita tua yang terlihat sangat lemas datang menghampirinya.


"Nenek ngapain di sini?" ucap Naura menatap iba nenek tua itu.


"Nenek belum makan, Neng. Nenek sangat lapar." ucap nenek itu lemas sambil memegang perutnya yang terus berbunyi.


"Ini Naura ada uang. Neneng makan ya." ucap Naura langsung merogoh saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang merah kepada nenek tua itu.


"Ini banyak sekali, Neng."


"Tidak apa-apa nek. Eh, ini ada air mineral. Nenek minum ya." ucap Naura mengambil botol air mineral yang dia gantung di sepeda motornya.


"Terima kasih, Neng. Tapi, neng juga haus." ucap nenek tua itu melihat bibir Naura yang mulai kering.


"Tidak apa-apa, Nek. Naura bisa beli lagi. Nenek lebih membutuhkannya." ucap Naura tersenyum.


"Terima kasih, Neng." ucap nenek itu langsung meminum air pemberian Naura sampai habis.


Melihat itu, Naura langsung menitikkan air matanya. Dia sangat bersyukur bisa hidup mewah tanpa kekurangan apapun.


"Neng sangat cantik! Bukan hanya cantik di luarnya saja tapi, juga cantik dari dalam. Nenek doakan semoga neng menemukan pendampimg yang mencintai neng dengan tulus." uca nenek tua itu tersenyum lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Naura.


"Pria yang mencintai dengan tulus? Apakah ada?" batin Naura sambil menatap punggung nenek itu yang semakin menjauh.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2