Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
88


__ADS_3


Max terdiam ditempat duduknya, dia benar benar kesal hari ini. Tapi entah kenapa dia malah penasaran dengan wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya.


"Apa aku mungkin akan dapat yang lebih baik, ahh...tidak tidak, aku akan berusaha mendapatkan Hanum!" dia tegas pada dirinya sendiri.


"Kak Max kalau kakak tidak mau ikut perjodohan ini, setidaknya hadirlah dalam acara lamaran ini, Kak Rian juga pasti senang kalau sepupu gilanya ini datang!" celetuk Diana dari balik dinding.


"Baiklah, aku ikut!" jawab Max dengan nada pasrah. Meskipun hubungan nya tidak baik dengan Ayah dan Ibunya, setidaknya dia tidak boleh merusak hubungannya dengan sepupunya yang rela menggantikan dirinya untuk ikut lamaran ini.


"Kakak ikut!!??" Diana dan seorang bocah laki laki menyembulkan kepala mereka berdua dari balik dinding dengan tatapan berbicara binar. Anak laki laki itu adalah anak bungsu di keluarga itu, usianya sama dengan Tiara.


Max memicingkan matanya," heemm kenapa kalian terlihat bersemangat seperti itu!?" ketus Max.


Kedua orang itu hanya tersenyum jahil. Mereka mendekati Max dan menarik tangan pria itu.


"Ayo kita pergi!" seru mereka berdua.


Akhirnya Max ikut dalam rombongan keluarganya menuju lokasi tempat lamaran. Rian, sepupu dari pihak ayah Max menerima tawaran perjodohan itu setelah melihat foto calon mempelai perempuan.


"Kenapa kau mau ikut perjodohan ini Rian!?" tanya Max yang satu mobil dengan Rian sepupunya.


Rian tersenyum," aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dia gadis yang Soleha, wajahnya manis, dan baik, siapa yang tidak akan terpikat dengan kecantikannya," ucap Diana sambil tersenyum mengingat wajah lembut calon istrinya.


Max memutar malas kedua bola matanya " Mana mungkin dia secantik Hanumku, eh.. Hanumku," batin Pria itu lagi lagi tak bisa melepaskan Hanum.


"Kak Max, mau kuberitahu siapa yang dijodohkan dengan kak Rian tidak!?" bisik Diana.


"Memangnya siapa? kenapa kalian sampai se excited itu terkait perjodohan ini!?" tanya Max sambil menatap mereka satu per satu dengan tatapan penasaran.


"Mau kutunjukkan fotonya? dia orang kau kenal," ucap Rian sambil tersenyum jahil.


Sebenarnya memaksa Max adalah rencana mereka semua. Terkait Rian mengganti posisi Max sebenarnya hanya alasan agar pria itu ikut. Semua ini ide Diana dan Arthur yang ingin membuat kejutan bagi Max.


Pasalnya hari ini adalah ulang tahun pria itu, dan akan sangat mengejutkan jika memberikan keinginan Max di hari ulangtahunnya.


"Hah orang yang ku kenal!?" tanya Max heran.


"Ya... orang yang kau kenal, mungkin juga orang yang ada di hatimu," ucap Rian.


Max melongo dengan kata kata mereka. Dia malah jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan perjodohan seperti apa yang akan mereka hadapi.

__ADS_1


"Berikan aku fo..


drrtt..drrttt..


Ponsel Max berbunyi, Tampak nama tuan mudanya di layar benda pipih persegi panjang itu.


"Halo tuan muda, dengan saya Max" jawabnya formal seperti biasa.


"Max belikan satu ikat bunga mawar, Tiara sedang mengidam bunga mawar, aku tau ini hari liburmu tapi tolong bantu aku, Tiara sudah merengek di acara lamaran Hanum, kasihan dia, kau bisa datang membawanya ke rumah Hanum, sekaligus melihat acara lamaran ini!" ucap Vernon dari seberang sana.


"Arrhhh huwaaaa aku mau bunga mawar.... aku mau bunga mawar!!!!!" teriakan Tiara terdengar sampai ke telinga Max.


mata Max membulat, " haih apa seperti ini temperamennya ibu hamil?" gumam Max.


"Apa kau bilang Max!!" Vernon membentak Pria itu dari seberang telepon.


"Ahhh ti... tidak tuan muda, akan saya lakukan, apa ada yang lain!?" tanya Max.


"Kak Max bawakan rujak ya, ingat bunga mawarnya yang banyak," seru Tiara dari ujung sana.


"Baik nyonya muda akan saya laksanakan," ucap Max.


Diana melirik kakak laki lakinya, seutas senyuman tulus tergambar di wajah gadis itu.


