Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Cara membujuknya


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


'' dasar pengkhianat '' cetus Nana seraya menjatuhkan bokongnya.


'' dasar tidak tau berterima kasih '' Han tak kalah cetusnya.


Ia lirik wanita yang kini telah mendudukkan diri di sampingnya.


Tak ada lagi getaran seperti dulu.


Itu berarti, perasannya pada Nana sudah benar-benar menguap.


Diam mengisi beberapa saat .


'' Han '' ucap Nana dengan pandangan lurus ke depan.


Entah melihat apa .


'' em ? '' sama. Han pun juga demikian.


'' menurutmu.. apa yang telah ku lakukan kemarin itu salah ? ''


Han terdengar menghela nafas.


'' kan waktu itu aku uda ngingetin kamu .


Bicara dulu sama suami mu . Dan cari jalan keluarnya sama-sama.


Tapi kamunya aja yang keras kepala dan tetap kekeh mau pergi ''


Nana memejamkan matanya kuat. Ia teringat akan kejadian yang Han perkataan barusan.


'' apa kamu juga mau bilang, kalau aku juga salah ? ''


'' gini, deh Na. Jangan selalu berpatokan dari sisimu saja.


Kamu mungkin merasa uda diperlakukan gak adil oleh mereka. Tapi gak seharusnya kamu menempatkan diri dengan menganggap kalau kamu lah yang paling menderita.


Coba kamu lihat dan pahami posisi suamimu. Menurutmu, bagaimana seharusnya Bian saat itu bersikap terhadap kalian ?


Apakah dia memang harus memilih salah satu dari kalian ? ''


'' ... ''


'' waktu aku pertama kali bertemu Bian, aku memang gak bisa langsung menilai dia orang yang seperti apa.


Tapi setelah kami sering bertemu , banyak ngobrol dan semakin akrab. Aku sekarang tau dan mengenalnya dengan cukup baik.


Jujur. Aku belum pernah melihat seseorang dengan pribadi yang begitu lembut dan sabar seperti dia.


Dan itu sama sekali tak terduga jika dilihat dari perawakannya.


Kukira dia pria maskulin yang cuek.


Tapi ternyata dia pria bertubuh besar yang sangat perduli dengan orang sekitarnya.


Apalagi pada wanita yang ada di kehidupannya.


Omanya, Ibunya, Cecilia kakaknya, lalu kau istrinya.


Dia memiliki cinta yang sama banyaknya untuk kalian semua.


Dan itu adalah sesuatu yang menurutku sangat luar biasa.


Mana ada orang yang masih bisa bersabar terhadap mereka yang telah membuat istrinya pergi meningalkannya ?


Dan lagi, suami mana yang sanggup menghadapi istri yang keras kepala seperti mu ?


Yang mampu menahan hingga hampir lima tahun diacuhkan .


Terlepas dari apapun kesalahannya, tapi itu tak lantas membenarkan keputusan mu.


Yang kamu lakukan itu sudah kelewatan .


Kurasa jika pria yang lain yang ada di posisinya, pasti sudah lama menyerah ''


'' ... ''


'' semua yang terjadi kemarin adalah kesalahan banyak orang yang terlibat didalamnya.


Bukan cuma karena dia, Oma atau Ibunya.


Kaupun sama turut andil penyebab hubungan kalian sekarang jadi seperti ini.


Apa sekarang kau sadar , kalau kau itu egois ? ''


Nana menunduk dan mengangguk.


'' Bian bilang dia nyerah hiks... hiks.. '' Nana terisak. Hatinya terasa diiris mengingat ucapan sang suami diujung pertengkaran mereka tadi.


Han tergelak. Membuat Nana seketika menegakkan kepala dan menatap sinis.


'' kenapa ngeliatin aku kaya gitu ? Gak terima ? ''


'' ... ''


'' kamu pasti taukan, itu artinya apa ?


Makanya berhenti bersikap semau hati pada suamimu.


Sejak kalian menikah, bahkan jauh sebelum itu , bukankah dia sudah melakukan banyak hal untukmu ?


Dan sekarang adalah giliranmu untuk melakukan hal yang sama.


Lakukanlah sesuatu kalau mau memperbaiki hubungan kalian ''


Tatapan Nana berubah sendu, sambil menghapus air matanya ia mengangguk.


Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah lagi.


Dahinya mengerut dengan alis yang hampir bertemu.


'' te-terus , aku harus gimana dong sekarang ? ''


'' mana kuu taauuuu.. '' Han mengangkat bahunya lalu menyadarkan duduk.


'' kan kamu istrinya.


Masa kamu gak tau apa yang suamimu sukai atau mungkin apa yang saat ini suamimu sedang inginkan ?


