
✨✨✨
Di kampus....
"Lo kemana aja sih dari kemarin di cariin juga?" tanya Andre kepada sahabatnya.
"Kemarin gue lagi ada masalah sedikit, jadi gak bisa gabung buat nugas!" jawab Ivan dengan rasa bersalah.
"Masalah orang tua Lo lagi?" tanya Andre.
"Ya, lo tau banget kan!" seru Ivan murung.
"Sampai kapan sih orang tua lo kembali baik lagi?" tanya Andre.
"Gue rasa, mereka emang gak akan pernah bisa untuk kembali baik!" Ivan
"Kenapa lo segitu yakinnya? Gak ada jalan keluarnya apa?" tanya Andre.
"Entahlah. Gimana tugas kelompoknya?" Ivan.
"Tenang kita udah kerja kemarin," jawab Andre.
"Bagus deh, ya udah materi bagian gue mana, biar gue pelajari dulu!" Ivan.
"Oh iya, sampai lupa gue, nih" ucap Andre sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah di print.
"Oke, gue belajar dulu ya. Lo duluan aja sana nanti gue susul," ucap Ivan
"Emang lo mau belajarnya di mana?" tanya Andre.
"Gue belajarnya di taman kampus ajalah, disini terlalu ramai," jawab Ivan.
" Ya udah sana. Jangan sampai telat masuk kelas Lo!" Andre.
"Kalau udah masuk telfon gue ya, "jawab Ivan sambil berlalu pergi menuju tempat yang sepi.
Sementara itu....
"Selamat pagi kak Rey," sapa salah satu mahasiswi cantik, mereka memang banyak yang tergila-gila dengan sosok Rey yang terkenal dingin dengan tampangnya datarnya setiap hari.
Dari sapaan tersebut ia hanya cukup meliriknya saja, lalu kemudian berjalan seakan tidak perduli.
Banyak dari mahasiswi kampus yang bukan hanya fakultas bisnis saja, yang cukup kenal Rey karena tergolong mahasiswa yang cukup tampan.
Namun, dari banyaknya mereka tidak satu pun yang berani mendekati Rey, dikarenakan dia tidak pernah berbicara kepada siapapun selain teman-temannya. Ia di juluki cowok kutub bermuka datar.
Tapi biar begitu banyak sekali pengagum rahasianya yang sering kali mengiriminya bunga tiap hari. Itu cukup membuatnya muak. Tidak ada satupun yang ia respon.
"Kak Rey ganteng banget ya!" ucap salah satu mahasiswi.
__ADS_1
"Tapi sayang, orangnya gak peka," ucap yang lainnya.
"Mukanya aja udah datar gitu, mana ada mau peka sama lo!" jawab yang seorang.
"Ah,, sudahlah. Pokoknya kak Rey idaman gue banget," seru yang lainnya.
Rey yang bosan dengan bisikan cewek cabe di sekelilingnya itu, mempercepat langkahnya menuju ke salah satu ruangan. Ia cukup bosan dengan semuanya ini, bahkan ia tidak tertarik sekali pun. Sifatnya yang cuek membuat banyak cewek tambah tergila-gila padanya.
"Sena ada?" tanya Rey dengan muka datarnya ketika berpapasan dengan Selly, ia memang sengaja mampir di lantai 4 untuk kelas junior tersebut hanya untuk bertemu Sena.
"B_belum ada kak!" jawab Selly gagap di tanya oleh manusia di depannya sekarang.
Setelah mendengar jawaban dari sahabat Sena , ia pun melangkah pergi menuju lift tanpa mengucapkan satu katapun pada Selly yang sudah di tanyai.
"Dasar manusia kutub! Gak ada rasa terimakasih banget, gak aneh sih tapi kalau ke Sena malah sifatnya kebalik 180 derajat banget anjay. Heran gue!" ucap Selly melihat lelaki itu berlalu begitu saja.
"Sama kek manusia gak ada gairah hidup aja. Udah gak bersosial sombong pula, plusnya di ganteng doang. Walaupun hampir semua mahasiswi terkagum sih," tambah Selly.
"Woii. Kenapa Lo pagi-pagi udah sumpah serapah aja?" teriak Bayu dari belakang.
"Ini juga manusia satunya, masih pagi udah teriak kek di hutan!" Selly.
"Heheh, ya habisnya lo bicara sendiri kek orang gila!" jawab Bayu.
"Gue lagi ceramah sama manusia gak pandai bersosial," ucap Selly kesal.
"Gak boleh menghakimi orang lain, dosa lo!" Bayu.
"Biasa, nyari gebetan dulu, sekalian tebar pesona sama ciwi-ciwi disini. Kek lo gak tahu dia aja!" jawab Bayu santai.
