Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Tidak Untuk Menyerah Lagi


__ADS_3

Jeno POV


^^^.^^^


^^^.^^^


....o0o....


Dua hari kemudian....


Ada banyak kesibukan yang selalu menahan diri untuk tidak bisa pergi kemana-mana ataupun tidak bisa melakukan hal yang mau kita lakukan. Tak ada yang bisa hidup sebebas-bebasnya tanpa memikirkan bagaimana masa depan bisa terjadi sesuai harapan.


Salah satunya cara untuk mengubah masa depan menjadi sesuai dengan harapan adalah bekerja keras untuk bisa sampai di garis itu. Seperti itulah gue mempersiapkan masa depan itu. Gue berpikir perkejaan adalah yang paling utama dalam hidup.


Gue bisa menjamin orang yang gue sayang bisa hidup dengan baik di masa depan dengan cara gue bekerja keras hari ini.


Karena gue percaya "dalam hidup sebagian dari kita akan bekerja keras untuk melihat pemandangan. Sementara sebagian lainnya bekerja keras untuk menjadi pemandangan. Aku berharap bahwa disudut manapun kita pergi, akan ada langit penuh harapan di hadapan kita"_Kun NCT.


Jika gue dihari kemarin adalah objek yang selalu mementingkan pekerjaan dari hal apapun. Berbeda untuk hari ini, ada suatu hal besar yang sedang mengganggu pikiran gue.


Gue harus benar-benar menemuinya sekarang, agar gue bisa mengalami ketenangan dalam bekerja.


Gue akui, beberapa tahun terakhir ini hubungan kami tidak sedang lagi baik. Gue akui dan sadar gue adalah sosok yang masih mementingkan ego sampai lupa dia sebenarnya juga adalah salah satu mahkluk rapuh yang  perlu gue jaga dan gue beri sandaran.


Dari awal, gue sadar. Gue sayang dan cinta diwaktu yang bersamaan gue harus membencinya saat itu. Tapi, sejauh ini ketika gue menghabiskan beberapa waktu untuk merenung, dia ternyata tidak sepenuhnya salah atas beberapa kejadian di masa lalu.


"Ahhh, gue sepertinya harus menemuinya dan harus bisa untuk hari ini!" ujarku dan bangkit dari kursi kerjaku sore ini.


"Mau hendak kemana pak?" tanya sekretarisku saat melewati ruangan depan.


"Pulang!" jawabku singkat.


"Tapi, 15 menit lagi akan ada rapat terakhir untuk hari ini pak!" ujarnya menahan langkah kakiku.


"Dibatalkan saja. Saya sedang ada urusan mendadak," jawabku santai dan berlalu pergi.


Sesampai di rumahnya....


"Eh, nak Jeno! Silakan masuk!" sapaan dari bibi Im menyambut kedatangan gue di rumah itu. Ya, dia adalah salah satu orang yang tahu persis berapa kali gue datang dan pulang saat masih sering kesini tepatnya tahun lalu.


"Ah, maaf mengganggu kesibukannya bi!" Jawabku dan melangkah masuk ke ruang tamu tempat gue duduk beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Sebentar ya nak, bibi buatkan minum dulu!" Ujarnya dan melangkah pergilah dari hadapan gue.


Sambil menunggu, gue sedikit mengendarakan pandangan gue sekali lagi di ruangan ini. Gue masih belum bosan memandangi seisi ruangan ini.


Pertanyaannya adalah kenapa ruangan ini terasa begitu beda sekali? Apa Sena sudah tidak sesederhana dulu lagi, hingga sampai-sampai pajangan pada ruangan ini adalah barang-barang mewah dan elegan dari guci bahkan sampai pada lukisan dari beberapa pelukis terkenal.


Gue sedikit bingung dengan perubahan yang secara cepat ini sekarang. Apa waktu 2 tahun ini tanpa gue ada bersamanya sudah banyak perubahan yang gue lewati?


Wah, terasa konyol memang jika gue kembali datang dan mengharapkan kembali semua masih sama seperti sediakala.


"Hm, pasti nak Jeno sedikit bingung ya sama tata ruangannya?" tanya bibi Im membuyarkan lamunanku karena mungkin ia melihatku masih belum terbiasa dengan keadaan rumah ini.


"Iya. Saya sedikit kaget melihatnya dari beberapa hari yang lalu waktu kesini, sampai hari ini heheh," ujarku terkekeh.


"Sebenarnya kami hanya tidak bisa membiarkan ruang tamu ini terlihat kosong tanpa ada pajangan, makanya den Ivan berinsiatif untuk menempatkan barang-barang ini saja di sini. Toh, tidak terlalu banyak juga yang sering kesini setelah beberapa tahun terakhir ini!" ujarnya sedikit pelan.


"Lho, bukannya om Reza selalu balik tiap akhir bulan?" tanyaku sedikit penasaran.


"Ah, kalo itu sih, saya kurang tahu nak. Karena saya sendiri juga baru mulai kerja kembali setelah sebulan yang lalu! Tapi menurut yang ku dengar Pak Reza sudah tidak pernah pulang dari 2 tahun lalu," ucapnya tersenyum ringan.


"Owh, memangnya pajangan yang sebelumnya dikemanain Bi? Soalnya kan setahu Jeno nih ya, Sena gak terlalu suka tuh yang wah ke gini," ujarku sedikit penasaran karena memang kenyataannya seperti itu.


"Kalo itu sih, bibi hanya dengar dari den Ivan kalo barang-barang itu sudah dipindahkan ke gudang sama non Sena sebelum berangkat. Bibi juga pas kesini ruangannya udah kosong gitu," ujar bibi Im menjelaskan, namun gue sedikit bingung dengan ucapannya barusan


"Hah? Bukannya-" ucapannya terpotong dengan kedatangan bocah satunya ini.


