Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
Season 2 ( Pergi)


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari hari menjelang persalinan Tiara semakin dekat, namun Vernon masih belum mengingat siapa jati dirinya. Setiap Tiara menghubungi nya, mereka selalu lakukan hal yang sama yaitu diam dan saling menatap sampai baterai ponsel mereka habis atau sampai salah satu diantara mereka terlelap.


Seharusnya momen kehamilan Tiara dilengkapi oleh suaminya, namun semua kejadian itu merusak segalanya. Vernon masih saja bersikap dingin dan menolak Tiara meski tau kalau Tiara tampak sedih setiap kali mereka melakukan panggilan video.


Vernon mengacak acak rambutnya dia sedang berada di kamarnya, benar benar terjebak.dengan semua pakaian yabg berserakan di atas lantai. Entah kenapa baru baru ini, Vernon sering dibuat risau hanya dengan memikirkan Tiar.


Apalagi sejak mimpi mimpi aneh itu mula muncul. Bahkan surat ultimatum dari Sony membuat dirinya geram dan kesal.Namun Vernon dengan cerdik menyembunyikan identitasnya. Tanpa sepengetahuannya, Max, Praja dan James telah mengatur tingkat keamanan paling tinggi agar pria itu tetap aman.


"Tak bisa dibiarkan, orang orang sialan itu akan mengusik mereka, petaka siapa yang tau datangnya!" geram Vernon.


Terlalu pusing memilih pakaian yang mana, dia asal.ambil saja sebuah Hoodie dan celana jeans hitam. Dia mengambil topeng yang dulu dia pakai sebagai Vernon si idiot dari D.K, memakainya dengan benar di wajahnya.


"Apa wajahmu tidak gatal memakai ini? aku saja melihatnya sudah sesak bagaimana kamu memakai ini seharian!?" suara Tiara tiba tiba terngiang di kepal Vernon


Sepotong ingatan di masa lalu saat Tiara beberapa kali merapikan topeng suaminya.


"Akhh....sshhhh... apa itu!!!" Vernon memijit kepalanya yang tiba tiba sakit.


" Tiara!?? ingatan apa itu? apa kamu.memang terlihat sedekat itu!!!" batin Vernon.


"Akhh sudahlah, aku harus cepat!" gumam pria itu.


Selesai berpakaian, Vernon mengambil sling bagnya. Lalu berlari ke Taman bunga di samping rumah dimana Mama dan kakak laki lakinya sedang menanam bunga bunga yang indah disana.


"Waahhh cantik sekali sayang, aku suka bunga!? apa ini semua kamu yang tanam!!!" lagi lagi potongan ingatan itu terbayang jelas di kepal Vernon.


Teringat Tiara yang terpesona dengan bung bunga di taman rumah utama keluarga Karl. Vernon memijit pelipisnya, akhir akhir ya ini banyak potongan puzzle yang terpecah pecah di kepalanya, tak bisa dia rangkai.


Namun yang paling jelas bahwa semua potongan ingatan itu membuatnya tau betapa spesial Tiara bagi dirinya.


"Ma, Kak Vernon berangkat dulu ya," ucap pria itu sambil menatap Kevin dan Nyonya Kiara.


"loh ini akhir pekan nak, ku mau kemana?" tanya Nyonya Kiara.


"Ada sedikit urusan, Vernon mungkin pulang terlambat," ucapnya tanpa memberitahu rencananya yang akan segera terbang ke Indonesia.


"hmm.. baiklah, tapi ada baiknya kamu jawab panggilan istrimu, sebentar lagi....


"Tolong jangan bahas itu ma, Vernon pergi dulu!" ucapnya sambil mengecup kening nyonya Kiara lalu beranjak dari sana.


Nyonya Kiara dan Kevin saling menatap, Vernon memang sangat sulit dikendalikan. Oleh karena itu mereka terkejut kala melihat Tiara yang mempu mengubah tempramen keras kepala pria itu sebelum dia hilang ingatan.

__ADS_1


"Bagaimana ini nak, Tiara akan segera melahirkan, tapi Vernon belum juga ingat, kalau kita pergi ke Indonesia, Mama rasa adikmu akan marah besar, bagaimana mungkin kita tidak mendampingi Tiara, kasihan dia!" lirih Nyonya Kiara.


"Nanti Kevin coba bujuk Vernon Ma, Tiara juga butuh kita untuk mendukungnya," ucap Kevin.


Sementara itu, Vernon berjalan ke halaman depan rumahnya, dia memasang topengnya lalu memakai motor yang dia simpan rapat rapat di dalam bagasinya.


pria itu melaju dengan wajah tertutup topeng dan helm, mengelabui orang orang yang beberapa bulan belakangan terus menguntit dirinya hingga mengharuskan Vernon bersembunyi dan melakukan berbagai taktik untuk mengelabui mereka.


Mata Vernon menyapu seluruh jalanan London, rumahnya telah diamankan oleh anak buah Vernon dan tak ada yang mungkin berani mengusik kediaman itu selama dia pergi.


