
🌺 hem.. 🌺
* * *
Adit - 5 tahun lalu.
Saat itu di Bandara , Adit duduk diruang tunggu keberangkatan.
Setelah mendapat penolakan Nana , Adit memutuskan pulang ke Dubai dan berencana untuk membujuk Dakota agar mau kembali padanya .
Ia sangat yakin, Dakota masih mencintainya dan tak mungkin semudah itu, wanita yang telah memberikan segala-gala padanya dapat melupakannya.
Karena itu, Adit pun sangat percaya diri jika Dakota akan luluh dan memberikannya kesempatan.
Akan ia lakukan apapun untuk bisa mendapatkan hati Dakota. Tekat Adit.
Adit mendesah berat. Teringat semua rencana dan harapannya yang pupus sebab tak bisa memiliki Nana .
Sekarang Dakota lah pilihan terakhirnya .
Hanya wanita itu yang bisa membuatnya melanjutkan hidup.
Namun sayang. Hal itu tinggal angannya saja ketika terdengar suara notif dari ponselnya. Adit membuka pesan yang ternyata dari kakaknya.
" Sebaiknya kau tidak pulang untuk beberapa waktu.
Kemarin orang tua Dakota datang ke rumah. Mereka sangat marah dan kecewa padamu.
Pernikahan mu dan Dakota pun dibatalkan.
Dan tadi pagi aku dikabari oleh temanku .
Kebetulan dia adalah sepupu Dakota.
Dia mengatakan jika Dakota sudah dinikahkan dengan anak kerabat jauh keluarganya .
Aku tak tau siapa laki-laki itu.
Tapi yang pasti ,pernikahan itu terpaksa dilakukan karena Dakota sekarang hamil dan tak mau menikah denganmu.
Jadi keluarganya meminta agar kau jangan pernah muncul di hadapan Dakota lagi.
Adit, saat ini susana dirumah sedang kacau.
Kau sadar apa kesalahan mu, bukan ?
Papa dan mama, mereka bukan hanya marah padamu.
Tapi sangat kecewa denganmu .
Jadi mengertilah.
Sekali lagi . Jangan pulang , Dit.
Kakak mohon.
Karena itu hanya akan menambah masalah dan aku tak ingin ada keributan di keluarga kita "
Setelah membacanya, Adit termenung. Meratapi nasibnya yang begitu sial.
Nana yang selama ini ia nanti-nantinkan , nyatanya tak pernah akan bisa ia miliki.
Lalu Dakota juga mencampakkannya dan telah menikah dengan orang lain.
Padahal ia sangat yakin, jika Dakota mengandung anaknya.
Adit terpaksa mengurung niatnya pulang ke Dubai, dan kembali ke apartemen.
Beberapa hari kemudian, ia mendapat pesan dari Bian yang mengabarkan jika sahabatnya itu akan menikahi Nana.
Adit pun semakin terpuruk . Dan perlahan mulai kehilangan kendali atas pikirannya.
Ia menolak percaya dan tak bisa menerima kenyataan jika kedua sahabatnya itu akan menikah.
Lalu obsesi kembali menguasai. Ia diam-diam membuntuti kemanapun Nana pergi.
Dan puncak frustasinya adalah ketika ia menyelinap ke DSL dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Nana dan Bian berciuman di malam sebelum pernikahan.
Saat itu ia merasa seperti pijakkannya runtuh seketika.
Keinginan memilki Nana tak akan pernah bisa terwujud.
Lalu rencana masa depannya bersama Dakota pun telah hancur tak berbentuk lagi.
Rasanya tak ada lagi alasan yang membuatnya bisa hidup dengan baik.
Karena tak sanggup melihat Nana dan Bian menikah, maka ia pun mencari pelampiasan.
Adit pergi dan menghabiskan sebagian besar waktunya di pub. Hampir setiap hari rutinitasnya berada di sarangnya dunia kemaksiatan.
Menenggak alkohol dengan silih berganti perempuan untuk memuaskan hasratnya.
Adit benar-benar telah kehilangan akalnya.
Hingga akhirnya semua isi rekeningnya habis tak bersisa. Adit yang telah kecanduan alkohol dan wanita , kemudian terpaksa mencari uang dengan jalan pintas.
Hari itu, Adit merasa begitu merindukan Nana dan sangat ingin melihatnya.
Lalu dengan nekatnya, ia mengawasi rumah dimana Nana tinggal setelah menikah dengan Bian.
Dan kebetulan , ia melihat Nana keluar rumah sambil membawa koper. Adit sempat mengukir senyum dan setelahnya ia pun membuntuti Nana yang ternyata menuju ke Bandara.
