Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
86


__ADS_3


Vernon terkejut bukan main saat mendengar kata kata istri nya. Sepertinya selain trauma, mimpi buruk juga menghampiri Tiara.


Beberapa menit lalu, setelah muntah muntah, wanita itu kembali terlelap, namun hujan dan petir membuatnya tak nyaman ketika tidur. Mimpi buruk menghantui dirinya apalagi Vernon tidak ada disana.


Saking ketakutannya, Tiara masuk ke dalam lemari besar dalam ruangan kamar mereka dan menyembunyikan dirinya disana sambil meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetaran menunggu Vernon tiba di rumah.


"Ra... tenang sayang, aku disini, jangan takut lagi, Vernon sudah pulang, maaf membiarkanmu sendirian," Vernon memeluk tubuh Tiara dengan begitu erat. Dia bisa merasakan ketakutan di dalam diri istrinya.


Pantas saja saat di markas beberapa saat lalu, Vernon merasa tidak enak dengan jantungnya, dia terus kepikiran dengan Tiara yang dia tinggal di rumah.


"Hiks hiks hiks... Aku takut, aku takut kamu pergi, aku gak bisa hidup kalau kamu gak ada huwaaaa....." Tiara menangis semakin kencang.


Menumpahkan kesedihannya dan ketakutannya di pelukan Vernon.


Dengan sangat berhati hati pria itu mengangkat tubuh istrinya dan membawa dia ke atas kasur.


"Aku tidak akan pergi kemana mana, jangan takut, aku akan terus disini bersama kamu dan anak kita," Vernon menenangkan istrinya dengan lembut. Mengusap punggung wanitanya dengan lembut, membisikkan kata kata penenang dan memberikan kecupan manis sampai istrinya benar benar tenang.


"Jangan pergi... hiks hiks hiks... jangan pergi.." Tiara meracau sampai benar benar terlelap karena lelah menangis. Entah hal berat apa yang sedang dialami wanita itu hari ini.


Tangan Vernon menepuk nepuk bahu istrinya. Dia berbaring di samping Tiara, mengusap wajah itu dengan lembut, menyingkirkan anak rambut yang mengganggu tidur istrinya.


"Tenang sayang, tenang ya..." bisik Vernon.


Sesaat kemudian dia mendengar suara dengkuran halus istrinya.


"cepat sekali tidurnya," gumam Vernon.


Dia menatap istrinya dengan penuh cinta, diusapnya lembut wajah wanita itu.


Mata Vernon tertuju pada gaun tidur Tiara yang basah di bagian bawah. Dia sedikit terkejut, "kenapa ini bisa basah? apa dia muntah lagi tadi?" gumam Vernon sambil beranjak dari atas kasur.

__ADS_1


Namun tangan Tiara mencengkram erat baju Vernon.


"Kuat sekali dia memegangnya, aku tidak akan kemana mana ," gumamnya lagi.


Perlahan lahan, Vernon melepaskan tangan istrinya. Tak mungkin dia membiarkan Tiara tidur dengan gaun tidur yang basah.


"Sebentar ya sayang, aku ganti pakaian kamu dulu, ini basah. Kaku bisa masuk angin, bahaya buat kamu dan si dedek," Ucapnya lembut sambil beranjak dari kasur.


Langkah kakinya begitu lembut, tak ingin membangunkan Tiara yang sudah terlelap. Pelan pelan dia beranjak menuju ruang ganti, mengambil satu set pakaian tidur Tiara, lalu mengambil minyak kayu putih dan cream untuk kaki.


Setelah mengambil semuanya, dia kembali ke atas kasur. Dengan sangat berhati hati dia membuka pakaian Tiara dan mengganti pakaian basah itu dengan yang baru. Kali ini Vernon sadar dengan nasehat dari kakak iparnya.


Dulu Johan melakukan kesalahan besar, dia membuat Nastusha menderita saat wanita itu baru hamil. Bahkan Johan terkesan cuek dan tidak peduli dengan kondisi Nastusha yang kala itu butuh perhatian dan perlindungan dari suami.


Yang Johan lakukan adalah berkata kata kasar dan meninggalkan istrinya yang mengalami morning sickness parah bahkan mual dan muntah yang berkepanjangan.


"Jangan meniru apa yang kulakukan pada Nastusha kalau kau tidak ingin menyesal, ibu hamil butuh perhatian ekstra terutama di masa awal kehamilan, lindung dan jaga dia, jangan sampa Tiara merasa kesepian!


Nasehat Johan terus terngiang berulang ulang di kepala Vernon, seolah hal itu harus dia garis bawahi dan catat dengan baik.


Cup...


