Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
97


__ADS_3

Maut. Satu kata yang tidak tau kapan datangnya dan menimpa manusia. Satu kata yang dalam sekejap dapat menghancurkan segala harapan dan kebahagiaan manusia.


Tiara menangis sepanjang jalan menuju rumah sakit saat membawa tubuh suaminya. Vernon tertembak saat melindungi Tiara, anak peluru itu bersarang di bagian kepalanya, entah bagaimana nasib Vernon setelah ini.


Sepanjang jalan Tiara menggenggam tangan suaminya. Mereka melaju dengan cepat ke rumah sakit sebab Vernon berada dalam kondisi kritis.


Tak ada yang berani bicara, tak ada yang berani mengusik Tiara karena semua beranggapan kalau Vernon akan meninggal. Mungkin ini adalah waktu terakhir mereka bisa bersama melihat peluru kecil itu bersarang di kepala Vernon.


"Sa.. sayang... bangun... hiks hiks hiks..." Sejak tadi Tiara menangis sesenggukan sampa nafasnya sesak, air matanya tak terbendung, tubuhnya lemas, pikirannya kacau. Apa yang akan dia lakukan jika Vernon pergi, dia mungkin tak akan bisa hidup dengan normal tanpa suaminya.


Tubuhnya gemetar, tak sanggup lagi hatinya melihat Vernon seperti itu. Segala pikiran buruk menghampiri pikiran Tiara. Bagaimana kalau Vernon meninggalkan dia dan janinnya, bagaimana kalau Vernon tak bisa bangun lagi, bagaimana Tiara akan hidup sendiri, pertanyaan pertanyaan itu muncul dalam pikiran Tiara.


"Cepat!!!!" pekik Tiara yang tidak sabar.


"percepat mobilnya!!!!!" pekik wa Ita itu, rasanya begitu sesak, ingin dia menghancurkan orang yang menembak suaminya. Ingin dia membunuh semua orang yang membuat mereka seperti ini, tapi apa itu akan membuat suaminya kembali?


Damian menatap Tiara, dia turut sedih, dia tak bisa berbuat apa apa, Tiara juga tak bisa ditenangkan, dia histeris melihat kondisi Vernon.


"Tenang nyonya, anda sedang mengandung," ucap Damian pelan, dia duduk di samping Tiara di dalam mobil ambulance.


"hiks hiks hiks... kak... kak Damian... katakan bagaimana aku bisa tenang, bagaimana caranya agar aku tenang saat melihat orang terpenting dalam hidupku dalam.kondisi seperti ini!!! KATAKAN BAGAIMANA!!!!" Pekik Tiara sampai suaranya serak.


"Tiara pikirkan juga kandunganmu, menangis pun tak membuat Vernon bangun!" tegas Damian.


"Kau tidak merasakannya, kau tidak tau rasa sakitnya bagaimana kak!!! hiks hiks hiks... apa yang harus kulakukan, bagaimana... ba..bagaimana ka..kalau dia...


Grepp... Damian menarik Tiara dan memeluk wanita itu. Baginya Tiara sudah seperti adik sendiri. Wanita yang mengubah warna dalam lingkaran pertemanan mereka itu sangat berharga baginya.


"Aku akan menyelematkan nya, percaya padaku, dia pasti selamat, tenanglah dik, semua akan baik baik saja," Hanya kata kata itu yang bisa Damian ucapkan meskipun dia ragu Vernon akan selamat setelah insiden ini.


Setidaknya dia memberi sedikit harapan pada Tiara, karena dia juga akan berjuang menyelamatkan sahabat baiknya itu.


Tiara bersandar dalam pelukan Damian, tak sanggup lagi rasanya dia menghadapi kenyataan ini, dia mencengkram pakaian Damian sekuat tenaga, dia menangis sesenggukan sampai dia benar benar lelah.


Terlalu lelah menangis, Tiara akhirnya pingsan tak sadarkan diri dal.pelukan Damian. Kasihan sekali wanita itu, wajahnya tampak lelah, pikirannya begitu kalut.

__ADS_1


Damian menatap Vernon dan Tiara bergantian. Dia juga tak sanggup melihat Vernon dalam kondisi kritis seperti ini.


"Bro lihat istrimu, dia begitu menderita, jangan pergi, jangan meninggalkan dia dan anak kalian, ini bukan gayamu, kau harus selamat!" ucap Damian penuh harap .


