Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Tak Lagi Sama, Saat Awal Semula


__ADS_3

Dinding ruangan itu tampak membosankan, hanya diberi cat dasar putih. Beberapa retakan di sana-sini terlihat dengan jelas dan sepertinya yang menempati ruangan ini tidak menganggap hal itu sebagai sebuah masalah. Aku tidak heran, Fanny Pranata membatin.



Lalu gadis berkulit sawo matang itu mulai memerhatikan lantai. Terbuat dari marbel, tidak ada kayu. Dan furnitur yang menghiasi ruangan kecil itu hanyalah sebuah meja besar yang terbuat dari polycarbonate dan beberapa kursi serta rak buku yang sepertinya baru saja dibuat dari triplek bekas. Tidak ada jendela, hanya AC. Dalam situasi serius, mungkin ruangan itu dapat membuatnya terserang claustrophobia.


Wanita di hadapan Fanny berpenampilan sangat rapi. Rambutnya diikat ke belakang, menunjukkan kulit lehernya yang mulus. Mata cokelatnya menatap Fanny dengan tidak tenang.



Dokter Rani Sanjaya mungkin termasuk dokter termuda yang Fanny kenal di kota ini, tapi menurutnya wanita itu jauh lebih bijaksana dari orang-orang seumurnya. Tapi tetap saja Fanny membencinya.


Bibir wanita itu tertekuk sedikit saat dia membaca berkas di tangannya. Lalu, dia mulai menulis sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa memperpanjang keterikatan Fanny dengan ruangan ini. Mungkin tiga bulan lagi, atau mungkin setahun lagi, atau mungkin lebih! Hanya memikirkannya saja membuat gadis itu merasa agak sulit untuk bernapas. Jangan, jangan sekarang, Fanny!


“Kamu kenapa Fanny? Apa kamu merasa panik?” Dokter Rani secepat kilat menyingkirkan berkas di tangannya dan mulai mendikte Fanny apa yang harus dia lakukan. “Tidak apa-apa Fanny, tarik napas, keluarkan. Tarik napas, keluarkan.” Dua puluh detik kemudian, akhirnya gadis itu ingat lagi bagaimana caranya bernapas dengan benar.


“Dokter, aku—”


“Tidak apa-apa, Fanny. Terkena serangan panik itu bukan sesuatu yang aneh.” Dia mulai menambahkan sesuatu lagi di berkas terkutuk itu. Lalu dia bergumam, “Ternyata kamu masih sering mengalaminya.”


Gadis itu mengangkat bahuku sebagai respon atas pernyataan doker Rani. Dia mendegar dokter itu mendesah. Ini sudah pertemuan mereka yang kesekian kali, tapi Fanny masih saja mudah panik karena hal-hal kecil.

__ADS_1


“Bagaimana sekolah barumu?” Dokter Rani bertanya dengan hati-hati, dan lagi, gadis itu mengangkat bahunya. Dia tahu dia harus menceritakan kemajuannya di sekolah jika tidak ingin membuat seluruh rumah cemas.


“Aku memiliki teman-teman baru,” katanya dengan lirih. Tenggorokan gadis itu terasa kering. Setidaknya Dokter Rani merasa senang karena akhirnya pasiennya bisa lebih responsif.


“Oh, ya? Siapa saja mereka?”


“Sara dan Demian,” gadis itu bergumam.


“Apakah mereka orangnya baik?”


Dia menganggkat bahunya lagi. Kali ini matanya terpaku pada jam diding di atas rak buku. Jam dua belas.


Gadis itu langsung bergegas mengambil tasnya dan berjalan keluar tanpa mengucapkan apapun, hanya menangguk samar ke dokter Rani.


Ketika wanita itu keluar dari mobil untuk menyambut Fanny, rambut hitamnya tertiup angin yang memberikan efek magis bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan di usianya yang ke 38 dan sudah memiliki seorang anak, Lia Sasmita Iskandar masih bisa terlihat sangat sempurna dengan senyumannya yang khas dan matanya yang gelap itu.


