
...“Kita selalu mengeluh tentang tidak adilnya dunia, tanpa kita sadari sebenarnya banyak hal yang adil. Seperti hari semua orang adalah 24 jam, perbedaannya adalah bagaimana setiap orang menghabiskan waktu mereka_Chenle NCT”...
...***...
Jika tentang waktu. Selalu tak menentu. Kalau saja kita bisa sedikit lebih paham tentang diri kita sendiri, mungkin waktu dan ketidak tentuannya bisa kita sedikit pungkiri.
Terkadang ada orang yang punya banyak waktu tapi bingung mau melakukan apa dengan banyaknya waktu yang ia miliki. Juga ada orang yang mau melakukan banyak hal tapi tak memiliki waktu cukup untuk melakukannya. Ada juga orang yang memiliki waktu, punya banyak rencana yang mau ia lakukan tapi terus dan terus menundanya karena bingung harus memulainya dari mana.
Karenanya, kita sering mengeluh tentang waktu yang menurut asumsi kita tidak adil. Kita kurang pandai mempergunakan waktu, kita kurang mampu mengendalikan waktu yang kita miliki untuk melakukan apa yang mau kita lakukan. Sebenarnya wajar jika kita sedikit bingung karena begitulah kita menjalani waktu hidup ini. Adakalnya kita sedikit merenung betapa kita memiliki waktu yang sama tapi tingkat hidup tetap berbeda pada setiap orang.
Di penghujung waktu dalam penantian ia Jeno tengah disibukkan dengan banyak perkerjaan di kantor tapi waktu yang ada hanya sedikit. Ia terpaksa melakukan pekerjaannya tanpa ingat bagaimana kondisinya yang sekarang.
“Jeno! Istrahatlah, kau perlu makan juga kan!” ujar Bayu yang sudah ada saja di ruangannya sekarang.
“Hm, dikit lagi. Jam berapa Bang Rey ke sini?” tanya Jeno menatap Bayu.
“Sekitaran jam empat katanya. Jadi lo ke rumah Bang Rey?”
“Oh. Setelah ini gw ke sana. Lo sendiri, ikut apa langsung balik?”
“Balik ajalah gw. Gw butuh istrrahat kayaknya.”
“Ya udah. Lo balik duluan aja. Gw masih ada kerjaan ini,”
“Lo juga harus makan. Ini gw udah rela bawain lo makan dari luar ya!”
“Setelah ini gw makan kok. Udah balik sana ganggu gw aja lo.”
“Oke. Gw balik ya!” Bayu pun keluar ruangan.
Setelah menyelesaikan makannya Jeno bersiap-siap untuk pulang karena Rey sudah menunggunya di bawah sana tepatnya di parkiran. Berhubung Jeno tak bawa mobil juga maka sekalian balik di jemput Rey karena mau ke rumahnya sore itu.
Di perjalanan.....
“Bang!” ucap Jeno
“Hm?” jawab Rey yang fokus menyetir.
“Menurut Bang Rey, apa yang gw lakuin sekarang ini udah benar gak sih?”
“Maksudnya?” Rey yang sedikit bingung akan ucapan Jeno.
__ADS_1
“Tentang Sena Bang!”
“Menunggu?”
“Hm,”
“Gw gak bisa ambil kesimpulan dengan sudut pandang gw. Tapi yang gw tahu, ada banyak cara untuk menghargai usaha seseorang yang berusaha melepas beberapa masa di hidupnya. Salah satunya adalah dengan belajar untuk mengerti dan memahaminya.”
“Sampai kapan sih? Bahkan pulang atau gaknya dia juga kita gak tahu persis kan Bang?”
“Lalu? Lo mau berhenti disini? Gapapa sih, kalo lelah ya udah berhenti aja. Gw juga gak tahu apakah ia akan kembali atau tidak. Udah sejauh ini kan!”
“Bukan lelah. Hanya saja gw udah sedikit kehilangan rasa sabar. Apa gw nyusul aja ke sana?”
“Emang lo tahu dia tinggal di mana sekarang? Inggris tuh negara yang cukup luas Jeno!”
“Bukankah Om Reza sama Bang Rey tahu persis di mana ia berada?”
“Siapa yang ngomong gitu ke lo? kita bahkan gak kesana untuk membuktikannya. Om Reza mungkin tahu, tapi gw gak yakin dia akan bilang ke lo.”
“Ah! Gini amat kisah cinta gw.”
“Iya yah. Woah sepertinya dunia makin keras. Sampai-sampai kebaikan seseorang di anggap cinta. Tembak aja gak pernah. Gapapa gw masih bisa menunggunya seribu tahun lagi!” ujar Jeno pasti dengan kepalanya yang ia anggukan.
“Yakin? Kemarin-kemarin aja hampir putus asa kan lo!”