"Dasar tu manusia, gak di Sena di cabe-cabean pun tancap dianya," uca Selly.
"Eh, jangan salah. Selama gue sahabat sama si badak upil satu itu, gak pernah tuh ku lihat dia sama cewek cabe-cabean. Yang ada sama senior cantik di gait gak sampai jadian sih, cuma di gantung anak orang," ucap Bayu panjang lebar.
"Tau ah, masuk yuk. malas gue disini," ucap Selly.
Sementara di tempat lain...
"Aduh gue cari ke mana lagi sih? perasaan kemarin gue gak kemana-mana deh selain di taman," ucapnya.
"Apa jangan-jangan udah di lihat orang kali ya?" tambahnya.
"Aduh, gue harus bilang apa nanti ke papa, gak mungkin kan gue bilang gak tahu jatuhnya di mana. Arrrggghhh! bisa gila gue kalau sampai gak ketemu!" ucapnya frustasi sambil jongkok di sekeliling taman mencarinya.
Ia bahkan sudah dari pagi buta sampai ke kampus hanya untuk mencari kalungnya pemberian ayahnya, yang di yakini jatuh sekitaran taman tersebut. Ia juga tidak tidur semalaman hanya karena menunggu kapan paginya.
"Kakak cari ini?" tanya seseorang.
"Ya Tuhan, akhirnya ketemu. Makasih banget Lo! Gue hampir gila tau, udah ku cari ke mana-mana juga!" seru Sena tanpa memperhatikan siapa orang yang sudah berhasil menemukan kalungnya itu karena masih fokus melihat kalung tersebut.
__ADS_1
"Gue gak sengaja lihat kalung itu tersangkut di pot bunga samping kursi tadi!"ucap cowok tersebut.
"Lo, yang waktu itukan?" tanya Sena kaget ketika melihat cowok di hadapannya sekarang.
"Iya. Kakak udah lupa ya sama gue?" tanya cowok itu.
Sena berusaha untuk mengingat siapa cowok di depannya sekarang.
"Lo yang waktu itu nolongin gue yang hampir jatuh kan? Ya ampun gue juga sampai lupa buat traktir lo!!!" teriak Sena merasa bersalah karena sudah mengingkar janji.
"Gapapa kak, santai aja, gue juga ikhlas kok waktu itu!" jawabnya.
"Maaf banget ya! Gue benar-benar lupa, terus sekarang lo juga yang nemuin kalung gue
Nama lo..." gantung Sena sambil mengingat kembali.
"Ivan kak. Ivan! Jangan lupa lagi!" seru Ivan.
"Ivan! Oke gue akan ingat! Lo ngapain di taman pagi-pagi gini?" tanya Sena.
"Gue lagi belajar kak buat presentasi, kebetulan disini gak terlalu banyak orang jadi nyaman aja kalau belajar," jawab Ivan dengan senyum manisnya.
"Manis banget sih senyumnya!" ucap Sena sambil mengacak lembut rambut juniornya tersebut.
"Kak, nanti rambutku berantakan lho!" ucap Ivan sebal.
"Gak bakal. malah bikin gemas!" ucap Sena mengacak rambut Ivan lagi.
"Kakak!!" teriak Ivan sebal.
"Nanti setelah ngampus sibuk gak?" tanya Sena.
"Nggak!" jawab Ivan kembali tersenyum.
"Hmm, sebagai rasa terimakasih dan maaf karena ingkar janji. Kakak mau ngajak lo jalan nanti ku traktir sepuasnya dah!" ucap Sena antusias.
"Wah, Daebak! seriusan kak?" tanya Ivan tak percaya.
"Duarius gue, mau sekalian nonton juga boleh!" ucap Sena tersenyum.
"Oke kak, siap! Nanti kakak chat Ivan aja, jalannya jam berapa!" seru Ivan senang.
"Tapi kakak gak ada nomor ponsel mu!" ucap Sena.
"Siniin hp kakak biar Ivan save nomornya!" ucap Ivan antusias.
"Nih!" ucap Sena memberikan ponselnya kemudian mengacak-ngacak rambut cowok imut di depannya, seperti hobbi barunya sekarang.
"Udah ku save kak!" ucap Ivan mengembalikan ponselnya.
__ADS_1
"Udah ya, kakak ke kelas dulu!" ucap Sena tersenyum melambai tangannya.
Tanpa di sadari ada dua orang dari tempat berbeda yang memperhatikan mereka sejak tadi, dengan tatapan yang sama yaitu tidak suka melihat Sena begitu dekat dengan cowok tersebut.