Lia menggendong anaknya yang baru berusia empat tahun, Gio. Balita yang juga memiliki kulit sawo matang seperti Fanny itu terlihat sangat bersemangat ketika dia melihat gadis itu.



“Hai Gio sayang...” sapa Fanny langsung. Ketika sudah tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka, dia langsung meraih Gio ke dalam pelukannya, dan balita itu menjerit senang.

__ADS_1


“Gimana tadi dengan Dokter Rani?” Lia langsung bertanya tanpa basa-basi.


“Lancar,” jawab Fanny seraya berjalan menuju mobil.


Jauh dari dalam hatinya, Fanny sungguh tidak ingin membuat seorang Lia Sasmita Iskandar khawatir. Wanita itu sudah berbuat banyak untuknya. Mecarikannya terapis profesional, mendaftarkannya ke salah satu sekolah terbaik di kota, memberikannya baju-baju baru... Fanny merasa harus memastikan jika semua itu tidak akan sia-sia.


Semenjak ibu Fanny pergi bersama suami barunya dan hanya meninggalkan gadis itu dengan setumpuk uang yang cukup untuk membiayai hidupnya hingga lulus SMA. Dia benar-benar hidup tanpa arah. Dia menutup semua pintu hampir bagi siapapun karena kebanyakan dari mereka hanya ingin menjadikannya sebagai bahan gosip.


Tapi hidup Fanny berubah lagi ketika seorang Lia Sasmita Iskandar, satu-satunya saudara yang ayahnya punya, muncul kembali seperti hantu. Selama ini wanita itu dan suaminya bekerja di Batam, dan Fanny sudah benar-benar lupa tentangnya.


Ketika dia muncul kembali di depan pintu rumah, Fanny tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis di pelukan tantenya itu. Saat itulah Fanny benar-benar tersadar betapa dia sebenarnya sangat merindukan wanita itu.


Gadis itu tersadar dari lamunannya karena merasakan tekanan di jari-jarinya.


“Ani, kita main baleng nanti ya di lumah,” pinta Gio ke Fanny sambil memain-mainkan jari-jari gadis itu. Fanny terkadang masih sukar percaya betapa cepatnya balita itu tumbuh!


“Oh, iya dong!” Fanny tersenyum, dan Gio menganggkat tangannya ke udara. “Yeay! Iyo suka main sama Ani!” balita itu kemudian tertawa. Tawanya menular ke Fanny dan ibunya.


Jalanan tampak lengang, dan perjalanan terasa pendek ketika Lia membuka percakapan dengan Fanny, dan Gio masih bersemangat sekali berceloteh tentang rencana mereka yang akan menghabiskan sisa hari Sabtu ini dengan menonton spongebob dan bermain lego.


Lia dan suaminya, Fadi Iskandar, membeli satu unit di Citra Land Surabaya dan membawa Fanny untuk tinggal bersama mereka dan juga anak mereka di hari pertama mereka pindah tugas di Surabaya. Suami Lia dulunya adalah pimpinan tertinggi pabrik tekstil asal Singapura di Batam, dan Lia adalah sekretarisnya. Tampaknya perusahaan itu sekarang sudah berhasil melakukan ekspansi ke Surabaya.

__ADS_1


“Minggu depan minggu kedua kamu di sekolah,” Lia mengingatkan keponakannya. “Apa kamu sudah siap?” tanyanya dengan senyum jahil.


Fanny memuar matanya. “Tidak sama sekali,” jawabnya, berhasil membuat Lia tertawa. Ketika mobil sudah terparkir sempurna, Lia tersenyum karena kepalanya penuh dengan pikiran apa yang harus dia masak untuk makan malam. Sesuatu yang sangat akan dihargai oleh mereka yang tahu betapa berharganya setiap detik waku yang dihabiskan untuk keluarga.


__ADS_2