Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Memilih mundur


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


'' sayang, aku mau ke rumah Han ?'' ujar Nana saat Bian baru saja keluar dari kamar mandi.


Bian menghentikan langkahnya, menatap istri cantiknya sambil menghempaskan nafasnya dengan kasar .


Padahal semalam ia merasa sudah cukup membahas tentang Han.


Tapi pagi-pagi Nana sudah kembali menyinggung hal itu lagi.


'' mau ngapain kesana ? '' tatapannya jelas menyiratkan ketidak sukaan pada Nana yang tengah berjalan kearahnya .


'' cuma berkunjung biasa, aja . Uda lama juga aku gak ketemu ibunya. Ya, semacam silahturahmi gitu lah. Sekali ngenalin anak kita ''


'' harus, ya ? Terus kalau kalian pergi, aku gimana ? ''


'' em.... ''


'' ... ''


'' kamu ikut aja gimana ? Mau, gak ? Em ? ''


Bian menggeleng saat Nana berhenti tepat di hadapannya. Nana menaikan wajahnya, menatap Bian dan tersenyum lembut .


Syukurlah dia gak mau ikut. Nana semakin melebarkan senyum sambil mengangkat tangan dan meletakannya di dada telanjang sang suami. Lalu jemarinya mulai bermain dipermukaan kulit itu .


'' aku janji gak akan lama ''


Bian memalingkan wajahnya.


Dilihatnya Dion duduk berhadapan dengan sarapan yang baru saja diantar masuk ke kamar .


'' kalau Dion ikut mama pergi, trus papa sendiri ,dong ? '' Bian menatap putranya dengan wajah memelas.


'' papa itut aja '' ucap Dion disela-sela kesibukan mulutnya mengunyah makanan.


Bian menggeleng dengan memasang tampang pasrah. Ia lalu berjalan menuju ranjang untuk mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Nana di atas tempat tidur.


Nana menyusul .


Sempat di liriknya Dion yang terlihat menikmati sarapannya .


Aman. Batinnya .


'' sayang '' Nana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bian.


Pria itu menunduk, sedikit membungkuk seraya ikut melingkarkan tangannya di pinggang Nana .


'' bole, ya ? '' ucap Nana bernada manja.


Bian menatapnya lekat , lalu lebih mendekat lagi untuk mempertemukan bibir mereka.


Nana menyambutnya dan bibir mereka pun mulai saling bertautan. Sementara tangan yang tadinya berada di pinggang, kini merosot turun ke bongkahan bokong sang istri dan meremasnya.


'' padahal aku berencana menitipkan Dion ke kak Cecil. Biar bisa seharian puas sama kamu '' bisiknya di telinga kanan Nana lalu menyeret turun indra pengecapknya ke leher .


Nana menggeliat geli.


Namun tiba-tiba saja ia mendorong tubuh Bian.


Bian yang tak siap hampir saja terjungkal .


Dilihatnya Nana dengan mata melebar menatap ke arah antar mulut ruangan. Ia pun reflex membelalakkan mata .


Entah sejak kapan Dion berdiri disitu.


Dion diam tanpa ekspresi.Sepertinya melihat apa yang tadi mereka lakukan.


- -


Akhirnya setelah Nana terus - terusan memelas agar diperbolehkan ke rumah Han, dengan berat hati Bian pun mengijinkannya pergi.


'' makasi, sayang '' pamit Nana dengan senyum sumringah.


Ia terlihat begitu senang. Sementara Bian justru kebalikannya.


Diantar oleh pak Tole, Nana dan Dion pun pergi meninggalkan Bian seorang diri.


* * *


Di rumah yang sedang di tuju Nana.


Nampak Han yang sedang bersiap akan pergi.


Ia yang sudah memanaskan kendaraannya, menatap heran pada mobil tak asing yang berhenti di depan rumahnya.


Nana dan Dion keluar dari dalamnya.


'' kok ? Tumben ke sini ? '' Han menyambut dengan kening mengkerut. Karena baru ini Nana menyambangi kediamannya.


'' gapapa. Aku kan belum pernah kesini. Sekalian pengen ketemu ibumu. Pengen silahturahmi ''


'' ibu lagi gak dirumah. Lagi dirumah Laras.


Biasa kangen cucu ''


Nana manggut-manggut. Kebetulan sekali. Berkunjung hanyalah dalihnya saja.


Karena tujuan sebenarnya datang ke rumah Han adalah untuk bertemu dan bicara pada sahabatnya ini.


Ada hal yang sejak semalam terus menghantui pikirannya dan ingin ia utarakan pada Han.


Han menawarkan Nana masuk. Namun Nana menolak dengan alasannya tak nyaman jika hanya ada mereka berdua saja didalam.


