Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Pertemuan:)


__ADS_3

**Hai.....


Hello.....


Annyeong..... πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Uhhhh..... Baru Nongol nih,,πŸ€—πŸ€­


Maafkan akuπŸ™πŸ€—πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Kesibukan ini selalu mengikatku hingga tak bisa mengelak. hehehπŸ˜€


Sebagai Bonusnya kali ini double up deh 😘


Pasti udah banyak yang ngerasa digantung yaπŸ€—πŸ€—


Sekali lagi maafquenn 😘🌹


Happy Reading β˜•β˜•**


.


.


.


.


^^^London, Maret 2022^^^


...°°‒‒°°...

__ADS_1


...β˜•...


"Hidup ini seperti buku. Beberapa bab sedih, beberapa bahagia dan beberapa lainnya menarik. Tetapi jika kita tidak pernah membalik halaman kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di bab selanjutnya" _putripakaya.


Kenapa kita terus bertanya apa tujuan kita hidup? Mengapa kita hidup dan bagaimana kita harus hidup?


Seringkali kita mengingkari pada kenyataan hidup yang sebenarnya. Tidak banyak yang perlu kita lakukan cukup kita hidup dengan bahagia. Namun, akan seperti apakah kita untuk hidup bisa seperti yang kita mau?


Orang bilang, 'namanya kehidupan itu, tidak akan pernah tahu arahnya kemana. Walaupun kita tahu yang akan kita tuju kemana. Kadang-kadang orang punya tujuan, tapi bagaimana cara mencapai tujuan tidak semua orang tahu. Bahkan ketika kita tahu bagaimana mana cara mencapai tujuan pun bukan jaminan bahwa kita bisa mencapai tujuan itu. Jadi, kita harus siap dengan segala kemungkinan dan pada intinya kita bisa mengambil hikmah darinya'._kang Maman.


Seperti itulah hidup yang sebenarnya.


Sama halnya, di antara keduanya. Mereka sudah banyak melalui segalanya, kebencian yang meluap, kemarahan, kesalah pahaman dan kemudian kekecewaan. Yang pada akhirnya mereka harus berdamai dengan diri mereka sendiri dan masa lalu.


Adakalanya kesempatan kedua diberikan kepada beberapa orang untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruannya di masa lalu. Dan adakalanya kita mengesampingkan ego dalam beberapa keadaan. Sama seperti Jeno yaitu dengan wajah ceria. Seperti ada semangat baru dari kesempatan kedua kali ini. Ia akan memperbaiki semuanya.


Tiba di kota ini, tentunya bukan hal biasa lagi bagi orang seperti Jeno yang sudah sering berpergian ke berbagai negara. Bedanya kali ini bukan lagi urusan bisnis ia kesini tapi ini tentang masa depan katanya.


Dengan wajah sumringah ia turun dari pesawat dan berjalan semangat menuju ruang pemeriksaan untuk memperlihatkan tiket beserta paspornya. Jangan heran orang yang menggeluti dunia bisnis sepertinya sudah pasti akan memiliki berkas seperti itu jika akan bepergian.


Sementara di pintu keluar bandara sudah ada Sena yang berdiri dengan pakaian santainya. Celana jeans biru dengan kaos hitam kebesaran yang disisip dalam dan sneaker putih pada tentunya. Rambut sebahu yang hitam sedikit merah. Tubuh kurus dan ramping dan senyuman yang tersembunyi di balik maskernya. Ia sudah berdiri beberapa menit yang lalu disana, bahkan ia sudah tidak lagi duduk di kursi tunggu melainkan berdiri dan bersandar pada tiang depan pintu keluar.


Serindu itu dia akan sosok yang datang dan sedang ia tunggui sekarang.


Dari balik kaca ia bisa melihat dengan jelas sosok Jeno yang fokus pada ponselnya sambil menggeret koper kecilnya di tangan kanannya. Jangan lupakan ada beberapa cewek yang memandang pesona padanya di sepanjang ia berjalan. Ia bahkan tidak perduli akan hal tersebut.


Sena memang sengaja tidak memberitahunya jika ia akan ke Bandara untuk menjemputnya, mungkin karena itulah ia tidak sibuk mencari sosok yang sudah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.


Hingga sampai saat ia mengendarakan pandangan di depan ia terlihat kaget dari kejauhan.


"Heheh, liat bahkan muka cengonya membuatku ngakak," gumam Sena terkekeh melihat muka Jeno dari sedikit kejauhan.

__ADS_1


Jeno yang melihatnya pun mempercepat langkahnya sampai berlari mendekat dengan kedua tangan Sena yang di rentangkan untuk siap memeluknya di depan sana.


Jeno berseri dalam langkahnya dengan cepat ia meraih tubuh kecil tersebut.


Grep


Memeluknya erat dan mengangkat tubuh kecil tersebut dengan masih memeluknya erat. Ia merasakan desiran darahnya menghangat di sekujur tubuhnya.


"See,,,,, ini kamu kan? Gw kangen banget!" Gumamnya dengan pelukan yang tambah erat pada tubuh kecil Sena. "Kenapa kamu sekurus ini? Apa kamu tidak makan dengan baik? Kamu tidak tidur dengan baik? Hm?" Jeno meruntut pertanyaannya dalam dekapan hangat mereka.


"Hm,, jangan banyak omong! Tenangkan dirimu sejenak, aku baik-baik saja. Kenapa kau tak menghiraukan gadis-gadis di dalam sana yang tengah menatap mu ria?" Ujar Sena yg masih dalam dekapan hangat Jeno. "Seharusnya kau harus lebih menebar pesona lagi pada bule di sini. Tidak kah kau lihat mereka begitu cantik dengan tubuh putih dan tinggi mereka hm?" Goda Sena terkekeh dengan Jeno yang makin erat memeluknya.


"Aku tak ingin siapapun. Aku hanya butuh kamu! Aku cuma butuh kamu! Jadi, tetap begini saja dulu untuk beberapa menit. Aku masih belum mau melepasmu sekarang." Ujar Jeno dengan suara pelan dan dalam.


"Hm. Baiklah, aku akan diam.!" Sena mengelus dan menepuk pelan punggung Jeno yang masih nyaman memeluknya.


"Sena! apa kamu pernah dengar kata ini?, 'manusia itu suka meninggalkan tapi takut kehilangan'." Ujar Jeno yang serius dalam ucapannya.


"Hooh."


"Itulah aku. Aku terlalu egois untuk hidup sampai lupa aku cuma seorang dari banyaknya orang. Saat aku memilih meninggalkan mu aku seperti merasa kepuasan sendiri. Namun, saat kau memilih pergi akulah yang paling takut kehilangan. Sampai-sampai aku menghabiskan hidup beberapa tahun ini dengan banyak ketakutan yang kalau-kalau kau akan meninggalkan aku dan tak mau kembali lagi." Jeno menjeda ucapannya.


"Ku kira aku terlalu naif dengan perasaan yang aku punya," ujar Jeno melemah. "Pasti kamu sangat kecewa waktu itu. Bahkan di pertemuan kita pada malam hari pun aku ga sadar sama sekali kalo itu adalah pertemuan terakhir kita untuk waktu yang begitu lama. Kamu mainnya terlalu jauh dan lama ke sini. Aku bahkan hampir mirip seperti mayat hidup yang berkeliaran tanpa tujuan," Jeno mengusap bahu Sena pelan dalam dekapannya.


"Gapapa. Bukankah kau sudah berusaha berdamai dengan semuanya lalu kesini? Asal kamu tahu, kamu bukan naif tapi lebih tepatnya kamu bingung dengan apa yang kamu rasakan dan miliki waktu itu." Jawab Sena tenang.


Begitu saja pertemuan mereka setelah banyak waktu terlewatkan sampai hari ini.


Memang benar antara perpisahan dan pertemuan hanya berbeda tipis artinya. Kita hanya cukup memilah rasa dan cara yang bagaimana yang perlu kita lakukan untuk menanggapi kedua momentum tersebut.


Mereka pada akhirnya saling membutuhkan juga setelah ego mereka berlalu. "Aku kangen banget!"gumam Jeno setelah melepaskan pelukan mereka sambil menatap wajah Sena dengan berseri.

__ADS_1


"Gue juga kangen lo!" Jawa Sena. "Eh! Udah bagus tadi aku-kamu. Jangan gue-lo lagi dong, ya ya!" Ujar Jeno tak terima seraya membujuk.


"Terserah deh. Ayok pulang!" ajak Sena semangat. "Berasa diajak pulang ke rumah sama istri ya!" gurau Jeno terkekeh. Yang bersamaan dengan itu mereka pulang ke apartemen Sena yang tidak terlalu jauh dari bandara tersebut.


__ADS_2