
Vernon diam membeku setelah kepergian tuan Dharma dan anggotanya. Tubuh pria itu gemetar hebat, kaki dan tangannya gemetaran setelah menghadapi sumber traumanya secara langsung. Mengahadapi pria gila yang membuatnya takut dengan sulutan api, membuat tubuh pria itu terdiam membeku.
Vernon berusaha bangkit berdiri, dia masih diam, dan membuat Tiara di balik tirai sana penasaran dengan apa yang terjadi pada vernon.
“Kenapa dia diam?” pikir Tiara.
Vernon mencoba melangkah, selangkah dua langkah dia berhasil namun langkah ketiga di ambruk dengan kedua lututnya menghantam lantai. Tubuhnya tak berdaya,, entah darimana dia mendapat keberanian seperti tadi ketika menghadapi ayahnya. Sosok pria yang selalu membuatnya merasa kehilangan nyawanya berkali kali.
“ Akh,..... si..sial...” Vernon merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sebenarnya masalahnya disini adalah hatinya. Dendam dan amarah yang sudah menahun, rasa sakit dan beban besar yang dia sembunyikan selama ini akhirnya keluar juga. Ayah yang selalu dia harapkan akan memberikan kasih sayang yang tulus padanya nyatanya tidak mengenali sosok putranya sendiri ketika bertemu secara langsung.
Malang, sungguh malang nasib Vernon. Saat melihat tuan Dharma tadi, ada sedikit keinginan di hati pria itu agar setidaknya ayahnya menyadari siapa dirinya, oleh karena itu dia bertingkah seperti anak anak dan tersenyum seperti saat dia masih dikenal sebagai seorang bocah idiot.
Bahkan sampai akhir pun dia berusaha untuk mendapatkan perhatian ayahnya, namun nyatanya, sebanyak apa pun kode yang dia berikan pada tuan Dharma tak membuat pria itu melek kalau orang yang dia harapkan bantuannya saat ini adalah putra idiot yang selama ini dia buang dan tak diakui.
Vernon menangis, lagi lagi hatinya di hancurkan oleh keadaan, hancur sampai titik terendah dalam hidupnya.
“ benar benar tak ada kesempatan ya, hahahha... benar benar tak ada kesempatan untuk ku?” tangis Vernon.
Merasa suaminya bertingkah aneh, Tiara tak tahan diam saja di dalam ruangan itu. Rasa penasarannya membuat dia semakin gelisah.
Belum lagi kata kata vernon tadi yangmeminta Tiara tetap dalam ruangan itu. Rasa penasarannya membawanya keluar dari ruangan itu. Mata Tiara menyapu seluruh ruangan hingga dia tertuju pada Vernon yang duduk berlutut di atas lantai menghadap pintu keluar sambil mmencengkram kepalanya sendiri. Menangis dalam diam tanpa diketahui oleh siapa pun.
Deghh...
Hancur hati Tiara melihat suaminya lagi lagi tepuruk dan belum lepas sama sekali dari harapan harapan kecil di hatinya. Harapan yang membawanya menuju kehancuran seperti saat ini. Tak tahan, Tiara tak bisa melihat Vernon hancur sedalam itu.
Wanita itu juga menangis, dia tau perasaan itu, rasa sakit ketika diabaikan oleh orang yang kita sayangi, rasa sakit ketika kita tidak dianggap padahal seluruh hidup ini diberikan untuk mereka, rasa sakit seorang anak yang mengharapkan belaian kasih sayang dari orangtuanya sendiri.
Punya orangtua yang lengkap tapi seperti tidak punya sama sekali.
__ADS_1
Tiara berlari dia memeluk Vernon dari belakang sambil menangis, kondisi mental suaminya lebih penting dibandingkan dengan segala drama yang mereka mainkan. Kesehatan jiwa suaminya lebih penting bagi Tiara, kebahagiaan Vernon adalah segalanya bagi Tiara.
“Sayang... tenang... aku disini... aku disini... tenangkan dirimu,” isak tangis Tiara terdengar.
Vernon terkejut saat mendengar suara tangisan Tiara dan pelukan hangat di punggungnya itu. Bagaimana bisa Tiara tau siapa dirinya yang sebenarnya.
“Ka... kamu?” Vernon tergagap.
“Aku tau semuanya, tak perlu berpura pura lagi, tak perlu menyembunyikannya lagi, aku gak tahan lihat kamu seperti ini terus “ ucap Tiara sambil menangis sesenggukan.
“Aku ketahuan ya, apa aktingku sejelek itu? Apa aku seburuk itu ya?” ucap Vernon.
