
🌺 hem.. 🌺
* * *
Baru saja kakinya menginjak lantai semen rumah Han, ponselnya kembali berdering.
Dengan terpaksa ia pun harus menyambut panggilan tersebut.
Bian menjauh lagi agar bisa bicara lebih leluasa.
'' aku gak tau harus merasa terhormat atau apa.
Tapi yang jelas , aku senang menjadi orang pertama yang tau kabar bahagia mu '' ucap Han
'' ... '' Nana tersentuh. Seperti biasa Han selalu tulus padanya.
'' tapi jujur. Itu juga kejam bagiku. Kau benar-benar sangat tega . Bahkan sampai akhir pun kau tetap menolakku.
Tapi, yah...mau bagaimana lagi.
Meski hubungan kita tak lagi sama seperti dulu. Tapi kau tetap lah Nana yang ku kenal .
Kuucapkan selamat, Nana. sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu.
Aku berdoa semoga kau dan anakmu selalu dalam keadaan sehat sampai nanti waktunya tiba "
" trima kasih , Han.. Kau selalu jadi orang yang paling memahami dan mengerti keadaan ku "
Han tersenyum.Ia senang karena ternyata Nana menilainya demikian.
Andai saja Nana bisa membuka sedikit saja hatinya .
Tentu ia akan bersikap lebih baik dari ini.
" kuharap dia mewarisi parasmu, tapi jangan sikapmu ''
'' memangnya kenapa dengan sikapku ? '' bernada tak terima.
'' kau itu terlalu acuh, bahkan pada dirimu sendiri ''
Nana mengangguk. Ia pun menyadari jika sejak ia tau ia tak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa , perlahan hal tersebut membentuk pribadinya menjadi tak mudah bersimpati pada orang lain . Termaksud pada dirinya sendiri.
'' kau benar..jangan sampai dia seperti ku '' melihat pada Bian yang tengah berbicara . Bian meliriknya .
Mereka sama-sama melemparkan senyum.
'' kuharap sifat dan sikapnya akan seperti Bian. Dicintai dan juga mencintai banyak orang.
Hangat dan sangat perduli pada orang disekitarnya ''
Tak lama kemudian, Bian selesai dengan urusannya, ia kembali kemudian mengajak Nana untuk pulang.
Merekapun berpamitan pada Han.
'' kamu nangis ? '' tanya Bian saat Nana baru saja masuk dan mendudukkan diri.
'' a ? " mata Nana melebar ,tangannya reflek terangkat dan menyentuh kedua pipinya. Nana menepuknya lembut.
Terasa lembab. Seingatnya hanya beberapa tetes saja air mata yang lolos.
" ah, oya kayanya.
Mungkin tadi terlalu kebawa suasana ..Sedih aja gitu mikirin Han ''
Bain ternyata lebih peka dari dugaannya. Nana pun tak bisa mengelak jika tadi ia memang sempat meneteskan air mata. Tapi bukan karena Han.
'' sedih ? Bukannya kamu bilang gak pernah ada perasaan sama dia ? '' Bian mendengus kesal membuat Nana sekali lagi melebarkan mata.
'' kamu kenapa ? Kok tiba-tiba jadi sewot ?''
'' aku suamimu , Nana. Wajar kan kalau aku gak suka kamu mikirin pria lain ''
Nana mengangguk sambil mengembangkan senyum.
Berharap itu adalah cemburu.
Mobil pun melaju jalan dengan kecepatan sedang.
" tadi siapa yang nelpon ? "
" kerjaan "
" masih belum kelar, ya "
" kalau masalah kecelakaan kerja itu, uda selesai "
Bian menghela nafas. Mengingat masalah kemarin yang tengah Nana pertanyaan . Agaknya Nana penasaran .
Bian pun menceritakan jika awalnya sempat terjadi ketegangan dalam perundingan.
Itu karena Keluarga korban yang menolak diganti rugi secara langsung. Selain menuntut harga yang tak sesuai , mereka juga minta agar bentuk tanggung itu diberikan secara berkala.
Alasanmu karena yang meninggal adalah kepala keluarga. Seorang suami dan ayah dari dua orang anak yang masih berusia balita.
Setelah melalui beberapa kali pertemuan dan pertimbangan ini - itu , akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan.
Setiap bulan keluarga korban akan menerima uang sesuai nominal yang sudah di sepakati hingga batas waktu yang juga telah ditentukan.
" ooo... trus yang tadi lagi ? " kali ini yang Nana maksud adalah panggilan terakhir yang Bian terima tadi.
" kerjaan dikota X.
