Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
92


__ADS_3

Acara yang meriah itu akhirnya berakhir. Semuanya mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu. Semuanya tertawa bahagia. Sungguh acara yang meriah.


Kesuksesan acara ini semua berkat dukungan penuh dari orang orang yang selalu ada untuk pasangan itu selama ini. Max dan Hanum tidak menyangka kalau sahabat sahabat mereka yang bahkan lebih dari keluarga memperhatikan semua detail dengan begitu baik.


Max dan Hanum berdiri menatap mereka dengan tatapan berkaca-kaca. Mereka berada di hotel dimana pesta perayaan dilaksanakan. Orangtua kedua belah pihak jangan ditanya. Setelah acara ijab kabul selesai pasangan Malik dan Syekh tidak ikut acara perayaan itu dengan alasan lelah . Namun mereka tak peduli karena memang selama ini selalu seperti itu.


Disana, di ruangan pesta itu ada pasangan muda Karl yang sedang menantikan buah hati mereka Vernon tampak sangat romantis sedang berdansa bersama istrinya. Keduanya tampak sangat serasi dan pancaran bahagia jelas terlihat di wajah keduanya.


Di sisi lain ada keluarga muda Weizmann yang sedang duduk dengan Shaka di tengah kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya sibuk menyuapi Shaka dan mengambil gambar disana.


Tak kalah dengan pasangan muda, tuan Frank dan Nyonya Gita juga tampak sangat mesra satu sama lain. Keduanya menikmati acara pernikahan Max si robot kaku itu.


Di sisi lain adalah barisan para jomblo yang sibuk dengan urusannya masing masing. Damian dengan pisang di tangannya, Kevin yang mulai berbaur dengan Arthur, Diana, Duo K dan adik adik dari kedua mempelai.


"Semuanya tampak bahagia," ucap Hanum sambil meneteskan air mata terutama saat melihat Tiara.


Max mengikuti arah pandang istrinya. Dengan berani Max menggenggam tangan Hanum dengan lembut.


"Kenapa melihat kesana?" tanya Max yang juga tertuju pada tuan dan nyonya mudanya.


"Akhirnya Tiara menemukan kebahagiaannya tuan, Tiara dan tuan Vernon mereka benar benar bahagia, kedua orang itu yang punya masa lalu yang begitu kejam akhirnya bahagia, dan karena mereka kita...


"shhh... aku tau... ini hari bahagia, jangan menangis terlalu banyak Hanum, aku juga bersyukur bertemu mereka," ucap Max.


"Tuan muda Vernon yang dulu tidak pernah tertawa sekarang menemukan sumber kebahagiaan nya, hidupnya yang gelap kini berwarna karena nyonya muda, dan berkat nyonya muda aku merasakan bagaimana keluarga, dia benar benar cocok menjadi seorang ibu," ucap Max.


"Bahkan saat mengantarkan kamu tadi, Bukannya ibumu yang menangis tetapi nyonya muda yang menangis sesenggukan seolah sedang mengantarkan putrinya ke pelaminan, mereka berdua orang yang berharga dan punya tempat yang spesial," ucap Max.


Hanum mengangguk setuju, "Anda benar tuan, setiap aku bersama Tiara, aku merasa seperti sedang dilindungi, diomeli, diceramahi, di didik oleh seorang ibu," ucap Hanum dengan senyum merekah di wajahnya.


Max juga tersenyum saat melihat wajah Hanum. Dia merangkul bahu Hanum, sungguh sebuah hal baru bagi Hanum.


"Kedepannya mari kita hidup bahagia seperti mereka," ucap Max.


"Aku janji akan menjadi imam terbaik untuk keluarga kita Sayang," bisik Max di telinga Hanum.


Sontak gadis itu terdiam, desir aneh menggerogoti tubuhnya. Pria pertama yang tak ada hubungan darah yang pernah dekat dengan dirinya berhasil membuat gadis itu salah tingkah.

__ADS_1


"Ba..baiklah," ucapnya tergagap.


"Dan satu lagi," Max mengarahkan wajah Hanum ke hadapannya.


"Jangan berbicara baku padaku, dan ganti panggilanmu itu," ucap Max dengan lembut namun tegas. Jelas terlihat dia seorang pemimpin yang hebat.


"Eh... i..itu.. ma...maaf sa..saya.. eh aku belum terbiasa... " cicit Hanum.


Max tersenyum gemas," coba dengan ganti nama panggilannya dulu sayang," ucap Max yang entah sejak kapan mulai lihai menggoda istrinya.


