
Mobil yang dikendarai oleh Max dikepung oleh empat mobil dan beberapa motor sport. Vernon tetap tenang dan memikirkan cara untuk menjaga agar istrinya tetap aman, dan tidak melihat kejadian itu.
Anak Buah Vernon tetap mengawasi, mereka belum bergerak karena Vernon tak memberi kode apa pun.
Mereka digiring menuju sebuah lapangan terbuka di dekat jembatan besar, daerah yang tidak terlalu ramai.
"Apa yang harus kulakukan, jangan sampai mereka melihat Tiara!" gumam Vernon.
"Tuan di dalam saja, biar saya yang tangani!!" ucap Max .
"Aku akan membantu Ver, jaga saja istrimu jangan sampai mereka melihat kalian!" ucap Arthur yang memakai topengnya untuk menutupi identitasnya.
"Apa kalian bisa!?" Tanya Vernon.
"Jangan khawatirkan kami, kau tau kemampuanku bukan!?" ucap Arthur sebelum dia benar benar keluar dari dalam mobil itu.
"Mohon bantuannya!" ucap Vernon penuh harap.
"Waahh the King Davichi meminta bantuan kita dengan penuh harap, tentu kami tak akan membuat malu," ucap Arthur sambil tersenyum.
Arthur dan Max keluar dari dalam mobil, keduanya memakai topeng untuk mengaburkan identitas mereka.
"Beraninya kalian mengganggu tuan dan nyonya kami!!" geram Max.
Arthur dan Max maju ke Medan pertempuran, mereka dikepung oleh belasan pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam.
Namun tak ada kata takut dan gentar di mata kedua pria tampan itu. Mereka berdiri dengan tegap menatap lawan lawannya.
"Serahkan Pria idiot dan istrinya itu pada kami maka kalian akan selamat!!" teriak salah seorang dari mereka.
"Cihh... kau pikir tuan dan nyonya kami barang!??" ucap Max dengan tajam.
"Ahh tak usah banyak bacot, serang saja!!!" teriak mereka.
Belasan orang itu berlari menerjang Arthur dan Max.
"Siap!?" ucap Arthur sambil mengetatkan sarung tangan berdirinya.
"Tentu saja siap!" balas Max dengan belati kecil berwarna emas super tajam miliknya yang diberikan oleh Vernon sebagai pertahanan diri.
Pertarungan tak terhindarkan, Arthur dan Max menghajar mereka semua dengan membabi buta, sesungguhnya kemampuan bertarung kedua pria ini sangat mengerikan, merupakan pilihan yang salah jika ada yang berani bermain main dengan mereka.
Pukulan demi pukulan mereka ayunkan hingga akhirnya belasan orang mencurigakan itu hancur di tangan mereka berdua.
Semuanya tergeletak di tanah dengan keadaan mengenaskan. Max yang bergerak secepat angin membuat sayatan sayatan di tubuh mereka, sangat banyak belum lagi belati itu adalah belati beracun yang membuat siapa pun yang tertusuk benda itu akan merasakan penyiksaan yang mengerikan.
Arthur bergerak cepat seperti cheetah menghajar mereka dengan sarung tangan duri, menghancurkan mereka dengan sekali pukulan.
__ADS_1
Max berjongkok dan menarik kepala salah satu penjahat itu.
"siapa yang memerintahkan kalian!!!?" tanya Max, suaranya terdengar tajam dan menusuk.
Pria itu diam tak mau memberitahu siapa yang memerintahkan mereka, dengan demikian Max harus mengancamnya.
"katakan siapa otak di balik ini semua, maka kau akan selamat, aku janji!" ucap Max.
"Ti..tidak, kau pasti bohong, kalau aku memberi tahukan siapa dalangnya kau pasti akan membunuhku!!!" pekik pria itu dengan sisa sisa tenaganya.
"Katakan saja siapa!!!" ucap Max ,dia menekan luka di tubuh pria itu, memasukkan jarinya kesana dan memutar mutar jarinya di luka itu, benar benar seorang psikopat.
"Arrkhhhh... lepaskan aku, akan kuberitahikan, kumohon arrkhhhh ini menyiksaku kumohon!!!!?" pekik pria itu.
"Baiklah," ucap Max dengan seringai di wajahnya,dia mencabut jarinya dari luka itu dan menatap pria itu dengan tajam.
"Ka...kami diperintahkan tu..tuan besar Dharma!" ucap Pria itu yang terlihat sangat ketakutan.
krakkkkk...
Bagai langit runtuh, Max, Arthur bahkan Vernon yang mendengar hal itu terkejut bukan main, sejak awal mereka berpikir kalau itu salah satu lawan mereka dalam dunia bawah, namun ternyata mereka salah, yang mengincar Vernon dan Tiara adalah tuan Dharma sendiri.
"Max itu Papanya Vernon, kenapa dia mengincar putranya sendiri!??" ucap Arthur terbelalak.