Cuma bahas soal penyelesaian bangunan.
Mungkin dalam bulan ini selesai dan sudah bisa mulai dibuka.
Kalau gak ada hal penting di DSL aku ke sana.
Kamu ikut, ya ? Sekalian kita honeymoon lagi " Bian mengedipkan mata.
Nana mencubit lengannya dengan ujung kuku, membuat Bian meringis karena pedas dipermukaan kulitnya .
Keduanya serempak melepas tawa .
Beberapa saat kemudian setelah tawa mereka reda , kendaraan tiba-tiba melambat .
Nana yang heran melihat ke sisi kemudi.
Bian nampak celingukan , memutar lehernya ke kanan dan ke kiri , memperhatikan apa saja yang tengah di lewati. Seperti sedang mencari sesuatu.
'' kita cari makan dulu, ya .. aku lapar ''
Nana mengangguk. Jadi itu yang sejak tadi membuat sang suami mendadak tak fokus menyetir.
Padahal baru pukul 5.30 dan biasanya mereka makan malam sekitar pukul 7.
Dan tadi pun mereka terlambat makan siang .
Dan Bian bilang sudah lapar lagi ?
Mobil menepi di sebuah rumah makan sederhana .
' Sate dan gulai Kambing Pak Ade ' begitu yang tertulis di spanduknya.
" sate ? " Nana menatap setengah tak percaya . Seingatnya Bian tak pernah menyukai daging berbau khas itu.
__ADS_1
" gak tau kenapa aku kok tiba-tiba kepengen makan sate.
Kenapa ? Kamu gak mau ? " Bian yang sudah akan melepas safety belt nya berhenti.
Nana menggeleng dan tersenyum .
Yang hamil siapa, yang ngidam siapa.
Makanlah apapun yang kau inginkan.
Supaya nanti anak kita gak ileran.
Nana terkekeh dalam hatinya.
* * *
" akhirnyaaaaa... " Natasya beranjak berdiri dan langsung berjalan menghampiri Bian yang baru saja melangkah masuk kedalam rumah.
Elisabeth ternyata telah memberitahu pada semua pekerja rumahnya jika wanita tersebut adalah ibu dari cucunya, Bian. Karena itu Natasya pun jadi bebas keluar masuk , termaksud juga memberi perintah layaknya tuan rumah.
Bian merentangkan tangan melihat sang ibu yang langsung menghamburkan pelukan.
Hanya beberapa detik saja, pelukan itu terlepas sering dengan kecupan singkat di pipi kanan Natasya.
Nana yang hanya berada satu langkah dibelakang mereka bergeming. Natasya sama sekali tak menghiraukannya dan justru menarik Bian .
Jelas sekali jika Natasya mengacuhkannya Dan dengan sengaja bersikap seolah ia tak ada.
Nana pun memilih bersikap sama.
Ia perhatikan saja ibu dan anak yang mulai melangkah menjauh darinya .
Nana pikir ia mungkin ditinggal begitu saja, namun ternyata tidak.
Bian berbalik. Melepas pegangan tangan Natasya di lengannya dan kembali untuk menghampirinya.
Bian meraih tangan Nana dan menariknya.
Natasya yang kesal itupun lantas berjalan lebih dulu .
'' mama tadi dijalan liat ada warung penjual soto, mama cobain, eh ternyata enak.
Jadi mama bungkus buat kamu '' Natasya tersenyum seraya menunjuk bungkus makanan yang ada di atas meja.
'' maaf, mi. Tapi Bian kenyang. Tadi dijalan pulang kami singgah dulu makan sate '' Bian terlihat tak enak hati sebab raut wajah Natasya yang langsung berubah datar. Senyumnya pun luntur .
'' Oma mana, bi ? '' tanya Bian pada assisten rumah tangganya yang baru saja muncul dengan membawa peralatan makan.
'' dikamarnya, mister ''
'' aku nemuin Oma dulu, ya '' Bian mengusap lembut punggung sang istri lalu menarik diri dengan perlahan seiring langkahnya meninggalkan Nana .
' tak. tak. tak. ' suara Bi Gani meletakkan piring sendok dan garpu di atas meja.
Setelah itu ,pekerjannya beralih membuka bungkus makanan yang Natasya bawa.
'' habis ngajak Bian keluyuran kemana ? ''
'' kami baru dari DSL, bibi.. '' jawab Nana tanpa melihat lawan bicaranya.
Bi Gani terlihat mencuri lirik pada kedua majikannya secara bergantian .
' srak ' Natasya menarik kursi, lalu duduk.