Ia yakin jika rumah tangga kedua sahabatnya itu sedang bermasalah. Dan Nana pasti berniat minggat, meninggalkan Bian.
Besar harapannya jika dugaannya benar. Dengan begitu, ia memiliki peluang dan bisa memanfaatkan keadaan tersebut untuk mencari celah untuk merebut Nana.
Namun naas, baru saja kakinya menginjak koridor Bandara, dua orang petugas kepolisian berpakaian bebas menangkapnya.
Adit di seret ke kantor polisi .
Ia yang tau alasan kenapa ditangkap itupun pasrah.
Saat di interogasi, Adit mengakui semua tuduhan yang dilontarkan padanya . Tentang keterlibatannya dalam prostitusi. Dimana ia berperan sebagai perantara dan juga pemakai jasa layanan ranjang itu.
Dan tak hanya itu, saja .
Adit juga jujur jika ia adalah seorang pemakai narkoba.
Selama proses pemeriksaan, Adit bersikap sangat kooperatif agar bisa di ajak bekerja sama dengan aparat penegak hukum yang menangani kasusnya.
Ia pun membeberkan apa saja, dimana saja dan siapa saja yang terlibat dengan pekerjaan yang baru beberapa bulan ia lakoni.
Hal tersebut ia lakukan agar masa tahanannya nanti dapat diringankan .
Dan benar saja.
Setelah menjalani persidangan, Adit yang diberi apresiasi karena membantu para penegak hukum dalam memberantas kasus yang melibatkan dirinya itu, medapat vonis empat tahun penjara dan menjalani masa rehabilitasi selama enam bulan.
Jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut.
__ADS_1
Selama menjalani masa tahanannya,Adit tak henti-hentinya berdoa jika saat keluar nanti kesempatan itu masih ada.
Ia berharap Nana dan Bian benar-benar berpisah.
Empat tahun berlalu dan Adit pun bebas.
Namun lagi-lagi Adit di hadapkan dengan kekecewaan.
Karena mendapati Nana dan Bian sudah kembali bersatu dan justru lebih bahagia dengan kehadiran seorang anak.
Adit kian frustasi. Sakit yang dulu pernah Ian rasakan,kali ini terasa lebih sakit lagi. Ia merasa takdir begitu tak adil .
Ia iri pada mereka yang bahagia sementara ia harus melalui hari dengan rasa iri yang semakin hari semakin merasuki.
Lalu munculah niat untuk menghancurkan kebahagiaan itu . Adit pun mulai merencanakan sesuatu dan tak sabar untuk melakukannya.
* * *
Saat ini.
Nana dan Conor sampai di lantai yang merupakan pusat sungguhan aneka hidangan. Sebuah restoran berstandar internasional.
Dari kejauhan ,nampak oleh mereka Natasya dan Cecilia yang duduk di meja yang letaknya tepat di tengah-tengah ruangan tersebut.
Belum sempat kaki mereka sampai menghampiri, secara bersamaan Han dan keluarganya yang ternyata telah tiba terlihat baru saja ke luar dari lift dan berjalan ke arah yang sama.
Mereka sampai bersamaan dan langsung membaur dengan menyambut dan saling memperkenalkan diri pada Conor.
Pertemuan kedua keluarga itupun berlangsung dengan penuh kehangatan.
Sambil menikmati hidangan yang tersaji di atas meja, mereka semua silih berganti bicara. Membahas acara yang sebentar lagi akan dilaksanakan .
Setelah makan siang itu selesai, Natasya,Nana, Dion dan Conor pamit pulang.
Saat tau jika Natasya menginap di rumah Bian, Conor memutuskan untuk pulang bersama Nana dan akan menginap di sana juga.
Sebab ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama cucu pertamanya, Dion. Pun alasan sebenarnya ia menolak saat ditawari tidur di hotel adalah karena Natasya.
Ia ingin berkesempatan lebih banyak waktu bersama dan jika memungkinkan bicara berdua dengan sang mantan .
Sementara Cecelia tetap di hotel untuk menemani keluarga Han sampai hari 'H '. Pun ia dan Han perlu untuk berdiskusi beberapa hal mengenai pernikahan mereka .
- -
Malam mulai larut.
Bian belum juga sampai.
Ia tadinya akan berangkat pagi, mendadak ada urusan yang membuatnya harus menunda kepulangannya.
Hitam pekatnya langit malam, ditemani dengan jutaan taburan bintang dan terangnya rembulan.