“Berhenti ngejek gw bang.”
“Aku mau menghabiskan banyak waktu untuk menunggu. Walaupun aku tahu ini sedikit kurang pasti. Aku hanya percaya bahwa kata orang kalo lo emang ditakdirkan buat aku miliki. Sejauh dan selama apapun lo pergi. Lo pasti akan kembali dan kita akan bertemu diwaktu yang ditentukan. Aku gak pernah nyesal ngabisin waktu untuk itu. karena aku yakin akan ada yang menunggu di ujung panantian. Cepatlah pulang. Jangan terlalu lama mainnya!” batin Jeno dalam pandangannya di jalanan sore itu.
"Kadang kita gak bisa yakinkan diri buat tetap bertahan. Gw cuma mau bilang ke lo. Kalo lo lelah, berhentilah. Jangan habisin waktu lo buat sesuatu yang gak pasti. Gw ngomong gini karena gue berusaha buat ada di posisi lo.
Kita kan gk tahu kedepannya. Kalo pun Sena balik, apa ia masih seperti dulu? Gak ada yang tahu Jeno!" Ujar Rey tersenyum sekilas sambil memandang jauh ke depan.
...*** ...
Di kediaman Reza....
“Papa bisa minta waktu sebentar nak?” tanya Reza yang menghampiri Ivan yang tengah berkutat dengan laptopnya di ruang belajar.
“Oh. Bisa Pa!” ujar Ivan yang bangkit dari kursinya seraya menuju sofa di kamarnya yang sudah Reza duduki. Ivan memang sudah terbiasa memanggil Reza dengan sebutan seperti Sena memanggil Reza. Karena bagaimana pun Ivan sudah menjadi anak angkat dari keluarganya.
__ADS_1
“Gimana di kantor? Banyak kerjaan ya?” tanya Reza. Karena Ivan memang sudah bekerja di perusahaan milik keluarga. Tapi ia bekerja mulai dari karyawan, karena Ivan sendiri yang menginginkan hal itu dikarenaka ia juga belum punya pengalaman.
“Ivan bisa menyesuaikan diri kok Pa. Menyenangkan juga!” ucap Ivan dengan senyum hangat.
“Baiklah. Jangan terlalu lelah dalam bekerja. Kamu masih muda, nikamati saja dulu masamu. Papa gak akan paksa kamu harus bekerja dengan keras. Lagian umurmu sekarang belum waktunya untuk bekerja,” ujar Reza tersenyum hangat menatapnya.
“Jangan pernah merasa sungkan. Kita sudah jadi keluarga. Kamu bahkan suda menjadi adik yang baik untuk Sena maupun Rey. Jika kamu masih mau melanjutkan kuliah juga gapapa. Semua pilihan ada di tangan kamu.
“Pa! Ivan ada di kelurga ini aja udah syukur banget. Jadi aku akan melakukannya dengan baik. Lagian Ivan juga udah gak mau kuliah lagi, biar bantu Bang Rey aja,” ujar Ivan meyakinkan diri.
“Jika kamu berubah pikiran beritahu Papa. Kamu masih muda dan punya banyak waktu nak!" Ujar Reza tersenyum hangat dan mengacak pelan rambut anaknya.
"Pa!"
"Hm?"
"Apa ada yang mau Papa bicarakan?"
"Mengapa?" Reza mengerutkan dahinya.
"Ivan boleh bertanya?"
"Heheh, mau nanya apa? Kamu ada masalah?"
"Soal kak Sena! Ivan kangen banget!" Ivan menjeda ucapannya sambil menatap ragu ke arah Reza.
"Jika kamu bertanya keberadaannya. Maaf. Papa gak berhak untuk itu. Tapi, boleh Papa minta satu hal?" Reza menatapnya lekat.
"Apa Pa?"
"Untuk tidak mencarinya. Papa cuma minta Sea diberi waktu sebanyak mungkin untuk merenung dan menjalani hidup dengan pilihannya. Bukannya Papa larang. Tapi, sejauh ini Papa udah memikirkannya matang-matang. Dia terlalu lelah dengan keadaan jadi biarkan ia sedikit menikmati waktunya dengan baik. Jika boleh, biarkan ia kembali dengan sendirinya tanpa ada yang memintanya kembali. Atau biarkan ia kembali saat sadar sudah waktunya ia kembali dari mainnya yang jauh.
Bukankah, dengan baik-baiknya dia sudah cukup untuk kita?
jadi, mari menghabiskan waktu dengan menunggu sambil merubah beberapa hal!" Reza tersenyum penuh arti.
"Pa!"
"Papa ngerti. Kali ini saja ya! Dia baik-baik saja. Mari kita percaya itu! Hm?"
"Baiklah. Semoga dia baik-baik saja disana!" Ujar Ivan mengalah juga pada akhirnya.
__ADS_1