
Setelah menghabisi para pengkhianat, Vernon kembali ke rumah kontrakan Tiara dengan tubuh lelah. Dia dengan cepat mengganti identitasnya agar tidak ada yang mengikutinya. Seluruh tim di Davici akhirnya dikerahkan untuk melindungi Tiara dari jarak jauh. Namun ada beberapa yang dia rekrut langsung untuk selalu berada di dekat istrinya.
Vernon masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah. Dia berharap menemukan istrinya di kontrakan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan seharusnya Tiara sudah pulang.
“Raa. Sayang aku pulang!!” teriak Vernon. Dia berjalan memasuki rumah yang tidak terkunci. Dia mencari cari dimanakah istrinya berada sebab rumah kontrakan mereka sudah terbuka pertanda kalau Tiara sudah kembali ke rumah.
Vernon berjalan dengan wajah lesu, dia membuka topengnya, melepaskan kemejanya, tubuhnya lelah, seharian dia tidak datang ke kantor manapun dan hanya berdiam diri memikirkan keselamatan istrinya, sebab kapan pun informasi tentang Vernon dan orang orang yang dekat dengan dirinya bisa terungkap ke hadapan publik dan malah memancing musuhnya untuk mendekati mereka.
Khawatir , takut dan marah, semunya bersatu dalam pikiran Vernon membuat pria itu kalut dengan keadaan.
Dia melangkahkan kakinya dengan cepat mencari Tiara. Telinganya mendengar suara harmonika yang sedang disenandungkan di arah dapur. Cepat cepat dia melaju menuju dapur. Dan dia menangkap sosok istrinya yang sedang memasak sambil memainkan harmonika. Lantunan musik yang begitu indah dan lembut membuat hati Vernon seketika itu nyaman dan merasa tenang.
“ aku menemukan obatku,” ucapnya sambil berjalan pelan dan menghampiri Tiara lalau memeluk istirnya dari belakang.
Tiara terlalu serius dengan kegiatannya sampai membuat dia terkejut saat merasakan pelukan Vernon di tubuhnya.
“Ehhh sayang, kapan pulangnya, aku gak dengar,” ucap Tiara sambil meletakkan harmonikanya di atas meja.
“Barusan, kamu hebat ya main harmonikanya, baru kali ini aku mendengarnya,” ucap vernon. Dia teringat saat pertama kali bertemu Tiara, benda itu ada di dalam tas lusuh wanitanya.
“Aku main kalau lagi bosan, ini harmonika milik mendiang Mami, satu satunya yang tertinggal padaku saat aku terpisah dari mereka, jarang kumainkan karena takut rusak,” jelas Tiara sambil menggenggam tangan suaminya.
“Hmm... lain kali mainkan lebih sering, aku suka,” ucap Vernon.
“baiklah sayang, apa kamu lelah? Kamu tidak ke Nusantara grup hari ini? Apa ada masalah dengan perusahaan yang satu?” tanya Tiara sambil mengaduk aduk masakannya.
“Ada banyak masalah sayang, masalah besar yang membuatku takut kehilangan kamu,” ucap Vernon dengan suara lesu dan tak bersemangat. Mendengar hal itu membuat Tiara menghentikan aktivitasnya dan mematikan kompor.
Wanita itu berbalik lalu menatap Vernon dengan tatapan penasaran, masalah apa yang membuat prianya sampai selesu itu.
“Ada apa sayang, apa orang itu berusaha melukai kamu lagi, mendekati kamu lagi? Masalah apa? Jujur padaku!?" ucap Tiara sambil menatap kedua netra suaminya.
__ADS_1
Vernon terdiam, bagaimana dia akan jujur dengan statusnya sebagai seorang ketua dari dunia bawah yang sudah membunuh banyak orang dengan tangannya sendiri. Tetapi jika tidak jujur sama saja dia mengingkari janjinya pada Tiara. Akankah Tiara menerimanya jika pria itu merupakan seorang pria dengan tangan yang penuh dengan darah bahkan nyawa Tiara saat ini terancam karena pekerjaannya di dunia bawah.
“Sayang?” panggil Tiara sambil mengelus rahang suaminya. Dia heran dengan perilaku Vernon hari ini.
“Katakanlah tak apa, bukannya kita sudah berjanji untuk saling jujur?” tanya Tiara. Dia khawatir suaminya sedang dalam kondisi mental yang buruk lagi.
Vernon terlihat berkaca kaca, dia memeluk istrinya dengan erat, pertanyaan besar muncul dalam kepalanya, akankah dia dan Tiara bisa menikmati waktu merkea dengan bebas sebagai pasangan suami isrti yang normal ?
“Raa... aku takut..” lirih pria itu, dia benar benar dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Rasanya hati Tiara kembali bergemuruh setiap melihat sumainya dalam kondisi menyedihkan seperti saat ini.
“ Kita duduk dulu,” ucap Tiara lembut sambil melepaskan pelukannya dan membawa Vernon duduk di kursi dapur.
