
Tiara tampak duduk termenung di atas kasur. Setelah acara makan makan tadi, dia bersama Max dan Vernon mengantarkan Hanum ke rumah gadis cantik itu.
Tak terasa malam sudah larut tetapi tampaknya beberapa orang di rumah itu masih belum bisa memejamkan mata mereka.
Tiara sibuk dengan pikirannya tentang kata kata dan kondisi Kevin siang tadi. Vernon masih bekerja di ruang kerjanya dalam kamar itu.
Max?
Jangan ditanya. Dia tidur telentang di atas kasur, tangannya memegang dadanya. Jantungnya masih saja berdebar debar tak karuan kala melihat Hanum tadi. Yang ada di dalam pikirannya hanya wajah lembut selembut lembayung senja di pagi hari.
"Ahhh aku jatuh cinta," gumamnya sambil tersenyum seperti orang gila. Gila karena cinta lebih tepatnya
Sementara itu di rumahnya, Hanum juga dalam kondisi yang sama. Dalam pikirannya masih memikirkan pria tampan nan mempesona di kediaman keluarga Karl tadi. Bagaimana bisa ada seseorang semenarik pria itu.
Kembali ke rumah Karl. Tiara masih saja belum terlelap. Sesekali perempuan cantik itu melirik ke arah Vernon yang masih berkutat dengan laptopnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Apa yang harus kukatakan padanya?" gumam Tiara sambil melirik Vernon.
Vernon yang sedang bekerja merasa dirinya ditatap sejak tadi. Akhirnya dia menoleh dan mendapati sang istri belum belum juga terlelap. Dia bangkit dan langsung menghampiri istrinya.
"Sayang ada apa? kenapa kamu sejak tadi melihat ke arahku?" Vernon duduk di samping Tiara dan menatap wanita itu.
" Ver ada yang ingin kusampaikan," ucap Tiara. Dia berharap agar suaminya tidak marah. Sebab dia tau kau Vernon sangat membenci Kevin.
"Apa? katakanlah? apa yang mengganggu pikiran istriku ini sampai dia tak bisa tidur padahal sudah larut malam."
"huh.... tapi jangan marah." ucapnya sambil menghela nafas berat.
Vernon duduk dengan tegak. Tampaknya pembicaraan ini begitu serius. "Katakanlah."
"Tadi siang aku tidak sengaja bertemu dengan Kevin..
"Kevin!? untuk apa ka bertemu dengan pria itu Tiara!!!" Vernon membentak istrinya padahal Tiara belum selesai dengan kata katanya.
Seketika itu Tiara terkejut dengan tempramen keras suaminya itu. Belum juga menjelaskan, hanya mengucapkan nama Kevin saja pria itu sudah murka.
__ADS_1
"Dengar dulu Ver, aku ingin membicarakan sesuatu tentang dia!" ucap Tiara sambil menyentuh lengan suaminya.
Vernon yang sudah gelap mata menepis tangan Tiara dan langsung beranjak dari sana dengan wajah kesal. Dia sangat membenci berbicara tentang apa pun mengenai keluarga nya.
"Tak ada yang perlu kita bicarakan tentang pria itu. Tidurlah sudah larut malam!" tegas Vernon. Hanya mendengar nama Kevin dia berubah menjadi dingin bahkan kepada istrinya sendiri. Tiara terdiam. Sikap keras kepala Vernon membuatnya takut, belum lagi cara pria itu membentak dirinya sungguh mengejutkan.
Tiara menggenggam flashdisk itu, apa pun akhirnya dia harus menyampaikan benda itu pada Vernon.
"Ver dengar dulu," Tiara berdiri dan mengejar Vernon.
"Apa lagi Tiara, aku membenci pria yang kau sebut itu. Kau jelas tau itu. Tapi kenapa kau membahas namanya di malam ini!!" kesal Vernon. Lagi lagi dia tak sadar kalau dirinya melukai hati istrinya hanya karena dendamnya pada orang lain.
"Kau tidak membiarkanku bicara. Kau juga membentakku. Keras kepala. Dasar keras kepala. Ambil ini, aku tidak peduli kau buang atau kau hancurkan, yang penting aku menyampaikan benda ini ke tanganmu. Terserah padamu!!" kesal Tiara.
Tempramen Vernon ini benar benar sulit dihadapi. Tiara meletakkan flashdisk itu di atas meja dan kembali ke atas kasur dengan wajah kesal.