Atau kamu bisa tanya langsung sama orangnya.


Itupun kalau suamimu masih mau menanggapimu ''


'' Han ! " bentak Nana begitu nyaring.


Han terkekeh.


" ya, masa juga aku harus ngasi tau kamu harus ngapain buat bujukin suamimu "


" ... "


" iya, kaaannnnn... suamimu pasti sedang kesal sama kamu, kaaannnn" tawa Han pecah.


Entah mengapa ia merasa begitu tergelitik melihat ekspresi wajah Nana yang pias. Menunjukkan jika semua kata-kata dan tebakkannya benar.

__ADS_1


Nana mendengus kesal. Padahal ia butuh masukan. Tapi Han justru menjadikannya bahan ejekan.


Teman macam apa dia ? Nana memalingkan wajah, malas melihat wajah Han yang terlihat begitu senang disaat dirinya sedang dilanda dilema.


Tawa Han reda.


Pria itu kembali menegakkan tubuhnya dan mengubah air mukanya menjadi biasa.


'' berdamailah dengan keadaan, Nana.


Tanya pada dirimu sendiri.Apa yang sebenarnya hatimu inginkan '' ucap Han membuat Nana menoleh padanya.


Sesaat keduanya saling tatap.


Lewat sorot mata itu, Han seolah menyalurkan keyakinan.


''aku gak tau Han.


Aku hanya ngerasa gak nyaman sama keadaan.


Seperti ada yang kurang. Tapi aku gak tau apa.


Tadinya kupikir ,pulang dengan membawa Dion kemari, aku bisa memulai lagi.


Apalagi dengan keadaan yang tak lagi sama seperti dulu .


Bian juga sudah menyatakan cintanya dan permintaan maafnya, kukira aku akan lega.


Tapi rasanya justru hampa ''


Han menghela nafas dengan suara yang keluar dari mulutnya yang tertutup.


'' di situasi mu saat ini, yang kau butuhkan adalah suamimu, Nana.


Kau harus katakan itu padanya. Aku yakin dia pasti bisa membantumu mencari apa yang tengah mengganggu hati dan pikiranmu itu ''


'' tapi, gimana ? Bian kan lagi marah sama aku '' Nana berwajah murung. Ia teringat bagaimana datar dan dinginnya tatapan Bian tadi. Ekspresi yang untuk pertama kalinya pria itu tunjukkan padanya.


Han beranjak berdiri . Ia menunduk. Menatap Nana yang juga tengah menunduk sambil menautkan jemari.


'' kalau soal itu aku angkat tangan.


Jadi, kau pikirkan saja sendiri bagaimana cara membujuknya ''


Han mengambil langkah dan meninggalkan Nana yang termenung , memikirkan semua ucapannya.


* * *


Di waktu bersamaan.


Dion diajak ke sebuah tempat permainan anak-anak .


Bian terlihat turut masuk ,menemani sang anak untuk memperkenalkan dan menyuruh Dion mencoba berbagai permainan yang ada di wahana tersebut.


Namun Dion terlihat tak begitu tertarik.


Setiap mainan yang Bian sodorkan dan minta agar ia mencoba memainkannya, Dion hanya menyentuhnya saja. Bahkan ada yang hanya dilihatnya saja.


Dion pun terlihat selalu mengedarkan pandangannya.


Bian tau yang dicari putranya adalah Siti.


Dan ia juga tau,jika penyebab putranya tak semangat adalah karena tak ada Nana.


Sebab di perjalanan tadi, Dion terdengar berulang kali menanyakan sang mama pada Siti .


Alhasil, belum sampai 30 menit, mereka sudah keluar dari area bermain yang dipenuhi anak-anak itu.


Setelah meninggalkan tempat permainan tadi, mereka kemudian menuruni eskalator dan lanjut berjalan menuju restoran untuk istirahat sejenak seraya makan siang. Karena memang jam sudah menunjukkan jika ini waktunya untuk mengisi perut.


Bian tadi meminta agara Pak Tole menemani Siti dan Cecilia agar tak tersesat di tempat yang memang sama sekali tak mereka kenal .


Usai makan, mereka pun pun pergi .


Belum lama mobil dijalankan, Bian mengatakan pada pak Tole untuk singgah lebih dulu ke sebuah tempat.


Karena jaraknya tak begitu jauh, tak berselang lama mereka sudah sampai ditempat tujuan.


Didepan sebuah ruko tiga lantai yang berada deretan komplek pertokoan pusat kota, pak Tole memarkirkan kendaraan dengan rapi.


Sementara para majikannya turun dan sudah memasuki tempat yang menjual berbagai macam perabotan rumah tangga.


'' kamu mau beli apa ? '' tanya Cecilia dalam bahasa asing.


