
Tiara berjalan perlahan, sejak tadi dia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Perlahan lahan Tiara berjalan sambil memikirkan cara untuk menghadapi orang misterius yang mengikutinya sejak tadi.
Jangan lupakan kalau wanita itu pemegang sabuk hitam tentu saja instingnya sangat kuat. Bukan seseorang yang mudah untuk di permainkan oleh para musuhnya. Tiara berjalan buru buru masuk ke dalam toilet .
Dia dengar dengan jelas langkah kaki tuan Admaja masuk ke dalam ruangan itu meski suara kakinya sangat pelan tapi telinga Tiara cukup tajam sebagai seorang petarung.
“ huh... mau apa dia sampai mengikutiku seperti ini? Mana kebelet lagi..” gumam Tiara sambil menyelesaikan urusannya di dalam bilik toilet dan memikirkan cara untuk menghadapi pria gila yang diam diam membawa senjata ke dalam toilet.
Tiara menggigit kukunya dia benar benar gugup saat ini, bagaimana cara menghadapi pria yang sudah kerasukan iblis kejam itu .
“ Sial, aku terjebak disini, aku kebelet, ya kali aku lari tadi huh...” Tiara mulai resah.
Dia menatap toilet itu ada sabun cari dan hand sanitizer disana. Dia mengambil kedua benda itu, sebuah ide muncul di dalam kepalanya, dia mengambil botol sanitzer spray dan mencampur kedua benda itu.
Crrrtt... crrtt...
Beberapa kali dia menyemprotkan benda itu,” hummm sepertinya ini sudah bisa, harus cepat, eghh huwekk tapi bau...” gumam Tiara. Wanita itu tetap tenang dia membuka pintu dan berjalan keluar seolah tidak terjadi apa apa.
Tiara menatap tuan Admaja, ekspresinya yang tenang langsung berubah menjadi panik seperti kebanyakan orang biasa jika bertemu dengan pembunuh yang memegang pisau di depan mereka.
“ A.. apa yang kau lakukan disini,? Ma... mau apa kau!!!” Tiara tampak sangat ketakutan, dia berjalan mundur sambil menyembunyikan botol sanitizer dengan baik sebelum menggunakannya.
Tuan Admaja menatap Tiara dengan senyuman menyeringai sambil menghunus kedua belati itu di depan wajah Tiara.
“ Ma.. mau apa kau!!” pekik Tiara ketakutan.
“ Mau membunuhmu wanita sialan!!” Pekik tuan Admaja sambil menerjang Tiara secara membabi buta dengan kedua belati tajam itu.
Creett creett..
Denagn posisi yang tepat untuk menghindar Tiara menyemprot mata pria itu dengan hand sanitizer membuat penglihatan tuan Admaja terganggu.
“ Apa yang kau lakukan sialan!!” pekik tuan Admaja yang matanya perih karena semprotan sabun dan handsanitizer yang diberikan Tiara.
“ Beraninya kau...” pekik tuan Admaja sambil menggerakkan tangannya secara membabi buta.
“ Sialan, aku harus segera lari dari sini,” gumam Tiara.
“ mati kau!!!"pekik tuan Admaja sambil menghujamkan belatinya ke arah Tiara saat matanya sama samar melihat wanita itu.
Jleebb...
Satu belati itu berhasil menusuk lengan Tiara. Gerakan kasar dan ruang yang sempit mempersulit gerakan Tiara.
“Arkkhhh...... sial... kau menusukku..” Tiara meringis kesakitan.
“ Kau saja yang mati bajingan!!” pekik Tiara sambil mengambil ancang ancang.
__ADS_1
“ Mati saja kau!!” pekik Tiara sambil mengayunkan kakinya ke arah titik vital tuan Admaja dan
Krakkk.. jedaarr.......
Bagai disambar pertih selruruh tubuh tuan Admaja remuk, tulang tulangnya bagai lepas dari tubuhnya saat tendangan sakratul maut Tiara mendarat di titik vitalnya. Hancur sudah pusakanya akibat tendangan keras dari kaki besi Tiara.
“ akhhh... be.. beraninya kau....
Klotang...
Pisau lainnya terjauh ke atas lantai, tuan Admaja terdiam dengan rasa sakit yang luar biasa yang menjalar ke seluruh persendiannya, tak bisa bergerak, wajahnya memerah menahan sakit, sepertinya kantong telurnya telah pecah , hilang sudah aset berharga pria itu.
Brukkk...
Tuan Admaja tak bisa bergerak, dia jatuh terjerembab ke atas lantai dengan wajahnya yang menghantam lantai.
“ mampu kau!” kesal Tiara sambil menekan pendarahan yang terjadi di lengannya, dia menarik bagian roknya dan membungkus lengan yang masih didiami oleh pisau belati yang menusuk begitu dalam lengan kanan wania itu.
Tiara mengikatnya kuat kuat untuk mengurangi pendarahan, jika dicabut maka dia akan kehilangan lebih banyak darah.
“Arkkkkhhh ini sakit... benar benar sakit...” suara Tiara terdengar lirih. Dia berjalan keluar dengan tubuh lemah. Ditutupnya pintu kamar mandi itu agar tuan Admaja tidak melarikan diri meski hal itu tidak akanmungkin terjadi.