" Aku tidak peduli, jangan pernah membahas keluarga itu disini Tiara, aku tidak suka!" tegas Vernon.
"Siapa yang mengijinkan mu bertemu pria lain hah!" kali Ini Vernon terbawa emosinya.
Tiara terdiam, "Kami tidak sengaja bertemu Ver. Dia mengajakku bicara. Dia hanya ingin menyampaikan sesuatu pada adiknya, apa kau sama sekali tak ingin mendengar!?" Tiara masih membujuk Vernon.
"Aku tidak membela siapa pun Vernon, aku hanya ingin kalian menyelesaikan kesalahpahaman, belum aku menjelaskan kau sudah mengecap ku dengan kata katamu itu!" Suara Tiara terdengar getir. Perdebatan pertamanya dengan Vernon berakhir seperti ini.
Hati Tiara sakit. Tak menyangka kalau suaminya berpikiran buruk tentang dirinya. Hampir saja air mata Tiara lolos dari kedua pelupuk matanya. Sebagai seorang istri dia harus sabar dengan sikap keras kepala Vernon yang baru dia ketahui.
"Kau jadi mengesalkan sejak kau mengaku normal. Terserah padamu, jangan sampai kau menyesal!" ucap Tiara.
Wanita itu membungkus dirinya dengan selimut, benar benar kesal dengan sikap suaminya.
Vernon terdiam, dia menyadari kata katanya telah menyakiti hati istrinya. Tetapi dia tak bisa mengalahkan egonya. Dia terlalu membenci Kevin dan keluarganya.
Tiara memilih terlelap, tak ingin melanjutkan perdebatan itu. Air matanya mengalir, hatinya sedih. Belum lagi kondisi Kevin tadi siang membuatnya mencurigai sesuatu. Ingin menyampaikan hal itu pada Vernon tetapi dia terlanjur marah.
Vernon duduk di dalam ruang kerjanya. Dia menatap flashdisk yang diberikan oleh Tiara pada dirinya. Hanya karena benda kecil itu dia membentak istrinya.
"Sial!"
__ADS_1
Vernon memijit pelipisnya. Tak sanggup lagi melanjutkan pekerjaannya. Dia menghampiri istrinya di atas kasur.
"Ra..." panggil Vernon sambil menggoyang goyang lengan wanita itu. Tiara tidak merespon, dia menutup matanya dan memalingkan wajahnya dari Vernon. Wanita itu membelakangi Vernon menahan gejolak dalam hatinya.
"Kamu jadi nyebelin Ver, aku hanya ingin bicara tapi termpramenmu... Ahhh sudahlah biarkan saja begini !" batin Tiara.
Vernon terdiam apalagi saat di melihat istrinya memiringkan tubuhnya ke arah lain.
"Dia marah, semua karena bajingan itu!!" kesal Vernon.
Keduanya terlarut dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya terlelap ke dalam dunia mimpi membawa beban mereka masing-masing.
Jam berlalu, detik demi detik, menit demi menit telah dilalui hingga akhirnya pagi kembali menyingsing. Sang mentari telah bertahta di kediamannya menyinari bumi dengan berkas berkas jingganya.
Namun keindahan hari ini tak seindah mimpi Tiara. Lagi lagi mimpi buruk yang sama menghampiri wanita itu.. Kepalanya bergerak ke kanan kiri, tubuhnya berkeringat. Dia gemetaran sambil menangis.
"Mami... Papi... kak... hiks hiks... tolong... tolong... api... petir...tolong aku... arhhh... tolong aku...
Racauan Tiara berhasil membangunkan Vernon.
"Ra, sayang bangun sayang... Tiara..." Wajah Vernon panik, apalagi melihat wajah istrinya yang pucat.
"Arrhhhh...." Tiara berteriak, nafasnya naik turun, dia menangis sesenggukan.
"Tenang sayang itu cuma mimpi!" ucap Vernon sambil menepuk punggung Tiara.
Wanita itu menangis, dia menepis tangan Vernon lalu beranjak dari atas kasur meninggalkan Vernon sendirian disana dengan tangan masih posisi terangkat.
"Kau jahat!" lirih wanita itu, dia masuk ke kamar mandi masih menangis sesenggukan.
Vernon terdiam kaku di atas kasur. Dia ingat bagaimana dia menepis tangan istrinya semalam dan hal itu dibalaskan padanya.
.
.
.
__ADS_1
Rasain lu Ver hahahaha
Jangan lupa like, vote dan kasih hadiah sebanyak mungkin biar author makin semangat up-nya🤗