Rian mengusap punggung Diana," jangan menangis dulu," bisik pria itu.


Diana tersenyum kecil, " aku hanya tidak sabar," bisik Diana dengan wajah tersipu malu.


"hei mana fotonya tadi?" Tanya Max.


"nanti saja, toh kau akan melihatnya nanti," ucap Rian pria tinggi dengan rambut blonde itu.


Max mendelik, dia menatap mereka berdua dengan tatapan curiga.


"Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu bukan!?" Tanya Max sambil melemparkan tatapan sinis ke arah mereka berdua.


"Memangnya apa yang kami coba sembunyikan dari manusia keras kepala seperti kakak!?" Celetuk Diana sambil melemparkan tatapan mengejek ke arah Max.


Max memutar malas kedua bola matanya. Seperti yang dipesan oleh tuan dan nyonya mudanya tadi, Max terlebih dahulu mencari bunga mawar dan rujak pesanan istri bos.


"Diana bantu aku memilih mawar yang bagus, ini untuk nyonya muda, ayo ikut aku!" Max menarik tangan Diana keluar dari mobil dengan paksa . gadis itu menurut saja, mereka masuk ke toko bunga.

__ADS_1


"Bunga seperti apa yang cocok untuk nyonya muda, bisa kau pilihkan !?" Tanya Max.


"Emm aku kurang tau kak, karena nyonya muda bersahabat dengan Hanum, kurasa mereka punya selera yang sama, pilihkan saja bunga yang mungkin disukai Hanum," usul Diana.


"hah sudahlah, kau tak memberi solusi, kenapa bawa bawa Hanum !" Ketus Max sambil memilih bunga mawar yang mungkin akan disukai oleh nyonya mudanya.


"Hmmm yang disukai Hanum ya, kurasa dia akan suka mawar merah ini, merah seperti kirmizi, ahh bodohnya aku!!" Gumam pria itu.


Diana memutar malas kedua bola matanya," cih dasar plin plan, katanya kenapa melibatkan Hanum tau taunya malah milihin kesukaan Hanum, bodoh!" Ketus Diana sambil melirik wajah bodoh Max ketika membicarakan Hanum.


Setelah membeli rujak dan bunga mawar mereka melaju menuju tempat lamaran, tapi Max bingung bagaimana dia memberikan bunga itu pada nyonya mudanya sedang dia menuju tempat lamaran sepupunya.


"Sepertinya aku harus naik taksi, aku harus memberikan ini," ucap Max sambil menatap Rian dan Diana.


"Tak perlu, kita ke tempat Hanum kok," ucap Diana.


"Ehh maksudnya!?" Max terlihat bingung.


"Sudah jangan banyak tanya, siapkan saja dirimu!' cetus Rian.


Max diam tanpa tau apa yang terjadi, ingin menanyakan, kedua manusia di depannya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


Max melihat jalan yang dilalui supir, benar mereka akan ke tempat Hanum, bahkan mobil keluarga yang lain juga menuju arah yang sama.


Max semakin panik," Diana jelaskan padaku kenapa kita kesini, bukannya mau lamaran Rian!?" Tanya Max dengan wajah panik, jangan jangan yang dilamar adalah Hanum dan Max menolak.


"Ya ini lamarannya kak Max, kakak sih dijelasin ngeyel, kita mau lamaran ke rumah Hanum!" Ucap Diana sambil tersenyum jahil.


"Tunggu dulu, tidak, kenapa kalian tidak bilang padaku!??" Teriak Max panik.


"Brother yang sabar ya, aku akan melamar Hanum," ucap Rian sambil menunjukkan foto Hanum pada Max.


Mata pria itu membulat, dia baru saja menolak perjodohan dengan gadis yang dia suakia dan sekarang sepupu nya yang mengambil tempat nya.


"Diana kenapa tidak bilang!!??" Max membentak.


"Kemarin malam gak ingat ya kak, aku ngajak kakak ngbrol tentang perjodohan ini, tapi Kaka sudah banget, kerjaan melulu, aku udah bilang nama Hanum tapi kakak gak dengar dan cuek, salah kakak sendiri!" Ucap Diana sambil memberikan tatapan kesal.


"Ti.. tidak boleh, Rian kau tidak boleh!" Ucap Max


"Terus kau boleh gitu? Ya nggak lah, enak saja," celetuk Rian.

__ADS_1


Max diam membatu, apa yang sudah dia lakukan. Kemarin malam jelas Diana berbicara padanya dan menyebut Hanum tapi dia pikir itu candaan dan sekarang ternyata itu benar.


__ADS_2