Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Menemui Papa


__ADS_3

Tiba di Los Angeles...


Sena Pov


Beberapa hari kemudian...


Tidak peduli seberapa larutnya permasalahan itu. Satu hal bahwa keluarga tetaplah keluarga, tidak akan ada yang rela kehilangan mereka dengan apapun yang terjadi.


Benar, hubungan yang sudah lalu memang akan selalu sulit dan rumit. Tapi, gue adalah orang yang sering kali hampir kehilangan rasa sabar dan ingin menyerah untuk beberapa hal. Namun, gue masih selalu sama dari dulu. Mengalah lagi untuk kesempatan terakhir, sekali lagi selalu seperti itu dari dulu sampai hari ini.


Gue dulu pernah berpikir, gue lahir sendiri dan bakal mati sendiri juga. Karena gue gak bisa memilih, tapi sekarang gua paham selama gue masih hidup dan bisa memilih, gue bisa memilih dengan cara apa dan dengan siapa pun.


Karena kenyataannya, hidup itu bukan sebuah film tapi hidup itu real adanya.


Jika harus dipertanyakan berulangkali dalam hidup sudah berapa kali gue gagal menjadi diri sendiri?


Maka, jawaban gue adalah berkali-kali.


Waktu lalu, beberapa hari terlewat. Kembali gue merenung untuk itu, jika di tanya apa gue merasa kehilangan?


Ya, gue kehilangan banyak hal, banyak orang dan masih banyak lagi. Gue bahkan masih sempat-sempatnya meninggalkan yang masih tersisa dan masih mau ada di sekitar gue.


Hm, Ivan dan beberapa hal lainnya terpaksa gue tinggal dengan sedikit berat hati. Gue sudah memilih dan memutuskan! Maaf! Bahkan mirisnya gak gue kasih tahu hendak kemana gue saat Ivan menangis ketika ia bertanya sambil memelukku di bandara beberapa hari yang lalu.


Jawabanku hanyalah, pada waktunya gue akan bilang ke dia bahwa gue baik-baik saja dan dia boleh temui gue nanti. Gue hanya berharap ia bisa kuliah dengan baik dan hidup dengan baik.


Juga gak lupa gue udah meminta Bibi Im untuk segera kembali pulang dari urusannya di kampung karena gue kasihan Ivan sendiri di rumah, juga mang Edi yang sudah selesai dengan urusannya dan kembali bekerja dan masih sempat mengantar gue waktu itu.


Dan memang benar, kehilangan adalah suatu rasa tak mampu menerima dalam suatu kondisi namun memaksa harus menerimanya dan tetap kuat.


Nyatanya, kehilangan adalah kata yang tak mau dan tak suka di terima oleh beberapa orang, namun pada akhirnya kita kan tetap merasakannya. Karena setiap awal pasti ada akhir dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan.


Sena Pov End


“Oke. Mari kita menemui seseorang yang sedikit rumit untuk di pahami! Apakah ia baik-baik saja atau mungkin masih terlalu sibuk dalam bekerja sampai lupa jika ia sudah hampir tua dan masih ada titisannya yang hidup berkelana dengan membawa beban yang berat ini,” ujarnya ketika ia berdiri di halte bus yang akan mengantarnya di alamat tujuan yang ia peroleh dengan bekal dan talenta mengstalking dari zaman masih puber dulu.


Ya, ia tengah menatap secarik kertas berisi alamat sambil duduk di kursi panjang pemberhentian bus tersebut.


20 menit kemudian...


“Wow! ANDIN’S Corp! Gue kira bakal lama di perjalanan ternyata hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai disini!” ucapnya ketika ia berhasil turun dari bus dan memandangi suatu gedung tinggi dan besar yang sedikit ramai dengan membaca nama gedung tersebut.


“Kantornya, besar juga!


Woah, seluas ini ia pimpin dan tak ada keluh kesah sama sekali gue dengar selama masih bersamanya.


Hebat! Pantas ia sangat sibuk, masuk ajalah!” ujarnya dan melangkah masuk ke gedung tersebut.


“Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menemui resepsionis di depan itu, dan bertanya apakah orang itu ada atau tidak? Tapi gue yakin dia pasti ada, sibuk dengan pekerjaan mana ada bisa absen kerja!” serunya dan berjalan menuju meja resepsionis tersebut.


“Excuse me. Can i ask you a question?” ucapku pada seorang wanita cantik dewasa dengan tampang yang ramah dan muka bulenya.

__ADS_1


“Yes. What can i help you?” jawab wanita itu.


“Is Mr. Reza there?” tanyaku.


“Sorry. Who are you? Have you made an appointment beforehand?” ucapnya karena mungkin ini pertama kalinya ia melihatku dan bertanya apakah udah buat janji sebelumnya.


“Ah, maaf. Saya lupa memperkenalkan diri. Saya putri beliau!” ujarku menggunakan bahasa inggris juga.


(Tapi Author malas ngetiknya make bahasa inggris, apalagi sejujurnya author gak tahu bahasa Inggris! Wkwkwk. Oke cukup! (>_<).


“Tapi, maaf. Beliau tidak pernah memperkenalkan putrinya. Jadi, anda tidak bisa masuk dan menemuinya!” jawabnya tegas tapi ramah.


“Hufhh. Oke, tidak masalah. Maaf mengganggu waktu anda!” ucapku menunduk untuk memberinya hormat dan mundur dari meja tersebut. Karena gue tahu bagaiman sistemnya gue gak bisa serobot buat masuk kalo gak mau di usir.


Beberapa menit kemudian...


“Woah, setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu. Dan untuk menemuinya saja sangat sulit. Gue bahkan gak pernah tuh, untuk gak menunggu setiap pulangnya dari dulu. Selalu gue harus menunggunya!” ujarku mengingat kembali bagaimana kenyataannya dari dulu.


Dulu, gue harus menunggunya setiap bulan sekali di bandara setiap kepulangannya yang membutuhkan waktu beberapa jam sambil menikmati kopi terkadang di temani mang Edi juga.


Tuh kan, jadi pengen minum kopi gue. “Disini ada kafenya gak ya buat mampir?” gumamku sambil celinguk mencari keberadaan kafe di sekitar itu dan gue bisa lihat beberapa orang kantoran di lorong ujung tengah keluar dari satu pintu dengan menenteng gelas minum, dan benar di sini ada kafenya. Gue pun memesan kopi sambil sesekali melihat dan merasakan suasana disini.


Disini, hanya beberapa yang memiliki wajah asia. Hampir semua karyawannya orang sini. Gak heran sih, ada beberapa juga yang sesekali melihat kearahku. Apa mungkin karena gue sedikit kecil dan kurang tinggi ya? entahlah, tapi di Indo gue masih tinggi rata-rata ya!.


“Gimana caranya gue bisa masuk?” pikirku sedikit bingung sambil mengetuk pelan meja dengan jari-jariku. Oh, ya ini sudah hampir sore karena gue kesininya sekitar 1 jam yang lalu.


“Arabica Coffee!” ucap seseorang memesan pada pelayan kafe. Gue pun menoleh dan melihatnya.


“Thank you!” ucapnya sambil menyesap kopinya dengan nafas sedikit dihempaskan dengan lega.


“Permisi!” ucapku yang sudah berdiri di depannya dengan sedikit tersenyum.


“Hm?" jawabnya sedikit bergumam dan balik menatapku seakan bertanya.


“Maaf. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku sedikit ragu karena melihat tampang bingung dari sosok di depanku sekarang.


"Oh! Lo ko bisa disini?" ucapnya sedikit kaget melihatku berdiri di depannya.


"Ah, gue baru tiba beberapa hari yang lalu!" jawabku sedikit bingung dengan respon orang tersebut.


“Sena kan?” ucapnya menggunakan bahas Indonesia seraya berdiri dan menjabat tanganku.


“Lo kenal gue?” tanyaku sedikit heran dan dia pun tersenyum.


“Yak! Gue sekretaris pribadi perusahaan ini masa!” ujarnya sinis karena gue bahkan gak kenal dia.


“It’s okay. Lo gak salah, memang kita jarang bertemu atau mungkin kita cuma bertemu sekali dua kali mungkin. Tapi gue yang ngurus semua data lo kalo lo gak tahu!” ucapnya malas dan sedikit memaklumi.


“Ah, ya. kita memang pernah bertemu ya!” seruku sedikit tertawa ringan.


“Kenalin Gue Peter! Sekretaris pribadi pak Reza!” ujarnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


Setelah berbincang beberapa hal....


Disinilah gue, di depan pintu ruangan bertuliskan CEO. Ya, gue bahkan gak tahu apa yang harus gue lakuin sekarang. Wajarlah sudah beberapa tahun terakhir gue gak pernah menemui atau bertukar kabar dengannya. Jujur gue gak bisa defenisiin perasaan gue sekarang gimana.


Yang jelas. Ini adalah pilihan gue, menemuinya dan melihatnya. Apakah ia sudah begitu tua terlihat oleh kedua mataku atau mungkin apakah ia masih dengan tampang yang sama. Ramah, tegas dan berwibawa.


Itulah pikiran gue saat ini.


Sampai...


Tok, tok, tok!!


...J r e e n g !...


Pandangan pertama yang gue lihat adalah. Dia masih saja sesibuk dulu, membuka lembaran demi lembaran dan sedikit mencoret beberapa kertas. Mungkin sedang di tanda tangani.


Gue masih saja berdiri di samping pintu ruangannya seraya terus menatapnya yang sudah semakin tua tapi pandangan pertama yang bisa gue nilai dia semakin berwibawa.


Jika dalam keadaan serius seperti itu, ia terlihat dingin, tegas dan penuh misteri. Bagaimana sebenarnya, keadaannya? Apa ia hidup dengan baik?


Apa ia sehat?


Itulah pertanyaan yang mewakili tatapan gue saat ini, sampai....


"Papa!!!" ucapku dengan tatapan penuh arti.


Ia menoleh dan sedikit tersentak kaget gue lihat dia balik menatapku seakan tak percaya sosok gue saat ini.


"Ah, apa seasing itu pandangan yang anda miliki saat ini?" tanyaku sedikit tersenyum.


Dia masih saja tak menjawab ataupun bergerak dan memutuskan pandangannya.


"Apa anda juga akan terus menganggap penglihatan anda dan sosok yang berdiri di hadapan anda sekarang, hanyalah ilusi?" tanyaku tertawa miris.


"Sejak kapan?" ucapnya jelas.


"Sejak beberapa tahun terakhir ini mungkin, jika anda bertanya gue rencanain ini dari kapan!" jawabku datar.


Tak ada jawaban ataupun pertanyaan darinya. Selain ia bangkit berdiri dan melangkah ke arahku.


Satu hal yang masih bisa kembali ku rasakan adalah pelukan ini masih selalu sama. Nyaman, hangat dan kokoh untuk dijadikan sandaran. Gue merindukan ini sudah sejak lama.


"Maafin Papa!" ujarnya dengan tubuh yang sedikit bergetar, karena menangis mungkin.


"Ayok!" ajaknya dengan masih merengkuh tubuh kecilku dan meninggalkan ruangannya. Mungkinkah ia membawaku pulang?


Yang ku lihat ia sedikit antuasias melangkah dan membawaku ke area parkiran.


Diperjalanan...


Gue gak tahu, jalanan ini terasa asing karena ini kali pertamanya gue ke sini. Tapi katanya barusan, kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Entahlah.

__ADS_1


Gue hanya sedikit asing dengan suasana ini.


__ADS_2