Sebuah kecupan lembut mendarat di perut istrinya. Rasa sayang dan cinta Vernon semakin hari semakin besar. Bangga memiliki seorang istri yang hebat dan kini sedang mengandung anak mereka.


Setelah mengoleskan minyak kayu putih, dia mengoleskan krim kaki ke telapak kaki dan tumit hingga betis istrinya. Bahkan memberikan pijatan lembut di kaki Tiara dia tidak peduli dengan jam tidurnya, toh sudah biasa lembur bahkan terkadang tidak tidur seharian.


Penuh perhatian, penuh dengan kelembutan, rasa sayang Vernon dia limpahkan sebanyak banyaknya pada Tiara.


Hanya saja trauma Tiara adalah sebuah hal yang benar benar mengganggu bagi Vernon. Kasihan Tiara jika harus terus menerus hidup dalam lingkaran traumanya.


"Pelan pelan aku akan membantu kamu keluar dari traumamu sayang," bisik Vernon yang kini sudah berbaring di samping Tiara. Memeluk istrinya dengan lembut.


Mereka terlelap dalam dunia mimpi , sambil berpelukanmenghangatkan satu sama lain. Jam terus bergulir, tak terasa semua mahluk bumi telah terlelap den menyerahakan penat mereka pada sang malam.

__ADS_1


Hari yang indah ini, pagi yang cerah dan udara uyang segar ini tampaknya tidak seindah pagi seorang gadis berkerudung yang memiliki aura kecantikan yang luar biasa. Sejak kemarin malam dia tampak bengong dan sering melamun.


Tak ada semangat, tak ada gambaran kalau hari yang indah ini akan dilalui sama indahnya. Wajah Hanum tampak sangat suram. Sejak bangun dia sudah disuruh untuk bersiap siap untuk acara lamaran hari ini. Calon suaminya akan datang melamarnya secara resmi hanya saja dia tidak siap.


Hati, pikiran dan tubuhnya tidak siap untuk semua ini. Terlalu mendadak, dia bahkan tidak tau siapa pria yang akan dijodohkan dengan dirinya. Hanum duduk dengan wjaah miuram di depan kacar rias. Para MUA sudah tiba sejak pagi tadi danmembantu gadis itu untuk bersiap siap.


“ Anak Mama, kenapa wajahnya tidak bersemangat hari ini? Kamu akan bertunangan, jangan cemberut seperti itu, bukannya kamu yang menyetujui pertunangan ini?” Nyonya Maryam datang menghampiri putrinya.


“ Ma bolehkan Hanum menolak? Hanum tidak nyaman dengan ini semua,” ucap gadis itu sambil menatap Ibunya dengan mata memelas.


Nyonya Maryam sedikit terkejut, pasalnya sampai kemarin, Hanum sudah ditanya berkali kali dan dia tetap menjawab iya soal perjodohan itu.


“ Hanum, kamu yang setuju, sekrang calon suamimu sudah bersiap apa kamu mau membtalkan lagi? Jangan membuat orang lain merasa kesulitan nak, lagipula apa yang kamu takutkan, mereka berasal dari keluarga terpandang,” ucap Nyonya Maryam.


“ Huh maaf Ma, aku hanya... sudahlah..” lirih Hanum.


Sedih, sesak dan bingung rasanya saat tau kalau dirinya tidak akan bisa bersanding dengan pria yang dia sukai.


“ maa apa aku boleh mengundang Tiara ke acara ini, aku akan lebih tenang kalau ada dia,” lirih Hanum.


“ Boleh, tidak masalah, ohh iya temanmu itu hokinya bagus ya, dia menikahi pria idiot yang ternyata seorang presdir hebat, padahal dia biasa saja, cantikan kamu malah, terus dia kan miskin dan keluarganya juga gak jelas, ahhh kenapa kamu gak seberunt..


“ Maaaa!!!!” pekik Hanum, dia sangat membenci situasi ketika sahabatnya dibicarakan seperti itu, seolah Tiara adalah seorang wanita penggoda.


“ Cukup Ma, mama keluar saja, jangan buat Hanum jadi anak durhaka...” kesal gadis itu.


“ cihh.. ya sudah, ingat saat lamaran nanti jangan berani berani kamu menolaknya, jika tidak kamu tanggung sendiri resikonya,” ancam nyonya Maryam.


Hanum ditinggalkan dengan hati yang sedih, dia dengan terpaksa harus menyanggupi keputusannya sendiri.


“ Max, huh... langit sampaikan padanya kalau hati ini tak bisa bohong, bahwa ruang ini telah diisi dengan namanya, betapa berdosanya aku memikirkan nama laki laki lain saat aku menerima perjodohan dari pria lainnya, bodoh kau Hanum,” lirih gadis itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2