
Max menatap istrinya dengan hangat. Kedua mata itu bertemu dan debaran yang sama selalu bergemuruh di dada mereka masing masing.
"Apa perut kamu masih sakit hmm?" Max mengusap perut Hanum dengan lembut. Dia tau disana ada janin kecil yang sedang berjuang untuk tetap hidup dan melawan efek obat keras itu
"Sudah lebih nyaman Mas, tapi apa yang terjadi? acara Tiara dan tuan Vernon gimana? aku merusak semuanya ya?" tanya Hanum yang merasa bersalah.
Max menggelengkan kepalanya," semua berjalan dengan baik, Tiara dan bayi kembarnya juga langsung istirahat kok kemarin, kamu gak usah khawatir," ucap Max.
"Mas Hanum... Hanum mau tanya sesuatu," ucapnya sambil menatap mata Max dengan mata berkaca-kaca.
"Tanya apa sayang?" balas Max sambil mengecup punggung tangan istrinya.
"Bagaimana kalau Hanum gak bisa hamil? Ha..Hanum takut kalau ternyata kandungan Hanum bermasalah, apa yang Mas akan lakukan? " tanya wanita itu.
Max terdiam mendengar pertanyaan istri dan. Dia tau dari mana pemikir itu berasal. Kata kata nyonya Malik dan hasil uji Lab membuat Hanum berpikir kalau dia memang tak bisa hamil.
"Dari awal ka mas sudah bilang sayang, " Max membelai kepala istrinya," mau kita punya anak atau tidak Mas tetap sama, akan selalu ada buat Hanum, Anak adalah berkah tapi kalau belum diberi bukan masalah," jelas Max.
"Tapi bukannya Mas sangat suka dengan anak kecil? mas sepanjang malam terus bercerita tentang si kembar, Hanum.. Hanum takut kalau Hanum gak bisa kasih Mas anak," jujur wanita itu.
Max tersenyum," Mas suka sayang, sangat menyukainya. lagi pula siapa bilang kamu gak bisa punya anak, memangnya ada apa hmm? " Max menguji istrinya apakah Hanum akan berkata jujur padanya atau justru menutupi fakta itu.
Hanum terlihat diam, dia bingung harus memberi jawaban seperti apa agar suaminya tidak marah. Jujur saja, Hanum takut Max membuangnya karena tidak berguna.
"Gini ya sayang, " Max menangkupkan wajah Hanum dengan kedua tangannya.
"Mas menikahi Hanum bukan mau menjadikan Hanum sebagai mesin pencetak anak, bukan mau menjadikan Hanum pembantu untuk masak, menyiapkan pakaian dan pekerjaan rumah tangga, tapi Mas menikahi Hanum karena Mas cinta sama kepribadian yang ada sama Hanum, Mas cinta sama semua kelebihan dan kekurangan Hanum, Mas gak peduli mau dunia berkata apa yang penting Mas tetap bersama Hanum itu aja sudah cukup," jelas Max.
Hanum benar benar tersentuh dengan kata kata suaminya. Seketika hatinya merasa tenang, dia sempat overthinking dan berspekulasi kalau Max kan marah dan kecewa.
"Mas maaf hiks hiks hiks... Hanum gak jujur sama Mas," akhir wanita itu menangis setelah sekian lama menahan agar dirinya tak menangis di hadapan suaminya.
__ADS_1
"Gak jujur soal apa hmm? coba Cerita, Mas dengerin," ucap Max sambil tersenyum manis.
"Ma..maaf Mas, beberapa waktu lalu Hanum cek kesehatan atas usul Mama. Hanum pergi ke rumah sakit untuk cek kesehatan, Hanum sering mual dan pusing terus muntah muntah, Hanum penasaran apa Hanum hamil jadi langsung cek ke rumah sakit, ternyata..." Hanum berhenti bicara sambil menatap suaminya dengan mata yang sudah menganak sungai.
Tangan Max dengan sigap mengusap air mata istrinya dan membalas tatapan itu..Rasanya sakit saat menyaksikan Hanum begitu menderita hanya karena kata kat tak berdasar dari dokter gadungan dan ibu nya.
"Ternyata apa hmm?" Tanya Max.
"Ha..Hanum hiks hiks hiks.... maaf mas .." Hanum menangis sesenggukan.
"Hanum gak bisa hamil, uji Lab bilang kalau kandungan Hanum sangat lemah hiks hiks hiks... maafkan Hanum mas, Hanum memang gak berguna hiks hiks hiks... maafkan Hanum..." wanita itu menangis sesenggukan menyalahkan dirinya sendiri yang menurutnya tak sempurna.
