Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Bertemu Besan


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


'' besok aku akan datang menemui adikmu untuk membicarakan tentang kita ''


Cecilia mendesah berat.Ucapan Han tadi terus menghantuinya .


Apa yang akan terjadi besok? Bian mungkin akan keberatan?


Tidak bukan itu.


Cecillia menggeleng lagi.


Tidak. Justru bagaimana jika Bian menerimanya ?


Cecilia menyadarkan kepalanya di dinding ruangan.Jika ditanya apakah ia siap untuk sebuah pernikahan. Sudah pasti jawabannya tidak.


Tapi ia lebih tidak siap jika harus dilepaskan oleh sang pujaan hati lagi.


Keesokan harinya.


Han datang sesuai yang ucapannya kemarin.


Sempat merasa cemas, namun Cecillia lega sebab pria itu disambut baik dan dipersilahkan masuk oleh adik laki-lakinya.


Namun Bian tak mengijinkannya masuk.


'' aku harus bicara berdua saja dengannya ''


Cecilia menurut dan hanya bisa menunggu diluar ruangan dengan perasaan gugup.


* * *


'' Han tadi datang menemuiku.


Dia melamar Cecilia '' ucap Bian pada Nana yang tengah berkemas .


Bian duduk di pinggiran kasur, di samping tumpukan baju dan tas yang terbuka lebar.


Karena urusan pekerjaan Bian yang belum selesai, Nana berencana pulang lebih dulu bersama Dion.


Sebab Dion sudah dua kali melewati sesi terapinya.


'' baguslah '' respon yang terkesan acuh. Sebab Nana sama sekali tak berhenti dari apa yang tengah kedua tangannya kerjakan dan juga tak menatapnya.


Bian menghela nafas.


Ia tau Nana masih marah karena ucapannya kemarin.


'' sayang '' Bian meraih satu pergelangan tangan Nana dan menariknya hingga tubuh itu merapat padanya.


Bian melepas pegangannya dan berganti memegang kedua pinggang Nana lalu menekannya. Memaksa tubuh sang istri agar duduk di pangkuannya.


'' mau sampai kapan kamu marah, em ? '' menyentuh ujung dagu Nana dengan telunjuk.


'' aku gak marah. Cuma kesal aja hal itu diungkit .


Udah, ah !


Aku mau selesaikan berkemas.


Gak enak sama pak Tole kalau kelamaan nunggu ''


'' gak ada yang nunggu, sayang ''


Nana menatapnya dengan kening berlipat.


'' tadi aku minta pak Tole bawa kak Cecil sama Dion jalan-jalan sebentar ''


Nana melepaskan diri dan berdiri tanpa melepaskan tatapannya.


'' Dion uda melewatkan dua kali sesi terapinya.


Dan - ''


Terhenti karena Bian menariknya lagi hingga tubuhnya jatuh. Dan kali ini tubuhnya terjerembab di atas tempat tidur dengan posisi terlentang.


Bian mengukir seringai seraya mengambil posisi menindih tubuh istrinya.


' cak ' suara kancing jenas Nana ia buka dan ' srek ' resleting ia turunkan.


Tak berhenti sampai disitu, Bian pun melanjutkannya hingga berhasil membuat semua bawahan yang Nana kenakan lepas. Termasuk dalam hitamnya.


'' enghnnn'' ******* yang lolos saat jemari itu menyentuhnya.


'' jangan pulang. Aku masih mau kamu disini. Temanin aku sampai urusanku selesai '' ucap Bian begitu halus terdengar.


Nana menatapnya dengan sayu, bibirnya terkulum dalam dan tubuhnya menggeliat pelan. Ekspresi yang menunjukkan jika ia tengah menahan sesuatu yang bermainan dibawah sana.


'' jawab atau aku berhenti '' Bian tersenyum jahil sambil menghentikan aktifitasnya.


Raut wajah Nana seketika masam.


Tak rela sebab Bian menghentikannya.


'' terus terapi Dion gimana ? ''


'' kita akan membicarakan itu nanti pada dokternya. Atau mungkin bisa juga kita mencari alternatif yang sama disini ''

__ADS_1


'' ... ''


'' kenapa ? Apa kau masih tetap ingin pulang ? ''


'' ... ''


'' aku benar-benar tak ingin jauh darimu, sayang.


