
Huweekkk... Huweekkk...
Lagi lagi Tiara berlari ke kamar mandi padahal jam sudah larut malam dan suaminya tidak di rumah, ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Vernon.
Jam menunjukkan pukul 00. 30 malam, mual mual Tiara tiba tiba semakin parah. Hal ini membuat wanita itu susah tidur dan lemah. Padahal saat Vernon menemaninya, Tiara tertidur dengan lelap, tak ada drama mual dan muntah seperti saat ini. Sepertinya janinnya tau kalau ada anggota keluarga yang kurang.
"huweekk.. huweeekkk... uhuk uhuk..." Tiara berusaha menenangkan dirinya sendiri saat suaminya tak ada disisinya, pertama kali mengalami hal seperti ini membuat Tiara kelelahan. Ternyata hamil itu tidak mudah, banyak drama yang harus di lewati, banyak jalan yang harus di tempuh.
Para Ibu di luar sana begitu kuat menerima keadaan ini. Pusing, mual, muntah, mood swing yang mengerikan, perubahan pola makan, perubahan bentuk tubuh, semuanya akan di alami seorang ibu hanya demi jiwa baru yang akan lahir ke dunia.
Tiara menepuk dadanya, rasanya menyakitkan saat dia memuntahkan semua yang dia makan.
"Ver.. kamu dimana hiks hiks hiks.... aku kangen..." Wanita itu menangis, merasa sedih dan buruk dalam waktu sekejap, merasa kesepian dan sedih secara tiba tiba.
Sementara itu suaminya sedang memberikan hukuman yang pantas untuk orang orang yang membuat istri dan calon anak mereka dalam bahaya.
Di markas Davichi, Vernon berdiri di hadapan tuan Dharma, Risa, Tuan Admaja dan mata mata yang mereka tangkap di sekitar rumah Tiara, mata mata yang tidak tau dikirim oleh siapa, tetapi dia menyamar seperti seorang Gembel.
"Nak lepaskan Papa, papa salah, kamu kan anakku, kita bisa bicarakan ini, kita ini punya hubungan darah !!!" teriak tuan Dharma yang memohon pengampunan pada Vernon.
Vernon mendelik, dia merinding mendengar kata kata Tuan Dharma yang baru kali ini mengakuinya sebagai anak. Sebuah pertunjukan yang sangat hebat dari seorang tuan Dharma.
"Anak!? cihh aku bahkan tidak menganggapmu, manusia bajingan!" umpat Vernon.
"Yaakkk Vernon, lepaskan aku dan ayahku, kenapa kau melakukan ini pada kami, kau pikir kau dan wanita sialan itu akan selamat hah!!!" pekik Risa yang diikat di sebuah tiang.
Dia menatap tuan Admaja yang berada dalam keadaan mengerikan, wajahnya peyok dan tubuhnya hancur lebam Karena ulah Vernon yang menghabisi pria bodoh itu.
"Kau mau mengancam ku ? hahahahha... kau yang tidak akan selamat jal4ng!" umpat Vernon.
"Bawa kotak besar itu kesini!" titah Vernon dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
"Kau mau apa dengan itu Vernon? " tanya Arthur pasalnya dia tau isi benda itu.
"Mau menghukum nya," ucap Vernon sambil tersenyum tipis lalu membuka penutup benda itu.
Sebuah kotak transparan ada di balik penutup itu, isinya ulat bulu dan kawanan sejenis sedang menyantap daun daun segar di dalam kotak itu.
"Hehehehe.. mereka menyambutmu bodoh!!" umpat Vernon sambil menatap Risa dengan tatapan penuh amarah.
" Tuan muda, apa ini tidak terlalu berbahaya? dia bisa mati karena racun ulat bulu itu," ucap. Max.
"Tidak sampai mati, Max setelah bengkak kirim dia ke penjara Markas di kota Zeng, itu akan cocok untuk wanita yang suka bermain dengan pria seperti dia!" ucap Vernon.
"Ver kau benar benar gila!!!" ucap Johan yang juga berada disana.
__ADS_1
"Hanya ingin membalas apa yang dia lakukan pada istriku kakak ipar, " jawab Vernon sambil menyeringai.
"Masukkan mereka semu ke dalam kotak itu, biarkan mereka menikmati ulat buluku hahhahahaha...." Vernon tertawa terbahak bahak seperti seorang psikopat sejati.
"Tidak... jangan nak, aku ayahmu kenapa kau melakukan ini, Papa salah, Papa mengaku salah, maafkan Papa, tolong jangan seperti ini!!" pekik tuan Dharma.
"Diam kau!!!" bentak Vernon sambil memberikan tatapan liar ke arah tuan Dharma.
"Kau melakukan semua ini hanya demi kekayaanmu sendiri, Papa dan Mama telah hilang dari hidupku sejak lama, kalian menyiksa kami, menyiksa aku dan Kaka Kevin, membuat kami berdua terpisah, kalian... kalian berdua bukan orang tua!!!!" Vernon benar benar marah, dia mengungkapkan kekesalannya pada Tuan Dharma.
"Aku dan Kak Kevin tidak butuh orangtua seperti kalian, Ki hanya ingin punya keluarga yang sederhana, keluarga yang saling mengasihi, tapi apa yang kami dapat!??? hanya keegoisanku dan Mama !!!" Vernon terdengar getir, hatinya hancur saat ini.
Bagaimana pun tuan Dharma adalah orangtuanya, orang yang membesarkannya meskipun tidak dianggap sama sekali.