Tiara berjalan dnegan tertatih tatih , darahnya semakiun banyak terbuang.
Sementara itu Vernon yang sedang menemani para pebisnis berbicara tiba tiba merasakan jantungnya berdebar kencang dia langsung mencari keberadaan istrinya dan meninggalakan pembicaraan.
“ Buannya berama tuan muda?” tanya Max yang sejak tadi sibuk menandatangi kertas para fans dadakan yang mengidolakan pria itu.
“ Sialan!” umpat Vernon. Sontak pria itu berlari ke belakang panggung, yang lainnya melihat apa yang terjadi. Diana, Arthur, Duo K, dan Max berlari mengikuti Vernon yang kelihatan panik.
“ Dimana Tiara!?” pekik Vernon.
“ hah... hah... hahh... sa.., sayang aku disini..” suara Tiara terdengar lemah, Vernon menatap seluruh ruangan dia mendapati istrinya yang terduduk lemas di dekat dinding dengan lengan bercucuran darah.
“ Tiara... apa yang terjadi padamu!?” Vernon langsung menghampiri istrinya.
Yang lain juga terkejut bukan main dengan apa yang baru saja mereka saksikan, dikira masalah sudah selesai ternyata Tiara menjadi pusat sasaran.
“ Ce.. cepat tangkap pria gila itu, dia di toilet wanita bagian barat, sudah pingsan terkena tendangan sakratul maut hahahah... aku berhasil hahahaha..” Tiara tertawa dengan suara lemah sambil menatap sayup suaminya, kulitnya pucat, bibirnya kering, peluh membasahi seluruh tubuhnya.
“ Sialan siapa yang melakukan ini...” pekik Vernon.
Para anak buah langsung pergi ke tempat yang diakataan oleh Tiara, mereka pergi bersama Max dan Arthur.
Vernon langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya berlari keluar menuju mobil.
“ ‘Sayang aku berhasil memukul nya tadi heheh...” celetuk Tiara yang sudah lemas namun bisa bisanya dia bercanda di saat seperti ini.
“ Jangan bercanda Tiara, keadaanmu sudah seperti ini kau masih bisa bercanda!” Vernon marah , dia benar benar panik dan mengkhawatirkan keadaan istrinya.
__ADS_1
“ heheh maaf...” ucap Tiara sebelum dia benar benar kehilangan kesadarannya dalam pelukan Vernon.
“Raa.. bangun raa.. arhhhhh kenapa bisa sampai seperti ini ... Clark percepat jalannya!!" pekik Vernon yang masih menggendong Tiara bahkan di dalam mobil sekalipun.
Tiara kehilangan begitu banyak darah, wajahnya pucat dan tubuhnya mulai panas.
“ Clarkk percepat lagi!” Pekik Vernon.
Clark si pria berkumis itu mengangguk patuh, dia mempercepat lajunya dan langsung melesat menuju rumah sakit.
“ bertahanlah sayang, kumohon bertahanlah,” lirih Vernon.
Merkea melaju ke rumah sakit terdekat, Vernon melepas pernak pernik di tuabuh Tiara danmelepas gaun itu dan kini tersisa gaun pelapis dasar busana itu.
Setibanya di rumah sakit, Vernon berlari sekencang mungkin , mereka langsung disambut oleh para medis yang sudah dihubungi oleh Max dan diatur oleh Damian.
“ apa yang terjadi?” tanya Damian sambil menatap Tiara dengan belati yang masih tertancap di lengannya.
“ Jangan banyak tanya , cepat tangani dia!!” teriak Vernon yang sudah diambang batas kesabarannya.
Mereka membawa Tiara ke ruang operasi, Vernon tak diperbolehkan masuk, jika dia ke dalam dia hanya akan mengacaukan ruang operasi dan memperlambat pekerjaan mereka.
“ Damian tolong dia... tolong istriku..” suara Vernon bergetar, dia hanya bisa menunggu dalam ketidak pastian.
Ponselnya berbunyi, dia mengangkat panggilan itu,” tuan pelakunya adalah tuan Admaja ayah wanita itu!” ucap Max .
Vernon terdiam sambil mengeraskan rahangnya.
“ Boikot perusahan Admaja, tuntut keluarganya atas percobaan pembunuhan, keluarkan semua kebusukan keluarga itu ke hadapan publik sebarkan semua berita buruk tentang mereka termasuk video Risa dan tua Bangka sialan itu, aku ingin mata mereka melihat kehancuran mereka, hancurkan Toretto sampai berkeping keping...” titah Vernon.
“ akan saya laksanakan tuan muda” ucap Max patuh.
“ Akan kupastikan kalian berumur panjang dan hidup dalam neraka para bajingan sialan!!” geram Vernon.
Beberapa saat kemudian, Damian keluar dari dalam ruang operasi setelah menangani Tiara bersama dokter lain.
“Vernon kenapa bisa terjadi seperti ini? Tiara hampir kehilanganan janinnnya karena syok!!” ucap Damian.
"Aku tidak tau, aku bahkan tidak mem.. a.. apa kau bilang!!!??" Vernon terbelalak saat dia sudah mencerna kata kata Damian.
"Ja.. janin!??" mata Vernon membulat sempurna.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1