Tiara menggelengkan kepalanya,” Kamu sangat hebat sayang, aku tidak akan tau ini suamiku kalau aku tidak bertemu kak Johan seminggu lalu,” jelas Tiara.
“Tenangkan dirimu, jangan terbawa amarah, kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu sudah berusaha, cukup sampai disini, hatimu juga perlu istirahat Ver, kamu itu manusia, kamu bukan robot, kamu punya perasaan, kamu punya hati, ada saatnya untuk mengatakan cukup,” ucap Tiara.
Vernon terdiam dia menggenggam tangan Tiara yang melingkar di pinggangnya dengan begitu erat.
“ Apa aku tidak bisa mendapatkan sedikit saja perhatian dari mereka Ra? Apa aku tak punya kesempatan lagi?” tanya Vernon.
“Kamu lihat sendirikan? Dia bahkan tak mengenali putranya, dia hanya bersikap baik padamu karena dia butuh bantuanmu... apa yang masih kamu harapkan dari orang itu?! Dengarkan aku... ini saatnya mengatakan cukup!” ucap Tiara dengan tegas.
“Kamu hanya menyakiti dirimu dengan angan angan itu, mau sampai kapan Ver, mau sampai kapan kamu hidup dalam kungkungan ini? Apa kamu gak berhak bahagia hah?!" Tiara menjadi kesal dengan ucapan Vernon.
“ Mereka orangtuaku, bagaimana bisa aku memutuskan hubungan dengan mereka ra, separah apa pun aku tak bisa.. aku hanya ingin perhatian mereka ra...” ucap Vernon, dia benar benar dalam kondisi kacau saat ini.
“Kalau kamu terus menerus mengorbankan perasaanmu, bagaimana dengan orang orang di sekitarmu yang juga ingin kamu bahagia, bagaimana denganmu, apa kau tak ingin hidup bebas dari ikatan menyesakkan itu dan hidup bahagia Ver? Aku.. aku juga ingin punya keluarga yang bahagia bukan keluarga yang merahasiakan banyak hal dariku.. kau juga berhak bahagia...” Tiara berbicara sambil menangis, rasanya sangat menyesakkan saat melihat pria itu seperti saat ini.
“Kau tidak akan tau rasanya Tiara karena kau tidak merasakannya langsung, kau terpisah dari orangtuamu, kau tidak tau rasanya ka....
Vernon terdiam saat menyadri kata katanya.
__ADS_1
“Ra... aku...” dia menyentuh bahu Tiara namun secepat mungkin wanita itu menepis tangan Vernon dari bahunya.
“ Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki orangtua yang sebenarnya, tak perlu kau ingatkan aku juga paham, terserah padamu, pikirkan baik baik perkataanku tadi, kendalikan dirimu dengan baik, semoga kau bahagia dengan semua angan angan kosongmu itu ver,” Nada Suara Tiara berubah menjadi dingin, dia tak lagi menatap Vernon ketika berbicara.
“ Ra...ma..ma..af
“ minta maaflah ketika kau sudah sadar dengan semua obsesi bodohmu itu, minta maaf ketika kamu benar benar paham dengan situasinya, anak yang tidak punya orangtua ini tidak tau rasanya, jadi.. aku pergi... lanjutkan pekerjaanmu, akan kulanjutkan pekerjaanku,” ucap Tiara. Dia beranjak mengambil dokumen di ruangan tadi lalu berjalan keluar dari ruangan Vernon.
“Ra.. maaf aku hanya..
“Sudah kubilang!!!” Tiara berteriak, dia menatap Venron dengan tegas.
“Minta maaflah pada dirimu sendiri dan datang ketika kau sadar dengan semua ini Vernon,” Ucap Tiara, nafasnya naik turun, dia menangis.
Hingga tiba tiba wanita itu ambruk ke atas lantai dan semua dokumen di tangannya berserakan ke atas lantai.
“Tiara, sayang tidak, apa yang terjadi!?" Pekik Vernon, dia benar benar panik saat ini, didekatinya tubuh Tiara yang berubahmenjadi pucat dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
“ra... bangun ra...maaf... maaf akau mengecewakanmu lagi, Tiara bangun... maafkan aku...” suara Vernon terdengar gemetaran.
Segera dia mengangkat tubuh istrinya dan berlari keluar dari ruangannya tanpa peduli dengan pandangan orang lain.
“Hubungi Hanum dan duo K, suruh mereka menyusul ke rumah sakit!" titah vernon pada asistennya.
“Baik Tuan...”
“Bertahanlah sayang, maafkan aku... maafkan aku... ini salahku... ini semua salahku,lagi lagi akau menyakiti dirimu,” tangis Vernon tak terbendung. Dia berlari sekuat tenaga membawa istrinya keluar dari perusahaan.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen