Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Terungkap


__ADS_3

✨✨✨


Di sebuah ruangan dengan suasana yang begitu tenang juga sepi. Terdapat beberapa orang yang tengah duduk tanpa berbicara satu kata pun.


Ya, mereka tengah berada di rumah Sena saat ini, mereka berusaha menenangkannya dan menemaninya setelah kejadian yang iya alami kemarin.


Dan dari kejadian tersebut mampu membuat Sena down dan tak bicara sama sekali.


“Dek, lo udah mendingan?” tanya Leo yang duduk disampingnya.


“Iya, lo jangan diam aja dong!” ucap Selly mendukung pertanyaan Leo.


“Gue gapapa!” ucapnya pelan.


“Kak lo mau makan yang mana?" tanya Ivan yang sudah mengangkat kedua es krim dengan beda rasa yang sempat ia beli sebelum ke sini dan sengaja menyimpannya di lemari pendingin.


“Buat lo aja semuanya, kakak lagi gak mood,” jawab Sena tersenyum sekilas.


“Lo cerita sama kita,” ucap Leo yang sudah menepuk bahunya pelan.


“Sena, lo baik-baik aja kan?” tanya Selly curiga kepada sahabatnya itu.


“Hm, gue baik-baik aja,” jawabnya yang tengah duduk bersandar di sofa ruangan itu.


Ketika mereka tengah menikmati beberapa cemilan disitu selain Leo yang fokus pada laptop dan sesekali minum. Dering ponsel Sena memecah suasana.


Drrrt, drrrt, drrrt!


Ia pun melirik sebentar ke layar ponselnya disana ia dapat melihat siapa yang tengah menghubunguniya. Setelah deringan kedua ia pun mengangkatnya.


“Halo Pa!” ucap Sena dengan semangat yang dipaksakan.


“Halo anak Papa, kamu gimana kabar?”


“Aku baik Pa. Papa juga apa kabar? Papa benaran gak balik akhir bulan ini?” tanya Sena tak puas.


“Nanya satu-satu dong!. Ia papa lagi sibuk banget, gapapa ya? Papa baik-baik aja!”


“Ya udah deh, gapapa. Papa lagi ngapain?” tanya Sena.


“Papa lagi di kantor. Kamu di rumah? Sama siapa? Kek rame gitu.”


“Iya Pa. Lagi dirumah sama Selly kak Leo sama Ivan juga!” jawab Sena.

__ADS_1


“Oh mereka main ke rumah. Ivan teman baru kamu?”


“Iya. Dia tetangga sebelah tuh Pa!” jawab Sena riang.


“Ya udah, baik-baik di rumah ya. Nanti bulan depan Papa balik!”


“Oke Pa!” jawab Sena mengakhiri telfonnya.


Beberapa menit kemudian....


Sementara mereka sedang menikmati kebersamaan. Selly yang fokus menonton acara sore kesukaannya dan Leo sama Ivan yang tengah bermain game dengan seru.


Sena sendiri tengah duduk di ujung sofa dengan pikiran yang sudah membuatnya lusuh seharian. Ia kembali mengingat kejadian kemarin yang mampu membuatnya sedikit risih dan hampir trauma dalam mempertahankan emosi yang tidak bisa terkendali.


Bersamaan dengan itu bunyi ponselnya pun terdengar dari sudut meja di tengah-tengah sofa tersebut. Ia pun menarik pelan ponsel tersebut dan melihat ada pesan yang masuk dari nomor yang tak di kenalnya.


Dengan segala keberanian dan keyakinan ia pun membukanya dan betapa terkejutnya ia. Ia bisa melihat disana terdapat foto ibunya yang berlumuran darah dijalanan itu begitu mengerikan melihat ada banyak garis darah yang bercucuran.


Seketika ia terdiam mencoba menenangkan dirinya.


Ia tidak begitu tahu persis bagaimana ibunya meninggal saat itu yang ia tahu hanyalah sang ibunda kecelakaan dan meninggal di tempat. Tapi saat ia menemui ibunya saat itu sudah berada di ruang mayat rumah sakit dengan tubuh yang sudah dibersihkan tanpa melihat banyaknya darah seperti pada foto yang ia lihat sekarang.


Ternyata saat itu ayahnya sedang menyimpan rapi suatu kejadian saat ibunya meninggal yang ia tidak tahu sampai sekarang.


Tangannya pun bergetar diikuti semua tubuhnya kaku tak kuat menopangnya duduk dan tiba-tiba tersungkur dilantai dengan cucuran air mata yang tak berhenti keluar.


“See, kamu kenapa?” tanya Leo dengan suara yang sudah parau.


“Kak Sena. Apa yang terjadi hm?” tanya Ivan yang tak kalah khawatir.


“See, kamu baik-baik aja kan?” ucap Selly mulai gugup.


Disaat semua pandangan tertuju padanya. Namun, Leo menoleh dan melihat ponsel Sena yang layarnya masih terang disana ia dapat melihat dengan jelas gambar tersebut.