Seorang wanita berterusan tanpa lengan berdiri dibawahnya. Natasya.
Ia yang tengah menenangkan pikirannya, sesaat tadi keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan ke sekitar halaman depan rumah.
Natasya terlihat menghela nafas. Sejak tadi, ia dan Conor hanya sebatas saling lihat dan sapa saja. Karena memang keadaan tak memungkinkan untuk mereka berbincang apalagi bicara berdua saja.
Sudah lima tahun berlalu, Natasya akhirnya bertemu lagi dengan ayah dari anak-anaknya.
Pria yang dulu selalu ada dan menemani kesehariannya selama tiga puluh tahun.
Natasya mendongak, menatap dalam-dalam pada hamparan Sang Pencipta di atas sana.
" *U*ntuk apa kau mengenangnya, Natasya..
Dia hanya pernah menjadi teman hidupmu..
Tak ada hubungan sepesial yang membuatmu harus mengenangnya secara berlebihan seperti ini "
'' Hei '' sapa Conor membuat si wanita seketika menoleh.
'' O, kau '' Natasya mengangguk sambil tersenyum tipis.
'' Apa kabarmu, Natasya ? ''
'' Baik ''
Diam mengisi beberapa saat.
Conor nampak begitu memperhatikan Natasya. Sementara Natasya memalingkan wajah, berusaha menghindar agar tak bertatapan dengannya.
'' Tak terasa, anak-anak tumbuh begitu cepat.
Mereka sekarang sudah dewasa dan telah menentukan pilihan hidup mereka masing-masing ''
'' Em.. Setelah Bian lalu sekarang Cecilia.
Aku senang karena anak kita memutuskan untuk menikah ''
Conor tertunduk sesaat.
Entah itu sindiran atau apa. Ia tak tau pasti maksud ucapan Natasya.
Ia tegakkan kepalanya dan menatap wajah Natasya yang datar . Wanita itu masih acuh dan enggan menatapnya.
Conor tak lagi meneruskan pembicaraan. Ia memilih pamit dan membiarkan Natasya seorang diri.
Pukul 12 malam, Bian akhirnya tiba di rumah.
Dilihatnya Nana masih terjaga.
Sepertinya memang menunggunya.
Sedangkan sang jagoan sudah terlelap .
'' Kenapa belum tidur ? '' tanya Bian setelah mengecup pipi Nana sekali.
'' Kangen. Makanya nungguin kamu ''
Bian tersenyum tipis sambil mengusap pipi yang ia beri ciuman tadi.
Keduanya saling menatap.
Nana menangkap raut tak biasa dari ekspresi suaminya.
Jika biasanya Bian akan pulang dengan senyuman yang lebar serta wajah yang memancarkan semangat , namun yang terlihat saat ini adalah kemuraman.
'' Aku mandi dulu '' Bian menjatuh tangannya , berbalik dan mengambil langkah menuju kamar mandi.
Nana mengikutinya.
'' Kamu kenapa ? Capek ? '' tanya Nana yang mulai diliputi cemas dan penasaran.
Apa mungkin suaminya lelah karena pekerjaan ?
Tapi ini bukan kali pertama Bian lama berada diluar kota dan berpisah darinya dan Dion.
Pun ia juga tak pernah sekalipun melihat atau mendengar sang suami mengeluh , bagaimana pun pekerjaan menyita waktu dan tenaganya.
__ADS_1
Atau Bian masih kepikiran tentang pernikahan kakaknya dan Han ?
Bian yang tengah melepas satu persatu pakaiannya terdengar menghela nafas , lalu menoleh sesaat pada Nana sambil mengangguk samar.
Bian lalu membawa tubuh polosnya kedalam bak mandi berisi air hangat yang memang telah di siapkan Nana .
Bian duduk, bersandar pada ujungnya dengan kepala mengadah.
Ia pejamkan matanya.
Sikap dan gelagat Bian yang tak bisa membuat Nana semakin yakin, jika pasti ada sesuatu .
Ia yang tak tenang dan juga cemas, terlihat melucuti stelan tidur mininya hingga tubuhnya tak tertutup apapun lagi. Nana lantas ikut masuk kedalam bak.
Bian tersentak, reflek membuka mata saat merasakan sapuan air bergelombang .
Ia menggeleng melihat istrinya yang telanjang, berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar .
Nana lalu menurunkan tubuhnya dan duduk di atas pangkuan suaminya.
'' Kamu kenapa ? Kok kaya gak bersemangat gitu ? ''
''... '' Bian menggeleng.
'' Yakin gak mau cerita ke aku ? '' tanya Nana menyoroti manik coklat sang suami.
