Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Suka sama seseorang...


__ADS_3

"Apapun yang tengah kau rasakan perihal perasaan, jangan pernah tanya atau berkompromi dengan logika mu. Karena perihal rasa hanya bisa sesuai jika kau sertakan hati nurani."


✨✨✨


Terkadang, suatu hal bisa saja datang dengan tiba-tiba, entah menemukanmu saat sedang baik-baiknya atau malah saat sedang terpuruk mu. Sama juga dengan rasa, kemarin mungkin sudah tak sama dengan hari ini. Bingung? tentu kau manusia. Ada baiknya kau coba menilik baik-baik mana yang wajar dan sewajarnya saja.


Kau bahkan tak menyadarinya, jika kau pun sedang merasakan hal yang sedikit beda, atau kau merasakannya tapi tidak paham apa yang sedang terjadi padamu.


Baik-baiklah, kebersamaan tidak sepenuhnya hanya perihal bersahabat, kadang ada perasaan yang sedikit egois. Karenanya, cobalah untuk sekedar memahami.


"Gue kenapa sih akhir-akhir ini?" gumam Jeno yang masih nyaman saat rebahan.


"Ini bukan gue banget sumpah, semenjak Sena di deketin sama senior itu, gue ke rasa ada yang sedikit beda sama apa yang terjadi. Apa kak Rey suka ya sama Sena!. Mungkin saja, bego banget sih gue!. Tapi kenapa gue malah suka sewot ya sama kedekatan mereka?.


Oh, mungkin karena sebelumnya, cuma gue yang agak dekat sama Sena makanya gue ngerasa beda kali. Setau gue kan, Sena emang jarang banget dekat sama cowok lain selain gue yang sering ngajak berantem.


Ah!! sudahlah mending siap ke kampus aja," ucapnya lalu bangkit menuju kamar mandi.


Sementara' di tempat lain....


"Selamat pagi dek!" Rey sudah berdiri di depan pintu rumah Sena sambil tersenyum.


"Pagi juga, lho kakak ngapain pagi-pagi udah ke sini?" tanya Sena yang masih menatap heran dengan seniornya.


"Jemput kamulah, kan mau ngampus!. Kuliah pagi kan?" jawab Rey.


"Iya sih. Tapi gak harus di jemput juga kali kak," jawab Sena santai.


"Gapapa, kakak malas ke kampus sendiri jadi kesinilah biar barengan," ucap Rey santai sambil menengok ke kiri dan ke kanan.


"Kakak kenapa?" tanya Sena.


"Kakak gak di suruh masuk nih?" tanya Rey.


"Oh, iya masuk kak!" jawab Sena kikuk.


"Udah siap kamu?" tanya Rey.


"Udah kak. tinggal sarapan," jawab Sena.


"Ya udah sarapan gih, kakak tungguin!" ucap Rey senyum sambil mengacak rambut Sena


"Nanti rambut aku berantakan kak!" kesal Sena.


"Sini kakak rapiin kembali!" ucap Rey sambil mendekat dan merapikan kembali tatanan rambut gadis itu.


Sena yang di buat seperti itu, hanya diam membiarkan Rey merapikan rambutnya. Fokusnya saat ini hanyalah melihat wajah Rey yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Udah!" ujar Rey sambil tersenyum manis.


Namun tidak ada jawaban dari gadis yang di depannya sekarang, selain berdiri dan terus menatap wajahnya.


"Kenapa dek, kakak terlihat ganteng ya?" ucap Rey gemas melihat Sena yang mungkin sudah tersadar dari lamunannya sambil berjalan meninggalkan Rey menuju ruang makan.


Melihat gadisnya malah membuat Rey makin berulah. Eh salah, belum gadisnya ya.Ia pun berjalan mengikuti langkah Sena dan duduk tepat di depannya sambil melihat sudah ada sarapan yang tersedia untuknya dan untuk Rey juga.

__ADS_1


"Dek! Kenapa sih?" panggil Rey sengaja mengejek.


"Kakak udah sarapan belum?" tanya Sena mengalihkan pembicaraan.


"Kakan gak biasa sarapan kok, kamu makan aja biar kakak temani," jawab Rey tersenyum sambil terus melihat wajah Sena yang sedikit memerah.


"Ya, gak bisa dong kak, masa gue makan sendiri," ujar Sena tak enak.


"Gapapa, kakak gak bisa makan kalo pagi," ucap Rey serius.


"Ya udah, tapi kakak minum ya, biar ku suruh bibi buatin minum," ucap Sena.


"Ya udah deh, kakak minum aja," jawab Rey karena tak enak menolak ajakannya.


"Tunggu ya, " Ucap Sena sambil berlalu mengambil minuman yang sudah di buatkan oleh bibinya.


"Kamu kuliah jam berapa?" tanya Rey


"Jam 9 kak, nih di minum," jawab Sena sambil menyodorkan cokelat hangat ke arah Rey.


Mereka yang tengah menikmati sarapan pagi lebih tepatnya Sena sendiri sih yang makan. Dengan suasana yang cukup hening, Rey terus memperhatikan gadis tersebut ketika menikmati makanannya sambil sesekali tersenyum tanpa sepengetahuan Sena.