"Eh, Bang Jeno!" ujar Ivan sedikit kaget akan keberadaan gue disini.


"Hai bro! Dari kampus?" Tanyaku basa-basi.


"Iya Bang. Udah lama?" tanya Ivan dengan raut sedikit datar tapi dipaksakan untuk sedikit welcome menurut penilaian gue saat ini.


Wajar sih, jika ia sebagai saudara dari Sena bersikap begitu terhadap kehadiran gue. Siapapun akan demikian jika tahu dan melihat dengan jelas bagaimana saudaranya di sakiti.


Jika di jelaskan secara rinci status gue saat kembali datang di rumah ini mungkin, gue adalah manusia yang udah gak punya urat malu, gue juga adalah manusia egois yang sudah meninggalkan tapi gak mau kehilangan.


Nyatanya, yang terjadi emang seperti itu. Gue gak mengelak, gue salah. Gue jahat. Gue bukan cowok baik buat Sena tapi kembali gue mau ingatkan gue adalah manusia paling egois sekarang. Yang kembali datang dan berharap mau diterima kembali.


Namun, apa kesalahan gue yang satu ini bisa dimaafkan dan kembali baik. Kita lihat saja apa yang terjadi kedepannya. Yang jelas gue gak mau kehilangan lagi. Gue mau memperbaikinya. Gue mau berubah demi dia. Gue mau serius sama hubungan gue. Gue mau beri dia kepastian walaupun mungkin sudah terlambat gue rasa.


Gue gak akan menyerah lagi.

__ADS_1


"Gue belum lama kok. Gimana tugas akhirnya?" Tanyaku sedikit basa-basi untuk menghidupkan suasana canggung ini. Lebih tepatnya gue yang merasa canggung.


"Lancar Bang. Ada keperluan apa kesini Bang?" tanyanya tak basa-basi.


"Ah, gue cuma mau main aja sih kesini. Udah lama juga gak kesini," jawabku makin canggung.


"Sayangnya gue gak punya waktu buat main mulai sekarang. Gue lagi sibuk banget bang!" ucapnya datar.


"Eh, iya sih. Gue juga hanya sekedar singgah doang. Lagian dari tadi gue juga gak liat Sena ya?" tanyaku pada akhirnya.


"Bukannya lo udah gak mau bertemu dia lagi?" ucapnya sinis dan datar.


"Ah, ya. Gue udah memikirkan ini dari lama. Gue udah merenungkan itu juga. Gue udah paham letak persoalannya dan gue mau perbaiki itu!" Ujarku pada akhirnya.


"Untuk apa?" tatapan dingin dari bocah itu dapat gue rasakan betul-betul sekarang.


"Gue nyesal Van. Makanya gue mau perbaiki itu dan memulainya dari awal," jawabku sedikit tersenyum.


"Untuk apa gue tanya sama lo?


Untuk buat dia kembali jatuh dan lebih sakit lagi? Atau untuk datang kembali menyirami garam dibekas lukanya yang sudah lebih dalam?" sarkasnya makin datar dan tak berekspresi.


"Gue salah. Gue nyesel banget. Dua tahun ini udah cukup buat gue sadar Van!" ucapku menunduk dan tak tahu lagi apa yang harus gue ucapkan untuk membuat adiknya ini percaya sama ketulusan gue sekarang.


"Berhenti ajalah! Jangan kesini lagi!


Gue gak suka sama lo sejak saat gue ngeliat pundak lo semakin menjauh darinya di pantai waktu itu.


Gue gak mau dia lebih sakit dari waktu itu. So, hidup saja seperti kemarin-kemarin!" ucapnya datar tanpa menatap mata gue sekalipun, walaupun dia tahu gue udah menatap wajah bocah yang tiada lain tiada bukan adalah junior gue dulu. Gue paham dia sedang memendam amarahnya saat ini. Dia bahkan gak memanggil gue dengan Abang lagi saat pembicaraan kami semakin larut.


(Yang lupa pertemuan mereka saat Jeno memilih menyerah dan pergi meninggalkan, bisa buka kembali Chapter 28 Liburan) ;)


"Ya. Gue akan pulang tapi bukan untuk berhenti. Bahkan gue baru mau memulainya. Bisa gue ketemu sama Sena?" tanyaku pada akhirnya.


"Lo lupa, dia bahkan udah gak kenal lo lagi? Lo siapa? Dan buat apa coba? Pergi ajalah. Gue lagi gak ada waktu juga!" Ucapnya final tak bisa digugat.


Pada akhirnya gue pun memilih mengalah dan akan kembali besok saja setelah semuanya dingin dan bisa dibicarakan dengan baik-baik.


"Ya udah, gue balik. Besok gue kesini lagi!" Ujar ku yang sudah melangkah menuju pintu utama.


"Gue saranin. Jangan membuang waktu berharga lo hanya untuk kesini. Karena semuanya gak akan pernah terjadi sesuai harapan lo. Ataupun gue." Ucap Ivan yang berhasil membuat gue sedikit berhenti tanpa menoleh dan kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


Gue akan anggap ini, adalah suatu hal yang wajar jika Ivan marah sama gue. Dia berhak marah atau bahkan berhak memukul gue saja. Tapi gue udah memantapkan diri untuk kembali lagi besok, besok dan besoknya lagi sampai gue bisa melihat dan berbicara dengan sosok yang gue rindukan.


Jeno POV End


__ADS_2