Bian tersenyum lembut. Ia tau jika ekspresinya telah membuat Nana khawatir.
Nana mendekat dengan kedua tangan melingkar di leher Bian dan menjatuhkan kepalanya di bahu.
Bian membalasnya dengan mengusap punggung terbuka sang istri. Tak lupa ia memberi kecupan di bagian yang terjangkau oleh bibirnya.
'' Waktu di perjalanan pulang tadi, dedi sempat menelponku.
Dia tanya kapan kira-kira aku sampai dirumah.
Katanya ada yang mau dia tanyain ke aku ''
Nana bergeming. Membiarkan Bian meneruskan kalimatnya.
'' Terus dia cerita, gak sengaja ketemu kamu di lobby hotel . Dedi bilang kalau dia melihat kamu sedang berhadapan dengan seorang pria ''
Nana mengangguk. Bian dapat merasakan pergerakan kepalanya itu terasa menggesek permukaan kulitnya.
'' Dedi bilang dia khawatir karena kamu dan Dion kayak orang yang ketakutan gitu.
Memang siapa, sayang ? Kenapa kamu gak langsung ngabarin dan ngasi tau aku ? ''
Meski bernada menekan, namun intonasinya masih terdengar lembut.
'' It-itu Adit.
Maaf, bukannya aku gak mau kasi tau kamu langsung . Tapi aku benar-benar lupa ''
'' ... ''
'' Aku juga gak tau dan juga gak nyangka bisa ketemu dia lagi.
Karena seingatku kamu pernah bilang kalau dia sudah kembali ke Dubai.
Tapi - ... ''
'' Tapi, apa sayang ''
Nana menarik diri, menenggakkan duduk dan menatap Bian .
'' Dia bilang dia gak pernah kembali ke Dubai ''
...
'' Apa kamu mengkhawatirkan apa yang aku khawatirkan juga ? ''
'' Memangnya apa yang kau khawatir ?
Adit mungkin memang menyukaimu bahkan pernah sampai terobsesi padamu.
Tapi kita juga kenal dia dengan baik ''
'' Memangnya kau tak khawatir ? ''
'' ... ''
'' Kita memang kenal Adit seperti apa.Tapi itu dulu.
Dia yang ku lihat tadi siang sama sekali tak terlihat seperti Adit yang dulu, sayang .
Aku yakin. Seandainya kau melihat atau tak sengaja berpapasan dengannya dijalan , kau pasti tak akan mengenalinya ''
'' Aku bukannya tak khawatir.. Hanya saja aku tak mau mencurigainya dengan cara berlebihan.
Bisa sajakah jika pertemuan kalian tadi itu murni kebetulan ? ''
Nana mengangguk. Ia tadinya berpikir demikian.
Tapi mengingat bagaimana cara Adit menatap dan bicara , Nana yakin jika Adit memiliki niat tersembunyi.
'' Tapi tetap saja, sayang.Aku takut .
Aku pikir apa tidak sebaiknya pernikahan kak Cecil dan Han dipindah ke hotel lain saja ''
'' Tap- tapi bagaimana bisa ?
Semuanya persiapan sudah rampung dikerjakan.
Gak mungkin bisa dibatalin atau di tunda begitu saja.
Lalu bagaimana kita harus menjelaskan pada mereka. Sementara ini adalah masalah kita ''
'' ... ''
'' Hanya ada satu cara untuk mengantisipasinya. Kita minta pihak hotel untuk menambah petugas dan memperketat keamanan ''
Bian menghela nafas berat.
Ia pun sama tak tenangnya memikirkan tinggal sehari lagi pernikahan itu akan dilaksanakan.
Memang tak mungkin menunda apalagi membatalkannya.
Tapi ia juga tak mungkin bisa tenang hanya dengan mengandalkan seperti yang Nana sarankan.
'' Bagaimana jika kau dirumah saja ? Em ? '' Bian membelai rambut Nana yang basah.
Nana bergeming.
Mereka memang belum tau apa tujuan Adit tiba-tiba muncul dan menghampiri kehidupan mereka lagi.
Meski belum terbukti jika Adit memiliki niat atau apapun itu . Namun firasat mereka sama-sama kuat dan yakin jika itu adalah hal yang buruk.
'' Kita diskusikan dulu dan lihat bagaimana tanggapan mereka besok ''
__ADS_1
Nana pasrah. Jika memang ini yang terbaik. Maka mereka harus bersiap untuk menjelaskan pada seluruh anggota keluarga, termasuk juga keluarga Han.