
"Nak ngapain disini? Entar kamu terlambat ke kantor," tegur nyonya Kiara ada Kevin yang sedang berdiri di dekat pintu ruang kerja Vernon.
"ma lihat Vernon," ucap Kevin sambil menunjuk Vernon yang duduk di tengah ruangannya dengan sebotol Wine di tangannya sambil menatap bingkai foto pernikahannya dengan Tiara. tampaknya pria itu tidak tidur sejak kemarin setelah melakukan Video call dengan Tiara.
padahal yang dia lakukan bersama Tiara hanya saling menatap sampai Tiara terlelap. semuanya dalam pengawasan Vernon, bahkan saat Tiara mengalami mimpi buruk dan meringis kesakitan saat bayi bayinya bergerak.
Sudah seharu semalam Vernon tak tidur, dia hanya duduk sambil melamun menatap bingkai kecil foto keluarganya.
Dia dengan tatapan dinginnya menatap Tiara. Hanya dengan menatap Tiara entah kenapa rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Menatap tanpa bicara sampai waktu di London Malam dan berakhir setelah ponselnya kehabisan daya.
"Biarkan saja, Mama gak sengaja lihat kalau siang kemarin dia sedang Video Call dengan Tiara, mungkin Vernon sudah ingat sesuatu, nanti Mama yang urus Vernon, kamu berangkat dulu sana," ucap Nyonya Kiara.
"Tapi sehari semalam dia gak tidur Ma, dia bisa sakit!" Ucap Kevin yang jadi khawatir dengan kondisi adiknya.
"Tak apa biar mama yang urus," ucap Nyonya Kiara.
Kevin mengangguk," baik ma, kalau begitu Kevin kerja dulu ya, kalau ada apa apa bilang sama Kevin," ucapnya sambil mengecup kening Mamanya.
"Iya, kamu hati hati," balas Nyonya Kiara dengan senyum lembutnya.
Kevin berangkat kerja meninggalkan Vernon dan Nyonya Kiara di rumah.
Nyonya Kiara sendir membiarkan Vernon dalam kondisi seperti itu, bukan tidak perhatian, tetapi kadang kala dibutuhkan waktu sendiri seperti itu untuk memikirkan masalah yang sedang terjadi.
Sementara itu di dalam ruangan, Vernon sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Seorang istri dan calon anak yang tak dia sangka adalah miliknya. Berbagai pertanyaan timbul di kepala Vernon, semua rekam kenangan bersama Tiara dia buka satu persatu. Meski tak ada yang dia ingat, tetapi wajah dan senyuman Tiara membuatnya tak bisa tidur dengan tenang sejak dia bangun.
Dia merasa seperti kehilangan sosok paling penting dalam hidupnya. Tetapi ketika melihat wajah Tiara dia sedikit tenang namun ada rasa aneh di hatinya, dia ingin terus melihat wajah itu, ingin ada disana tapi ingatannya tak tau siapa Tiara.
Sudah dua botol wine yang diminum oleh Vernon, pikirannya kalut, belum lagi dia harus mengawasi pergerakan musuh musuhnya yang tiba tiba muncul setelah dia mengalami amnesia.
"Para bajingan itu benar benar menggunakan kesempatan ini untuk mengusikku," geram Vernon.
"Hei wanita kenapa kau mengganggu pikiran ku, aku sedang banyak masalah, musuhku ada dimana mana bagiaman bisa aku memikirkan mu di saat seperti ini," ucapnya sambil menatap foto Tiara.
Sementara dia larut dalam pikirannya, di sisi lain kota itu tepatnya di sebuah bar terkenal di wilayah itu. Seorang mata mata melaporkan informasi tentang Vernon.
"Tuan ini informasi yang saya dapatkan tentang ketua Davichi!" Ucap anak buah pria berbadan besar dengan wajah menyeramkan seperti Monster itu.
Dia menghisap cerutunya dan menghembuskan asapnya ke wajah wanita yang sedang teler di atas pangkuannya.
"Singkirkan dia, jangan ada yang sentuh, aku belum selesai dengan wanita itu!" Ucapnya pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik tuan!" Jawab mereka .
Wanita malam yang melayani pria yang kerap disapa Sony itu dibawa ke dalam kamar dan diamankan sebelum siap disantap oleh Sony ketua kelompok Mafia Cortez yang merupakan musuh bebuyutan Vernon..
Kelompok Mafia ini sudah lama dihancurkan oleh Vernon, saat Vernon masih dengan ingatannya yang dulu, dia terus mengawasi pergerakan kelompok inibtetapi setelah berbulan bulan lupa ingatan, pengawasan terhadap kelompok ini sedikit longgar sehingga ada celah bagi mereka untuk membentuk aliansi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Sony mengambil dokumen yang diberikan anak buahnya.