"Warisan Karl, dia mengincar nyawa tuan dan nyonya untuk mendapatkan warisan, suruh warisan keluarga Karl, dia ingin mengambil alih semuanya!!" ucap Max.
"Apa ini tentang wasiat itu!?" tanya Arthur.
"ayah macam apa itu!!" umpat Arthur yang langsung kesal dengan penjelasan Max.
Mereka kembali ke dalam mobil, anak buah tuan Dharma yang mengincar Tiara dan Vernon langsung dibersihkan oleh komplotan Davichi, sebenarnya mereka punya banyak anak buah namun Davichi tidak akan bergerak secara sembarangan, katakan saja mereka organisasi tersembunyi yang hanya akan menerima perintah tanpa gegabah.
"Max apa kau sudah memulai rencana itu!?" tanya Vernon, suaranya terdengar berat, dia menahan amarahnya saat ini, sedang Tiara masih terlelap dalam pangkuannya.
"Sudah tuan, sesuai perintah tuan, perlahan lahan," ucap Max.
"Baik kita pulang!" ucap Vernon.
"Kemana tuan, saya yakin rumah nyonya Tiara sudah diawasi," ucap Max.
"Rumah kakek!" ucap Vernon.
Arthur dan Max terdiam, rumah kakek Vernon itu berarti rumah tuan besar Karl yang mendapat pengawalan khusus, bahkan tuan Dharma dan nyonya Kiara dilarang datang ke tempat itu termasuk Kevin.
Hanya Vernon yang memiliki akses masuk ke rumah besar Karl, dan yang mengurus rumah itu kini adalah paman dan bibi Vernon serta sepupu sepupunya yang lebih berpihak pada Vernon dibandingkan dengan orangtua Vernon.
"Ver ehghh hoooammmm kita dimana?" Tiara bangun dari tidurnya sambil mengucek matanya menatap sang suami.
" tadi aku dengar ada suara ribut kayak orang lagi demonstrasi minta harga Minyak goreng turun, lagi pawai ya!??" celetuk wanita itu sambil mengedipkan kedua matanya.
__ADS_1
"imut banget sih!!!" ucap Vernon sambil mencubit gemas pipi Tiara.
"emm jawab dulu, tadi ada demonstrasi ya? atau ada yang lagi berantem gara gara boneka hello Kitty?" celetuk wanita itu.
"Tak ada apa apa nyonya, semua baik baik saja tadi," ucap Max.
" ohhh... " bibir Tiara membulat, wanita itu kembali menyelundupkan kepalanya ke dada bidang suaminya, wajahnya masih saja mengantuk padahal sudah beberapa lama perjalanan karena macet.
"kamu masih ngantuk?" tanya Vernon.
"he em, Tiara ngantuk, tiba tiba aja ngantuk banget, gak apa apa kan aku tidur lagi?" tanya Tiara pelan.
"Ya udah tidur saja, biar Vernon peluk," ucap pria itu.
Mereka melaju terus menuju rumah utama Karl tanpa mengatakan apa pun pada Tiara.
Sementara itu di kantor D.K grup tuan Dharma sedang marah besar karena mendapat laporan buruk dari anak buahnya yang gagal mendapatkan Tiara dan Vernon.
Brakkk...
Praanngggg
Benda benda kaca beterbangan kesana kemari, lukisan di dinding hancur berantakan karena ulah tuan Dharma.
"Pa hentikan, kau bisa menghancurkan ruangan ini!!" pekik Nyonya Kiara yang tidak lagi heran dengan perbuatan suaminya jika rencana mereka gagal.
"Bagaimana aku tidak marah Kiara, mereka semua gagal, hanya menangkap seorang pria idiot dan wanita sialan itu saja mereka tidak becus arrghhhh sial sial sial!!!;" Teriak tuan Dharma, kemarahannya benar benar di luar batas kemampuannya.
"Apa papa harus melakukan ini, toh juga kita tidak memiliki bagian daam warisan itu, apa rencana papa sebenarnya!!?" kesal Nyonya Kiara.
"Aku akan membunuh Vernon, dengan membunuh si bodoh itu, semuanya akan menjadi milikku milik Kevin, bukan anak idiot yang mencoreng nama baik keluarga D.K!!" tegas tuan Dharma.
"Dimana Kevin!??" tanya tuan Dharma.
"Aku disini Pa!" ucap Kevin yang baru tiba di ruangan itu.
"Apa kau sudah berhasil menjalin kerja sama dengan Nusantara grup!?" tanya tuan Dharma.
"Maaf Pa, mereka membatalkan semua rencana investasi, Toretto grup sedang kacau, tujuanku kesini ingin melaporkan hal ini pada Papa!" ucap Kevin sambil memberikan beberapa dokumen pada Tuan Dharma.
"Apa ini?" tanya Tuan Dharma.
"Berita buruk, Pa!" ucap Kevin dengan raut wajah serius.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen ya 🥰