'' kenapa tidak ikut Bian menyapa Oma ? ''
Nana tersentak. Tak menyangka jika Natasya akan mempertanyakan hal yang sudah jelas apa sebabnya.
'' apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun ? Kau pasti tau bagaimana seharusnya ketika baru pulang berumah kan ? ''
Ia ingin segera beranjak dari ruangan ini.
Namun urung ia lakukan sebab tak ingin memperkeruh suasana.
'' kau bisa memasak ? ''
Nana menggeleng perlahan.
'' kalau begitu belajarlah. Setidaknya kau harus punya sesuatu yang bisa membuatmu terlihat sedikit berguna dirumah ini.
Jangan cuma tau minta uang dan menghabiskannya ''
'' ... ''
'' dulu akupun tak bisa apa-apa.
Tapi aku belajar untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baruku.
Aku tidak pernah berpangku tangan pada pasanganku dan ikut bekerja keras mencari uang untuk kehidupan anak-anak kami.
Aku tidak seperti mu yang hanya bermalas-malasan dan keluyuran menghabiskan uang .
Sementara suamimu banting tenaga mencari uang.
Jadi berhenti bersikap tak perduli dan mulailah menata dirimu sendiri. Ubah kebiasaan dan sadarkan dirimu . Sudah seharusnya kau tau apa saja kewajiban mu sebagai istri dan ibu rumah tangga.
Jangan limpahkan dan membebani semuanya pada Bian ! ''
Nana melebarkan matanya. Sejujurnya ia tak paham apa maksud Natasya. Apa ia juga harus bekerja untuk menafkahi keluarga ini , begitu ?
Hem.. Nana menghela nafas dengan perlahan. Jangan sampai terdengar apalagi sampai terlihat jika ia sedang mengeluhkan ucapan Natasya barusan. Atau kalau tidak , ibu mertuanya ini akan semakin semena- mena mengatainya.
Nana menunduk sebentar lalu menegakkannya dan memalingkan wajahnya ke samping.
' astaga , kaget aku ' hampir saja Nana terkena serangan jantung.
Entah sejak kapan Bian sudah berdiri disitu dengan Elisabeth yang duduk di kursi roda.
Dilihatnya tatapan Bian mengarahkan pada Natasya yang sama sekali tak sadar dan masih terus mengoceh .
Jika diperhatikan dari raut wajahnya ,sepertinya Bian mendengar semuanya.
'' mami '' suara Bian begitu lantang , membuat yang disebut menoleh.
Natasya berdiri, memutar tubuh dan.. diluar dugaan. Ia tersenyum.
Nana dan bi Gani pun terperangah dibuatnya. Mereka mengira Natasya akan terkejut dan tergagap.
Begitupun dengan apa yang ada dibenak Elisabeth. Ia pikir wajah Natasya akan menjadi pias .
Namun ternyata respon Natasya sama sekali jauh dari perkiraan mereka .
Wanita itu seperti telah menyiapkan diri untuk segala kemungkinannya.
" luar biasa " batin mereka serempak.
" apa selama aku keluar kota, mami sering datang kemari ? " tanya Bian yang ditujukan untuk semua yang ada diruangan tersebut .
Ia tatapan Natasya. Sang ibu berekspresi datar. Seolah tak merasa melakukan sesuatu yang salah.
Tatapan Bian lalu beralih pada Nana.
Namun sang istri memilih bungkam dan memalingkan wajahnya.
Bahkan bi Gani pun tak luput dari sorot matanya yang bermakna sama . Bi Gani menunduk .
__ADS_1
" sudahlah, Bi. Yang dia lakukan wajar. Dia memang sering kemari untuk memberi nasehat pada istrimu. " Elisabeth mengelus punggung tangan yang ada di pegangan kursi rodanya.
" kalau yang Oma maksud seperti yang barusan diucapkannya, maka itu bukan nasehat Oma "
Bergeming lagi .Tak satupun ada yang bersuara, bahkan membalas tatapan Bian sekalipun mereka tak berani.
" ak- aku naik keatas dulu '' Nana akhirnya tak tahan lagi.
Suasananya benar-benar tak baik untuknya . Ia takut ini akan kembali berdampak pada kehamilannya yang sangat rentan.
'' Nana ''
Nana tak menggubris panggilan sang suami dan tetap melangkah pergi.
...
'' mami aku minta dengan sangat. Jangan ganggu Nana !
Berhenti ikut campur urusan rumah tangga ku !
Atau kalau tidak.. '' ucap Bian tertahan karena ia sendi pun tak yakin harus mengatakannya atau tidak.
