Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
68


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang, Tiara dan rombongannya tiba di Milan yaitu kota utama di sebelah utara Italia dan terletak di Hamparan Lombardia, wilayah paling maju di Italia. Diakatakan paling maju karena Kota ini menjadi pusat ekonomi dan keuangan Italia.


Milan Fashion Week adalah pameran dagang pakaian yang diadakan per semester di Milan. Acara inilah yang akan diikuti oleh Tiara dan timnya, memamerkan Fashion yang sudah mereka rancang sebelumnya.


Persiapan yang dibuat sudah benar benar matang, semua karya yang di design sudah ditentukan untuk masing masing model yang akan melakukan peragaan di runaway. Mereka menginap di Hotel terkenal di kota itu, yang lokasinya berdekatan dengan gedung pelaksanaan Fashion week.


“ Huwaahhhh ini pertama kali aku ke kota Milan, terimakasih sudah membawa kami kesini,” ucap Tiara sambil menghirup dalam dalam udara di kota itu.


Vernon tersenyum, dia merangkul istrinya, pria itu sudah membulatkan tekat untuk menunjukkan Tiara ke hadapan publik sebagai istri sah dari seorang vernon D.K.


“Sayang dilihatin orang ihh gak enak,” bisik Tiara sambil merlirik ke arah teman temannya.


“ Gak masalah mereka akan tutup mata, tutup telinga, tutup mulut kalau bisa tutup hidung juga, gak ada yang terganggu sayang,” ucap Vernon sambil melirik rekan rekan Tiara yang sejak tadi diam dan tak berani menyinggung pasangan itu.


“Kami gak lihat kok ra hahhaha... kamu nikmati aja,” celetuk Hanum sambil melemparkan tatapan menggoda pada sahabat baiknya itu.


“Gak lihat tapi tau kan?” celetuk Tiara.


“Tuan muda, Nyonya, kami sudah mengurus reservasi hotel, berikutnya kita akan makan siang, silahkan ikut dengan saya,” ucap Max yang sudah mengatur semuanya dengan baik.


“Baiklah, ayo kita pergi,” ucap Vernon sambil menggenggam tangan istrinya dengan mesra.


Mereka beranjak dari sana, Tasya yang melihat bercak bercak merah yang tidak tertutupi di leher Tiara membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi pada leher wanita di depannya itu.


“ raa... itu leher kamu kenapa, kok merah merah, ada tiga lagi,” celetuk Tasya sambil menunjuk leher Tiara.


Sontak Tiara terdiam membatu, bekas gigitan itu masih ada ternyata, dia pikir suaminya sudah menutupinya dengan sempurna tadi, nyatanya masih ada beberapa yang mengintip disana.


“ Ya ampun mampus aku, kenapa tidak tertutup semua, arrkhhhhhhh,....” batin Tiara berteriak, dia benar benar terkejut saat Tasya dengan polosnya menanyakan hal itu.

__ADS_1


“Lah Pak Presdir juga merah merah, kelian berdua kenapa pak? Alergi ya?” celetuk Josua yang juga menangkap pemandangan yang sama di leher Vernon. Bisa bisanya bercak merah itu kelihatan saat ini.


“ Kok bisa Ra, setahu aku kamu gak ada alergi, kok malah jadi merah merah begini?” tanya Hanum yang sama polosnya.


Mendengar pertanyaan mereka, keempat pria di belakang sana sudah tertawa cekikikan karena ketiga orang itu benar benar polos, bagaimana bisa mereka tidak tau bekas apa itu, padahal sudah jelas kedua orang itu memiliki tanda yang sama.


“Bwahahahahhaha.... bekas digigit cicak haahahahaha,,....” Arthur tertawa terbahak bahak.


“ Ya ampun, si bos gak bisa tahan selera ya, sampai di pesawat nyonya diembat juga, hahahhahah , si bos ada ada aja,” batin Max yang juga tertawa cekikian disana. Bahkan si Duo K saja tau apa yang terjadi dengan kedua manusia itu.


“ Kak Ver, mengambil kesempatan dalam kesempitan ya kak hahhahaha...”Ejek Kanon.


“ Ck... ini bukan urusan kalian, yang belum dewasa gek perlu tau, toh kalian akan tau nanti,” celetuk vernon.


