
Bandara Internasional Mohammad Hatta
Vernon, Tiara dan rombongannya sudah tiba di Indonesia setelah Tiara menjalani perawatan kurang lebih dua Minggu untuk pemulihan luka di lengannya. Sekaligus menjadi acara liburan bagi tim yang dibawa ke Milan.
"Huwaahhhh segar sekali!!!!!" seru Hanum yang menghirup dalam dalam udara Indonesia.
Dari ujung sana Max melirik Hanum yang terus saja membuat hatinya bergetar.
"Hei jaga mata, kalah suka anak orang langsung di halalin," bisik Arthur seraya menyenggol lengan Max.
"Eh.. ekhmm.. a..aku tidak tau caranya, bagaimana? apa bisa kau ajarkan? aku takut gagal seperti dulu," bisik Max.
"Hihihih... jadi pria gila kerja ini punya perasaan pada Hanum, luar biasa, sepertinya kau akan segera menyusul pasangan itu," celetuk Arthur sambil melirik Vernon dan Tiara.
"Semoga saja, " ucap Max tanpa ragu.
"Hahahah... bukannya dia sudah dijodohkan, bagaimana bisa kau merebut jodoh orang!?" tanya Arthur. Tentu saja pertanyaan ini membuat mood Max jadi buruk, diingatkan dengan fakta kalah Hanum sudah dijodohkan membuat dirinya kesal.
"CK... sebelum janur kuning melengkung, yang namanya jodoh masih Allah yang tentukan, sebelum kata sah diucapkan maka masih ada kesempatan untuk ku!!" tegas Max.
"Wah kak Max suka ya sama Hanum, mau Diana bantu!?" Tiba tiba wanita itu datang diantara mereka berdua. Hubungan Max dengan Diana masih belum cukup baik, tapi melihat bagaimana Diana berubah seperti ini dan menjadi perempuan yang lebih lembut membuat Max mulai menerima Diana di sekitarnya.
"Anak anak tidak perlu tau urusan seperti itu," Ucap Max dengan ketus.
Bughh...
"Jangan kasar pada adikmu sendiri, mana ada wanita yang mau padamu kalau kau sendiri kasar pada adikmu bodoh!" ketus Arthur sambil mengikuti perut pria kaku di sampingnya itu.
"CK... kalian sangat berisik, dasar, "Max meninggalkan mereka berdua.
Diana dan Arthur saling menatap, sebuah ide muncul di kepala mereka.
"Sepertinya kita butuh bantuan Mamud!" ucap Arthur.
"Aku akan menyelidiki latar belakang Hanum dahulu, dan cari tau siapa pria yang dijodohkan dengan Hanum, jika bukan pria baik baik maka kita singkirkan saja, jika pria baik baik maka dia akan jadi saingan berat kak Max, heheheh... ini akan sempurna, kak Max bisa lepas dari perjodohan keluarga Syekh!" celetuk Diana.
"Apa dia masih saja dijodohkan? apa orangtua kalian tidak lelah? sudah jelas putranya kabur dari rumah karena perturan ketat tak masuk akal, sekarang masih saja berniat menjodohkan Max, apa mereka ingin kehilangan anak mereka!?" celetuk Arthur.
"Entahlah, mereka memang berlebihan,,'"
"Ya berlebihan sampai kau juga keluar dari rumah karena masalah yang sama kan?" tanya Arthur sambil menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Ehh tau dari mana !?" Diana terkejut pasalnya itu rahasianya . Bahkan Max tidak dia beritahu tentang hal itu.
"Aku ini Arthur, aku tau semua tentang kalian hanya dengan satu klik hehehhe..." celetuk pria itu.
"Hmmm.... tidak diragukan lagi kakak jadi orang kepercayaan tuan muda, Hacker, Militer, berkedok Model, sungguh hebat!" celetuk Diana.
"Ahhh jangan bilang bilang, nanti orang tau,"
"Siapa yang akan percaya pada kata kataku tuan, sudahlah sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, ada beberapa orang yang mengawasi kita sejak tadi, " Ucap Diana sambil mengeluarkan Compact powder nya dan membuka kaca nya.
"lihat ini," ucap Diana sambil mengarahkan kaca itu ke beberapa pria misterius yang sejak mereka turun dari pesawat terus mengawasi mereka dengan mata tajam seperti seekor elang.
"Ini bukan Davichi maupun Kalvari, lalu siapa mereka itu!?" ucap Arthur.
"Bulan Merah! lambang di punggung tangan mereka itu menunjukkan kalau mereka dari bulan Merah, kenapa mereka sampai mengawasi tuan dan Nyonya,padahal tidak ada konflik dengan geng itu!" ucap Diana.
"Nanti kita cari tau, perketat penjagaan nyonya muda dan tuan muda,ayo bergerak!" ucap Arthur yang dibalas anggukan kepala oleh Diana.
Kepulangan mereka disambut oleh Johan, Nastusha serta Kevin dan juga si kecil Shaka.
"Adikku sayang!!!" teriak Johan dengan senyuman sumringah, dia berlari sambil merentangkan kedua tangannya saat melihat Tiara tiba. Mungkin karena lama berpisah membuat Johan dan Tiara ketika bertemu akan berperilaku seperti anak kecil.