"ehh ba.. bagiamana kalau aku panggil Ma.. Mas? cocok tidak!?" tanya Hanum dengan wajah bersemu merah, dia langsung menunduk karena malu.


Max tersenyum puas, dia sebenarnya sudah memberi kode saat selesai ijab kabul tadi tapi Hanum belum paham. Akhirnya jaringannya tersambung dan sesuai harapan Max.


"Apa tadi aku gak dengar?" tanya Max dengan jahil.


"Emm... Mas," ucap Hanum dengan lembut.


"Ada apa sayang," goda Max sambil tersenyum manis menatap wajah Hanum yang malu malu.


"Eh.... Mas ngerjain Hanum ya... malu ihh..." ucapnya sambil menutup mata lagi lagi semburat merah memenuhi wajah gemasnya.


Semuanya menikmati acara itu hingga selesai. Kini waktunya kembali ke kediaman masing masing.


Vernon, Tiara dan yang lainnya datang berbondong-bondong mendekati pasangan itu dengan Diana membawa sebuah kue Tart dengan tulisan "Happy birthday" di tengahnya.


"Happy Birthday Max !!!" seru mereka yang membuat kejutan bagi Max. Hanum belum tau dia juga cukup terkejut, tapi berkat hari ini dia tau banyak tentang suaminya.


"Ka.. kalian i..ingat!!!??" Mata Max membulat sempurna sambil menjatuhkan rahangnya ke bawah tak menyangka dia akan mendapatkan kejutan ualngtahun pertamanya dari semua orang.


"Sejujurnya ini pekerjaan mereka berdua," ucap Diana sambil melirik otak dari semua kejutan ini, siapa lagi kalau bukan tuan dan nyonya muda mereka.


"Terimakasih atas perhatian tuan dan nyonya muda," Ucap Max terharu.


Mereka tersenyum bahagia untuk pria itu, mengucapakan selamat ulang tahun dan harapan harapan baik bagi mereka.


"Kurasa mobilnya sudah tiba," Ucao Vernon sambil menatap ke luar, sebuah Limousine putih terparkir di depan hotel itu.

__ADS_1


"Max, Hanum ini sedikit hadiah pernikahan sekaligus hadiah ulang tahun dari kami, Nikmatilah waktu kalian selama sebulan penuh, jalin hubungan yang lebih dekat dan nikmati bulan madu kalian," ucap Tiara sambil menggenggam tangan sahabatnya.


"Ra... i..ini??" Hanum terkejut, begitupun dengan Max.


Mereka telah menyiapkan paket liburan romantis untuk pasangan baru itu. Semuanya dipersiapkan dalam waktu singkat namun terasa suasana bahagianya.


"Max kau sudah dibebas tugaskan, semua dokumen di dalam mobil itu milikmu, uruslah bisnismu sendiri, dan jadilah pria yang hidup, bukan jadi robot!" ucap Vernon.


"Ma.. maksudnya saya dipecat tuan!? jangan seperti ini saya tidak terima, ini terlalu berlebihan tuan muda!" Max tak rela jika harus dipecat dari posisinya.


"Siapa bilang aku memecatmu, kau hanya dibebastugaskan selama sebulan, nikmati waktu liburanmu dan uruslah hadiah pernikahan yang kami berikan padamu, enak saja kau berpikir ingin kupecat, tugas masih banyak!" celetuk Vernon.


"hahh... syukurlah, kupikir aku dipecat," gumam Max.


"sudah sana cepat!" ucap Vernon.


Max dan Hanum langsung berangkat hari itu juga menuju tempat bulan madu mereka.


Tiara dan Vernon juga yang lainnya menatap kepergian pasangan itu. Semuanya bahagia. Pasangan muda itu merasa lega, seperti sedang melepas anak anak mereka menghadap kehidupan bahagia mereka.


Setelah kepergian Max dan Hanum, semuanya kembali ke kediaman masing-masing. Hari sudah larut malam. Tiara dan Vernon pulang bersama Kevin, Arthur, dan Damian dengan dikawal ketat oleh anak buah.


Mereka menggunakan mobil masing-masing.


Mobil Vernon melaju dengan stabil melewati area area sepi di malam hari.


Duarr... Duarrr....


Suara tembakan terdengar begitu keras membuat semua orang terkejut bukan main.


"Saya ada suara tembakan!!!" pekik Tiara panik.


"Sial, apa yang terjadi!!!" Vernon mengumpat sambil mulai mengomando anak buahnya.


"Perketat penjagaan nyonya muda dan balas serangan!!" Titah Vernon.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2