
Hari berlalu dengan cepat, malam berubah menjadi pagi. Hari ini adalah hari pertama Tiara di semester baru. Pagi ini rumah keluarga Karl terlihat sibuk.
"yang, sayang, gak bangun hmm? udah pagi loh, bukannya kamu kuliah?" tanya Vernon.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dan Tiara masih enggan menggerakkan tubuhnya dari atas tempat tidur, dia kelelahan karena lagi lagi Vernon dengan segala rayuan mautnya menggempur Tiara semalaman.
"Jam berapa Ver!?" tanya Tiara dengan suara parau, khas baru bangun tidur.
"Jam enam Ra, bukannya kamu ada Julian?" tanya Vernon.
"Apa!!" Tiara terkejut mendengar kalau ini sudah jam enam, bagaimana bisa dia terlambat bangun.
Tanpa sadar Tiara malah beranjak dari kasur tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.
"Ra baju kamu!" ucap Vernon.
"Ga perlu, toh udah kamu lihat juga," celetuk Tiara yang buru buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Ver, minta tolong ambilin bathrobe dong aku lupa," teriak Tiara.
"Iya iya... dasar ceroboh," gumam Vernon. Namun seutas senyuman melengkung indah di wajah pria itu. Hubungannya dengan Tiara semakin dekat dan semakin baik, perkembangan yang sangat besar bagi mereka berdua.
Vernon mengambil bathrobe bersih dari lemari," Ini Ra," ucapnya
Tangan kecil Tiara keluar dari dalam kamar mandi,"Mana!?" tanya wanita itu tanpa mengeluarkan kepalanya.
"ini, jangan lupa lagi," ucap Vernon.
"oke, thanks babe!" seru Tiara.
"Dasar, kau semakin handal menggodaku ya," gumam Vernon.
tuk.. tuk.. tuk...
Pintu kamar Vernon diketuk, pria itu beranjak lalu membukakan pintu.
"ini pakaian yang Anda minta tuan muda," ucap Max sambil menunduk memberikan pakaian yang dipesan oleh tuan mudanya saat jam masih menunjuk pukul lima, sungguh Max harus bekerja ekstra sebagai asisten dari pria menyebalkan itu.
"Bagus dan terima kasih, hari ini kau libur saja Max aku akan mengurus Tiara, dia masuk kuliah, kau boleh menikmati waktumu, dan..." Vernon menatap Max dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Rawat dirimu!" ucap pria itu sebelum benar benar menutup pintu.
Max bernafas lega, pagi tadi Vernon memintanya mencari pakaian wanita dan segala kelengkapannya, lalu jika sudah dapat harus membawakan pada Vernon dengan syarat mengetuk pintu terlebih dahulu dan tidak boleh mengangkat kepala saat berada di depan pintu kamar, sebuah peraturan baru yang harus ditaati oleh semua pelayan di rumah itu dan baru dicetuskan pagi ini, pria ini memang luar biasa.
"Waahh akhirnya ada libur juga, mari kita tidur Max!!!" celetuk pria itu, dia benar bena lelah dan buruh banyak istirahat.
Sementara itu di dalam kamar Tiara bersiap siap dan sedikit berdandan untuk masuk semester baru. Dia memakai make up tipis dengan warnah cerah di bibirnya, rambutnya di buat bergelombang dan itu adalah hasil karya Vernon.
"Waah kau berbakat jadi tukang salon Ver, " Tiara tersenyum puas melihat rambutnya yang tampak indah di tangan Vernon.
"Aku berbakat dalam banyak bidang sayang," Ucao Vernon.
__ADS_1
"Lalu... sejak kapan kau berbakat dalam akting dan berbohong soal penyakitmu Ver!?" kali ini nada bicara Tiara terdengar serius, bahkan Vernon sampai menghentikan catokan rambutnya dan menatap Tiara di cermin.
"Apa kau tau?" tanya Vernon.
"Ahh jadi benar ya, " Tiara tampak sedih.
"Ra... aku punya penjelasan," ucap Vernon.
"Tak apa, tak ada yang perlu dijelaskan kok, aku paham," ucap Tiara sambil tersenyum biasa.
"Bagaiman dia tau? pantas saja dia tidak terlalu terkejut semalam, tapi kenapa ekspresi nya seperti itu? apa lagi yang sebenarnya terjadi!?" batin Vernon.
"Ra... kamu marah?" tanya Vernon.
"Nggak kok, cuma heran aja, gimana selama ini kamu hidup dengan terus berpura pura seperti itu, apa gak capek Ver? sudah berapa lama?" tanya Tiara.
"Capek Ra, disini..." Vernon memegang dadanya," rasanya sepi, selama tujuh tahun aku seperti itu" ucap Vernon.
Tiara berbalik, "kamu udah bekerja keras, sekarang gak perlu akting lagi, kami gak kesepian lagi, semua akan baik baik saja!"
"Terimakasih," balas Vernon.