Bian hanya tersenyum tipis menanggapinya sambil terus melangkahkan kakinya mengelilingi ruangan yang berada di lantai dua. Dimana terpajang sofa dari berbagai merek dan macamnya.


Cecilia nampak begitu memperhatikan Bian yang sejak tadi terus menggendong Dion.


Ya. Setelah pertengkaran dengan Nana tadi. Bian pun diliputi rasa takut. Takut Nana kembali pergi meninggalkannya. Dan yang lebih ia takutkan lagi adalah memisahkannya Dion darinya lagi.


Karena itu, tak sekalipun ia biarkan kaki Dion menyentuh tanah. Sebab Bian ingin terus memeluknya . Pun Bian sama sekali tak marasa lelah menggendongnya.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, mereka semua pun akhirnya pulang kerumah.


- -


'' mamaaaa '' seru Dion yang begitu turun dari gendongan Bian, langsung melangkah cepat memasuki rumah.


Ia begitu tak sabar ingin segera bertemu Nana.


'' mama disini, sayang '' Nana muncul dari balik dinding mulut ruang makan.


Dion yang sudah hampir menaiki tangga pun tak jadi melangkah. Ia menoleh dan tersenyum lebar mendapati sosok yang tengah berjalan kearahnya.


Setengah berlari, Dion menghampiri Nana dan memeluknya.


'' kok uda pulang ? '' tanya Han yang baru saja keluar dari kamar yang ia tempati selama menginap dirumah itu.


Cecelia yang masuk dan jalan bersamaan dengan Sitipun menjelaskan , jika sang keponakan tak betah berlama-lama sebab kepikiran Nana.


Jadi mereka memutuskan pulang karena khawatir Dion akan menangis seperti tadi.


Nana nampak celingukan. Ia mencari satu orang lagi yang belum masuk .


Beberapa saat menunggu, suara pagar rumah dibuka terdengar yang kemudian disusul suara deru kendaraan memasuki halaman rumah.


' brak.tup.tak dhup ' suara pintu ditutup, barang diletakkan, dan tak lama kemudian terlihat empat orang laki-laki memasuki rumah . Mereka bekerja sama mengangkat sebuah sofa berukuran besar berwarna hitam.


Bian mengekor dibelakangnya sambil memberi arahan.


Telunjuknya mengarah ke atas.


Dan empat orang itupun perlahan menaikinya dengan hati-hati. Sebab tak mau sampai barang yang baru saja dibeli itu jatuh .


Mereka terus memperhatikan sampai para pria itu berhasil naik ke atas dan memasukan sofa tersebut kedalam kamar.


* * *


Malamnya.


Setelah makan malam mereka semua lalu lanjut bercengkrama di ruang tamu .


Siti dan Nana duduk di sofa dengan pandangan mengarah ke televisi. Sesekali mereka mengangkat cangkir keramik berisi teh dan juga mengambil potongan Brownies yang Siti buat sore tadi.


Sementara itu, Han dan Cecelia duduk dibawah beralaskan karpet warna warni . Keduanya nampak semakin akrab dengan menemani Dion bermain aneka mainan yang di hambur dilantai.


Hanya Bian yang tak ada diantara mereka.

__ADS_1


Nana tadi sempat mencari keberadaan sang suami yang menghilang tak lama setelah makan malam. Dan didapatinya Bian yang berada di teras rumah.


Sambil mengesap batang tembakau , Bian terlihat sedang menempelkan ponsel ditelinga kanannya.


Samar terdengar oleh Nana suara Bian yang beberapa kali menyebut ' mami ' .


Bian ternyata sedang berteleponan dengan Natasya.


Nana yang mengetahui itupun jadi semakin merasa bersalah.


Demi dirinya, Bian rela tak bertemu dan hanya bertukar kabar melalui sambungan komunikasi saja.


Padahal mereka tinggal di kota yang sama.


Begitupun dengan Natasya yang benar-benar tak muncul di hadapannya.


Apa dia tak ingin atau penasaran dengan cucunya ?


Nana bertanya dalam hati.


Nana yang tadinya berniat untuk menghampiri pun urung melakukannya.


Ia memilih tuk menganggu .


Malam menanjak larut.


Jarum jam menunjuk angka 10.


Dion yang kedapatan beberapa kali menguap, akhirnya Nana bawa ke kamar.


Setelah melakukan rutinitas rutin sebelum tidur. Keduanya lalu naik keranjang dan merebahkan diri.


Tak berselang lama, Bian menyusul masuk.


' buk ' Bian menjatuhkan tubuh besarnya disamping Dion.


Nana menatap suami yang sejak siang tadi sama sekali tak mau melihatnya.


