
'Cinta kadang sesakit ini, membolak-balikan perasaan kita dan berhasil membuat kita jatuh dan lumpuh diwaktu yang bersamaan setelah tau dia sudah tak lagi bersama dengan kita dan tersadar ternyata kita sesayang itu'.
'
'
'
Sena Pov
Kau tidak akan tahu betapa sulitnya menjadi aku yang tak mampu untuk mengatakan tidak di atas segala ketidakmampuanku mencegah
pergimu di hari itu.
Benar adanya kau masih saja terus membekas di setiap ingatan walaupun sudah tak pernah ada dan kembali.
Jika saja saat itu, aku sudah berada diposisi sadar akan bagaimana seharusnya aku, mungkin hari ini kita tak lagi berdiri dan menyendiri di sisi hidup kita yang sekarang.
Ternyata cinta begitu sadis untuk beberapa beberapa, buktinya ia mampu membuatku jatuh dan tak terdefinisikan lagi kondisiku saat ini. Jika saja aku bisa memilih, bisakah aku tetap pada diriku yang lalu? Sebelum mengenal banyak hal dan hanya fokus pada satu tujuan bahwa hidup hanya perlu dijalani saja.
Dimana pun keberadaan lo saat ini, lo mungkin gak akan tergantikan karena pada akhirnya gue sadar lo cinta pertama gue dan gue secinta ini sekarang.
"Hufhhh. Ku kira persolan hidup tersulit adalah bagaimana kita tak lagi mampu bersaing dengan beberapa lawan dalam berbagai sudut, entah dalam hal belajar, berorganisasi, berbisnis dan sebagainya bahkan perihal mengatur strategi. Tapi, ternyata hal tersulit yang baru ku pahami adalah bagaimana menguasai diri sendiri disaat hati dan logika tak lagi searah.
Semasa hidup ada banyak hal yang ku buat, ku lewati, ku pahami, ku perhatikan dan banyak. Dan hari ini benar saya menyerah soal hati, ini terlihat rumit begitu ku definisikan. Bagaimana tidak, ketika aku bersamanya dengan segala keberadaannya dan segala usahanya untuk tetap ada dan tetap selalu ada untuk setiap sisi cerita hidupku. Ku biarkan berlalu begitu saja. Setelahnya, seperti merasa kehilangan saat tahu bahwa aku ternyata sesayang itu.
__ADS_1
Dari awal ku kira aku hanya mungkin terbiasa dengan keberadaannya yang mampu membuat aku terus dan terus mengingatnya. Tapi, ternyata aku sudah jatuh saat dia masih ada dan bersamaku hanya saja aku yang tak menyadarinya.
Woah, kenapa penyesalan selalu datang di akhir?
Pertanyaan ini masih belum bisa terjawab untukku sampai saat ini!" gumam Sena sambil merenung banyak hal yang terlewat.
"Baiklah. Mari kita kembali baik untuk beberapa saat sambil berusaha memperbaiki diri!" Ucap Sena dari lamunannya.
"Teruntuk lo, yang masih terus membekas di setiap ingatan dan di setiap rasa. Maaf pernah jengah dibeberapa titik. Maaf pernah lelah hanya untuk tetap bertahan. Juga maaf untuk setiap sandaran yang ku peroleh namun ku sia-siakan. Jika saja aku masih bisa diberi kesempatan. Aku akan sedikit egois perihal kita. Aku ingin kau kembali dan ada bersama ku, duduk sambil menikmati kopi hangat entah di pagi hari saat kau bertamu ke rumah ataupun di sore hari saat kau mengajakku menikmati senja dibeberapa tempat yang pernah kita singgahi. Aku gak akan bosan untuk semua itu. Kau bisa datang kapan saja kau mau. Aku benar-benar membutuhkanmu, kau harus tahu 'aku sudah jatuh terlalu dalam' untuk setiap rasa dan setiap keberadaan saat bersama mu sejak awal," batin Sena dalam membuat harapan.
Sena Pov End
***
Sementara di tempat lain...
Ia tengah duduk di kursi biasanya. Tak ada yang berubah hanya saja keberadaannya yang sedikit berbeda, mungkin ia hanya sedang lelah dan ada beberapa hal lagi yang menggangu pikirannya saat ini.
"Berakhir sudah, terimakasih untuk tak pernah marah walaupun lelah saat itu. Terimakasih untuk selalu tersenyum walaupun jengah dengan semua keberadaanku.
Gue sadar ada beberapa waktu tertentu seseorang akan menyerah, karena sadar sekuat apapun ia berjuang pada akhirnya kita memang tak akan pernah searah.
Semoga kelak pada suatu titik sadar, akhirnya kita menerima bahwa tak mencapai mu, tak memilikimu juga tidak apa-apa," ucap Jeno tersenyum getir.
"Benar, kadang jika kita terlalu dekat dengan seseorang, kita akan kehilangan dia. Kesalahanku saat ini mungkin, kenapa harus memilih berpisah jika dari awal kita memang sudah memilih jalan ini? Tapi, gapapa karena pada akhirnya juga kita akan tetap memutuskan untuk berhenti, karena kita pun butuh waktu juga untuk diri sendiri," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Jeno!!" teriak Bayu dari pintu depan.
"Aisss. Anak itu selalu saja berteriak seperti di hutan!" ujar Jeno kesal dan pergi untuk membungkam mulut sahabatnya itu.
"Hai Jeno!" ucap Bayu dengan cengiran khasnya sambil tertawa renyah melihat tatapan maut dari sahabatnya sekarang.
"Dosa gak ya kalo gue melakukan pembunuhan disini?" ucap Jeno datar.
"Ah, lo bisa aja candanya!" ucap Bayu sedikit terkekeh.
"Sayangnya gue lagi gak bercanda sekarang!" ucap Jeno dengan tatapan mematikan.
"Yak!!! Sampai kapan kau akan mengganti tatapan sialan itu dengan sedikit senyuman?" ucap Bayu sedikit kencang karena kesal dibuatnya.
"Makin menjadi pula anda sekarang!" tegas Jeno menatapnya horor.
"Jeno, keluar yok! Udah lama gak maen jauh dari rumah!" Ajak Bayu bosan.
"Kemana?" tanya Jeno pada akhirnya. Benar, mereka sudah lama tidak menikmati masa muda dengan kebebasan karena bukan mahasiswa lagi.
"Akankah kita pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi?" ucap Bayu sedikit menaikan alisnya.
"Lo benar. Kita musti liburan dan kali ini kita mainnya harus jauh!" Seru Jeno mendukung.
"Oke. Mari kita mempersiapkan beberapa kebutuhan saja!" Ajak Bayu pada sahabatnya dan berlari keluar untuk mempersiapkan keberangkatan mereka dengan cepat.
__ADS_1
"Huh, bocah sialan. Giliran liburan gerakannya cepat!" decih Jeno menatap punggung sahabatnya yang hampir menghilang.
_06 sept. 2021