“ Ceritalah, kamu mungkin bisa sedikit lega dan aku bisa membantu walau mungkin tidak bisa berbuat banyak, jelaskan semuanya padaku, jangan takut, aku sudah berjanji akan bersamamu dalam keadaan apa pun, aku tak akan mengkhianatimu,” ucap Tiara sambil meyakinkan Vernon.
“Raa... mungkin kebenaran yang satu ini akan membuatmu menjauhiku, aku.. aku benar benar takut kehilanganmu,” ucap Vernon.
Tiara menggenggam tangan suaminya dengan erat dan menatap mata pria itu dengan lembut.
“aku adalah seorang pimpinan dunia bawah, aku seorang ketua kelompok mafia yang duah menghabisi banyak orang raa.. aku bukan orang biasa yang kamu kenal selama ini, maaf kalau aku baru memberitahukannya sekarang,” jelas Vernon.
Tiara terdiam mendengar penjelasan suaminya. Fakta mengejutkan tentang Vernon yang merupakan seorang ketua kelompok mafia dan Tiara tau dunia seperti apa yang dihadapi Vernon jika tergabung dalam kelompok itu.
“Maaf aku baru jujur sekarang. Aku tau aku tidak layak, tapi bisakah kau tidak langsung pergi dariku? Aku tau aku bukan orang yang tepat untukmu tapi bisakah aku berharap kita bersama untuk beberapa waktu? Aku benar benar takut kehilanganmu, oleh karena itu aku menyembunyikan fakta ini,” jelas Vernon. Tiara masih diam dan mencerna semua kata kata Vernon.
“ Maaf aku baru jujur sekarang, dan saat ini nyawamu justru terancam bahkan keberadaan keluarga yang lain juga akan terancam karena diriku, info tentang dirimu bocor ke tangan musuhku, ka... kalau kamu pergi meninggalkanku aku yakin kamu akan selamat Ra.. ja..jadi sebelum kamu pergi biarkan aku bersamamu dulu..” ucap vernon sambil menatap mata Tiara dengan mata berkaca-kaca.
Di hadapan musuh dia terlihat garang, tetapi di depan istrinya dia terlihat seperti anak kucing yang ketakutan kehilangan tuannya.
“ Maafkan aku, seorang bertangan darah sepertiku memang tidak cocok untukmu, maaf telah melibatkanmu sejak awal dan sekarang malah membahayakan hidupmu, aku... aku...
Vernon menunduk, rasa sedihnya tak terbendung lagi. Dia harus menjalani dua dunia berbeda dengan tekanan yang berbeda selama ini. Di dunianya sebagai Vernon si idiot dia terus ditekan oleh keluarganya, dan di dunia bawah dia dihantui ketakutan akan kehilangan orang orang yang dicintainya jika mereka tau siapa Vernon sebenarnya. Penderitaan pria itu seolah tak ada habisnya. Dia menjadi kesepian dalam rasa takutnya.
__ADS_1
“’ Bodoh.” Ucap Tiara yang kini memeluk Vernon dengan erat.
Vernon terkejut dengan apa yang dilakuan dan dikatakan Tiara pada dirinya.
“Raa maaf.. maafkan aku.. apa kau bisa bertahan sebentar saja kumohon..” pria itu berpikir kalau Tiara akan meninggalkan dirinya.
“Siapa yang mau meninggalkanmu setelah semua yang kau jelaskan, apa kau pikir aku bisa hidup setelah pergi darimu? Jangan berkata yang tidak tidak Ver, kamu jujur saja aku sudah bersyukur, ini berarti kamu berani membuka lembaran baru, dan untuk masalah dunia bawah aku tidak apa apa, selama kamu jujur dan beritahu aku apa yang terjadi supaya aku juga bisa menjaga diriku.” Ucap Tiara dengan tegas.
“Kamu tidak marah?” tanya Vernon.
“Buat apa aku marah, kamu kan jujur, nggak menutupinya dari aku, jadi aku bangga padamu yang berani mengungkap rahasia besar seperti ini,” ucap Tiara sambil menangkupkan tangannya ke wajah Vernon.
“Jadi jangan takut, sudah kubilang,kita hadapi bersama,” ucap Tiara sambil mengecup bibir suaminya.
Vernon benar benar lega, dia berpikir kalau Tiara akan pergi, namun respon Tiara justru bukan hal yang dia tebak sejak awal.
“ Kamu kok gak terkejut ra?’ tanya Vernon heran.
“Sebenarnya sedikit terkejut, tapi aku ingat dengan janji kita untuk menjalani hidup tanpa rahasia, jadi aku bersyukur kamu mau jujur, kalau kamu tidak jujur sejak awal aku mungkin akan marah dan pergi jika mengetahuinya dari orang lain,” jelas Tiara.
Vernon bersyukur, dia memeluk Tiara dengan erat.
“ Terimakasih banyak...” ucap Vernon.
“Tapi karena kamu sudah jujur aku juga ingin bilang sesuatu,” ucap Tiara dalam pelukan Vernon.
“ Apa Ra?” tanya Vernon.
“Aku.......
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.