'' apa ? Kalau tidak apa ? Apa sekarang kau mau mengancam ? !" Natasya bernada menantang. Wajahnya memerah dan nafasnya terlihat memburu. Ia mulai tersulut emosi .
" maka aku terpaksa memisahkan diri dari kalian "
Elisabeth mendongak, matanya menatap lekat sang cucu. Air matanya mulai menganak sungai.
" Bian, sayang.. kamu gak bermaksud ninggalin Oma kan ? " memegang erat pergelangan tangan Bian.
Bian menarik, memaksa pegangan itu terlepas.
Ia lalu memutar langkah, berhenti didepan Elisabeth dan berlutut.
" Oma tau apa artinya Nana buat Bian, kan ?
Nana lebih dari sekedar istri.
Dia bukan cuma wanita yang kucintai.
Dia lebih dari itu. Dia segalanya untuk ku, Oma "
Elisabeth mengangguk perlahan.
" Bian gak akan pernah ninggalin Oma. Yang Bian maksud memisahkan diri adalah membawa Nana keluar dari rumah ini. Itupun kalau keadaan benar-benar memaksa "
" tapi kalau pisah rumah , bukankah itu berarti kita tidak akan selalu bertemu ? Itu sama saja, Bian... "
" .... "
" lebih baik kembalikan saja Oma ke DSL.
Setidaknya Oma tidak akan merasa kesepian disana. Karena disini hanya ada Bi Gani dan Susan saja.
Dan Oma juga bisa lebih sering bertemu denganmu juga, kan ? "
Bian menatap dalam sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi keriput itu .
" kalau Oma gak mau itu terjadi, seharusnya Oma gak membiarkan Nana dikatai mami kaya tadi.
Oma juga gak seharusnya bersikap acuh pada Nana.
Bagaimana jika Nana gak betah tinggal disini lagi ? "
Elisabeth tergugu. Tak tau harus berkata apa.
Ia terlalu takut memikirkan jika yang Bian katakan benar-benar terjadi.
Ia tak sanggup membayangkan jika harus kembali menjalani hari seorang diri.
Bian beranjak berdiri lalu pergi menyusul Nana yang sudah masuk ke kamar .
Ia tinggalkan dua orang yang ada diruang makan , berharap mereka mau merenungi semua yang ia ucapkan tadi.
* * *
Pintu kamar ia buka dan bersamaan itu pula Nana melintas dan terlihat masuk ke kamar mandi.
'' Na, buka pintunya '' mengetuk permukaan pintu yang berwarna putih.
' cklek ' bukannya dibuka, Nana justru menguncinya.
Bain tak ingin memaksa. Ia biarkan Nana didalam sana. Berpikir istrinya butuh waktu untuk menenangkan diri sambil membersihkan tubuh .
Bian berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisi kanan tepiannya, bagian yang selalu menjadi tempat Nana tidur.
Telapaknya mulai bermain diatasnya, menyapu bagian dimana biasanya tubuh mungil itu berbaring.
Sepuluh, lima belas , hingga dua puluh menit berlalu.
Bian menatap pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.
Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya.
Memupuk sabar dan akan tetap menunggu Nana keluar.
' cklek ' Bian mengurangi senyum . Yang ditunggu akhirnya keluar.
Semerbak aroma segar menyeruak.
Nana berjalan dengan sudah mengenakan pakaian tidurnya ke arah ranjang sambil tersenyum.
Padahal ia sudah was-was Nana akan marah atau menangis karena hal tadi.
Tapi sepertinya itu cuma kekhawatiranya saja .
Nana terlihat baik-baik saja.
Atau mungkin sedang berpura-pura ?
Bian dilema.
Apa yang seharusnya ia lakukan di situasinya yang sulit ini ?
Haruskah Nana ia prioritas kan ?
Atau haruskah ia minta untuk bertahan dan terus bersabar ?
Bian sadar jika hanya itu pilihan yang ia punya.
Jika ia memilih mengedepankan Nana, maka itu berarti ia akan menjaga jarak dari Oma dan juga ibunya.
Dan pertanyaannya adalah, akankah ia sanggup bersikap demikian ?
Tidak. Ia tak akan sampai hati membuat Elisabeth menangis lagi.
Ia pun memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua.
Seperti yang ia lihat sekarang ini.
Nana tampaknya tak begitu terpengaruh oleh perlakuan acuh Elisabeth dan juga ucapan ibunya tadi.
Bian bulat pada keputusannya.
Ia pikir tak mengapa meminta Nana untuk mengalah. Berharap Nana akan mengerti dan perlahan akan terbiasa .
__ADS_1