Han yang mengerti ,kemudian mengajaknya duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah.


'' sepertinya waktu kedatangan ku kurang tepat.


Ibumu gak ada. Dan kamu juga kayanya mau pergi ,ya ? ''


Han mengangguk membenarkan. Karena Nana sudah mengetahui tentangnya dan Cecilia maka ia pun tak ragu menceritakan jika semalam seharusnya, ia dan Cecilia melakukan kencan perdana mereka.


Namun karena hujan, maka hal tersebut tak jadi terlaksana.


Dan sebagai gantinya ia akan mengajak kakak perempuan Bian itu pergi hari ini .


'' Han , kamu sama kak Cecili uda jadian ? ''


Han bergeming . Nana menghela nafas .


'' jadi, dia belum kasi kamu jawaban ?'' Nana menaikan volume suaranya. Entah mengapa ia kesal karena Cecilia terkesan memberi harapan palsu pada Han.


Han mengerutkan kening. Heran sekaligus tak mengerti apa maksud pertanyaan Nana .


Nana menghela nafas lagi. Kali ini lebih panjang .


'' kalau begitu, jangan pergi menemuinya lagi '' ucap Nana semakin terlihat serius .


'' ... ''


'' apa kamu uda cerita ke dia kalau dulu kamu suka sama aku ? ''


'' ... '' raut wajahnya seketika berubah datar.


Nana menggeleng mendapati ekspresi Han yang demikian. Miris. Mengapa pria sebaik Han harus diperlakukan tidak adil oleh takdir.


Apakah dia tak berhak merasakan kebahagiaan bersama wanita yang dicintainya?

__ADS_1


Diam beberapa saat. Nana tengah berpikir, harus mulai darimana, harus bagaimana menjelaskan pada Han agar pria ini mau mengerti apa yang akan ia sampaikan ini.


'' Han . Apa kamu tau kenapa dia masih belum memberimu jawaban padahal dia uda ngaku kalau dia juga punya perasaan yang sama denganmu ? ''


'' memangnya kenapa ? Bukannya itu uda cukup untuk dianggap kalau kami sedang memulai suatu hubungan ?


Jadi, apa masih perlu jawaban lagi ? ''


'' ck ' kamu ini benar-benar ya ?


Itu artinya dia ragu Han.


Dia belum percaya sama perasaanmu ''


'' kalau gitu bukanya aku harus berusaha membuatnya percaya agar dia tak lagi ragu padaku ? ''


'' dengan cara apa ? Memaksanya memberi jawaban ?


Atau mengejar-ngejarnya kaya orang bego ? ''


'' jika memang harus, maka akan kulakukan supaya dia bisa percaya kalau perasaan ku padanya benar-benar tulus ''


'' ck. ck. ck '' Nana menggeleng tak percaya. Han benar-benar sudah tergila-gila pada Cecilia.


Tapi kenapa harus kakak iparnya ? !! Nana berteriak dalam hati.


Nana menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia harus tenang.


'' Han, kukatakan ini karena aku perduli padamu.


...


Cecilia tau kalau kamu bukan sekedar sahabatku, tapi juga pernah suka, bahkan mengajakku menikah.


Kurasa karena itu dia ragu untuk menerimamu meski pada kenyataannya dia juga suka sama kamu ''


'' apa Bian yang memberitahunya ? ''


Nana mengangguk.


" kau pernah bilang , kau merasa memiliki banyak kesamaan dalam beberapa hal dengan Bian.


Jadi kurasa, kau pasti tau. Seperti apa Bian pada wanita yang ada di keluarganya kan ? "


" ... "


" ini tak akan mudah bagimu, Han.


Sama seperti Cecilia, Bian pun tak percaya jika perasaan mu benar-benar tulus pada kakaknya.


Dia yakin , alasan kenapa kau membantu dan sangat perduli padaku adalah karena kau masih menyimpan rasa padaku "


Han mengangguk.


Sejak awal pun ia merasa pasti ada sesuatu mengapa Bian mau berteman bahkan menjadikannya orang kepercayaan di DSL.


Dan sepertinya ia hanya dimanfaatkan saja. Agar Bian bisa terus memantau dan tau kabar Nana waktu itu.


Han tak menyalahkan Bian . Jika ia berada diposisi pria itupun, ia pasti akan melakukan hal yang sama.


Han lalu mengeluarkan ponselnya.


Nana yang memperhatikan langsung menahannya, tepat disaat ia akan melakukan panggilan pada Cecilia.


Han menatap penuh tanya. Dan dibalas Nana dengan menggeleng perlahan.


" aku tak akan minta kau percaya pada apa yang akan ku katakan ini.


Karena aku sendiri pun tak yakin apa cara ku ini akan berhasil atau tidak.


Tapi setidaknya pertimbangkanlah dulu "


Nana terlihat begitu meyakinkan. Membuat Hanya mengurung kan niatnya menghubungi Cecilia. Ia lalu mengunci dan mengembalikan ponselnya ketempat semula. Kemudian ia pun menyatakan siap untuk menyimak dan mendengarkan.


* * *


Katanya kita disuruh di tempat Nona Cecil . Mister uda duluan ke sana " ucap Pak Tole menyampaikan persis seperti pesan yang baru suami majikannya itu kirim lima menit lalu.


" ya, uda pak kalau gitu "


Mobil pun dipacu ke tempat tujuan.


Sesampainya di sana, Nana melihat Cecilia yang nampak rapi seperti akan pergi.


Nana menatap kasihan. Karena ia tau, Cecilia berpenampilan seperti itu pasti karena ia bersiap untuk kencan dengan Han.


Namun sayangnya tak jadi.


Lihat saja raut wajahnya yang tumpang tindih menahan kecewa sambil berusaha terlihat seperti biasa.


Nana bertambah prihatin pada hubungan mereka.


" akhu mahu ajak Dhion jhalan-jhalan, bole " pintanya pada Nana.


Wanita yang terlihat cantik dengan stelan jeans hitam dan kemeja tanpa lengan berwarna marun itu lalu membungkuk dan berbicara pada Dion.


Setelah membujuk , Dion akhirnya mau pergi berdua dengannya. Dan untuk berjaga-jaga. Pak Tole pun ikut untuk mengantar dan menemani mereka.


Tinggallah Nana dan Bian diruangan yang bukan hanya terdapat ruang tamu , kamar tidur dan kamar mandi saja . Tapi dilengkapi dengan dapur dan juga ruang menjemur.


Nana melepas selopnya dan naik ke sofa kemudian berbaring.


' bruk ' Bian menjatuhkan duduk di sisi kepala Nana.


Nana menaikan posisinya hingga kepalanya berada dipangkuan sang suami.


'' gimana kabar ibunya ? '' tanya Bian sambil membelai rambut Nana.


'' ibunya sedang dirumah Laras ''


'' jadi tadi cuma berduaan saja sama Han ? ''


'' kan ada Dion.


Ada pak Tole juga nungguin dimobil.


Lagian aku juga gak masuk kerumahnya, kok.


Kami ngobrol diteras ''.


'' ngobrolin apa ? ''


''... ''


'' sayang ''


'' Han bilang gak akan memaksa jika memang kalian meragukannya.


Jadi dia akan mundur dan gak akan menganggu kak Cecil lagi ''


'' benarkah ? Kenapa tiba-tiba ?


Apa kak Cecil menolaknya ? ''


'' bukan. Tapi aku yang minta dia untuk menyerah sebelum perasannya pada kak Cecil semakin dalam ''


'' dia menurut begitu saja padamu ? Sepertinya dia memang masih ada rasa padamu ''


Nana bangkit dari baringnya. Lalu menatap Bian .

__ADS_1


'' aku gak tau lagi harus bagaimana menyakinkan mu dan kak Cecil jika Han benar-benar sudah gak ada rasa sama aku.


Han pun sama.


Meski berbuih mulutnya bicara, itu semua akan sia-sia jika kalian tetap saja menolak untuk percaya padanya.


Jadi ku sarankan dia untuk mundur sebelum terluka lebih dari ini.


Han itu laki-laki baik. Dia pantas untuk bahagia.


Jadi aku yakinkan dia. Jika dia pasti bisa melupakan kak Cecil dan menemukan seseorang yang tak akan meragukannya dari segi apapun .


Terutama soal hati ''


Bian terdiam.


Yang Nana katakan memang benar.


Jika saja yang Han dulu sukai bukan istrinya, tentu ia tak akan keberatan kakaknya menjalin hubungan dengan Han.


* * *


Diwaktu yang bersamaan namun ditempat yang berbeda.


Dua sejoli sedang dilanda dilema.


Keduanya sama-sama gelisah sebab perasan yang tak menentu.


Han karena ia membatalkan janji untuk menemui sang pujaan hati. Sedangkan Cecilia karena Han tiba-tiba membatalkan janji .


Meski awalnya ia ragu, namun tak bisa ia pungkiri jika ia senang saat Han mengajaknya keluar untuk berkencan.


* maaf, Cecil. Kurasa rencana kita hari ini harus batal *


Pesan Han beberapa saat lalu. Cecilia jelas kecewa.


Apalagi Han membatalkan janji tanpa disertai alasan.


Dan hingga kini , Han tak lagi mengiriminya pesan.


Padahal ia sudah sangat berharap dan bersiap sedari pagi dengan memoles penampilannya sebaik mungkin.


Karena itu ia mengajak Dion keluar. Berharap dengan bermain bersama sang ponakan dapat sedikit menghibur suasana hatinya yang kusut.


Tak terasa sudah dua jam Cecilia dan Dion berada di taman bermain . Dion yang memang tak bisa berlama-lama jauh dari sang mama lantas minta pulang.


Cecilia tak berdaya. Maka ia pun menurutinya.


Mereka pulang setelah makan siang terlebih dahulu.


Hingga malam menjelang . Tak kunjung ada kabar dari Han.


Cecilia merasa hatinya berdenyut nyeri setiap kali ia mengecek ponselnya untuk memastikan apakah ada pesan masuk yang mungkin ia lewatkan atau tak terdengar suara notifnya.


Namun itu hanya lah harapannya saja.


Jangan kan datang seperti janjinya yang mengajaknya keluar kencan. Han juga tak menelpon sama sekali. Bahkan mengiriminya pesan pun tidak.


Cecilia benar-benar sukses dibuat frustasi.


Rasanya ia ingin marah. Tak terima Han memperlakukannya seperti ini setelah menyatakan cinta padanya.


Malam semakin larut. Cecilia masih dilanda dilema tentang Han yang tak jua menghubunginya.


Cecilia merasa hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang.


* * *


Senin pagi.


Bian yang akan ikut menyambut kedatangan penghuni DSL yang baru, terlihat sudah berada didepan pintu selamat datang.


Nampak pula Cecilia yang berdiri di sampingnya.


Namun Han yang seharusnya ada, justru tak terlihat .


Hingga acara ramah tamah selesai dengan jamuan makan siang, Han tak jua terlihat batang hidungnya.


Cecilia dan Bian mulai bertanya-tanya . Kemana perginya pria itu. Kenapa tak datang bekerja ?


Apa ada sesuatu yang terjadi di keluarganya ? Jika, iya. Kenapa tak mengabari ?


Ditelpon tak diangkat. Dikirimi pesan , jangankan dibalas, dibaca saja tidak.


Hingga setelah semuanya selesai, keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kurir yang mengantarkan sebuah amplop berisi surat pengunduran diri dari Han.


Dua saudara kandung sontak terkejut.


Mereka pun bergegas meninggalkan DSL dan pergi ke hotel untuk menemui Nana.


'' aku ? Kenapa aku ? '' tanya Nana saat Bian memintanya untuk menelpon sang sahabat.


'' siapa tau jika kau yang menelpon dia mau mengangkatnya ''


Nana menghela Nafas.


Ia raih ponsel yang tergeletak di atas meja dan langsung melakukan panggilan pada Han.


' nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan - ' suara operator menjawab.


Diam beberapa saat.


'' kenapa ? '' Nana menatap dua orang yang nampak linglung.


Dua orang yang ada di hadapannya bergeming karena tengah bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


'' gak papa kan kalau dia berhenti kerja ? ''


...


'' aku tak masalah jika dia memang mau berhenti.


Tapi seharusnya dia datang dan mengatakannya langsung . Bukan pergi tiba-tiba kaya gini '' jelas Bian .


Nana mengangguk.Ia tau apa yang dipikiran sang suami.


Bian pasti merasa lega sebab Han kini tak akan lagi mendekati kakaknya. Tapi disisi lain , rasa bersalah pasti juga akan menyeruak dan memenuhi hatinya.


Ia tau seperti apa Bian. Hatinya terlalu lembut dan tak pernah sanggup untuk membenci seseorang.


Apalagi orang tersebut tak pernah menyakiti dan justru sudah melakukan banyak hal baik untuknya.


'' Han gak mau datang. Karena dia gak bisa bertemu kak Cecil.


Di takut niatnya untuk mundur nanti goyah lagi jika melihat kak Cecil ''


Cecilia membeku.


Ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. kosong. Hati dan dan pikirannya tiba-tiba terasa kosong. Tak ada apapun yang tersisa kecuali sebuah nama. Han.


'' dia merasa sudah salah menempatkan hati dengan jatuh cinta pada kak Cecil.


Dan dia sadar, jika tak akan mudah meyakinkan kalian .


Bahkan sebelum dia mencoba meyakinkan pun kalian sudah menunjukkan sikap menolak untuk mempercayainya.


Karena itu dia memilih mengundurkan diri.


Cukup dia saja yang terluka.

__ADS_1


Dia hanya berharap, mungkin dengan pergi dan memutuskan semua hal yang berhubungan denganku, dia bisa menemukan kebahagiaannya. Tanpa perlu takut dibayang-bayangi masa lalu.


Dengan begitu tak akan ada yang sanksi akan perasannya dan ragu untuk menerimanya "


__ADS_2