Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Terakhir kalinya


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


'' gerk ' pintu kamar terbuka kasar.


Nana dan Natasya yang berdiri di depan kamar , serempak menoleh.


Bian keluar dengan langkah tergesa-gesa dan melewati mereka begitu saja. Wajahnya terlihat panik.


'' Bi '' Nana menyusul langkah cepat sang suami menuju pintu keluar.


'' sebentar '' Bian melihat sesaat lalu semakin mempercepat langkahnya.


Nana berhenti mengikuti saat kakinya menginjak teras rumah.


Bian terlihat menghampiri pak Tole yang baru saja keluar dari mobil usai memarkirkannya dihalaman rumah. Bian terlihat berbicara serius dengan pak Tole.


Entah apa yang Bian katakan pada supirnya itu.Tapi yang jelas, sepertinya ia sedang memberi perintah. Sebab usai bicara, pak Tole langsung bergegas membuka pagar rumah dan masuk kedalam mobil, kemudian mengeluarkan lagi kendaraan tersebut.


'' kamu di rumah aja, ya.


Aku mau bawa Oma ke rumah sakit. Oma demam '' Ucapnya pada Nana.


Nana mengangguk paham sambil memperhatikan mimik wajah yang terlihat begitu cemas.


Bian kembali masuk ke dalam. Dan tak berselang lama keluar sambil menggendong Elisabeth . Tampak pula Susan mengekor dibelakang membawa tas berisi kebutuhan sang majikan.


' tup.tup.tup.' pintu ditutup berturut-turut oleh pak Tole usai mereka semua masuk kedalamnya.


Tak lama mobil pun melaju pergi.


'' kamu lihat sendirikan, gimana perdulinya Bian pada keluarganya ? ''


Nana berbalik. Entah sejak kapan Natasya sudah berada di belakangnya.


'' berpikir lah lagi jika ingin menguasainya sendiri. Karena itu tak mungkin terjadi.


Bukan karena kami.


Tapi karena memang pada dasarnya Bian tak akan pernah bisa mengacuhkan keluarganya .


Jadi, sebaiknya kau mengalah .


Berhentilah bertingkah, dan jalani peranmu sebagai istri dengan baik ''


Natasya hendak berbalik, namun tak jadi . Sepertinya ia masih belum puas mengatai sang menantu .


'' dan satu hal lagi '' mengangkat telunjuk dan mengacungkannya .


''... '' Nana masih memilih bungkam.


'' sudah terlalu banyak beban tanggung jawab yang harus Bian pikul saat ini.


Jadi, jangan lagi kau tambah dengan menuntut ini itu.


Aku yakin Bian pasti sudah memberi mu banyak, bukan ? ''


* * *


Hujan mengguyur seisi kota.


Keadaan diluar sana semuanya basah .Sejuk merundung.


Membuat siapapun malas untuk keluar rumah.


Begitupun dengan Nana yang hampir tak keluar kamar . Selain karena malas, penyebab lainya adalah karena selama penghuni lainnya tak ada, Natasya setiap harinya pasti datang ke rumah.


Ibu mertuanya itu memang tak mencarinya.


Namun Nana memilih aman dengan mendekam didalam kamar saja.


Dua hari berlalu, sejak Elisabeth dirawat dirumah sakit.


Menurut penuturan dokter yang menanganinya, faktor ' U ' adalah penyebab utama kondisi tubuhnya drop .


Elisabeth pun disarankan untuk lebih banyak istirahat dan mengurangi aktivitas diluar ruangan.


Selain itu pula, menjaga pola makan dan tidak berpikir secara berlebihan adalah yang paling ditekankan oleh dokter pada Bian selaku walinya.


Dengan kata lain, Elisabeth tak boleh stress .


Bian mengangguk paham.


Ia jadi merasa bersalah karena belakang sudah bersikap terlalu keras pada Omanya.


Bian pun kembali dilanda dilema.


Ia tak punya pilihan lain . Dengan terpaksa ia kesampingkan Nana lagi dan mendahulukan keluarganya. Semua demi menjaga kondisi sang Oma. Sebab ia tak ingin hal seperti ini terjadi lagi.


Kesehatan Oma adalah prioritas saat ini.


Nana pasti mengerti.


Bian mencoba meyakinkan diri. Berharap sang istri tak akan protes jika ia minta pengertiannya lagi.


Benar saja. Nana tak mempermasalahkannya meski selama Elisabeth dirawat, Bian tak pulang dan hanya menelponnya untuk saling bertukar kabar.


Susanlah yang diutus pulang untuk mengambil berbagai keperluannya.


Sehari lagi berlalu.


Setelah dua hari dua malam dalam perawatan intensif dirumah sakit seraya menjalani beberapa test, Elisabeth akhirnya diperbolehkan pulang.

