Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
89


__ADS_3

Tak pernah disangka hari yang sangat Hanum benci pun tiba. Dijodohkan dengan pria asing yang bahkan dia tidak tau siapa dan tidak tau wajahnya tetapi saat bangun pagi tadi sudah sibuk berdandan merias diri untuk acara lamaran yang tidak pernah terbersit dalam pikirannya.


Bodohnya Hanum dia malah jadi poorang paling plin plan di dunia ini. Mengatakan iya lalu menyesal dan mengatakan ingin menolak lamaran itu padahal semuanya sudha disiapkan. Dia jelas tau kalau dia tidak akan bisa menolak karena apa yang sudah diputuskan oleh keluarganya yang sangat kaku itu tidak boleh diganggu gugat jika tidak ingin di hapus dari daftar keluarga.


Hanum berkali kali menghela nafas berat, dia duduk di ruang kamarnya menunggu acara lamaran dilaksanakan. Hanya bisa duduk dengan kaku dengan pakaian yang menurutnya sangat tidak nyaman karena hatinya tidak untuk acara ini.


“ Hanum?” Kepala Tiara muncul dari balik pintu kamar Hanum.


Kepala gadis itu terangkat, dia menatap Tiara dengan mata berkaca kaca menunjukkan betapa sedihnya dirinya saat ini. Di saat dia telah jatuh hati, justru dia tak bisa lepas dari kata katanya yang menyetujui perjodohan ini.


“ Raaa.... hiks hiks hiksss...


Gadis itu berlari dan langsung menghamburkan pelukannya pada Tiara. Satu satunya tempat dimana dia bisa mengungkapkan semua perasaannya.


“ Hei yang mau tunangan kenapa menangis?” Tiara mengusap punggung Hanum.


“ make up bisa rusak Hanum,” ucap Tiara.


“ Au gak mau raaa... gimana ini aku... aku gak bisa berhenti mikirin tuan Max, aku... aku baru kali ini jatuh cinta, tapi aku terjebak dengan semua ini,” Hanum menangis sejadi jadinya sambil memeluk Tiara dengan erat.


“ hadehhh si tante Hanum gimana sih, kan kamu yang setuju Hanum ya tanggung jawab dong sama kata katanya, kan kamu yang melepas kesempatan buat dekatin kak Max, dan kamu terima perjodohan ini meski belum tau siapa yang akan dijodohkan sama kamu,” ucap Tiara.


“ Ihhh Raaaaa bukannya tenang aku makin marah ihhh..” kesal gadis itu.


“ hahhaha... makanya jadi orang jangan plin plan, ini kan akibatnya, udah deh kamu jalani aja, lagian selama janur kuning belum melengkung pernikahan kalian bisa batal kalau masing masing pihak gak setuju, kamu cukup yakin kan aja calon suamimu kalau kalian gak cocok dan semua akan beres,” ucap tiara.


“ Ra, kamu kayak gak tau Papa dan Mama aja deh, mereka itu gak bakal lepasin aku dari pernikahan ini, sekali ditetapkan harus diikuti dan kalau seperti yang kamu bilang tadi, aku pasti di hapus dari daftar keluarga, kamu jelas tau sifat mereka,” rengek Hanum.


“ Nah itu kamu tau, kalau gitu gak perlu nangis dan jalani saja, kalau memang berjodoh dengan kak Max kalian pasti bersama, bagaimanapun caranya,” ucap Tiara sambil mengusap air mata Hanum dan memperbaiki riasan wajah sahabatnya dengan lembut.


“ Hiks ya udah, tapi kamu harus dekat aku terus,” ucap Hanum.


“ Boleh ya, kamu yang temani aku, aku tenang kalau sama kamu,” ucap Hanum yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Rombongan dan iring iringan lamaran sudah tiba di kediaman keluarga Malik. Semua orang menyambut kedatangan keluarga Syekh dengan begitu sukacita. Tetu ada penawaran hebat ketika lamaran ini diusulkan.


Yang jelas lamaran sebelumnya bukan dari pihak keluarga Syekh melainkan dari pihak keluarga lain yang masih ada hubungannya dengan keluarga Syekh. Dengan kemampuan Diana dan Arthur dan dukungan besar dari pasangan muda Karl, semua berhasil dijalankan.

__ADS_1


“ nona, calon tunangannya sudah tiba, silahkan keluar dan ikuti saya,” kepala pelayan rumah Malik datang dari balik pintu.


“ Baik,” ucap kedua perempuan di dalam sana. Tiara menggandeng tangan Hanum dengan erat. Gadis itu tampak deg degan sekaligus takut. Penasaran dengan sosok pria yang melamarnya hari ini.


Mereka berdua berjalan dengan pelan diikuti oleh beberapa pelayan yang membantu di belakang.


“ Ra aku takut,” bisik Hanum . Tiara hanya membalas dengan senyuman sambil berkata,” tidak apa apa,” dan menepuk punggung tangan sahabatnya dengan lembut.


Hanum berjalan dengan pelan hingga tiba di ruang acara.


“ Ini putri kami Hanum, dan Hanum perkenalkan calon suamimu,” ucap Nyonya Maryam sambil menunjuk ke arah seorang pria yang berdiri di hadapannya bersama rombongan yang lain.