Max duduk di atas brankar, dia memeluk istrinya dengan lembut dan menepuk punggung Hanum yang begitu terpukul dengan berita palsu itu.
"Maafkan Hanum Mas, Hanum belum bisa kasih Mas keturunan hiks hiks hiks... Hanum takut... Hanum takut kalau Mas akan tinggalin Hanum makanya Hanum gak bilang dari kemarin, maafkan Hanum hiks hiks hiks... Hanum terlalu takut," ucap Hanum.
Hancur hati Max mendengar suara istrinya yang begitu lirih. Dipeluknya erat erat tubuh Hanum, dia biarkan Hanum menangis sampai wanita itu benar benar merasa lega.
Hanum menjadi lebih tenang, wanita itu berhenti menangis. Max dengan penuh perhatian mengusap air mata istrinya dan menatap kedua mata Hanum dengan begitu intens.
"Sudah nangisnya sayang?" tanya Max, Hanum hanya mengangguk lemah.
Segurat senyum tergambar jelas di wajah Max, dia menatap wajah Hanum tanpa mengatakan apapun. Menatap wajah perempuan yang paling dia cintai di dunia ini.
"Mama memang wanita yang kuat ya kan sayang? tapi Mama kamu cengeng, kita harus gimana dong sayang?" Max menatap perut Hanum dan mengusap perut istrinya sambil tersenyum.
Mendengar kata kata Max, membuat Hanum makin sedih . Dia berpikir kalau suaminya marah sampai mengeluarkan candaan seperti itu. Matanya kembali menganak sungai saat melihat Max yang benar benar berharap ada janin disana.
"Mas... maaf, Hanum kan udah bilang kalau Hanum gak bisa....
"Sayang kamu gimana sih? nanti Baby kita marah loh, kamu lagi hamil tapi bilangnya gak hamil, disini udah ada baby kita," ucap Max sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"iya kan sayang, anak Papa pasti kuat kan? Mamanya juga harus kuat, Papa akan jagain Mama, kamu jagain Mama juga ya dari dalam," celetuk Max dengan senyuman bahagia di wajahnya.
Hanum masih belum paham dengan situasi y, dia menatap heran dengan Max.
"Mas.. aku bingung, kamu kenapa?" tanya Hanum sambil mengangkat kepala suaminya dan menatap mata pria itu dengan serius.
Max tersenyum dia memegang wajah Hanum.
"Kamu hamil sayang, kamu mengandung anak kita, bayi kita, selamat sayang kita akan punya bayi," ucap Max.
"tapi... ma..mana mungkin aku periksa dan dokter bilang kandunganku lemah, jadi gak mungkin hamil!!!" ucap Hanum .
Max menggelengkan kepalanya," surat itu palsu, mas udah lihat dan Damian sudah mengecek kondisi kamu, " jelas Max.
"Saat kamu pingsan, Damian memeriksa kondisi kesehatan kamu dan jelas kalau saat ini baby kita sedang berkembang dan berjuang melawan obat yang kamu makan, " ucap Max.
"Kamu bisa hamil sayang, tapi kita hampir kehilangan kalian berdua, obat yang kamu makan adalah sejenis penggugur kandungan Yanga cara kerjanya perlahan lahan, sampai gak terasa kalau kita udah kehilangan bayi kit!" jelas Max.
"Dokter yang memeriksa kamu, dokter gadungan yang akan segera kami selidiki, mulai saat ini kamu harus jaga diri dan kesehatan kamu, jangan sampai kita kehilangan dia, karena dia juga berjuang agar tetap kuat disana," ucap Max dengan jelas dan tegas.
Jantung Hanum bagai dihunus pedang, dia tidak tau semua ini dan hampir saja dia kehilangan bayinya karena obat obatan itu.
"A..Aku... arkhhh aku hampir membunuh anakku sendiri, aku hamil tapi aku tidak tau hiks hiks hiks... betapa bodohnya aku Mas... maafkan aku sayang, maafkan Mama nak hiks hiks hiks... aku yang salah... aku yang terlalu percaya pada kata kata mereka.... aku memang bodoh!!!!" Hanum menangis menyesali semuanya, seharusnya dia lebih terbuka pada suaminya tetapi siapa yang tau kapan datangnya mara.
Ini menjadi pelajaran berharga bagi pasangan itu, pelajaran untuk lebih protektif dan perhatian satu sama lain.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1