Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
62


__ADS_3


..."Grim Reaper, Tiara!"...


...****************...


Sehari setelah acara selesai, Vernon mengajak Tiara pergi ke markas Davichi. Dia hendak memperkenalkan nyonya muda yang akan menjadi majikan para anak buah Davichi dan hal ini sengaja dilakukan oleh Vernon, ada rencana yang sedang pria itu jalankan.


“ Ver, kau yakin mau membawa Tiara ke markas? Itu terlalu berbahaya, bagaimana kalau ada yang membocorkan informasi tentang Tiara ke pihak lawan?” tanya Johan yang menahan tangan Vernon.


“Tenang saja kakak ipar, aku tau apa yang kulakukan, aku sudah membicarakan hal ini dengan Tiara dan dia setuju, ternyata adikmu memiliki mental yang sangat ekstrim, dia bahkan tidak takut saat aku mengakuinya,” bisik Vernon sambil melirik Tiara yang sedang menggendong Shaka , mereka sedang berbincang bersama tuan Weizmann dan Nastusha.


“ Ka.. kau sudah mengakui seluruh identitiasmu?” Johan terbelalak, dia pikir Tiara tidak tau dan Vernon akan memberitahunya hal ini sekarang. Nyatanya Tiara sudah tau dan responnya justru di luar dugaan Vernon dan Johan.


“Sudah, dia tidak takut atau memiliki keraguan sedikitpun,” jelas Vernon.


“Wahhh tapi bagaimana dengan mata mata itu, apa ada hubungannya dengan si bodoh itu?” tanya Johan.


Vernon mengangguk,” mata mata yang ditangkap anak buahku sehari yang lalu adalah mata mata yang bekerja di bawah pengawasan Praja, namun anehnya dia tidak datang atas perintah Praja,” jelas Vernon.


“Apa mungkin dia dikhianati lagi oleh anak buahnya?” tanya Johan.


“Menurutku tidak, sepertinya seseorang diberi wewenang untuk mengontrol orang itu, kurasa Praja dimanfaatkan untuk menyakiti orang lain, dia benar benar tidak berubah, kenapa sampai melibatkan istriku!?" geram Vernon.


“Kalau begitu akau akan ikut dengan kalian memastikan apa yang terjadi, aku tidak ingin Tiara dalam bahaya,” ucap Johan.


Vernon mengangguk setuju, Johan juga adalah petarung yang hebat dia memliki ribuan anggota yang bekerja di bawahnya, semuanya tersebar di seluruh daratan Rusia.


“ Sayang, sudah waktunya, ayo berangkat,” Vernon menghampiri Tiara dan yang lainnya.


“Ahhh baiklah, “ Tiara menurunkan shaka dari pangkuannya.


“Anak ganteng, aunty pergi dulu ya, nanti aunty bawakan mainan, kamu baik baik sama Mommy dan kakek,” ucap wanita itu sambil mengusap wajah bocah kecil menggemaskan itu.


“Siap Aunty.. ummah...” Seru Shaka sambil mengecup pipi wanita itu dengan senyuman sumringah.


“ Papi, kakak ipar, Tiara pergi dulu ya, “


“Papi, kakak ipar, aku bawa Tiara nya dulu ya hehehehe...” Celetuk Vernon sambil menirukan gaya Tiara.

__ADS_1


“Hahhahaha.. ternyata bocah besar ini bisa bercanda, Papi pikir selama ini hidup Vernon itu terlalu tegang dan selau diam, sudah ketawa ketiwi ya... hahhaha baiklah kalian berangkatlah, hati hati di jalan,” ucap Tuan Weizmann.


Mereka berpamitan, Max yang membawa mobil dan jangan lupakan Arthur dan Damian yang sudah stanby dengan mobil mereka masing masing, layaknya perangko, kelompok itu selalu pergi bersama kecuali ada pekerjaan pribadi yang harus ditangani.


“Sayang aku pergi dulu, kalau ada apa apa langsung hubungi aku, anak buahku akan menjaga kalian disini,” bisik Johan.


“Apa Tiara harus ikut, ini sedikit berbahaya, aku takut dia kenapa kenapa,” balas Nastusha.


“Dia harus ikut, kami ingin memastikan sesuatu,” ucap Johan.


“hmmm baiklah, tapi jaga dia dengan baik, dia sudah cukup menderita selama ini, jangan sampai dia kenapa kenapa,” tegas Nastusha.


“Iya sayang, kamu udah balik lagi jadi mode emak emak posesif, percaya sama aku ya,” celetuk Johan sambil menepuk pucuk kepala istrinya.


“Ck.. aku Cuma khawatir,” ucap Nastusha.


“Ohh iya nanti bawakan cireng ya, aku tiba tiba pengen makan cireng, penasaran rasanya, udah setahun gak makan heheheh..”


“Baiklah yang mulia akan saya penuhi,” ucap pria itu.


Akhirnya mereka berangkat menuju markas Davichi. Vernon mengkawal ketat istrinya selama perjalanan. Namun mereka dikawal oleh anak buah tak terlihat yang selalu berada di sekitar mereka tanpa bisa dideteksi oleh siapa pun.


