Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
99


__ADS_3

Tiara berteriak histeris, wanita itu terbangun dari mimpi buruknya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya naik turun, tubuhnya gemetaran saat melihat suaminya pergi meninggalkan dirinya di dalam mimpi buruk itu.


“ Tiara, kamu mimpi buruk lagi ini sudah yang ketiga kalinya hari ini,” Nastusha langsung memeluk Tiara dengan erat. Dia tidak kuat melihat kondisi Tiara yang begitu menyedihkan tanpa vernon.


“ Tiara!!“ Hanum juga sama khawatirnya dia memeluk Tiara dari sisi lain, menenangkan sahabatnya yang sejak semalam terus bermimpi buruk. Terbangun sebentar, menangis lalu tidur kembali, Tiara berulangkali seperti itu.


“ Kakak ipar, Ha.. hanum.. di.. dimana suamiku, kak Johan dimana suamiku bawa aku padanya!!” pekik Tiara sampai wajahnya memerah. Wanita itu benar benar sulit ditenangkan.


“ Tiara tenangkan dirimu!” bentak Johan, Jika terus begini Tiara dan janinnya akan berada dalam masalah.


“ Aku tidak bisa tenang kak, kalian tidak ada di posisiku kan? Kaian tidak tau betapa takutnya aku... ka... kalian hiks hiks hiks... huwaaaaaaaa.... Vernonnn!!” Tiara lagi lagi menangis bahkan tubuhnya sampai lemas. Hormon kehamilan sekaligus kejadian mengejutkan itu membuat Tiara tidak bisa tenang.


“ Bawa aku kak kumohon... aku takut, aku harus berada di dekatnya, dia pasti kesepian, Vernonku pasti kesepian, kumohon bawa aku kesana kak,” pinta Tiara dengan suara serak, memohon pada kakaknya untuk menemui Vernon.


“ Tenanglah nyonya muda, tuan muda sudah berhasil kami selamatkan, kita hanya tinggal menunggu beliau untuk bangun, anda tidak perlu cemas, “ ucap Damian.


“ bawa aku kesana , jangan hanya bicara saja dasar kalian!” kesal Tiara.


“ Baik kami akan bawa kamu kesana tapi kamu harus makan dulu, kasihan bayimu, kasihan juga tubuhmu, “ bujuk Nastusha.


“ kak bagaimana aku bisa makan kalau Vernon saja tidak bisa makan,, aku tidak tau kondisinya sekarang, kalian malah masih sempat memintaku untuk makan, aku harus kesanaaaa!” Tiara mencoba melepas selang infus yang ada di lengannya.


Hanum menahan tangan wanita itu,” jangan gegabah Tiara, kau ini benar benar keras kepala!" kesal Hanum .


“ Kita ke kamar tuan Vernon tapi kau harus makan disana,” tegas Hanum.


“ Tapi aku..


“ Tidak ada penolakan!” tegas Hanum sekali lagi.


“ Wah istriku ternyata punya sisi seperti ini, bagus sayang,Mas bangga padamu,” batin Max.

__ADS_1


“ Ba.. baiklah, aku mau,” ucap Tiara menurut.


Setidaknya mereka bisa tenang saat Tiara masih menurut dengan ucapan Hanum. Meski harus dipaksa dan dibentak, wanita itu akhirnya menurut.


Tiara di bawa menuju ruangan Vernon, anak peluru berhasil diambil, mereka masih menunggu kondisi terbaru Vernon. Perlahan Tiara masuk ke dalam ruangan itu, dia menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Hanum. Yang lain tidak ikut masuk agar tidak mengganggu ketenangan Vernon. Hanya Hanum, Max dan Damian yang masuk ke ruangan itu.


Vernon tertidur di atas brankar dengan bagian kepala yang di perban. Hati kecil Tiara ingin lagi berteriak, dia ketakutan dan sedih di saat yang sama. Tapi dia menelan kuat kuat rasa sedihnya di masa dia harus memberikan perhatian pada suaminya.


“ Bagaimana kodisinya kak? Jelaskan padaku,” ucap Tiara. Suaranya terdengar lirih.


“ Tuan muda berhasil melewati masa kritisnya, anak peluru sudah kami ambil, keadaan selanjutnya tinggal menunggu sampai pasien sadar, kami berharap yang terbaik untuk nya,” jelas Damian.