"Hmm... Jadi si gila itu sudah menikah, heh bisa juga ya setan seperti dia menikah, cari tau keberadaan wanita itu, culik dan jadikan sandera, aku penasaran bagaimana perasaannya saat tau istrinya di culik!" Ucap Sony dengan senyum sumringah.
"Maaf tuan, kami sudah mencari inf tentang wanita itu, yang kami tau hanya nama dan wajahnya tetapi posisinya tak lagi bisa dilacak sejak lima bulan yang lalu, ada yang aneh, sepertinya informasi tentang wanita itu telah diblokir," jelas orang itu.
Sony menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dia tersenyum tipis, bagi yang melihatnya mereka jelas tau kalau Sony sedang berpikir sekarang.
"Tentu saja dia menyembunyikan identitas istrinya, setelah pengumuman besar besaran dia langsung menghapus segala situs yang memberitakan istrinya dan menutup akses dengan sistem keamanan yang kuat, tapi aku sudah dapat informasi nya lebih dulu, " ucap Sony.
"Kirimkan surat ini ke rumah pria itu, berikan ultimatum, kita akan berang ke Indonesia," ucap Sony dengan senyum licik.
"Baik tuan!" Ucap mereka.
.
.
.
"Papa mau es klim, " suara anak kecil itu begitu lembut, mungkin usianya sekitar 3 tahun dan cara bicaranya masih belum jelas.
"Mau es krim? Ya sudah kita ke tempat Mama dulu ya sayang," ucap pria itu sambil menggendong putri kecil yang begitu menggemaskan itu.
Merry berjalan menuju sebuah gazebo dimana seorang wanita yang tak lain adalah Tiara sedang memainkan harmonikanya bersama seorang anak kecil laki laki yang rupanya persis seperti Vernon.
Sambil bernyanyi dan bermain musik mereka berdua menikmati angin di sekitar taman bunga itu.
"Ma, Papa dan adik datang," ucap anak kecil laki laki itu. Tiara menghentikan harmonikanya dan menoleh ke arah Vernon dan gadis kecil itu sambil tersenyum manis.
"Hei kalian dar mana saja sayang," seru Tiara sambil melambaikan tangannya.
Vernon hanya tersenyum, gadis kecil di pangkuannya begitu antusias.
"papa, adik mau turun," seru anak kecil itu.
__ADS_1
"emmm mau jalan sendiri?" Tanya Vernon dan langsung dianggukkan oleh gadis kecil itu.
"Baiklah sayang," ucap Vernon sambil menurunkan putri kecilnya.
Gadis kecil itu berlari ke arah Tiara dan anak laki laki tadi. Sambil merentangkan kedua tangannya, Tiara menyambut kedatangan putrinya.
"Wahh anak Mama hebat sekali hahahahha... Senang yaain sama Papa?" Seru Tiara dengan wajah sumringah.
" Senang Ma heheh... Tapi Papa jauh..." Ucap anak kecil itu.
"Iya papa jauh, Abang rindu hiks hiks hiks..." Ucap anak laki laki tadi.
"Mama juga rindu Papa sayang, maaf Mama belum bisa bawa Papa kesini," Tiara ikut menangis.
"hei kenapa kalian menangis? Aku disini, Papa disini anak anak, aku disini Tiara!!" Seru Vernon yang merasa bingung padahal baru saja mereka saling menyapa.
"Kamu dimana Sayang, kenapa pulangnya lama," ucap Tiara. Wanita itu dan kedua anaknya menatap ke arah Vernon seolah Vernon sangat jauh. Vernon hendak melangkahkan kakinya namun dia tak bisa bergerak.
"Aku disini, aku disini, aku sudah pulang,!!" Teriak Vernon.
Disaat yang sama, beberapa orang berpakaian hitam datang sambil menodongkan senjata ke arah Tiara anak anaknya.
"Hahahahhaha mereka sasaran empuk, kau bertahanlah disana hahahha kami akan membunuh istri dan anak anakmu!!!!" Ucap orang orang itu.
"Sa..sayang tolong kami hiks hiks hiks... Tolong kami...." Tiara menangis sambil memeluk kedua buah hatinya.
Hingga..
Duar... Duar...Duarr....
"Tidaaaakkk!!!!!" Vernon berteriak bangun dari tidurnya. Keringat membasahi tubuhnya, dia benar benar ketakutan, wajahnya pucat pasi, jantungnya berdegup kencang. Sebuah mimpi buruk yang entah menandakan apa yang akan terjadi.
"Hahh... Haaahhh...sialan, aku tidak bisa tenang, " umat Vernon sambil memijit pelipisnya dan menenangkan dirinya.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1