Sementara itu di mobil lain, Mina tampak diam dan syok dengan apa yang baru saja terjadi. Athena sudah menjelaskan siapa sosok yang diincar oleh Mina. Wanita yang dulu dia sebut Malaikat cantik ternyata adalah Tiara. Tak disangka Mina tak mengenali wanita itu.


Keserakahan menutupi hati nuraninya. Di dalam mobil Mina diam dengan tubuh gemetaran, dia menatap tangannya, apa yang sebenarnya baru saja dia lakukan, dia ingin membunuh orang hanya karena ingin memiliki segalanya. Pemikiran iblis macam apa yang barusan merasuki gadis itu.


"Ka..kak... a..aku.. membunuh o..orang... a..aku... hiks hiks hiks... aku...


Mina yang sejak tadi diam akhirnya menangis di samping kakaknya, Athena.


Athena menatap Mina. Dia juga tak tega melihat adiknya seperti ini, tapi memang ini adalah kesalahan Mina yang gelap mata hanya karena keegoisan juga hasutan dari Shela dan nyonya Admaja.


" Tenanglah, kalau kau tau kau salah semua akan baik baik saja," ucap Athena.


"Ta..tapi bagaimana kalau di..dia.. dia meninggal, aku.. aku jadi seorang pembunuh, aku membunuh suami malaikat cantik hiks hiks...aku.. jahat.. aku aku bodoh!!!!!?" lirih gadis itu.


Kini semuanya tinggal penyesalan, semua yang terjadi tak ada yang bisa menebak.


"Ta..tapi kak... pistol yang kupakai baru pertama kali, dan isi pertama selalu kosong.. apa mungkin berisi? anak peluru itu... juga.


.


"Aku baru ingat, pistol itu kosong di dua slot pertama, tidak mungkin kan...


"Sial!!!" Athena mengumpat seperti nya ada sebuah kesalahan dalam kejadian ini.


"Siapa yang bersamamu!??" tanya Athena.


"Di.. di mobil tadi aku bersama nyonya Admaja dan Shela putri keduanya," ucap Mina.


Athena mengeraskan rahangnya saat mendengar nama Admaja. Orang orang licik yang selalu menggunakan berbagai kesempatan untuk menyakiti orang lain.


Selain itu, fakta lainnya adalah bahwa Mina tidak seahli itu dalam menembak apalagi dalam jarak jauh.

__ADS_1


"Kau sudah terkena jebakan mereka Mina, bodoh, kau tidak tau siapa yang kau ajak bekerja sama, Shela adalah penembak jitu, mungkin ini adalah cara jal4ng itu untuk menghancurkan mu!!!" ucap Athena.


Mina terbelalak, dia tidak tau karena bertindak gegabah, dia tidak mencari tau identitas keluarga Admaja terlebih dahulu.


"Apa mungkin ini....


"Kita cari tau! kita balik ke tempat kejadian, meski dia penembak jitu, tapi gadis itu adalah orang bodoh!" ucap Athena yang langsung memutar balik mobilnya.


...****************...


Di rumah sakit, Vernon langsung dibawa ke UGD. Damian sudah mengubungi pihak rumah sakit dan mereka langsung menyediakan ruang operasi. Tiara di bawa oleh Johan, wanita itu dibawa ke ruangan lain untuk beristirahat sekaligus memeriksa kondisi Tiara apalagi wanita itu sedang mengandung.


Johan dan Nastusha langsung tiba disana. Begitu juga dengan Duo K, Kevin dan Nyonya Kiara yang menyamar, James, dan yang lainnya juga sudah berkumpul di rumah sakit itu.


Tiara masih belum sadarkan diri saat suaminya dioperasi untuk mengangkat peluru itu dari kepalanya.


Damian berusaha sebaik mungkin untuk mengindari cedera serius di kepala Vernon. Setidaknya mereka berusaha bersama rekan rekan dokter terbaik lainnya.


Tiara ditempatkan di ruang VVIP dengan pengawasan ketat dari para pengawal dan sahabat sahabat Vernon.


Wanita itu tidur dengan rasa tidak nyaman dalam ruangan itu.


"Sayang... jangan pergi... jangan pergi... tunggu aku.. tunggu aku..."


Nastusha dan Johan mendengar gumaman wanita itu, keduanya tampak sedih, tak menyangka akan terjadi kejadian sial ini.


"Sayang apa yang harus kita lakukan!?" lirih Nastusha.


Johan mengusap punggung istrinya yang duduk di dekat Tiara sambil menggenggam tangan wanita itu.


"Akan kubereskan orang orang itu," ucap Johan.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2