
Max memberitahukan semua kebenaran pada Tuan Frank dan Nyonya Gita, kebenaran menyakitkan tentang bagaimana Vernon selama ini hidup dalam lingkungan keluarga itu, selain itu Max juga menceritakan bagaimana Tiara membuat hari hari tuan mudanya lebih berwarna dan banyak tawa.
Sementara Max asik bercerita tentang bagaimana Vernon diperlakukan selama ini tanpa sepengetahuan paman dan Bibinya,di dalam kamarnya Vernon sedang menemani istrinya yang tengah terlelap dengan nyenyak.
"Tak kusangka kamu bahkan tidak tau siapa orangtua kandungmu, bahkan informasi yang datang padaku tidak mengatakan dengan jelas bagaimana latar belakangmu sayang," gumam Vernon, dia menumpu salah satu tangannya, berbaring dengan posisi miring menghadap ke Tiara.
Tangannya mengusap kening istrinya, rekam ingatan tentang kejadian saat wajah istrinya di tampar oleh pria lain masih terbayang jelas di benak pria tinggi itu.
"Beraninya orang rendahan itu menyentuh wajah istriku yang berharga, bibirnya sampai terluka, akan kubuat perhitungan yang setimpal dengan ini," gumam Vernon sambil mengusap pipi dan bibir istrinya yang terluka.
Padahal dirinya sendiri terluka karena ulah Gea, tetapi dia lebih peduli pada istrinya, kepala Vernon masih berdarah dan belum diobati sampai sekarang.
Vernon terus menatap istrinya, lama kelamaan rasa kantuknya datang, dia mendekatkan diri dan memeluk Tiara dengan erat, terlelap menuju dunia mimpi, meninggalkan rasa sakit di dunia ini untuk sementara waktu.
Vernon dan Tiara sama sama memiliki nasib buruk tentang keluarga. Vernon tau siapa ayah dan ibunya tetapi jelas mereka menganggap Vernon sebagai hama mengganggu, pria idiot yang tidak bisa diandalkan.
Tiara sebelumnya hidup damai dengan mendiang ibu angkatnya yang mengadopsi Tiara karena tidak bisa memiliki anak alias mandul, ayah angkatnya juga sangat menyayangi Tiara.
Awalnya kehidupan Tiara sangat menyenangkan, hidup sebagai anak normal dengan keluarga sempurna, gadis yang selalu dimanjakan oleh kedua orangtuanya.
Namun semuanya tak bertahan lama ketika sang ibu angkat meninggal saat usia Tiara 8 tahun, hanya 2 tahun waktu kebersamaannya sejak dia diadopsi.
Semuanya berubah ketika seorang wanita baru datang bersama anak perempuan nya yang usianya dua tahun di atas Tiara, lalu lahirlah seorang putri lagi di keluarga itu.
Hidup Tiara yang tersiksa dengan tekanan dari ibu tiri membuatnya angkat kaki dari rumah dan melanjutkan hidupnya sendiri. Tiara masih berbakti pada ayahnya tetapi tidak menganggap ibu tirinya sebagai keluarga.
Kedua sejoli itu terlelap hingga beberapa jam.
"Ma.. Mami... hiks hiks... Arrhhh.. Mami, kakak... hiks hiks.. tolong.. Tiara.. tolong... di...dimana.. kalian.." Tiara menangis sesenggukan.
Tiara kecil sedang berada di tengah jalan sendirian dengan pakaian bersimbah darah, kecelakaan besar terjadi di depan matanya, petir menyambar, langit tampak mengeluarkan lidah lidah api yang menyambar nyambar ke bumi. Angin kencang, langit berwarna abu abu, Tiara menangis histeris, mobil mobil di depannya hancur berantakan, banyak korban dalam kecelakaan besar itu.
"Mami!!!" pekik anak kecil itu, kakinya terluka, dia tak bisa beranjak, dia mencari cari dimana keluarganya namun derasnya hujan membuat gadis kecil itu tak bisa melihat dengan jelas.
Ketakutan menyelimuti tubuh gadis kecil, dia bergetar menangis dalam dinginnya guyuran air hujan sampai seseorang mengangkat tubuhnya dan membawa dia pergi dari tempat itu.
"Mami.. to.. tolong tolong!! kak.. kakak.. Papi... tolong!!!!"
"Ra.. Tiara.. Tiara bangun Ra!!!"
__ADS_1
"Tiara bangun, Tiara!!" Vernon memanggil manggil Tiara sat mendengar istrinya mengigau dengan tubuh berkeringat dan gemetar, wajah Tiara tampak pucat, keringat membasahi tubuhnya.
Cuaca di luar juga tidak baik, hujan dan petir menyambar nyambar dan langit tampak hitam.
"Hiks hiks ... Tolong... to..tolong!!!" Tiara terus meracau sambil menangis ketakutan.
Vernon semakin panik melihat istrinya, dia menggoncang tubuh Tiara dan memanggil nama istrinya dengan keras agar Tiara bangun dar mimpi buruknya.
"Tiara bangun!!!" teriak Vernon.
"Arrkhhhh... " Tiara terbangun bahkan sampai duduk di atas kasur dengan nafas naik turun, gemetaran sambil menangis.
"Ra!!"Vernon sangat khawatir dia menatap istrinya dengan tatapan sendu.
