
Ulang tahun Lia berjalan dengan lancar. Jam enam pagi seluruh orang di rumah itu sudah bangun untuk menyanyikan lagu happy birthday. Tapi Fanny sudah bangun bahkan ketika jam masih menunjukkan pukul dua pagi, karena gadis itu semalam tidak bisa tidur. Kepalanya terlalu penuh dengan David.
Dan ketika mereka semua bernyanyi untuk Lia, rasanya dia seperti sedang menonton sebuah adegan di dalam film. Lia dikelilingi oleh banyak hadiah dan bertubi-tubi ciuman dari anaknya, Gio, dan juga suaminya, Fadi Iskandar. Mereka benar-benar keluarga yang sempurna dan bahagia. Kadang Fanny merasa kehadirannya di tengah-tengah mereka hanya merusak semua itu.
Fanny akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kamar mereka diam-diam. Dan ketika dirinya hampir berangkat ke sekolah, Lia langsung memborbardir Fanny hanya untuk memastikan keponakannya itu tidak apa-apa. Fanny sampai harus meyakinkannya bahwa dia memang baik-baik saja selama setidaknya sepuluh menit. Fanny pagi ini memiliki janji dengan dokter Rani sebelum ke sekolah. Fakta itu hanya membuat dirinya semakin moody saja.
Ruang praktek dokter Rani tampak tidak berubah, tetap membosankan seperti biasa. Ketika Fanny duduk, tangannya mulai bergerak-gerak memainkan apapun yang dia bisa sentuh. Dia sudah tidak sabar ingin segera keluar dari ruangan itu.
Doker Rani tersenyum ramah pada gadis itu, buku catatan kosong dan pulpen sudah siap di tangannya. Fanny berusaha keras untuk terlihat biasa-biasa saja.
“Fanny, duduk sayang.” Wanita itu memulai konselingnya.
“Apa?” Fanny sungguh sedang tidak berselera berlama-lama di sini. Dia ingin semua ini segera berakhir.
__ADS_1
“Kenapa kamu baru bisa datang lagi sekarang?” tanyanya.
“Sudah aku bilang, aku sibuk.” Fanny mendesis. Rani mengangkat alisnya.
“Sungguh?” dokter itu terus mencecarnya. Fanny memutar matanya.
“Apa Dokter kira aku mau terjebak di ruang konseling setiap waktu? Teman-temanku pasti akan mengira kalau aku ini sudah gila! Satu-satunya alasan kenapa aku tetap pergi ke sini itu cuma karena tante Lia!” Fanny menyalak. Dokter Rani hanya bisa mendesah.
“Semua hal dapat mempengaruhi mental seseorang. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu!” Fanny menghardik. Dokter Rani tidak berkata apa-apa lagi, tapi dia langsung menuliskan sesuatu di buku catatannya. Fanny muak melihatnya.
Meskipun dia hanya berada di ruangan itu selama empat menit, rasanya dia sudah berada di sana selama berjam-jam. Fanny langsung berdiri, dan dokter itu masih tidak berkata apa-apa ketika dia melihat Fanny mengambil tasnya dan berjalan keluar. Dia lalu membanting pintu ruangan itu hingga tertutup.
Masih ada sekitar 30 menit lagi sebelum kelas pertama di mulai. Fanny memutuskan untuk pergi ke kafe dekat sekolahnya. Dia hanya ingin sendirian. Gadis itu langsung mengambil tempat duduk di salah satu sudut kafe itu di dekat jendela, menyaksikan matahari yang semakin benderang.
__ADS_1
Ketika seorang waitress datang padanya, dia langsung memesan matcha tea. Pesanannya datang lima menit kemudian dengan tambahan beberapa potong roti. Fanny sudah hendak membaca novelnya ketika Sara tiba-tiba saja muncul.
“Wow, aku baru tahu kamu suka baca novel,” komentarnya. Fanny hanya mengangkat bahunya. Melihat Sara yang hendak duduk di tempat Fanny yang kotor, waitress yang tadi melayani Sara langsung sigap membersihkan sisa roti yang tidak dimakan dan membawa cangkir teh Fanny yang sudah kosong ke belakang. Fanny dan Sara menggumamkan terima kasih ketika waitress itu pergi.
Fanny dan Sara kemudian mulai membahas tentang tugas presentasi mereka untuk nanti siang. 15 menit kemudian, mereka berjalan bersama ke sekolah. Ketika mereka sudah sampai di parkiran, Fanny menyadari ada sesuatu yang terjadi. Orang-orang berkerumun di lapangan.
“Ada apa sih?” tanya Fanny ke Sara saat semakin banyak orang mulai berkerumun di lapangan. Tapi Sara tidak perlu menjawabnya, karena orang-orang itu mulai bergumam, “ada yang berantem.”
Fanny dan Sara kompak memutar mata mereka. Seharusnya mereka sudah bisa menebak. Fanny sudah hendak berputar arah menuju kelas ketika Sara menahannya. “Gimana kalau itu Demian?” tanyanya. Dia tampak sangat khawatir sekarang. Fanny mendesah. Mau tidak mau dia mengikuti Sara menembus keramaian untuk memastikan kalau yang sedang berkelahi itu bukan Demian. Tapi ternyata yang berkelahi memang bukan Demian.
“Siapa itu?” tannya Fanny. Tangannya menunjuk pada sosok seorang pemuda yang tengah bergulat dengan David Albert. Suaranya bergetar. Jika dia tidak membutuhkan jawaban, dia mungkin sudah pergi dari sana.
“Itu Andika Kurniawan,” jawab Demian yang entah dari kapan sudah berdiri di samping Sara. “Aku dan dia sama-sama berlatih tinju di Hellionz. Dia murid kebanggan coach Angga. Tapi itu sebelum David datang. Tadi malam coach Angga buat pengumuman kalau dia ingin mempersiapkan David ke pertandingan profesional, bukannya Andika. Seharusnya aku sudah tau kalau Andika bakal marah besar.” Suara Demian kering, dan Fanny mulai tidak ingat bagaimana caranya untuk bernapas dengan benar. Matanya terpaku pada sosok David yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1