"Huwaaa kakak..... aku diculik ke Milan, Tiara kangen kakak!!!!" seru wanita itu sambil berlari.
"Kamu!" ucap Johan dan Tiara serentak.
"pfthh hahahhahaha...." Mereka hanya bisa tertawa melihat keharmonisan hubungan kakak adik itu.
"Lihat lah mereka berdua ini, berpelukan seolah hanya mereka yang ada di dunia ini, " celetuk Nastusha.
"Bagaimana keadaan Tiara, apa dia sudah baikan? tidak ada masalah kan dengan adik ipar dan calon keponakanku!?" Celetuk Kevin seraya menghampiri adiknya.
"Bagaimana keadaan Tiara selama disana, apa dia ada masalah? kandungannya bagaimana?" tambah Nastusha lagi.
"Tiara baik baik saja, kandungannya juga baik, semuanya sudah dikontrol dengan aman," ucap Vernon.
"Baiklah," ucap Mereka.
"Apa kalian tidak tanya tentang aku!? " celetuk Vernon.
"Tidak perlu, kau tampak baik baik saja, " celetuk Kevin.
"Iya benar, buat apa ditanya, " balas Johan seraya menjulurkan lidahnya ke arah Vernon.
__ADS_1
Vernon mengerucutkan bibirnya, semua yang mereka tanyakan sejak tadi adalah tentang Tiara dan kandungan nya. Tapi dia satu sisi dia bersyukur kalau mereka menyayangi Tiara sedemikian besar.
"Halo uncle!!" Shaka kecil menggenggam jari telunjuk Vernon dengan tangan kecilnya.
"Eh... Shaka anak ganteng!!" Vernon langsung menggendong bocah kecil itu dan menatapnya dengan wajah berbinar binar.
"Sayang, Shaka bisa jadi tempat latihan merawat anak!" celetuk Vernon.
"Ehh si Buyung, Lo kira anak gue kelinci percobaan!" celetuk Johan sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Vernon.
Entah dapat ide darimana, saat melihat Shaka, Vernon langsung terpikir kalau anak kecil itu bisa dijadikan tempat uji coba pelatihan merawat anak.
"Dasar, udah bapak bapak masih aja bercanda kelewatan, merawat anak itu mudah selama kalian kasih hati, kalau gak kasih dan anggap itu beban maka semuanya akan sulit, " ucap Nastusha sambil menggandeng lengan Tiara.
"Waahh kakak ipar pasti sabar banget ya, apalagi merawat dua pria, satu bayi kecil satu lagi bayi besar, " celetuk Tiara.
"Emm nggak sih, kadang gak sabaran juga apalagi kalau lihat rumah berantakan terus seseorang asik main game aja gak lihat anak udah belepotan sama saos kacang terus kasur dan sofa belepotan kena cokelat dia malah nyantai sambil bilang gak apa apa, biar aku panggilin layanan pembersih rumah sambil nyengir minum kopi terus kuasainya berserakan di lantai, huh EMOTIONAL DAMAGE!!" celetuk Nastusha sambil melirik suaminya si pelaku.
"Bwahahahahhahaha... jadi Kak Johan begitu hahahahaha... ihhh kak Johan jorok ya, masa gara gara game sampai begitu ahhahahahah..." Tiara tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan yang lain.
"Ehh sa.. sayang jangan kasih tau dong, ihh gak lagi, kan udah berubah," rengek Johan sambil menarik lengan istrinya.
"Hahahhaha.... Sepertinya aku tidak bisa mencontoh Johan, dia contoh yang buruk hahahahha..." tukas Vernon.
"Ya.. salah sih, tapi gak lagi, udah tobat saya, itu dulu sebelum aku menyadari betapa lelahnya Nana merawat kami," Ucaonya sambil memeluk istrinya dari belakang.
Mereka asik bercengkrama sebagai pasangan pandangan yang sudah menikah, sementara pada jomblo hanya berdiri sambil gigit kuku menonton kemesraan mereka.
Lain halnya dengan Hanum, dia menunduk sedih," Aku mungkin tidak akan sebahagia mereka," pikir wanita itu saat memikirkan tentang perjodohan nya.
"Hanum, apa kamu punya waktu akhir Minggu ini!?" tiba tiba Max mendekati Hanum.
"Eh... Tu..tuan...? "
"Kita jalan, ku jemput pukul 10 pagi, bersiap siaplah, ada yang ingin kubicarakan, tidak ada penolakan, kamu hanya perlu menyiapkan dirimu," ucap Max dengan aura tegasnya lalu pergi dari sana setelah mengungkapkan niatnya dengan gentle.
"Eh... a..aku.. baiklah," Ucao Hanum yang masih belum paham apa yang terjadi.
Sementara itu sembari mereka berjalan, Bebe orang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Kak, itu dia perempuan yang merebut calon suamiku, dia yang merusak semuanya, perempuan itu berhati iblis, bahkan Risa dan keluarganya hancur hanya karena perempuan berhati setan itu, kita harus bisa menyingkirkannya!" Mina berdiri disana, di lantai dua bersama seorang pria berambut hitam legam menatap Tiara dengan tajam.
"Kakak akan membantumu selama informasi yang kamu berikan itu benar!" ucap pria itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Heh si bodoh ini!" Diana melirik ke lantai dua, dia sudah tau siapa otak di balik mata mata ini.