Hanum mengangkat kepala, dia menatap orang orang disana, ada Diana dan ada Max di belakang pria yang berdiri di depannya.


“ Salam kenal nona.” Ucap Rian dengan sopan. Sementara itu Max sudah terdiam membatu di belakang tubuh Rian, tak berani menatap ke depan.


“ Tuan Max datang, tapi sepertinya dia memang tidak punya perasaan yang sama denganku,” batin Hanum yang sontak memasang wajah kecewa karena pria yang dia sukai justru datang bersama orang yang melamarnya.


Rian terkikik geli begitu juga dengan yang lain, apalagi melihat kedua sejoli itu membuat Tiara, Vernon, Arthur, Diana dan yang lainnya senyum senyum sendiri.


Jelas sekali kalau mereka berdua saling menaruh hati.


“ Eh ma.. maaf bukan seperti itu maksud saya tuan,” ucapnya dengan rasa bersalah tetapi matanya tak lepas dari Max.


Tiara hampir saja melepaskan tawanya. Max sendiri hanya diam dan menunduk sambil mencengkram erat buket bunga mawar yang dia beli untuk nyonya mudanya.


“ Hahahah.. saya memang salah, seharusnya yang berdiri disini adalah…” Rian mundur dan menyamakan posisinya dengan Max. semua orang menatap mereka. Rian menepuk punggung Max yang tak lagi fokus dengan acara itu.


“ Bro… majulah, lamar pujaan hatimu,” ucap Rian sambil mendorong Max ke arah depan. Max terkejut bukan main, apa maksudnya ini, apa yang mereka maksud saat ini kalau Max yang melamar bukan Rian?


Max terlihat bingung dan linglung dia menatap semua orang, wajahnya mengatakan kalau dia tidak tau apa apa. Dia menatap tuan mudanya dengan tanda Tanya besar yang bertengger di kepalanya.


“ Bukannya ini keinginanmu Max, ayolah jadi gentle sedikit,” ucap Vernon sambil menepuk bahu asistennya.


“ tu.. tuan muda, kalian, ma.. maksudnya apa?” Max masih bingung sama hal nya dengan Hanum dia menatap Tiara dan yang lainnya dnegan tatapan bingung.


“ Raa ini ada apa?” Tanya Hanum.

__ADS_1


“ Acara lamaran kamu sayang, ini kan yang kamu mau,” ucap Tiara sambil tersenyum lembut.


“ Majulah kak, aku dan yang lain sudah menyiapkan ini semua untuk kalian, lakukan sekarang jangan sampai ditikung lagi,” imbuh Diana.


Max terdiam, mencerna semuanya dengan baik. Akhirnya dia paham, semua orang disana menyiapkan acara ini untuk dirinya dan Hanum. Tuan dan Nyonya mudanya, sahabat sahabatnya, adik adiknya dan semua orang yang dia percayai merencanakan ini semua.


“ Ini benaran?” Max menatap Rian.


“ Tentu saja, sudah sana,lamar pujaan hatimu dengan gentle,” ucap Rian yang langsung mendorong Max ke depan Hanum.


“ Eh… a.. aku..


Max berhenti tepat di depan Hanum. Tiara melakukan perannya, dia mendorong Hanum ke dekat Max lalu berkumpul bersama suami dan yang lainnya.


“ Ha.. halo Hanum, “ Max terlihat gugup sama halnya dengan Hanum.


“ Tu,.. tuan Max,” ‘Hanum terlihat malu , pipinya bersemu merah, dia menunduk sambil menahan malu.


“ Ekhmmm… aku harus berani,” gumam Max.


“ Mungkin ini sedikit terburu buru dan tidak ada proses tapi aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu Hanum Khodijah Malik, saat pertama melihatmu, kamu berhasil membuat hati ini kembali hangat, aku tidak ingin basa basi tetapi ingin membuktikan kalau aku benar benar telah jatuh hati padamu,” ucap Max.


Hanum terkejut, dia tak menyangka kalau Max juga punya rasa yang sama. Rasanya dunia Hanum berputar begitu cepat.


“ Maka dari itu, Hanum Khodijah,” Max berlutut di depan Hanum.


“ mau kah kau menikah denganku?” ucap Max sambil mengarahkan bungkus rujak ke depan Hanum.


“ ehhh kak Max bukan itu pfftt bwahahhahahaahhha…..


“ Aduh ini anak udah keren malah ngelamar pakai rujak hahahhahaha….”


“ Eh aduh salah, maaf heheh… mau kan nikah denganku?” ucap Max dnegan mengangkat buket bunga ke hadapan Hanum sambil tersenyum malu karena lagi lagi gagal fokus.


“ Bwahahahahhaha….


Semua orang tertawa melihat tingkah anak itu, bisa bisanya dia melakukan hal konyol di hari lamarannya. Bukannya memberikan buket bunga tapi memberi rujak untuk melamar sang pujaan hati.

__ADS_1


Hanum tersenyum bahagia, dia mengambil buket bunga itu,” kita langsung menikah saja hari ini..” seru gadis itu dengan penuh semangat.


“ Wahh gercep sekali hahahahhahaha…


__ADS_2