Kali ini saja, ya ? Temani aku sampai urusanku selesai ''


'' em... tergantung ''


'' tergantung apa ? ''


'' apa kau akan melanjutkannya atau tidak '' menatap liar dengan senyuman menggoda.


'' kalau cuma itu, dengan senang hati akau akan membuatmu merintih seharian ''


* * *


Beberapa hari kemudian.


Bian terlihat tak bersemangat.


Itu karena istri dan anaknya akan pulang besok.


Kakak perempuannya pun juga ikut bersama mereka.


Sementara Bian akan menyusul bersama Han .


Dari hasil perbincangannya dan Han kemarin, hari minggu nanti, Han akan memboyong keluarganya untuk melamar Cecilia secara resmi.


Dan acara tersebut akan dilangsungkan di kediaman Bian.


Bian pun telah mengabarkan hal tersebut pada Natasya, maminya.


Maka dari itu, Nana ,Dion dan Cecilia akan pulang lebih dulu untuk mempersiapkan acara yang akan dilangsungkan dua hari lagi.


Meski Natasya telah menawarkan diri untuk membantu, tapi tetap saja Nana merasa tak nyaman jika tak ikut terlibat .


Pun ia juga sangat bersemangat dan tak sabar menyambut hal baik yang akan segera dilakukan sahabatnya dan kakak iparnya.


Han dan Cecillia.


- -


'' kenapa, sih ? Kok merenggut gitu.. ? '' Nana merangkul pundak suaminya.


Ia yang duduk dipangkuan Bian menatap dengan jarak yang sangat dekat.


Bian bergeming.


'' masih mikirin lamarannya kak Cecil, ya ? ''


'' em '' menjawab sambil mengangguk samar.


'' kamu masih ragu sama dia ?


Kalau begitu kenapa diterima lamarannya ? ''


'' bukan begitu. Masalahnya gini.


Kak Cecilli bilang , dia berharap saat menikah nanti, semua anggota keluarga hadir.


Itu berarti papi harus datang kemari, kan ?


Gak mungkin pernikahannya yang dilakukan disana ( Kanada) ''


Nana manggut-manggut. Wajar jika Cecillia menginginkan hal seperti itu.


Karena ini adalah moment terpenting dalam hidupnya. Dan tentu saja ia ingin keluarganya berkumpul untuk memberikan doa dan restu serta turut merasakan kebahagiannya.


'' terus ?


Kan tinggal ngabarin ke papi kamu dan - "


Ucapan Nana menggantung.


Ia kembali manggut-manggut.


" itu dia masalahnya, sayang.


Aku uda ngabarin papi. Katanya dia siap aja kalau memang kehadirannya sangat dibutuhkan oleh kak Cecil.


Tapi aku belum bilang ke mami.


Makanya aku suruh kak Cecil ikut sama kalian . Biar dia bicara sendiri dengan mami "


" jadi ? apa lagi yang buat kamu sampai kepikiran kaya gini ? "


" aku gak tau akan seperti apa respon mami nanti.


Dan aku khawatir kalau kak Cecil gak siap .


Sementara dia sudah sangat berharap "


Bian terlihat frustasi.


Membuat Nana tak berdaya sebab tak tau apa yang bisa ia lakukan untuk menghibur sang suami.

__ADS_1


Nana menghela nafas lalu bangkit berdiri.


Belum sempat ia mengambil langkah, Bian dengan cepat meraih tangan dan menariknya hingga ia kembali duduk seperti tadi.


'' aku mau tidur. Besok pagi-pagi uda harus berangkat '' mengingatkan sang suami dengan mata melirik ke arah ranjang. Dimana putra mereka sudah terlelap sejak sejam yang lalu.


'' temanin aku sebentar lagi '' pinta Bian mengecup bahu terbuka Nana .


'' kalau nemanin kamu gak pernah sebentar. Pasti ujung-ujungnya kamu kerjain semalaman ''


Bian terkekeh. Ia akui, sejak Nana pulang hasratnya begitu menggebu-gebu.