__ADS_1


Dengan catatan, ia harus rutin kembali kontrol sesuai jadwal yang sudah dokter tentukan.


Dokter pula kembali mengingatkan jika keluarga berperan penting menstabilkan kesehatan Elisabeth.


" anda pernah mendengar jika biasanya seseorang yang sudah lanjut usia akan kembali seperti bayi ?


Ya , kurang lebih seperti itulah kondisi nenek anda saat ini.


Perasannya akan sangat sensitif.


Ia jadi mudah tersinggung, dan gampang merajuk jika ada hal yang membuatnya tak nyaman. Atau jika ada sesuatu yang tak ia sukai.


Karena itu, anda harus ekstra memperhatikan dan sabar menghadapinya"


* * *


'' Oma '' Nana menyambut di mulut pintu kala wanita tua yang duduk di kursi roda itu didorong masuk kedalam rumah.


Elisabeth hanya mengangguk samar dan menatapnya lalu.


Dan ketika akan melintas ruang tamu, Elisabeth dengan suaranya yang terdengar lemah memerintah perawat pribadinya itu untuk berhenti.


Elisabeth menyunggingkan senyum tipis melihat pada Natasya yang tengah berdiri, melihatnya dengan tatapan datar.


Miris. Senyum ibu yang merindukan kehangatan anaknya itu surut perlahan.


Ia merasa sedih. Karena dengan kondisinya yang sakit pun sang putri tetap bersikap dingin .


Elisabeth lalu meminta Susan untuk membawanya ke kamar.


Tak lama setelah dua orang tadi berlalu, sosok yang ditunggu pun muncul.


'' Bi ? '' panggil Natasya pada Bian yang masuk dengan merangkul pinggang Nana.


Melihat sang ibu yang berjalan menghampirinya, Bian pun menarik tangannya . Dan rangkulan itupun terlepas .


'' apa kata dokter ? '' bertanya dengan tatapan lurus pada Bian.


Tak sedikitpun ia melirik Nana, seolah menganggapnya tak ada.


Nana yang sudah terbiasa memilih acuh dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


'' imun Oma turun.


Hanya perlu banyak istirahat dan jaga pola makannya aja ''


'' itu saja ? Apa bukan karena banyak pikiran ? '' melirik sang menantu yang berdiri disisi anaknya.


Bian memilih tak menjawab. Ia sebenarnya enggan mengatakan hal tersebut.


Bahkan pada Nana sekalipun.


Ia khawatir sang istri akan merasa bersalah dan jadi terbebani nantinya.


Keduanya beranjak dari hadapan Natasya.


Hari kembali berganti.


Sejak itu dimulailah semuanya .


Susana yang sebelumnya memang sudah tak nyaman, kini bertambah semakin tak nyaman.


Itulah yang Nana rasakan.


Bagaimana tidak ?


Elisabeth mau merespon dan membalas sapaannya yang sebatas senyum dan anggukan saja, hanya ketika ada Bian saja.


Dan begitu Bian keluar rumah untuk bekerja, sikapnya seketika berubah .


Jangankan menanggapinya, Elisabeth bahkan tak mau melihatnya.


Ia jelas-jelas mengacuhkan Nana. Jauh lebih tidak perduli dari perlakuan sebelumnya.


Bahkan sampai membuang muka ketika tak sengaja bersitatap dengan sang cucu mantu.


Hal yang sama juga dilakukan Natasya.


Mertuanya memang tak pernah lagi terdengar mengatainya. Namun setiap kali menatapnya, sorot mata itu memancarkan rasa ketidak sukaan dan juga tekanan.


Nana bergeming. Ia mau tak mau harus menghadapi itu semua setiap .


* * *


'' perasaanku aja , atau memang perutmu kelihatannya agak buncit , ya ? '' ucap Bian yang sejak tadi terus melihat bagian tubuh Nana yang entah mengapa begitu menarik perhatiannya.


Nana yang duduk di atasnya berhenti bergerak , menunduk melihat pada perutnya yang mulai terlihat menonjol.


sudah mulai kelihatan, ya ? Bergumam dalam hati lalu tersenyum.


Nana menegakkan kepalanya. Kemudian melanjutkan lagi apa yang tengah mereka lakukan yang sama-sama dalam keadaan tanpa busana.


'' kerjaan ku dirumah kan cuma makan dan tidur aja, Bi... ''


Sang suami manggut-manggut sembari menikmatinya.


'' kenapa ? kamu gak suka aku gemukan ? ''


Bian menggeleng lalu mengangkat tubuh yang tadinya berbaring menjadi duduk berhadapan dengan Nana dengan jarak yang sangat dekat.


Dilumatnya bibir yang tak pernah puas untuk ia kecap .Lalu beralih pada dua gundukan kembar yang terasa lebih besar dari sebelumnya.


Tunggu. Karena penasaran, kedua tangannya pun ia tugaskan untuk mengecek bagian lainnya.

__ADS_1


Telapaknya bergerilya ria di sekujur tubuh istrinya. Bian bingung. Rasanya beberapa bagian tubuh sang istri seperti mengembangkan dan menjadi lebih besar dari yang ukuran sebelumnya.


Apa ini hanya perasaanya saja atau memang Nana gemukan ?


Bian pun penasaran sekaligus bingung .


Bian mendekap tubuh Nana dan merubah posisi untuk mengambil alih kendali.


'' besok aku harus ke Bandung .


DSL di sana akan mulai dibuka. Jadi aku harus ada untuk melihat langsung bagaimana semua persiapannya.


Kau mau ikut ? ''


Nana menggeleng.


Sudah sebulan sejak terakhir kali Bian ke kota kembang itu.


Bian memang menunda banyak pekerjaan dan memilih menyerahkannya sementara waktu pada orang kepercayaannya di sana. Hal tersebut ia lakukan agar bisa lebih memperhatikan keadaan rumah. Terutama Oma.


'' uda sebulan juga kamu dirumah terus ?


Kamu gak bosan ? ''


Nana menggeleng lagi.


Terlalu fokus pada Oma, Bian lupa beberapa hal mengenai dirinya .


Pria itu tak ingat kapan terakhir kali sang istri datang bulan . Apalagi mempertanyakannya.


Membuat Nana harus memendam rasa kecewa.


Setiap kali pulang kerja, Bian pasti lebih dulu menyambangi kamar Elisabeth .


Selain makan malam, Bian juga terkadang berada dikamar Elisabeth hingga sang Oma tertidur.


Bian hampir tak pernah punya waktu untuknya.


Bian selalu saja memintanya untuk mengerti dan memaklumi keadaannya.


Namun Nana sudah di ujung batas sabarnya.


Ia tak bisa lagi menolerinya.


* * *


Pagi itu, Bian yang bersiap akan berangkat, terlihat duduk bibir ranjang dengan memegang sesuatu.


Ia menatap nanar pada tempat penyimpanan uang berwarna hitam .Hadiah pemberiannya saat ulang tahun Nana yang ketujuh belas.


Perlahan ia buka dompet yang sempat Nana nyatakan hilang sebagai dalih kenapa waktu itu kontak mereka sampai bisa terputus.


Ia tutup lalu ia buka lagi.


Ia tarik foto yang terpasang didalamnya.


Sebuah gambar yang membuatnya tertegun cukup lama.


Nana berdiri diantara ia dan Adit.


Ia merasa miris saat membuka bagian foto yang terlipat.


Meski di sisi satunya juga terdapat garis lipatan yang menandakan jika bagian itu juga sempat dilipat.


Hal tersebut semakin menguatkan jika memang Nana menyukai Adit dan sampai kini pun masih menyukainya. Bukan. Ini bukan sekedar suka, tapi cinta. Apakah Nana masih mencintai Adit ?


Kenyataan bahwa bagian foto yang dilipat adalah gambar dirinya, membuat Bian seolah kehilangan separuh semangat .


Sepertinya ia masih belum berhasil masuk kedalam hati Nana.


''Bi '' suara nana membuatnya tersentak. Bergegas ia memasukan foto ketempat semula sekaligus menyelipkan kartu ATM yang menjadi tujuan sebenarnya membuka dompet sang istri.


Bian menoleh, dilihatnya Nana tinggal selangkah lagi sampai.


'' kamu ngapain liatin dompet aku ? '' bertanya sebab heran.


'' aku mau masukin ATM aku.


Repot kalau harus transfer ke kamu.


Apalagi kalau aku lagi di luar kota.


Jadi kan praktis kalau misalnya kamu lagi ada kebutuhan , kamu bisa ambil sendiri '' Bian tersenyum seraya meletakkan dompet tersebut di atas nakas .


Nana mengangguk tanpa curiga.


'' uda ditungguin pak Tole, tuh ''


Bian berdiri, lalu bersama dengan Nana turun.


'' beneran gak mau ikut ? '' ini sudah kesekian kalinya ia bertanya.


Dan jawaban Nana tetep sama. Ia menggeleng tanpa mengatakan alasannya.


Ia tau Bian khawatir.


Sama, ia juga sebenarnya khawatir.


Khawatir jika bertahan lebih lama lagi ia bisa saja kehilangan ' sayangnya '.


Nana tersenyum, memeluk sang suami begitu erat.


Ingin rasanya ia menangis, menumpahkan rasa yang tengah menguasai hati dan pikirannya.

__ADS_1


Sebab ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertemu.


__ADS_2