"Hmm, kak!" ucap Sena memecah keheningan.


"Kenapa?" jawab Rey yang masih setia menatapnya dari tadi.


"Kakak kenapa gak suka sarapan?" tanya Sena pelan.


"Kakak terbiasa karena dari kecil emang gak biasa sarapan," jawab Rey santai.


"Waktu kecil, bukan gak suka sarapan sih tapi lebih tepatnya gak ada yang buatin sarapan," jawab Rey tenang.


"Memangnya ibu kak Rey gak bisa masak ya?" tanya Sena penasaran.


"Hmm,, waktu kakak masih kecil, mama emang udah gak ada. Dia meninggal waktu kakak masih bayi," jawab Rey sambil tersenyum.


"Maaf kak. See gak tahu!"ucap Sena merasa bersalah.


"Gapapa. kakak udah seperti biasa aja, santai," ucap Rey sambil mengelus lembut kepala Sena.


"Jangan terlalu berlarut dalam kehilangan, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Hidup juga gak melulu soal senang dan bahagia, ada kalanya kita perlu merasakan bagaimana rasanya jatuh, kehilangan bahkan di saat terpuruk sekalipun. Intinya, setelahnya kita bisa hidup lebih baik walaupun mungkin sudah tak seutuh kemarin. Kakak udah rasain apa yang kamu rasakan kemarin, hari ini dan mungkin besok. Tapi buktinya lihat sekarang kakak baik-baik saja kan?" ucap Rey tulus karena betul-betul memahami keadaan gadis yang di depannya sekarang.


"Makasih kak. Gue emang lagi sedang berusaha untuk kembali baik," jawab Sena tersenyum.


"Udah kan? Yuk berangkat!" ajak Rey sambil menarik lembut tangan Sena lembut.


Ia hanya mengikuti langkah seniornya tanpa banyak bicara, karena masih terngiang apa yang sudah ia dengar barusan.


Di perjalanan....


"Dek!" panggil Rey.


"Hmm...." Sena.


"Kakak boleh gak cerita sedikit," tanya Rey.

__ADS_1


"Hah!!! bo-boleh kak," jawab Sena gagap.


"Kakak bingung mau cerita ke siapa sih sebenarnya, " ucap Rey sambil fokus ke jalanan.


"Cerita aja kak, mungkin bisa membuat kakak merasa lega," Sena.


"Tapi gapapa kan?" tanya Rey memastikan takut ia keberatan.


"Kalau kakak merasa ragu, gak usah cerita kak. Kasian nanti jadi canggung kan!" ucap Sena santai.


"Sebenarnya... kakak lagi suka sama seseorang!" ucapnya pelan.


"Hmm?" Sena menoleh ke arah Rey tak percaya.


"Ia. Kakak lagi suka sama seseorang tapi orang itu gak tahu," Rey.


"Kenapa gak terus terang aja kak, biar orang itu tahu perasaan kakak!" Sena.


"Kakak gak berani nyatain perasaan karena kakak masih ragu sama perasaan kakak!" Rey.


"Lho kenapa? bukannya kakak udah suka?" tanya Sena.


"Ya suka sih ia, tapi kakak ragu kalau itu hanya sebatas suka bukan cinta," Rey.


"Ya udah kakak pastikan dulu perasaan kakak," jawab Sena serius sambil menatap lurus ke jalanan.


"Iya kali ya?" jawab Rey sambil menatap serius wajah gadis yang di sampingnya kali ini karena bertepatan lampu merah.


"Ya, gitu. Takutnya kan kakak cuma sebatas suka bukan cinta kan kasian," jawab Sena


"Tapi, gimana kalau kakak udah benaran cinta dan sayang sama dia?" tanya Rey memastikan.


"Ya, menurut gue sih nyatain aja perasaan kakak. gak ada salahnya kan!" jawab Sena pasti.


"Gimana kalau ternyata kakak udah cinta dan sayang tapi dianya gak suka sama kakak?" tanya Rey lagi.


"Ya resiko, yang namanya mencintai kan gak harus selamanya dicintai pula, karena terkadang kan gak ada yang tahu tentang perasaan. Cinta juga gak bisa di paksa kak! " ucap Sena serius.


"Terus gimana, kalau kakak cuma sayang sama dia doang gak ada yang lain?" tanya Rey serius.


"Ya tetap gak bisa. Kalau dianya gak suka gak bisa di paksain," Jawab Sena.


"See,," panggil Rey pelan.


"Hmm??" Sena menoleh ke arah Rey.


"Gimana perasaan kamu, seandainya orang itu adalah kamu?" tanya Rey menatap pasti mata Sena.


Beberapa menit kemudian....


"Y-ya gak tahu lah! kan bukan aku!. Udah lampu hijau kak!" jawab Sena asal dan kembali melihat jalanan.


"Oh, iya. Santai ajalah kakak cuma cerita doang," ucap Rey sambil mengelus rambut Sena karena merasa sepertinya suasana semakin canggung.


Begitulah, tidak akan ada yang bisa memahami perasaan dengan baik jika mereka tak mengalaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2