Suami 189 Cm-ku

Suami 189 Cm-ku
36


__ADS_3


Dua perempuan dengan dua penampilan berbeda sedang berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Yang satu memakai gaun cantik berwarna putih dengan lengan tanggung dan sepatu Kets biru, rambut panjangnya digerai, benar benar cantik seperti seorang malaikat. Wajah yang diberi riasan tipis. Dan dilengkapi sebuah kalung berbentuk salib terbuat dari emas disematkan di lehernya.


Yang satu lagi membawa tema adem. Hijab hitam pekat dengan gamis panjang bernuansa Kuning secerah mentari dan aksen hitam di pinggir nya, sepatu Kets putih dan celana kulot di balik gamis di atas mata kakinya. Penampilan yang religi namun tetap trendi dipadukan dengan wajah lembut dari sang ukhti tentu membuat hati damai.


Kedua sahabat beda kepercayaan ini berjalan dengan senyum tak lepas dari wajah mereka, berbicara tentang ini itu dan topik topik yang sedang hangat diperbincangkan. Bahkan si Duo K sampai dibuat heran dengan kedua manusia cantik di depan mereka itu. Berbicara sepanjang jalan dan terlihat benar benar dekat.


"Kakak ipar kita kemana nih?" tanya Kodak. Sebenarnya sejak masuk ke dalam gedung besar itu, mereka hanya berkeliling dan mendengar celotehan kedua perempuan itu.


"Ke stan sayur dan ikan, kalian mau ikut? " tanya Tiara sambil berbalik menatap si kembar.


"Baiklah, tentu saja kami ikut," ucap mereka berdua. Namun Tiara menatap keduanya. Tampak wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Matanya melihat lingkungan sekitar. Banyak mata tertuju pada mereka lebih tepatnya pada si kembar yang wajahnya ada di setiap pilar bangunan yang mereka lewati.


Apa kedua orang ini tidak sadar kalau mereka itu terkenal. "Pakai ini, wajah kalian ada dimana mana, kamu bisa diserang para netizen karena membawa dua model kelas atas ke tempat ini!" ucap Tiara yang menyodorkan dua buah masker hitam.


"Eh Upsss lupa kak, padahal tadi Kak Vernon bilang kita harus pakai masker, hadduhhh!" Kanon menepuk kepala adiknya.


"Yaakk kenapa tepuk kepalaku, ya Tepuk kepalamu dong!!!" gerutu Kodak sambil mengelus jidatnya yang dipukul oleh Kanon.


"Mereka berdua model apa bukan sih Ra, kok malah debat gitu, gemoy banget hihih..." bisik Hanum di telinga Tiara.


"Model num, tapi model kurang umur hahahahha... udah hayukk.." Seloroh Tiara.


Duo K mendengus dan menjauh satu sama lain. Mereka masuk ke dalam bagian sayuran dan buah buahan juga bagian keperluan dapur. Semuanya tertata rapi disana.


Mata Tiara langsung tertuju pada bagian sayuran. Tangannya sibuk memilih sayur sayuran segar untuk diolah.


"Kanon, Kodak, paman dan Bibi suka makan sayur apa? " tanya Tiara. Di tangannya sudah ada sayur brokoli dan bunga kol, bentuknya sama sama seperti pohon rimbun tapi jenis dan rasanya beda.


"Mami dan Papi Suka apa aja yang penting bisa dimakan, tai kalau menu sih suka banget makan capcai pakai daging yang gak bisa dimakan sama mba ini," cetus Kanon.


"Ohhh... sepertinya capcai enak, dagingnya kita ganti aja pakai yang lain, serahkan pada Tiara," seru wanita itu.


"Waah jadi kita makan besar hari ini!!" celetuk Hanum.


"iya ukhti, kita makan besar, siapkan perut kosong nya saja ya heheheh..." seru Tiara sambil mengelus kepala Hanum.

__ADS_1


"Baik kakak," balas Hanum sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.


"Aku sangat bersyukur bertemu dengan Tiara, orang yang toleransinya sangat tinggi, setiap kami memilih makanan atau pergi ke sebuah tempat dia selalu menjagaku, memilih makanan untukku, ahh dia benar benar Sahabat terbaik, bahkan terkadang aku lupa dia yang mengingatkan, tenang Ra aku akan jaga kamu!!" batin Hanum sambil terus memandang Tiara dengan mata berbinar-binar.


"Num jangan dilihat terus, aku tau aku cantik," celetuk Tiara.


"Heleh kamu memang cantik sih hahahaha..." balas Hanum.


Tiara dan teman temannya memilih bahan bahan untuk masak hari ini. Tanpa Tiara dan Hanum ketahui, setiap lokasi dimana mereka berada selalu dikawal ketat oleh anak buah Davichi kiriman Vernon. Anak buahnya melindungi Tiara tanpa alasan apapun, hanya menerima perintah tanpa banyak tanya.