"Kalian bahkan menyakiti istriku Pa, Papa dan Mama sama saja, Tiara tidak bersalah tapi Papa ingin membunuhnya dengan menjatuhkan lampu gantung!?? meracuni timnya!? membayar orang untuk memata matainya!? Dia istriku, dia yang menerimaku apa adanya tapi yang Papa lakukan adalah mengusiknya!!!"
"Kak Kevin, Kau mengendalikan dia seperti boneka, dia terlalu baik untuk keluarga munafik ini, Papa dan Mama membuat kami kehilangan sosok orangtua!!" Air mata Vernon mengalir, lega rasanya saat dia mengungkapkan semuanya pada Tuan Dharma.
Pria tua itu terdiam, dia sadar kalau dia salah, dia telah merusak keluarganya sendiri, menghancurkan impian anak anaknya, meninggal istrinya, merusak keluarganya sendiri.
"Mama bahkan tidak pernah memandangku, dia bahkan tidak menganggapmu sebagai putranya!!!"
"Maafkan Papa nak.. Papa yang salah, Papa yang terlalu serakah, maafkan Papa karena menyakiti kalian, dan Mama kalian, ini semua salah Papa, Mama kalian hanya mengikuti keinginan Papa... ma..maaf," suara ria tua itu bergetar.
Kini semua sudah terlambat, penyesalan selalu datang belakangan.
"Papa juga tidak tau, setelah bercerai... Pa..Papa mengusirnya dari rumah," ucapnya dengan suara pelan.
"Bajingan!!!" umpat Vernon.
Deghh...
Tiba tiba jantung Vernon berdegup kencang. Sontak dia memikirkan istrinya di rumah.
"Ada apa ini?" Pikir Vernon.
"Max tolong urus mereka, kirim mereka semua ke penjara dan pastikan hukumannya seumur hidup, jangan biarkan mereka menghirup udara bebas!" ucap Vernon .
"Kau mau kemana!?" tanya Arthur heran, karena belum pernah dia melihat Vernon meninggalkan pekerjaannya sampai tanggung seperti ini.
"Tiara, aku sedikit khawatir," ucap Vernon.
"Aku pergi dulu," ucapnya yang langsung berlari dengan kencang menuju parkiran.
Arthur, Johan,Max dan Diana mengurus semua pembuat masalah itu. keempat orang itu dimasukkan ke dalam kotak penuh ulat bulu beracun.
"Tidak lepaskan aku arrhkkhhh ini menggeliat di badanku, lepaskan aku!!!!!!"
__ADS_1
Mereka berteriak histeris,ribuan ulat bulu dari berbagai spesies menggeliat di tubuh mereka. Gatal, geli dan sakit bercampur menjadi satu.
Tuan Dharma tidak bicara sama sekali, dia diam meskipun ulat ulat itu menggeliat di tubuhnya.
"ini semua salahku, aku yang membuat anak anakku dan istriku hancur," Pria itu benar benar menyesali perbuatannya.
Dia mengeluarkan kertas kecil dari dalam kantongnya, dibukanya kertas yang berisi dua buah pil berwarna cokelat itu.
"Max, sampaikan pada Vernon, dia harus membawa ibunya kembali, sampaikan permintaan maafku pada Kevin dan Tiara, aku tidak akan menyakiti kalian lagi!" Ucaonya sebelum dia menenggak dua pil yang ternyata adalah racun bunuh diri itu.
"Tuan!!!" Max dan yang lain terkejut, tuan Dharma memilih bunuh diri. Sesaat setelah dia memakan pil itu, pria itu muntah darah.
Di saat terakhir hidupnya dia memohon pengampunan dari anaknya.
Tubuh tuan Dharma ambruk, nafasnya hilang dan tuan Dharma telah pergi meninggalkan dunia ini.
"Seharusnya dia belum mati, betapa tidak bertanggungjawab nya orang ini!" ucap Johan.
Sementara itu, Vernon yang baru saja tiba di mansion langsung berlari ke dalam kamarnya dengan perasaan was was. Hujan di luar cukup deras, petir juga menyambar nyambar. Dia tau istrinya takut dengan hal itu.
"Sayang!?" Vernon masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. dia tak mendapati istrinya di atas kasur.
"Tiara!!!" Panggil Vernon mulai panik, dia mencari kesana kemari, ke kamar mandi ke ruang ganti, tak ada Tiara disana.
"Tiara!???" panggil Vernon lagi.
"Vernon? hiks hiks hiks..... apa itu Vernon!!??" Suara Tiara yang menangis terdengar .
Vernon menatap lemari pakaian mereka.
Brakk...
Dia membuka pintu itu dengan kasar, tampaklah Tiara sedang duduk meringkuk di dalam sana sambil memeluk dirinya sendiri dan menangis ketakutan karena traumanya kembali lagi.
"Sayang... maafkan aku, maafkan aku..."Vernon langsung memeluk istrinya. Betapa menyedihkan melihat Tiara lagi lagi ketakutan seperti itu.
"Aku mimpi buruk lagi hiks hiks hiks... Sayang.... Huwaaa.... aku mimpi buruk lagi... jangan pergi hiks hiks hiks.....
"Ada apa, kenapa sampai seperti ini!? mimpi apa?" tanya Vernon yang jadi merasa bersalah karena meninggalkan istrinya diam diam.
"Kamu mati, aku mimpi kamu mati huwaaa......
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