Ia pun meraih ponsel tersebut dan memastikan baik-baik bahwa ia tidak salah lihat.


Ya, ia sebelumnya pernah melihat foto mamanya Sena dari mereka sejak berteman sampai sekarang ia tahu betul siapa yang tengah berada dalam foto tersebut.


“Bagimana mungkin! Siapa yang mengirimkanya?” teriak Leo marah.


“Kita bawa Sena ke rumah sakit aja dulu kak!” ucap Selly juga yang turut melihat dan tak lupa Ivan juga.


“Oke. Kita ke sana. Mana kunci mobil aku?” ucap Leo yang panik dan lupa menaruh kuncinnya di mana.

__ADS_1


Ditengan kebingungan mereka Sena yang masih sadar pun memanggil Leo.


“Kak!” panggilnya pelan.


“Ya. Apa yang sakit? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Leo yang sudah memangku kepala Sena di pangkuannya.


“Aku gak mau dibawah ke rumah sakit!” jawabnya pelan.


“Tapi kamu lagi kesakitan sekarang,” ucap Leo.


“Aku gak sakit kak!” jawabnya lagi.


“Oke kita gak jadi pergi. Sekarang kamu mau apa?” tanya Leo serius.


“Minum!” jawab sena memandang Ivan yang berdiri didepannya.


“Biar Ivan yang ambil minumnya,” ucap Ivan yang sudah pergi menuju dapur.


Setengah jam kemudian...


Sena kembali sadar dan sudah duduk bersandar di sofa dan akan siap menerima pertanyaan begitu banyak yang akan dilontarkan oleh orang yang sudah duduk di depannya sekarang yang siap untuk menginterogasinya.


Mereka sudah memeriksa semua isi ponselnya ada banyak nomor tak di kenal yang menerornya sejak sebulan yang lalu. Mereka bahkan sudah membaca semuanya termasuk surat yang ia simpan dikotak hitam yang tak terhitung banyaknya yang di kirim oleh orang tersebut.


“Sena. Bagaimana kamu menjelaskan ini semua?” tanya Leo pelan dan tegas.


“Semua itu sudah dimulai sejak beberapa bulan terakhir ini. Lebih tepatnya mereka tidak hanya satu dua orang saja, tapi banyak. Mereka mengirimiku dalam satu hari hampir tiga atau empat kiriman disertai pesan juga. Awalnya aku anggap biasa aja, karena gak terlalu mengangguku.


Tapi sejak sebulan kemarin aku mulai risih dan pada akhirnya sampai di fase aku mengalami frustasi yang begitu parah. Bahkan disaat aku tidur dan berusaha untuk menutup matapun seakan ada banyak mata yang mengintipku disetiap sudut tembok. Puncaknya dua minggu yang lalu ada satu kotak hitam yang ditaruh di depan pintu utama, didalamnya terdapat foto Papa yang diberi tanda X warna merah, ditambah lagi ada darah segar yang gue tau betul itu darah hewan. Saat itu adalah puncaknya gue frustasi banget sampai gak mampu berdiri dari tempat dimana gue lihat kotak tersebut. Mulai dari saat itu gue meminum obat penenang yang melebih dosis sampai membuat tubuhku drop dalam 2 hari. Setelahnya aku makin bergantung pada obat tersebut sampai hari ini.


Kemanapun aku selalu membawa beberapa obat untuk ku konsumsi kalau-kalau aku kembali drop lagi. Yang membuat gue sampai frustasi saat itu adalah gue kembali membayangkan ingatan-ingatan pilu yang ku alami saat kepergian mama dan itu gak akan pernah bisa terlupakan sampai sekarang,” Ucap Sena jujur dengan bercerita panjang lebar.


“Bagaimana mungkin lo lewati itu seorang diri See?” tanya Selly tak percaya.


“Maafin gue. Gue gak tahu harus mulai dari mana. Semuanya terlihat menakutkan bagi gue,” jawabnya miris.


“Kamu tenang ya, semuanya udah jelas. Sekarang waktunya kakak cari tahu siapa pelakunya” jawab Leo yang sudah menepuk bahu Sena.


“Lalu bagaimana dengan ancaman yang menyuruh kakak untuk menjauhi Kak Jeno dan Kak Rey?” tanya Ivan penasaran setelah membaca semuanya.


“Gue gak tahu, apakah semuanya ada hubungannya atau gak. Yang jelas semuanya begitu menakutkan!” ucap Sena yang sudah mulai meremas kepalanya.


“Dek, tenang. Kamu gak usah mikirin apapun. Sekarang kamu untuk sementara biar Selly sama Ivan nginap tahan disini buat nemanin kamu. Sementara kakak akan menemui teman yang bisa melacak nomor-nomor tersebut,” ucap Leo menenangkannya.

__ADS_1


Setelah mengalami kejadian tersebut mereka pun berniat untuk membiarkannya sedikit beristirahat seraya memulihkan kembali kondisinya dan menjauhkan segala obat yang ia miliki agar tidak ia konsumsi lagi kedepannya.


_04 July 2021


__ADS_2