Tiara tersipu malu, dia menundukkan kepalanya dan terdiam karena kelakuan ornag orang disekitarnya. Apa kata orang nanti kalau mereka melihat hasil karya seni di leher mereka berdua, tentu akan sangat memalukan jika dilihat orang banyak.


“Tutupin ihhh bikin malu,” ucap Tiara sambil memeprbaiki kerah baju suaminya dan menggerai rambutnya sendiri untuk menutupi tanda tanda kemerahan itu.


“ pengawal tolong ambilkan Jaket dan syal untuk kami ,” ucap vernon.


“ baik tuan muda,” ucapnya.


Pengawal memberikan jaket dan syal untuk Tiara dan Vernon. Angin memang sedikit kencang dan udara mulai dingin karena masih peralihan antara musim gugur ke musim dingin.


Dengan lembut Vernon menutup leher istrinya dengan syal itu dan memperbaiki cardigan tebal yang dipakai istrinya. Jadilah para penonton sedang menyaksikan drama romansa di jalanan kota Milan yang mulai bersalju itu. Menikmati keromantisan yang membuat siapa pun iri dengan mereka berdua.


“ Huwaahhh romantis sekali...” celetuk Tasya sambil menggandeng tangan Hanum.


“Num bukannya kamu akan segera menikah, berarti bisa dong kamu kayak mereka nanti,” celetuk Tasaya.

__ADS_1


Hanum hanya mengangguk lemah, pernikahannya sudah ditentukan, dan dia bahkan belum tau akan menikah dengan siapa tetapi keluarga nya sudah menyiapak pasangan untuk dirinya. Bukan tak berani melawan keinginan keluarga, tetapi Hanum tidak memlikik calon untuk saat ini sehingga keluarganya berinisiatif menikahkan Hanum dengan pria pilihan mereka yang merupakan anak dari kolega bisnis keluarganya.


“ Kok kamu gak semangat gitu?” tanya Tasya. Gadis itu hanya diam dan sedikit mencuri curi pandang dengan Max yang diam dengan tenang sambil berdiri seperti sebuah robot yang sudah disistem demikian padahal siapa yang tau hatinya sedang merana saat ini.


Apalagi saat mendengar kata kata Tasya kalau Hanum akan segera menikah dengan orang yang sudah dijodohkan dengan dirinya.


“ Haihhh nasib nasib, belum juga berlayar sudah karam diterjang gelombang laut yang besar menyedihkan nasib percintaanu Max,” batin pria itu. Sejak tadi dia hanya bisa curi curi pandang dengan gadis yang sudah memikat hatinya itu. Gadis yang membuat dirinya uring uringan padahal hanya menatapnya saja.


“ Aku tidak menginginkan perjodohan, aku sudah memilih orang yang kusuka, tapi apa dia mau denganku?” pikir Hanum sambil melirik Max.


Beberapa hari ini hati Hanum resah karena dia akan segera mengadakan pernikahan, padahal hatinya sudah jatuh ke pada Max, pria yang cepas ceplos memuji diirnya di hadapan banyak orang. Jatuh cinta tidak perlu alasan, jatuh hati tak perlu alasan yang tepat asalkan ada rasa nyaman dan getaran yang berbeda.


Mereka semua beranjak dari lokasi itu menuju restoran tempat mereka akan makan siang. Vernon memilih jalan kaki sambil menunjukkan lokasi lokasi indah di tempat itu pada istrinya, dia senang membuat Istrinya merasa bahagia.


“ Jalannya sangat indah., aku suka ..” ucap Tiara sambil menggandeng tangan suaminya.


Vernon tersenyum, dia memasukkan tangan Tiara ke dalam kantongnya untuk membuat istrinya tetap hangat.


“ Apa perlu kita tinggal disini sayang?” tanya Vernon.


“Nggak perlu, kita gak punya banyak kenalan disini heheheh..” ucap Tiara sambil tersenyum manis.


Max yang melihat kemesraan pasangan itu membuat dirinya iri. Ingin rasanya dia juga memiliki pasangan , namun nasib cintanya masih berkelana entah dimana.


“ Apa perlu kurebut saja Hanum? aku ingi bersamanya, bisakah ya Allah?” batin pria itu.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen.


__ADS_2