
Mansion Utama Karl
"Kak Max kenapa tidak kelihatan!?" tanya Tiara yang sudah berdandan dengan rapi untuk datang ke acara lamaran sahabatnya, Hanum.
"Ahh dia cuti hari ini, katanya ada urusan keluarga sayang, kamu akan tau nanti, Kita akan bertemu Diana dan Arthur juga, " jelas Vernon sambil menyuapi apel segar ke mulut istrinya.
"Ohhh begitu, oh iya sayang, aku masih gak nyangka loh kalau Kak Max dan Diana itu kakak beradik, tapi kalau diperhatikan lebih teliti emang mirip sih," celetuk Tiara yang juga menyuapi buah apel ke mulut suaminya.
"Awalnya aku juga terkejut, Max cukup tertutup dengan kehidupan pribadinya, tetapi lima tahun yang lalu dia datang membawa Diana dan memintaku untuk memasukkannya ke dalam aliansi. Tujuan Max sederhana, dia sebenarnya ingin melindungi adiknya karena dia menyayangi Diana tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui kalau dia sayang pada adiknya," jelas Vernon.
Tiara menganggukkan kepalanya pertanda dia paham dengan apa maksud Vernon.
"tapi sayang, dari kemarin kamu kelihatan murung, ada apa? pasti terjadi sesuatu kan!?" Tiara menangkupkan kedua tangannya di wajah Vernon sambil menatap suaminya dengan tatapan serius.
Pasalnya sejak kemarin Vernon terlihat murung dan banyak diam. Kalaupun diajak bercanda dia akan tertawa seadanya, seperti orang berkabung.
"Tidak apa apa kok," jawab Vernon lirih.
"Tidak apa apa, tapi mukanya sedih begitu, kamu jujur deh, ada sesuatu kan!?" desak Tiara sambil mendekatkan wajahnya ke arah Vernon.
"Eh.. aku memang gak bisa bohong sama kamu,"ucap Vernon sambil menepuk pucuk kepala istri cerewet nya itu.
"Katakan ada apa!?" tanya Tiara.
"Papa sudah meninggal Ra..." Ucap Vernon dengan nada lirih sambil membungkuk dengan wajah sendu. Air mukanya mengatakan kalau dirinya telah kehilangan sosok orangtua.
Sejahat jahatnya tuan Dharma, dia adalah irangtuabyang mengisi tujuh tahun hidup Vernon dengan kenangan baik, meski setelahnya tak ada kenangan baik yang ditinggalkan oleh Pak tua itu.
keputusan Tuan Dharma untuk mengakhiri hidupnya membuat Vernon sedikit syok. Jika pun tuan Dhaa tetap hidup, akan sulit mengembalikan hubungan yang rusak danembangkitkan kepercayaan lagi, kalaupun dia tetap hidup, kedepannya mungkin akan lebih banyak tantangan.
__ADS_1
Tiara memeluk suaminya. Disaat seperti ini Vernon butuh pelukan dan penguatan dari orang orang terdekatnya. Sebagai seorang anak, selalu ada setitik penyesalan ketika orangtua yang dia benci meninggal dunia tanpa sempat dia membalas semuanya.
"Seharusnya dia tetap hidup dan aku bisa membalaskan semuanya setimpal dengan apa yang telah dia lakukan, seharusnya dia tetap hidup Ra, tapi apa yang dia lakukan,. penyesalannya di akhir hidupnya membuatku merasa sulit untuk membencinya lagi. Seharusnya dia tidak minta maaf, seharus dia tidak menyesal.di akhir hidupny sehingga aku akan membencinya terus sampai mati. Jika begini bagaimana aku akan tetap membencinya raa.." Vernon tanpa sadar menangis dan mengeluar isi hatinya di tempat paling teduh yang dia miliki saat ini
Tangan mungil Tiara terangkat, dia mengusap punggung suaminya dan menepuk nepuknya dengan lembut.
"Setidaknya dia telah menyesali perbuatannya, kedepannya kita harus berjuang untuk hidup lebih bahagia, agar penyesalannya tidak sia sia," ucap Tiara sambil tersenyum lembut menatap wajah suaminya.
Vernon mengeratkan pelukannya pada Tiara. Rasanya selalu tenang ketika istrinya yang menjaga dan memeluknya seperti saat ini.
"Lalu bagaimana dengan pemakaman ayah mertua?" Tanya Tiara.