Sehari sekali terkadang tak cukup membuatnya merasa puas.


Beruntung Nana tak pernah mengeluh dan selalu mau melayaninya. Meski tak jarang istrinya itu kewalahan mengimbanginya.


'' kan besok ada kak Cecil. Jadi kalau kamu tidur dijalan, gak perlu khawatir. Ada yang bantu jagain Dion '' tangan Bian mulai beraksi.


Terusan malam tanpa lengan yang panjangnya hanya sebatas lutut pun berhasil ia loloskan.


Tubuh sintal Nana kini terpampang.


'' sekali aja, ya ? '' Nana memohon.


Bian menatap sesaat lalu ' eungh ' eluhan terdengar saat mulut Bian telah mendarat di bagian sensitifnya.


'' aku gak janji '' Bian tersenyum menyeringai.


* * *


Keesokan harinya, di tempat yang berbeda.


Suara klakson mobil dibunyikan beberapa kali seolah memanggil .


Siti yang sedang sendirian dirumah bergegas keluar dan membuka pagar.


Ia terkejut saat menyadari jika yang masuk kedalam halaman rumah bukanlah mobil yang biasa dikendarai pak Tole.


Pagi tadi, Nana menelpon . Mengabarkan jika ia akan pulang hari ini dan mungkin sampai tengah hari nanti.


Dalam sambungan telepon tadi, Nana menyampaikan, jika ibu mertuanya akan datang ke rumah. Nana juga berpesan agar Siti menyuruh Bi Gani ke pasar . Begitupun dengan Susan yang mendapat tugas membeli beberapa kebutuhan di supermarket.


Siti nampak begitu memperhatikan mobil asing yang kaca depannya terbuka. Nampak seorang wanita yang duduk di kursi kemudi menatapnya heran.


" siapa ? pembantu baru ? " batin Natasya yang menebak jika sosok wanita kurus yang berdiri di sisi pagar mungkin adalah pembantu baru di kediaman anaknya.


Melihat dari tampilannya yang begitu sederhana, ditambah dengan wajannya yang tirus, membuat Natasya semakin yakin .


Mungkin saja Bian merekrut pembantu baru untuk mempersiapkan acara pada hari minggu nanti.


Sedangkan Siti, ia masih tak bisa melepaskan tatapan pada wanita yang baru saja keluar dari mobil .


" hei, tutup pagarnya . Nanti orang asing masuk ! " perintah yang membuat Siti tersentak.


" hei ? Die sebot aku hei ?


Adoh, nahhhh.. Siape pula pempuan ni?


Belagak betul ?


Masok tak permisi, lepas tu main suroh-suroh pulak.


Die tak tau ke aku ni - - ''


Asik bicara sendiri dalam hati, tiba-tiba Siti teringat pada hal yang Nana beritahukan dalam telpon tadi.


" Nana cakap tadi mak Bian nak datang, kan?


Owgh.. ni orang mesti besan aku "


Siti mengukir senyum. Usai menutup pagar, ia lalu melangkah untuk menghampiri wanita yang ia duga pasti ibu Bian.


" a - '' belum sempat Siti menyapa dan baru saja tangannya akan ia angkat untuk berjabat, Natasya dengan cepat memotongnya.


'' kamu pasti pembantu baru, ya ? ''


Mata Siti melebar. Tak percaya jika si besan mengira jika dirinya adalah seorang assisten rumah tangga.


'' kamu pasti belum tau siapa saya.


Saya ibu majikan mu !


Jadi kamu juga harus patuhi apa yang saya katakan dan yang saya perintahkan "


" ... " Siti shock. Sosok arogan ini bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara.


" sudah ! Jangan diam saja.


Tolong ambil tas bawaan saya di bagasi dan taruh di kamar tamu "


Natasya melenggang lebih dulu dan masuk kedalam rumah.


" em. Baek lah bile macam ' tu.


Jom kite ikot sampai dimane die orang nak besikep macam tu...


Aku nak tengok macamane die punya muke nanti bile tau aku ni mak Nana. Besan die orang "


Siti mengulum senyum jahilnya. Entah dari mana asal niatnya untuk mengerjai si besan.

__ADS_1


__ADS_2