Bahkan sampai sekarang pun Bian sama sekali tak terdengar bersuara.


Bian mengacuhkannya dan itu membuatnya hatinya berdenyut nyeri.


Dan sekarang Bian memilih berbaring di samping Dion. Padahal semenjak pulang, suaminya itu selalu tidur di sampingnya dengan menempelkan tubuh mereka hingga pagi.


Nana meremas bantal guling yang tengah Dion dekap. Membuat Dion yang merasakannya menjadi heran.


Ia perhatian wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


Dion memutar leher ke kanan. Didapatinya ekspresi Nana yang tak biasa.


Ia tak tau jika saat ini sang mama tengah meredam kesal.


Lalu ia beralih ke sisi kirinya, yang membuat Bian seketika mengukir senyum membalas tatapannya.


Dion bingung. Kenapa malam ini suasananya berbeda. Ia biasanya tak tidur di tengah-tengah kedua orang tuanya.


Lalu, sikap kedua orang tuanya juga tak seperti kemarin.


Mama yang selama ini jarang menatap sang papa, kenapa malam ini sejak tadi terus menatapnya.


Pun pada sikap papanya yang mendadak seperti mengacuhkan mamanya.


Dion yang nampak berpikir keras.


Ia penasaran. Apalagi saat mengingat kejadian tadi pagi.


Dimana ia mendengar suara ke dua orang tuanya yang bernada tinggi saling bersahutan .


Meski begitu tak jelas , namun Dion menduga jika yang terjadi bukanlah sesuatu yang baik.


Ia ingat pada hal yang pernah Siti jelaskan padanya ketika mereka tak sengaja melihat dua beradu mulut di taman sewaktu Siti mengajaknya bermain di taman yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal dulu.


Sepasang manusia yang bergantian membentak dan melontarkan kata-kata kasar dengan jari saling menunjuk lawan bicaranya, adalah hal yang tak baik dilakukan. Dan itu bisa melukai serta membuat orang yang bersangkutan maupun yang melihatnya akan merasa sedih .


Dion yang lugu, merasa bahwa seperti itulah yang ia rasakan saat ini.


Rasa tak suka mendengar suara keras kedua orang tuanya tadi pagi, ditambah lagi sikap acuh Bian terhadap Nana . Hal tersebut membuatnya merasa sedih.


Ia tak suka dengan suasana ini.


'' mama ''


'' ya, apa sayang ? '' Nana bersuara begitu lembut dan menatap sang anak yang melihatnya dengan sorot mata sendu.


'' papa ''


'' eng ? Kenapa Dion '' Bian tersentak kecil karena Dion beralih menatapnya dengan sorot mata yang sama.


Dion diam.


Entah tak bisa atau tak berniat meneruskannya.


Membuat dua orang yang menghimpitnya jadi bertanya-tanya.


Dion menggeleng,lalu mengatakan dengan suara pelan bahwa ia mengantuk dan ingin tidur.


Dion sebenarnya bingung harus bagaimana merangkai kata untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya. Dan hal tersebut membuatnya kesulitan membuka mulut untuk bicara pada kedua orang tuanya.


Dion yang hanyut dalam pikirannya, lambat laun matanya sayup-sayup mulai tertutup.


Dion pun tertidur.


Setelah memastikan jika putranya telah terlelap, Bian tiba-tiba saja beranjak.


Nana pun memperhatikannya.


Sempat ia merasa senang sebab mengira jika Bian mungkin akan berpindah ke sisinya.


Namun itu hanya angan saja.


Karena ternyata Bian berjalan menjauh dari tempat tidur ,menuju sofa yang ia beli tadi siang.


Bian duduk selonjoran dan mulai memainkan ponselnya.


" dia jelas sedang menghindariku ...


Lalu bagaimana aku bisa membujuknya ?


em.... haruskah aku menggodanya? "


Nana memancing matanya, menatap sang suami dari kejauhan lekat-lekat .


Setelah membulatkan tekatnya, Nana bangun sambil menyibak selimut tebalnya dengan perlahan.Sebab tak ingin tidur anaknya terganggu.


Ia lirik Dion sesaat.


Merasa aman, iapun mulai menjulur kedua kakinya .


Namun baru saja kakinya akan menyentuh lantai, dilihatnya Bian berdiri lalu keluar kamar.


Nana pun seketika membeku, menatap tak percaya.


Sepertinya ia benar-benar sudah membuat seorang Bian kesal hingga kehabisan kesabaran dan mengacuhkannya.


🌺


Ayo, yang tau bagaimana cara membujuk suami yang sedang marah atau merajuk, silahkan berbagi pengalaman dengan Nana di kolom komentar , ya 😄

__ADS_1


__ADS_2