"Vernon.. hiks hiks hiks.. Verr!!!" Tiara menangis histeris dia memeluk suaminya dengan erat, ketakutannya semakin bertambah, bayang bayang mimpi tadi teringat jelas di kepalanya belum lagi cuaca di luar tidak baik.
"Ver... Tiara takut hiks hiks..."lirih Tiara, dia gemetaran, memeluk Vernon seerat mungkin sambil menangis sesenggukan.
Vernon tak pernah melihat Tiara sampai selemah ini, dia membalas pelukan istrinya, saat itulah Vernon sadar kalau Tiara butuh suami normal yang menjaga dan melindunginya dalam segala keadaan, namun bagaimana caranya dia mengungkapkan identitasnya pada Tiara tanpa melukai hati istrinya.
"Tak apa, tak apa itu hanya mimpi, Vernon disini, Vernon akan jaga Tiara, Tak apa " ucap Vernon sambil menepuk nepuk punggung istrinya dengan lembut.
Tiara masih menangis sesenggukan, Vernon menangkupkan kedua tangannya di wajah istrinya dan menatap wanita itu dengan lembut.
Tiara melirik ke arah jendela yang menampakkan petir dan badai yang mengguyur kota itu, dia benar benar takut hanya melihat hal itu.
Vernon paham, dia berdiri dan beranjak menutup jendela dengan tirai lalu menyalakan lampu agar lebih terang.
" sekarang sudah tidak apa apa, Tiara takut petir?" tanya Vernon dan dijawab anggukan kepala oleh Tiara.
"Sejak kapan?" tanya Vernon sambil memberikan segelas air putih pada Tiara.
"Sejak kecil hiks hiks.." jawab Tiara sambil menangis.
"Minum dulu, tenangkan dirimu," ucap Vernon.
Tiara menurut, dia menenggak airnya dengan cepat lalu memberikan gelas kosong pada Vernon.
"Apa yang terjadi? apa Tiara mimpi buruk? Tiara boleh cerita pada Vernon," tanya pria itu, dia duduk sambil menatap istrinya.
Tiara membalas tatapan Vernon, air matanya masih saja mengalir, tangan Vernon spontan mengusap air mata itu.
__ADS_1
"Tiara mimpi buruk, kecelakaan, badai, darah, semua orang mati di depan Tiara, kecelakaan besar terjadi, banyak korban, Tiara terpisah dari Papi, Mami dan kakak, Tiara.. takut... " lirih wanita itu.
Vernon terkejut mendengar penjelasan istrinya, masa lalu wanita itu ternyata juga menyedihkan, kecelakaan semasa kecil yang menyebabkan dia berpisah dari keluarganya bahkan sampai meninggalkan trauma mendalam bagi Tiara.
"Kemarilah, Vernon peluk," ucapnya.
Tiara menghamburkan pada Vernon, dia benar benar dalam kondisi terpuruk.
"Semuanya tinggal masa lalu, jangan diingat terus ya, " ucap Vernon.
Beberapa menit Tiara menenangkan diri sambil memeluk suaminya, "Entah kenapa sesaat aku merasa kalau suamiku adalah orang yang berbeda, cara dia menenangkan ku, cara dia membuatku nyaman dan semua perhatian kecilnya membuatku mengharapkan hal lebih dari dia, bagaiman kalau dia adalah seorang pria normal, mungkinkah aku akan lebih bahagia dari saat ini? tapi ada dia di hidupku saja aku sudah bersyukur, entah dia normal atau tidak aku tak akan pernah melepasnya," batin Tiara
"sudah tenang?" tanya Vernon.
"he.. em.. Terimakasih Vernon!!" ucap Tiara sambil tersenyum manis dan menepuk kepala Vernon.
"Akh.. jangan ditepuk, kepala Vernon masih sakit," ucapnya yang memang kesakitan karena Tiara menyentuh luka di kepala.
Tiara terbelalak, dia baru ingat kalau Vernon terkena pukulan dari Gea tadi.
"Ya ampun Ver... kenapa beluk dikasih obat!!!" Tiara panik, dia langsung berdiri kocar kacir namun interior ruangan itu membuatnya menghentikan langkahnya.
"Ver, kita dimana!!!??" tanya Tiara dengan mata membulat sempurna.
"Di rumah sayang, ini rumah kakek Vernon!" ucapnya sambil tersenyum.
"What!!! ngapain kita kesini Ver, pasti orang orang jahat itu ada disini, pulang yuk, Ayo pulang, pasti orang orang yang mengusir kamu waktu itu disini, jangan kesini Tiara gak mau!!!" ucapnya yang langsung panik.
"Tenanglah nyonya, kita di rumah kakek bukan rumah keluarga D.K, mereka tak bisa masuk kesini," Max masuk sambil membawa beberapa perlengkapan tuan dan nyonya mudanya.
"Hah!!??"
"Tuan muda dan Nyonya muda dipanggil kebawah, sebelum itu bersihkan diri kalian," ucap Max .
"Baik Max, terimakasih, dan.. ingat mengetuk pintu!!!" ucap Vernon dengan penuh penekanan.
"Mampus, ya ampun sampai lupa kalau tuan udah nikah, mampus aku mampus, habis aku ditendang!!!!" batin asisten yang tersiksa berteriak.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen