Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Aku mau pulang


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


" helo " suara khas menyambut sambung internasional yang dilakukan Natasya.


Natasya menarik nafas panjang.


Hanya dengan mendengar suaranya saja, jantungnya sudah berdegup tak karuan.


Karena memang masih ada cinta dihatinya.


Ini sudah beberapa bulan sejak ia memutuskan pergi meninggalkannya.


Dan selama itu pula, Natasya merindukannya dalam diam.


Namun Natasya tak bisa lagi mengulur - ulur waktu.


Siap tak siap, kini ia harus bicara pada pria yang telah menemani lebih dari separuh hidupnya.


Ia kembali menarik nafas seraya mengingat diri,


jika tujuannya menelpon adalah untuk menyelesaikan semuanya.


'' Hai, Conor . Ini aku Natasya '' tertunduk dengan ponsel yang erat ia pegang dan menempel ditelinga kanannya.


'' ... ''


'' maaf baru ini menghubungi mu ''


'' ... ''


'' bagaimana kabar Cecilia dan keluargamu disana ?


Dan .. dan juga kabarmu ''


'' ... '' yang disana masih terdiam tak percaya. Setelah lama menunggu , akhirnya wanita yang masih bertahta dihatinya menelpon.


Namun dari cara bicara dan gaya bahasa yang Natasya gunakan, Conor berkesimpulan jika Natasya menelpon bukan untuk berbaikan dengannya.


Natasya tak pernah menyebut putri mereka dengan nama. Karena biasanya ,ia selalu menggunakan kata ' putri kita ' untuk menyebut anak sulung mereka.


Beberapa saat diisi dengan saling diam.


'' Natasya, sayang.. aku merindukan mu '' suara Conor terdengar pilu.


Natasya tertunduk, memindahkan ponsel dan menempelkan nya ke telinga kiri.


Ia pun rindu. Apalagi saat mendengar kata 'sayang ' yang biasa hanya dilontarkan Conor saat mereka bercinta.


'' maaf, Conor. Tapi aku tak bisa kembali''


'' Na-Natasya.. ak-aku tau, aku salah.


Kau berhak marah karena memang kata-kata ku di pertengkaran kita yang terakhir sudah keterlaluan.


Tapi percayalah, aku tak bermaksud bicara seperti itu padamu.. Ak-aku benar-benar menyesal.


Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Em ? ''


''aku benar-benar minta maaf, Conor.


Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak kembali padamu.


Aku.. aku ingin melupakan mu.


Tapi aku akan tetap menghargai apa yang pernah terjadi diantara kita. Terutama anak-anak ''


'' lalu bagaimana denganku, Natasya ? Apa kau tidak mencintai ku lagi ?


Apa semudah itu kau mengakhiri kebersamaan tiga puluh tahun kita ? ''


'' sekali lagi maaf, Conor.


Tapi kita tak pernah ada ikatan apapun yang mengharuskan ku untuk kembali padamu.


Tidak pernah ada status dihubungkan kita ''


'' .. ''


'' mungkin aku belum pernah mengatakannya padamu.


Dan sekarang aku ingin kau tau apa yang selama ini kuinginkan.


Ada sesuatu yang sudah lama kupendam.


Yang tak akan pernah bisa kuminta darimu.


Aku sangat ingin merasakan yang namanya menikah dan berumah tangga .


Bukan hanya sekedar hidup bersama tanpa status yang selama ini kita jalani ''


'' ... ''


'' ak- aku akan memulai hidup baruku disini.


Dan jika Tuhan memberiku jodoh aku akan dengan senang hati menerimanya.


Karena itu aku menelpon mu.


Mari kita akhiri semuanya dengan saling mendoakan kebaikan satu sama lain.


Dan kuharap kita masih bisa berhubungan baik demi Cicilia dan Bian ''


Tanpa menunggu respon selanjutnya, Natasya langsung mengakhiri telponnya.


Ia tatap gundukan tanah dimana terbaring sang ibu didalamnya.


" aku tau ini terlambat.


Tapi mulai sekarang, aku akan selalu ada disini untuk menemani mu, mah.


Aku tak akan kemana-mana lagi ''


Natasya lalu mengalihkan pandangannya pada makam yang ada disebelah. Makam sang ayah. Sesuai yang Elisabeth inginkan.


Bagaimana pun hubungan mereka semasa hidup dulu, namun Elisabeth tetap ingin dimakamkan disisi sang suami.


" aku akan menemani Bian menunggu istri dan anaknya pulang.


Hingga saat itu tiba, aku pasti akan menebus semua kesalahanku "


* * *


Jiran, Malaysia.


Dua hari setelah melahirkan, Nana pun diperbolehkan pulang.


Siti pulang lebih dulu .Bermaksud untuk mempersiapkan kamar untuk Nana dan sang cucu agar dapat blangsung beristirahat.

__ADS_1


Sementara Nana dan anaknya akan menyusul pulang bersama Ta'chik Hong .


Majikan tempatnya bekerja itu memang telah mengatakan akan membantunya.


Nana tak dapat menolak . Selain Ta'chik Hong bersikukuh, pun ia merasa jika apa yang Ta'chik Hong lakukan memang tulus .


Wanita yang selama hidupnya melajang itu pun berterusan terang jika ia merasa iba pada Nana yang selama ini berjuang melewati masa kehamilan hingga melahirkan tanpa di dampingi suami.


'' Nana ni tak de husband 'ke ?'' tanya Ta'chik Hong yang membantu Nana membawa tas berisi keperluan selama menginap di klinik .


'' ade 'cik '' Nana berucap dengan bahasa yang ia sesuaikan seperti logat orang Melayu.


Nana tersenyum tipis dengan kepala sedikit tertunduk. Ia tau, bukan hanya Ta'chik Hong saja yang penasaran akan dirinya.


Beberapa kali Rosmah pun pernah menyampaikan pertanyaan serupa dari temannya.


Dan itu membuat Nana merasa tak nyaman.


Beruntung Rosmah adalah pribadi yang tak begitu akrab dengan orang yang tinggal dilingkungan sekitarnya.


Atau lebih tepatnya ia tak disukai penghuni apartemen.


Bukan tanpa alasan mereka bersikap acuh pada Rosmah.


Sebab mereka tak mau berurusan dengan perempuan yang pernah beberapa kali membuat onar dan berkelahi pasal hutang.


Jadi, para tetangga pun memilih menjauhi dan tak berani bergunjing entah itu tentang Rosmah ataupun keluarganya.


Dan Nana sedikit bersyukur akan hal tersebut.


Meski tak mendapat tegur sapa dan tatapan yang ramah ketika ia keluar rumah, setidaknya ia tak pernah mendengar ada yang mencemooh keadaannya.


--


'' ape hal ni... '' Siti nampak heran melihat tumpukan barang yang tengah dikeluarkan dari apartemen yang selama ini turut ia dan Nana tempati.


Dua orang pria yang mengklaim diri sebagai bawahan pemilik apartemen mengatakan bahwa hunian tersebut sudah enam bulan tak membayar uang sewa.


Karena itu mereka terpaksa mengusir penghuninya.


Siti menatap tak percaya pada adik iparnya.


Setahunya, adiknya yang kini bekerja diluar kota selalu rutin mengirimkan uang setiap bulan. Termasuk untuk membayar sewa apartemen.


Siti menggeleng. Ini pasti karena kebiasaan Rosmah yang suka bermain mahjong .


Rosmah yang melihat sang kakak ipar pun langsung menghampiri Siti, membujuk kakak suaminya itu agar membantunya.


Rosma seperti tak punya malu . Ia meminta uang pada Siti dengan paksa.


Bahkan barang-barang Siti dan milik Nana ia obrak-abrik . Berharap akan ada uang selipan yang tersimpan yang dapat ia ambil.


Namun tak selembar ringgit pun ia temukan. Rosmah meradang, lalu merampas paksa dompet yang Siti pegang.


Rosmah menarik, sementara Siti mencoba mempertahankan.


Kericuhan itu tak dihiraukan oleh dua pria yang tetap sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah.


Begitupun dengan para tetangga yang hanya mengintip melalui celah pintu rumah mereka yang dibuka sedikit.


Tak satupun ada yang mau membantu Siti yang tengah mempertahankan dompetnya yang hendak Rosmah rampas.


Rosmah berhasil.


Ia lantas bergegas ke bawah menuju mesin ATM yang ada di sebrang jalan . Siti tak tinggal diam, dan mengikutinya.


Beberapa saat berlalu. Siti dan Rosmah terlihat kembali ke hunian mereka dengan tampang kacau.


Rosmah frustasi.


'' Nana '' Siti terkejut melihat Nana sudah datang dan tengah berdiri sambil menggendong bayinya .


Nampak pula Ta'chik Hong di samping Nana.


Siti pun mempercepat langkah untuk menghampiri Nana. Ia menceritakan secara singkat apa yang sedang terjadi dan bermaksud untuk mengajak Nana pergi.


Nana menghela nafas. Untung saja ia sudah mengantisipasi hal ini. Jika tidak, mungkin uang simpanannya sudah Rosmah rampas habis.


Ta'chik Hong yang mendengar itupun angkat bicara.


Ia mengatakan jika mereka tak bisa mendadak seperti ini untuk mencari tempat tinggal.


Ia lalu menawarkan bantuan pada Nana.


Rosmah yang mencuri dengar , langsung menyela dan menyetujui saat Ta'chik Hong mengatakan akan memberi pinjaman uang .


Masalah uang sewa rumah pun selesai.


Mereka tak jadi diusir.


Nana yang merasa berhutang banyak hal pada wanita renta itupun berjanji akan membayarnya dengan kembali bekerja setelah masa nifas nya selesai.


40 hari berlalu.


Siti terpaksa membiarkan Nana bekerja sendiri , sementara ia dirumah mengurus si kecil.


Karena tak mungkin Siti yang bekerja , mengingat kondisinya yang tak mengijinkan.


Ya, mereka memang harus berbagai tugas.


Selain harus memenuhi kebutuhan mereka, terutama anaknya , Nana juga harus menyisihkan setiap upah yang ia peroleh untuk menebus obat yang masih harus rutin Siti konsumsi pasca operasi.


Belum lagi memikirkan biaya cap paspor yang wajib dilakukan setiap bulannya jika ia masih ingin tinggal di Negara tersebut.


Di tambah lagi , Rosmah meminta mereka untuk turut membantu membayar uang sewa apartemen.


Karena itu, Nana pun melakoni dua pekerjaan sekaligus. Meski berat karena harus meninggalkan anaknya seharian , namun Nana tak punya pilihan.


Setahun, dua tahun berlalu dengan kerja kerasnya agar bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka. Nana pun harus memutar otak dan juga ekstra menguras keringatnya untuk mencari tambahan uang.


Nana masih setia bekerja pada Ta'chik Hong. Ia lakukan pekerjaan itu dipagi hari.


Kemudian siangnya ia akan membantu Ta'chik Hong membuat kue.


Tentu saja Ta'chik Hong yang baik hati menambah upahnya.


Namun Nana tak bisa hanya mengandalkan dua pekerjaan itu saja.


Ia butuh tambahan.


Dan sekali lagi Ta'chik Hong seakan menjadi malaikat yang selalu ada disaat ia butuh.


Nana di perkenalkan pada kerabatnya yang mempunyai bisnis rumah makan cepat saji. Yang kebetulan sedang membutuhkan tambahan tenaga di bagian belakang sebagai pencuci piring.


Nana pun mengambil pekerjaan tersebut.


Tak mengapa meski itu berarti ia hampir tak memiliki waktu bersama sang buah hati .


Pun ada Siti yang begitu baik merawat putranya yang ia beri nama Dion.

__ADS_1


Nana bertambah tenang, sebab Dion tak pernah rewel dan berulah . Namun tetap saja, ada kalanya ia merasa khawatir jika sang anak akan membuat Siti kewalahan.


Namun Nana bersyukurnya , hal itu tak pernah terjadi. Dion tergolong anak yang diam .


Meski itu juga sempat menjadi pikirannya.


Pasalnya ketika sudah menginjak usia dua tahun, Dion hampir tak terdengar bersuara .


Saat itu, Nana yang diliputi cemas, memutuskan untuk membawa Dion ke pusat spesialis tumbuh kembang anak.


Dion mengalami keterlambatan bicara dan butuh dilakukan simulasi untuk merangsang otaknya agar bisa berkerja lebih aktif .


Salah satu penyebabnya adalah karena Dion yang jarang berinteraksi .


Nana pun tak menampiknya.


Ia yang harus berangkat kerja saat Dion belum bangun dan pulang ketika Dion sudah terlelap, memang hampir tak memiliki waktu untuk bercengkrama dengan sang anak.


Begitu pun dengan Siti yang menemani Dion setiap hari.


Karena semua pekerjaan rumah tangga Rosmah limpahkan pada Siti, maka Siti pun tak begitu bisa menghiraukan Dion.


Apalagi jika Rosmah mengajak para teman mahjong nya bermain dirumah.


Biasanya Siti akan menyuruh Dion masuk dan bermain sendiri dikamar.


Begitulah kehidupan yang telah Nana lalui bersama Siti, dan Dion anaknya. Hingga tak terasa empat tahun lebih telah berlalu.


Sudah beberapa bulan ini Nana dan Siti sering memperdebatkan untuk pulang ke Indonesia.


Bukannya Nana tak mau. Pun memang sudah saatnya ia kembali sebab paspornya yang sebentar lagi akan habis masa berlakunya dan butuh diperpanjang.


'' pokoknya, mak ikut ! " tegas Nana pada ibu sambungnya .


Nana kini sudah terdesak. Masa berlaku paspor nya tinggal seminggu lagi.


Ia harus pulang tapi ia tak mau meninggalkan Siti .


Sebab Rosmah tak mungkin mau merawat apalagi mengeluarkan uang untuk Siti.


" tak payah pikirkan emak " Siti mencoba membujuk.


Sementara itu, Dion yang sejak tadi melihat perdebatan keduanya hanya bisa diam dengan kepala berputar ke kiri dan ke kanan.


" Dion nak jumpe papa , tak ? "Siti mendekat pada sang cucu, lalu membelai pipi gembulnya.


Dion mengangguk sambil menatap wanita yang ia panggil nenek itu dengan mata polosnya.


Siti menarik nafas. Tersenyum lalu menatap Nana .


" kalau macam tu, mak ikut . Tapi.. " Siti sengaja menggantung kalimatnya


" apa ? Jangan syaratin yang aneh-aneh mak, ya ? " Nana menyorot penuh curiga.


Siti tersenyum lagi. Senyum khasnya yang lembut dan juga ramah.


" Kite kene bagi tau Bian.


Mak nak tengok Dion jumpe papanye "


Nana terdiam. Ia lihat wajah Dion yang selalu datar .


Mungkin karena selalu terkurung dirumah, sang anak menjadi begitu minim ekspresi.


" oke. Kita pulang. Tapi kita gak bisa langsung ke temu Bian " ucap Nana yang langsung disambut senyum sumringah oleh Siti.


Ia memang tak bisa memaksa Nana yang keras kepala.


Tapi paling tidak, ia sudah berhasil membujuk Nana untuk pulang.


Sisanya ia serahkan pada yang di sana.


Dalam hati Siti berlonjak girang .


Sebenarnya beberapa bulan belakang ini ,ia dan Han kerap saling bertukar pesan dan berteleponan tanpa sepengetahuan Nana.


Itu ia lakukan saat Nana tengah bekerja.


Namun sebenarnya, yang lebih sering berkomunikasi jarak jauh dengannya adalah Bian.


Itulah yang menjadi alasan mengapa Siti sering menyuruh Nana pulang ke Indonesia.


Siti, Han dan Bian .Hal yang selalu mereka bahas ketika sedang berbicara adalah akan bagaimana jika nanti tiba saatnya Nana pulang.


--


'' Han '' ucap Nana saat sambung telponnya terhubung.


'' eng, '' suara yang menyambutnya terdengar berat.


'' masih tidur ? '' Nana menilik jam yang menempel didinding kamarnya . Jarum pendek mengarah ke angka enam sedangkan jarum panjangnya berada diantara angka enam dan tujuh.


Pukul 6.30 pagi.


'' Han '' Nana menaikan sedikit volume suaranya saat samar suara dengkuran terdengar.


Han sepertinya kembali tertidur.


'' iya. Ada apa sih , Na ? gangguin orang tidur aja''


'' ini uda siang, tau ! ''


" ck..kalau uda siang memangnya kenalan? ''Han berdecak kesal.


Diam beberapa saat.


" Han aku mau pulang "


" ... "


" Han !"


'' eng, iya. Ka-kamu mau pulang ?''


'' iya ''


'' kapan ? ''


'' secepatnya. Jadi kirimkan uang ku, ya ''


'' hem.. '' Han mengangguk paham. Yang Nana maksud adalah uang yang waktu itu dititipkan padanya .


' tut' panggilan berakhir dan Nana pun beranjak menuju kediaman Ta'chik Hong .


Ia bermaksud menemui orang yang sudah banyak membantunya itu untuk berpamitan.


Sedangkan Han.


Ia yang masih terbaring di kasur nyamannya, terlihat menarik selimut sambil mengukir senyum.

__ADS_1


" akhirnya... " helaan nafas pertanda kelegaan seiring dengan matanya yang kembali terpejam.


Han menyambung tidurnya lagi.


__ADS_2