"Beliau sudah dimakamkan, tak bisa menunggu lama karena Papa bunuh dir dengan meminum pil pembusuk organ, Max sebelumnya sudah mengurus pemakaman, apa kamu mau kesana?" Tanya Vernon.
"Boleh, tapi setelah acara Hanum, kenapa tidak ada upacar pemakaman sayang?" Tanya Tiara.
"Aku belum terpikir untuk mengadakan upacara seperti apa yang layak untuk seorang yang menyiksa keluarganya sendiri, tunggu sampai aku benar benar menerima semuanya Ra,"jelas Vernon.
"Kak Kevin sudah tau, untuk Mama aku masih belum tau dimana keberadaannya," jelas Vernon.
"Hmm baiklah, kamu jangan terlalu lama sedihnya, sekarang kita berangkat yuk, aku khawatir sama Hanum, dia tadi menghubungiku sambil menangis, aku taku dia kenapa kenapa, anak itu terlalu kaku dan malu mengungkapkan keinginannya," jelas Tiara.
"Ya sudah kita berangkat sayang," balas Vernon.
Sementara itu di tempat lain, di kediaman Syekh, Max sedang duduk di dalam ruang keluarga bersama Diana. Suasana benar benar muram, dia dipaksa pulang dengan ancam kalau ayah dan ibunya akan bunuh diri jika.Max tidak pulang sekarang.
Tampaknya ketegangan diantara mereka belum berakhir. Max duduk dengan tegap sambil mengepalkan kedua tangannya dan menatap lurus ke depan.
"Kamu harus ikut perjodohan ini, tidak ada penolakan, jika tidak kami akan bunuh diri!!!" Ancam tuan Syekh sambil mengarahkan pistol ke kepalanya.
Lagi lagi setiap Max pulang,. mereka melakukan pembahasan yang sama. Pembahasan tentang perjodohan dan wanita lagi. Satu satunya yang membuat Max harus pulang yaitu membicarakan tentang perjodohan. Jika tidak pulang, orangtuanya bahkan bisa melakukan hal yang lebih ekstrim seperti mengabarkan berita.berita aneh tentang Max dan perempuan sehingga Max kehilangan muka di hadapan publik.
__ADS_1
"Sudah berapa kali ku katakan kalau aku membenci perjodohan, kenapa kalian tidak pernah mendengarkan aku!!! Lalu apa hak kalian mengatur hidupku!!" Tegas Max
"Nak Mama mohon jangan menolak, acara akan dilaksanakan hari ini, acara lamaran akan dijalankan bagaimana bisa kamu menolak begitu saja, "nyonya Syekh memohon, sesekali dia melirik Diana yang sejak tadi diam saja dan memperhatikan mereka dengan seksama
"Aku tidak mau!!" Tegas Max sekali lagi.
"Kak Max kenapa tidak dicoba dulu? Lagipula kakak juga tidak akan bisa mengejar kak Hanum, sebaiknya kakak menerima perjodohan ini," uaco Diana dengan lembut.
"Kau tau sendiri aku menyukai siapa, tapi kenapa kau tega membiarkan aku menerima perjodohan dengan orang lain Diana!?" Max terdengar kecewa dengan kata kata Adik nya, dia pikir dia akan mendapatkan dukungan dari Diana, taunya Diana malah setuju dengan pernikahan itu.
"Haihh baiklah, jika kau tidak setuju, maka kakak sepupumu yang akan menggantikan posisimu, kami sudah membicarakan ini, kau benar benar keras kepala, dasar batu!" Kesal tuan Syekh sambil berdiri.
Tuan dan nyonya Syekh mendelik kesal dengan keras kepala putra mereka. Sungguh sangat sulit membujuk anak itu.
"Ayo kita pergi, seperti Rian dan keluarganya sudah tiba, tak mungkin kita memaksa anak ini untuk ikut dengan perjodohan ini," kesal tuan Syekh.
"Baiklah Pa,"
"Kalian boleh ikut, Diana kamu temani Mama, kalau si kepala batu itu tidak mau ikut tidak masalah!" tegas nyonya Syekh.
Diana mengangguk, dia menatap kakaknya dengan tatapan kesal.
"Jangan sampai kakak menyesali keputusan kakak, terima akibatnya!" kesal Diana yang sebenarnya sudah tau dengan siapa Max akan dijodohkan.
"Sepertinya memberi kak Max sedikit pelajaran lebih baik agar keras kepalanya itu berkurang!" batin Diana sambil beranjak dari sana.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