Setibanya di lokasi , Vernon mambawa istrinya dan menjaganya dengan posesif, Tiara diminta memakai penutup wajah dari bagian hidung ke bawah. Cadar yang sedikit transparan dan tipis hanya untuk menyamarkan wajah wanita itu.


“Ya, ini markasnya, kami latihan dan bekerja dari markas ini, apa kamu takut? Kalau iya kita pulang saja,” ucap Vernon sambil menatap istrinya dengan penuh kelembutan.


“Aku gak takut sayang, ya sudah ayo masuk ,aku malah penasaran dengan isinya,” ungkap Tiara.


Johan, Max, Damian, Arthur dan Vernon saling menatap. Mereka pikir Tiara mungkin akan sedikit mengeluh atau takut, nyatanya wanita itu malah melangkahkan kakinya mendahului kelima pria itu.


Semua orang menatap ke arah Tiara. Beberapa sudah tau siapa Tiara dan beberapa penasaran dengan sosok wanita di balik cadar hitam transparan itu.


Vernon menggenggam tangan istrinya,di berjalan bersama tiara. “ jangan melepaskan tanganku kalau sedang berada disini,” ucap Vernon.


“heheh maaf sayang, aku penasaran, soalnya dulu juga pernah masuk ke markas kenalan yang kuceritakan, markasnya serem banyak ornamen anehnya, tapi gak sebesar ini,” celetuk Tiara sambil menatap rumah besar itu.


“ Wahhh nyonya Muda benar benar tidak takut apa pun ya,” celetuk Max yang salut dengan nyonya mudanya.


Mereka masuk ke dalam rumah itu, semua prajurit membungkuk hormat menyambut kedatangan sang ketua komplotan. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyangka kalau Vernon akan membawa seorang wanita ke dalam markas tersebut.

__ADS_1


“Selamat datang tuan,” sapa prajurit kepercayaan Vernon yang dipercayakan mengurus Markas.


“Hmm... bawa kami ke ruangan itu,” ucap vernon.


Namun pengawal yang ternyata wanita itu malah menatap Tiara dengan tatapan heran. Ya pengawal itu adalah seorang perempuan, namun jangan salah dia salah satu dari lima pendekar terkuat di negeri itu yang beranggotakan dua wanita dan tiga orang pria, empat lainnya berjaga di bidangnya masing-masing, salah satunya adalah Max.


“Dia tuanmu yang baru, hormati dia seperti kau menghormatiku dengan nyawamu,” ucap Vernon.


Namun wanita itu berdiri tegap menatap Tiara dan tuannya,” Maaf tuan, bukan tidak sopan, saya hanya akan menghormati orang yang memiliki kemampuan bukan seorang gadis lemah yang tidak berbakat, anda tau sendiri sistem dalam dunia pendekar, kami tidak akan pernah tunduk pada orang yang lemah, jadi jika tuan meminta saya untuk menganggapnya sebagai tuan, maka maaf kalau saya melawan tuan kali ini,” ucap wanita yang biasa disapa Diana itu.


“Diana jaga ucapanmu di depan tuan dan nyonya,” segera Max.


“Saya hanya mengatakan fakta, apa ada yang keberatan dengan hal ini? Lagi pula menurut saya seorang wanita yang lemah tidak cocok menjadi pendamping tuan muda, maaf kalau saya terlalu blak blakan tetapi ini adalah hal yang harus dipertimbangkan mengingat tuan Muda seorang pimpinan Kelompok Davichi,” ucap Diana.


“Tuan justru menurunkan martabat tuan dengan membawa wanita yang bisa menjadi boomerang bagi kelompok ini,” tegas Diana.


Mereka semua terdiam, Diana memang wanita yang terang terangan mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Hanya saja dia terlalu cepat menilai orang dari penampilannya.


“ Sejak kapan kau mulai mengoreksi apa yang kulakukan Diana?” nada suara Vernon terdengar berat dan tatapannya sangat tajam.


“Mohon maaf tuan, saya hanya mengatakan fakta, jika kelompok ini diserang hanya karena ada mangsa yang cocok dijadikan kelinci buruan, maka saya akan mengundurkan diri,” ucap Diana dengan tegas sambil menatap sinis ke arah Tiara.


“Heh aku? Kelinci buruan? Wahhh... hahahahah... imajinasi yang luar biasa, tapi yang dia katakan tak ada salahnya sih, sepertinya aku harus banyak berlatih dari anda nona Diana, senang bertemu dengan anda,” celetuk Tiara yang masih tersenyum dengan ramah tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan ucapan Diana.


“ Sayang aku akan menghukumnya karena mengatakan yang tidak baik, aku...


“Nggak perlu, Nona ini benar,dengan membawaku ke tempat seperti ini, menjadikan markas ini target yang mudah untuk diserang, jadi aku harus belajar dengan baik agar bisa mendampingi suamiku sendiri, iya kan nona,” ucap Tiara sambil menepuk bahu Diana dengan lembut.


“Kita lihat saja siapa yang tidak pantas dan siapa yang pantas,” bisik Tiara.


Seketika mata Diana membulat, dia menatap Tiara, tatapan mata wanita barusan berhasil membuatnya bergidik ngeri.


“Si..siapa kau sebenarnya...” gumam Diana.


“Grim reaper Tiara hahahhaha...”


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen ya.


__ADS_2