Pria itu melaju menuju Banda, tiket pesawat kelas ekonomi telah dia pesan atas nama kakaknya bukan namanya. Setelah itu dia masuk ke dalam pesawat, dalam kepalanya berputar segala ingatan tentang Tiara yang masih dalam bentuk kepingan kepingan puzzle.


"Aku akan melindungi kalian, meski belum ingat dengan jelas, aku yakin jika tidak bergerak Sekarang, aku akan menyesal nanti!" batin Vernon.


Sementara itu di rumah utama keluarga Karl, Tiara sedang duduk sendirian di ruangan besar, hari persalinannya akan segera tiba namun suaminya tidak ada di sisinya.


Rumah itu tampak kosong, sebab yang lain sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan menyelesaikan pekerjaan sebelum jadwal persalinan Tiara tiba agar mereka bisa fokus mendampingi Tiara.


Wanita itu duduk sambil mengupas jeruk, untuk.menunduk saja dia sudah susah, bahkan berjalan sangat sulit karena perutnya besar. Bayi kembarnya bertumbuh dengan baik dan sehat, Dokter mengatakan tak ada masalah jika akan melakukan persalinan Normal.


"Apa Vernon akan kembali saat kalian lahir nanti nak? Mama rindu Papa kalian, Mama takut melakukan persalinan ini tanpa kehadiran Papa, Mama Takut sayang," gumam Tiara.


Akhir akhir ini dia tidak terlalu depresi karena meski sedikit, Vernon mulai menerimanya walau tak pernah mengucapkan kata kata panjang lebar seperti dulu.


"akhh.... ke..kenapa tiba tiba sa...sakit.... akkk...sshhh... perut ku!!!" Tiara tiba tiba meringis kesakitan, perutnya tiba tiba mengalami kontraksi padahal ini belum waktunya persalinan, masih ada sekitar lima hari lagi sebelum waktu yang ditentukan oleh dokter.


Tidak ada orang di rumah, Tiara mencengkram sofa saat merasakan perutnya semakin sakit, dia mengatur pernafasan nya mencoba untuk tenang. Rasanya sangat sakit dan begitu menderita.


"Akhhh.... Sa..sayang, tolong aku... s..sssiapa pun to..tolong!!!" suara Tiara menggelegar di alam ruangan itu.


Para pelayan panik, mereka langsung menghampiri nyonya muda mereka dengan wajah panik.


"nyonya ada apa!!!" ucap Diana yang berjaga di rumah itu.


"Di..Diana to...tolong, aku akan segera melahirkan, perutku akhh... huhhh... haahhhh... tto...tolong aku!!!" Tiara menangis.


Para pelayan dengan sigap membantu Tiara, ada yang langsung menghubungi Max dan yang lainnya dan ada yang membantu menenangkan ibu muda itu.


"Tenang nyonya, tarik nafas dan buang perlahan, mungkin nyonya akan melakukan persalinan lebih awal," ucap Diana lembut.


Tiara menangis tersedu-sedu, rasanya sangat sakit, belum lagi suaminya tidak disini, perutnya sebenarnya sudah mengalami kontraksi kecil sejak pagi tadi, namun dia tak menyangka kalau ini adalah harinya.

__ADS_1


"Sa..kit Diana, ini sakit akhh....


"Ada apa ini!!!" suara bariton seseorang yang baru tiba di negeri itu terdengar menggelegar di ruangan utama.


Mereka semua menoleh, Ada Vernon berdiri disana dengan wajah panik saat melihat Tiara kesakitan sambil menangis.


"Tuan muda, Nyonya akan segera melahirkan kita harus membawanya ke rumah sakit!!!'" ucap Diana.


Vernon terbelalak, tanpa basa nasi dia bergerak dan langsung menghampiri Tiara.


"Ve..Vernon...."lirih Tiara yang terus menatap lekat suaminya.


Hati Vernon terasa remuk, dia menghampiri Tiara dengan perasaan campur aduk.


"Tenangkan dirimu," ucap Vernon dengan lembut, ini kali pertama sejak kejadian itu.


Tiara mengangguk sambil menangis, melihat air mata Tiara, tangan Vernon spontan mengusap pipi wanita itu.


"Tenang, semua akan baik baik saja," ucapnya pelan sambil mengusap perut Tiara, instingnya begitu kuat, dan benar saja Kontraksi Tiara mereda dan dia merasa lebih baik.


"Diana siapkan mobil, kita pergi sekarang!" titah Vernon.


"Baik tuan muda!" ucap Diana.


"Kalian siapkan pakaian nyonya muda, beberapa orang ikut kami!" ucap Vernon yang langsung dianggukkan oleh para pelayan.


"Bernafas dengan tenang Tiara, " ucap Vernon.


Tiara mengangguk, Vernon mendekat dan mengangkat istri ya dengan perlahan, dia bisa merasakan lain bawah Tiara sudah basah karena pecah ketuban, menandakan persalinan akan segera tiba.


"Kita berangkat, kalau sakit pegang saja aku," ucap Vernon.


"Te.. Terimakasih...." ucap Tiara dengan mata berkaca-kaca.


Vernon hanya diam, dia membawa Tiara dengan cepat menuju mobil.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2