“ Apa ada bagian vital yang bermasalah?” tanya Tiara dengan nada datar dan dingin. Hanum menatap suaminya saat dia mendengar suara Tiara yang begitu berat.


“ tenanglah, beri dia waktu,” bisik Max.


“ Sejauh ini tidak ada masalah yang serius, “


“ Syukurlah, terimakasih atas bantuan kalian,” ucap Tiara yang hanya menatap suaminya dalam pandangan kosong.


“ Baiklah, jika itu permintaanmu ,” ucap Damian.


“ Ra... makananmu aku taruh di meja ya, jangan lupa di makan, kamu dan janin kamu juga butuh asupan,” tak henti hentinya Hanum membujuk Tiara untuk makan.


“ Benar nyonya muda, kami akan menyediakan semua kebutuhan nyonya dan tuan, tenangkanlah diri anda,” ucap Max.


Tiara hanya mengangguk lemah, jujur saja selera makannya hilang saat ini. Hanum, Max dan Damian keluar membiarkan wanita itu disana berdua denagn suaminya.


Tiara menatap Vernon dengan mata berkaca kaca. Jelas dia lihat suaminya yang melindungi dia dan calon bayi mereka sampai akhir. Air mata wanita itu kembali mengalir, dia menggenggam tangan suaminya sambil menangis sesenggukan.


“ Sayang... terimakasih sudah bertahan hiks hiks hiks.... cepatlah bangun,aku dan baby merindukanmu, cepatlah bangun, cepat lah sembuh kumohon hiks hiks hiks....” Tiara lagi lagi menangis.

__ADS_1


Perutnya sedikit kram, dia mengusap perutnya, janin yang masih sebesar biji salak itu sudah bisa merasakan kehadiran Papanya.


“ Sayang, Mama akan jaga kamu dan Papa, kita tunggu sampai papa bangun ya, Papa pasti cepat bangun,” ucapnya .


Tiara mengusap air matanya. Di tatapnya suaminya dan diusapnya wajah pria itu dengan lembut. Wajah vernon yang pucat dan matanya yang tertutup.


“ Tampan sekali kesayanganku,” gumam Tiara yang berusaha tersenyum di tengah kekhawatirannya.


Cup


Cup


Kecupan manis mendarat di kening dan bibir pria itu. Meski sambil menangis Tiara berusaha kuat dan menegarkan hatinya.


“ ahh,.... sekarang kita makan dulu, Papa pasti khawatir kalau kita tidak makan sayang,” ucap Tiara sambil mengusap perutnya. Melihat Vernon tidak pergi, membuat Tiara merasa sedikit tenang walaupun kondisi pria itu masih belum pasti.


Tiara mengambil makanannya, dia makan dengan lahap sambil bercerita di depan suaminya, meski dia tau kalau Vernon tidak akan membalas ceritanya. Sambil sesekali tertawa menghibur dirinya, Tiara melahap semua makanan dan vitamin yang disediakan.


Sementara itu di luar ruangan itu. Tampak dua orang wanita berpakaian perawat sedang membawa troli pasien dengan gerak gerik mencurigakan. Masker putih yang menutupi wajah mereka dan pakaian suster yang merek curi membuat penampilan mereka seperti perawat yang bertugas di rumah sakit itu.


“ Mom berhati hatilah, bertindak yang benar, jangan smapai mereka mengetahui identitas kita,” ucap Shela yang sedang menyamar sebagai seorang perawat di rumah sakit itu.


“Ya, tapi kau tau dari mana ruangannya di lantai ini?” tanya Nyonya Admaja yang merasa bingung dengan lantai rumah sakit yang mereka lewati. Pasalnya disana hanya ruangan VIP dan ruangan dengan akses khusus.


“ Tadi kita sudah bertanya pada petugas rumah sakit dan aku juga punya akses masuk kesini, jadi Mom gak perlu khawatir, Vernon dan wanita itu akan mati hari ini,” ucap Shela dengan senyuman menyeringai sambil menggenggam erat pegangan troli itu.


“ baiklah, Mom juga benar benar ingin membalaskan kematian dan kehancuran keluarga kita,” ucap Nyonya Admaja yang sama marahnya dengan Shela.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2