Tentu yang menjaga Tiara bukan orang sembarangan, semuanya orang yang bisa dipastikan tidak berkhianat atau calon pengkhianat.


Sekitar tiga jam lamanya mereka berkeliling tempat itu. Akhirnya semuanya selesai dipilih, barang barang dibawa oleh pengawal yang berjalan di belakang mereka.


"Tiara!" panggil seseorang. Terdengar suara seorang laki laki yang sedikit familiar di telinga Tiara. Wanita itu menoleh.


"Siapa?" tanya Tiara pelan. Sedetik kemudian dia terkejut saat melihat pria yang memanggilnya. Kevin, kakak angkat suaminya yang sangat dibenci oleh suami Tiara.


"Kevin? bukannya anda tuan Kevin, anak kesayangan keluarga D.K, ada apa memanggil istri seorang anak yang dibuang ini!"


Kata kata Tiara bagai belati yang menghujam jantung Kevin. Bukan maksud pria itu menyinggung Tiara, dia hanya ingin berbicara dengan istri dari adik yang selalu dia sayangi meski dengan cara yang berbeda.


"Maaf, aku hanya ingin berbicara sebentar, bolehkah? " tanya pria itu. Kevin tampak lusuh, kantung matanya menebal, bahkan jelas terlihat kalau dia kurang istirahat dan kehilangan banyak berat badan. Masalah di grup Toretto dan tuntutan dari tuan Dharma membuat pria itu tidak bisa hidup dengan benar.


Tiara menatap Kevin, ada sedikit rasa iba dalam hatinya melihat penampilan Kevin yang tidak terawat.


"Mau bicara apa, ijin dulu pada suamiku!" ketus Tiara. Dia masih bersikap kejam mengingat perbuatan keluarga D.K pada suaminya.


"Tiara kumohon, sebentar saja, aku hanya ingin tau keadaan adikku," ucap Kevin. Jelas dia terlihat tulus.


"Sudah berbicara saja Ra, lihat dia kasihan banget, kayaknya kecapekan, " bisik Hanum.


Tiara menatap pria itu, sebentar dia melirik Duo K. Yang dilirik mengangguk pelan, sepertinya mereka tadi sesuatu.


"Gak apa apa kakak ipar, dia berbeda dengan Paman Dharma dan Bibi Kiara," bisik Kanon. Kevin tidak tau kalau di sepupu angkatnya karena mereka mengenakan masker dan topi.


"Hmm baiklah, tapi sebentar saja!" tegas Tiara yang langsung berjalan menuju tempat duduk di Supermarket itu.

__ADS_1


Kini Tiara dan Kevin duduk berdua saling berhadapan. Hanum duduk di kursi lain, begitu juga dengan si kembar, kedua orang itu butuh privasi katanya.


"Ada apa? " tanya Tiara dengan nada dingin.


Kevin tersenyum," Apa adikku baik baik saja? " tanya Kevin sambil tersenyum lemah.


"Vernon sangat baik, dia bahkan sangat normal sekarang, apa kau mau mencari informasi tentang dia? untuk melukainya lagi!?" ketus Tiara.


Kevin menggeleng kepalanya," bukan, aku hanya ingin tau keadaannya, aku selalu kasihan padanya karena Papa dan Mam tidak pernah menghiraukan dirinya. Meski aku sudah berusaha untuk lebih buruk tapi dia selalu tak terlihat, aku jadi merasa bersalah untuk itu," jelas Kevin.


"Apa maksudnya ini? merasa bersalah? terlihat buruk!?" tanya Tiara heran.


"Bukan apa apa," ucapnya sambil tersenyum.


"Ra, berikan ini pada Max, ini data penting perusahaan Toretto. Aku ingin Vernon mengambil apa yang menjadi haknya. Aku ingin Vernon hidup bahagia bersamamu, tolong jaga adikku," ucap Kevin dengan senyuman getir sambil memberikan sebuah flashdisk pada Tiara.


"Hei apa maksudnya ini, jangan begini, berbicara yang jelas, " ucap Tiara. Entah kenapa rasanya dia ingin menangis saat melihat mata sendu dan kesepian pria itu.


"Kalau ini data penting kenapa diberikan, bukannya selama ini kau ingin memiliki semuanya!?" tanya Tiara.


Kevin menatap Tiara, "aku memang ingin memiliki semuanya tapi dengan hasil keringat ku bukan sebagai boneka seperti yang dikatakan Vernon, bawalah, tak apa," ucap Kevin sambil berdiri.


"Loh... lalu bagaimana denganmu!?" tanya Tiara heran, dia juga turut berdiri.


"Aku tak apa, mungkin waktuku juga tak banyak lagi, ingat, jaga Adikku, katakan padanya kalau aku menyayanginya," ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan Tiara. Dia berjalan sambil menepuk dadanya.


Mata Tiara menangkap bercak biru di leher dan pergelangan tangan pria itu. Dia benar benar bingung dengan kondisi ini.


"Ada apa sebenarnya!" batin Tiara.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2