Tiara tersenyum dan mengangguk," He em, ya udah ayo, oh iya aku belum ketemu sama paman dan Bibi kamu sama sekali, mereka orang yang seperti apa?" tanya Tiara.
"Mereka orang baik Ra, mereka yang paling kupercayai, kamu pasti senang bertemu dengan mereka," ucap Vernon.
"Benarkah? aku sedikit gugup.." ucap Tiara.
"Benarkah? seharian kan? bener kan!?" celetuk Tiara dengan mata berbinar binar.
"Iya," jawabnya sambil mengangguk.
Tiara dan Vernon turun ke lantai satu, karena wanita itu berada di jurusan fashion designer, Vernon meminta Max memilihkan pakaian yang sesuai dengan jurusan istrinya.
Keduanya tampak bersinar, Tiara benar benar cantik dengan penampilan yang ditata langsung oleh suaminya, Vernon juga benar benar berkharisma dengan penampilan yang lebih segar, senada dengan istrinya.
"Waaahh... kalian berdua benar benar luar biasa!!" celetuk Nyonya Gita dengan mata berbinar binar.
"Siapa Ver?" bisik Tiara.
"Bibi Gita, ayo kuperkenalkan," ucap Vernon.
"Terima atas pujiannya Bibi, kenalkan istri Vernon ,Tiara," ucap Vernon.
"Halo Bibi, saya Tiara, senang bertemu dengan Bibi," sapa Tiara sambil tersenyum lembut dan menjabat tangan wanita itu.
"Ya ampun cantiknya luar dalam Ver, adududh Bibi jadi senang akhirnya ada anak perempuan di rumah ini, senang bertemu dengan kamu nak, Panggil bibi Gita ya," Wanita itu menyambut Tiara dengan bahagia.
"Wah jadi beneran istri kamu Ver, Wahhh Paman pikir kamu nyulik anak SD hahahaha, lihat perbedaan tinggi badan kalian hahahahahah..." celetuk tuan Frank yang sedang menikmati kopi dan berita paginya.
"Panggil Paman Frank ya nona cantik!" ucap pria itu.
"Halo Paman Frank," sapa Tiara.
__ADS_1
"Gak usah di denger Sayang, paman kamu mah rada rada sinting, lihat tuh belum juga makan pagi udah minum kopi, kalau sakit Mami gak mau urus!" ketus Nyonya Gita.
"Mami, ini makan pakai roti loh, kan udah biasa!" seru Tuan Frank.
"Makan itu pakai nasi dan lauk pauk bukan makan roti dan kopi," gerutu Nyonya Gita, sudah menjadi kebiasaan di rumah itu, selalu berdebat tentang makanan.
"Mereka lucu," bisik Tiara
"Memang, sejak dulu begitu," ucap Vernon.
"Ya sudah kalian sarapan pagi sana, Bibi masih harus ngurus si kembar, kayaknya gak sempat kalau harus sarapan pagi barengan, kamu kan ada kuliah," ucap Nyonya Gita.
"Baiklah Bibi, terimakasih," ucap Vernon.
"Tapi Bibi, Paman dan yang lainnya..."
"Udah gak apa Ra, kalian makan dan,"
Tiara dan Vernon sarapan pagi berdua, setelah selesai sarapan mereka berdua langsung melaju menuju kampus Permata Bangsa dimana Tiara kuliah.
"Aku sedikit gugup Ver, apalagi semua pasti aku sudah menikah,"ucap Tiara.
"Apa kamu menyesal?" tanya Vernon.
Tiara menoleh, "tentu tidak, kalau gak ketemu kamu mungkin aku akan lebih menderita dengan seorang teman yang terus menusukku dari belakang," ucap Tiara sambil menatap ke depan sat mereka sudah tiba di kampus.
Matanya tertuju pada seorang perempuan dan lelaki yang menjadi pusat perhatian orang orang karen penampilan mewah dan mahal mereka, siapa lagi kalau bukan Gea dan Gibran yang membuat heboh seluruh sekolah dengan penampilan mereka.
"Ra apa kamu gak pengen lihat mereka?" tanya Vernon.
"Hmm? mereka cuma masa lalu, sudahlah ayo kita turun," ajak Tiara sambil tersenyum.
"Baiklah Nyonya," ucap Vernon.
Pintu mobil dibukakan oleh pengawal, saat Tiara dan Vernon turun, sekitar sepuluh pengawal berbaris mengiring mereka menuju kampus.
Seluruh mata tertuju pada kedua orang yang dikawal bagaikan anggota kerajaan itu.
"Ver, darimana datangnya orang orang ini!?" bisik Tiara heran.
"Dikirim Max, takut nyonya mudanya tidak percaya diri," balas Vernon.
"Max? astaga dia itu berlebihan sekali sih!!" ketus Tiara.
"Pinjam namamu ya Max hahaha..." batin Vernon tertawa.
.
.
.
like, vote dan komen ya ☺️
__ADS_1