
✨✨✨
“Semua yang baik akan lebih dulu menghilang. Tidak pernah ada pengecualian. Pada akhirnya tidak ada apapun yang bisa di lakukan untuk membuat mereka tetap ada dan bertahan. Dan setelahnya kau akan mengerti mengapa itu terjadi atas mu”.
•
•
•
Tidak ada yang bisa menebak skenario hidup yang tengah menunggu di depan. Terkadang ada banyak hal terjadi begitu saja dalam hidup, entah kita akan mampu kuat dalam menerima dan bertahan ataupun kita kembali terjatuh seperti hari-hari sesudahnya.
Begitulah hidup, belakangan ini aku mengalami banyak hal yang cukup menggangguku, tapi bagaimana aku bisa menghindar? Bukankah hidup kita harus terus berjalan tanpa kembali mundur?.
Kejadian kemarin, hari ini dan mungkin esok tidak akan berhenti berdatangan dalam hidupku. Apa yang ku alami kemarin itu tidak terjadi secara kebetulan, banyak hal terjadi bagai pertanda itu memang akan terjadi. Baik Kak Rey maupun Jeno aku tidak menyalahkan mereka. Mereka begitu baik untuk setiap sisi hidupku dengan beda versi, bagaimana mungkin aku bisa menebak bahwa semua akan terjadi tanpa ku sadari.
Aku terlalu larut dalam hidup, ketika beberapa orang berusaha untuk memahami ku dan beberapa diantaranya bahkan menyayangiku. Tanpa ku sadari semua yang kudapat ternyata cukup menimbulkan luka bagi beberapa dari mereka yang merasa putus harapan atas kehadiranku disisi hidup orang-orang yang mereka sayangi.
Hahhh, bagaimana aku bisa menyalahkan hidup. Kalau kenyataanya begitulah norma bersosial dalam lingkungan. Ada beberapa dari mereka yang memang tidak suka pada kita tapi mereka tetap memantau bagaimana lika dan liku hidup kita karena itu juga merupakan bagian dari hidup bersosial.
Aku cuma berharap lebih, bahwa besok akau akan kembali baik dan pulih dari keadaan sebelumnya.
Seminggu yang terlewat benar-benar membuatku kurang baik.
“Wahh, ternyata cukup melelahkan juga!” ucap Sena ketika ia meneruskan langkahnya menuju parkiran kampus.
“Bagaimana harimu? ” tanya Jeno yang sudah berdiri di sampingku.
“Cukup baik!” jawabku singkat.
“Ku harap kamu selalu baik-baik saja!” ucap Jeno sambil menatapku penuh khawatir.
“Yeaahh !” jawabku sedikit melegakan diri.
“Bagaimana dengan rutinitas mu?” tanya Jeno lagi.
“Berjalan seperti biasanya,” jawabku dengan sedikit senyum.
“Maaf !” ucap Jeno menunduk.
“Hmm... lo gak salah dalam hal ini!” jawab ku pelan.
“Kamu marah?” tanya Jeno menatapku hangat.
“Tidak!” ucapku disertai gelengan.
“Maaf. Aku gak tahu kalau akhirnya bakal kek gini!” ujar Jeno pelan. Karena ia sudah tahu apa yang dialami oleh sena terkait kedekatan mereka. Ternyata ada beberapa yang tidak suka akan hal itu.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Tapi, aku harus bagaimana?” tanyaku sambil menatap Jeno penuh harap.
“Jika kamu ingin marah, luapkan saja. Aku siap mendengarnya! Namun satu hal lo harus tau See, lo gak sendiri. Kalau boleh lebih jujur lagi dari sebelumnya,” ucap Jeno tulus.
“Tak apa !. Aku cukup paham keadaanmu. Kedepannya aku akan lebih terbuka lagi,” jawabku.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Jeno berhati-hati dalam berucap.
“Banyak. Tapi, sudahlah!” jawabku dengan mengembuskan napas secara halus.
“Baiklah. Aku harap kamu bisa lebih terbuka padaku! Kita udah kenal begitu lama See! Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Percaya sama aku!” ujar Jeno melemah.
“Hmm... Makasih Jeno udah tetap ada buat gue,” ucapku.
“Santai aja, lo jangan kek gini, gue kan jadi canggung sekarang!” ucap Jeno dengan cengiran khasnya.
“Jeno!!” panggilku pelan.
“Hm?” Jeno menoleh kearah ku.
__ADS_1
“Gue cukup lelah akhir-akhir ini. Ingin rasanya aku terlepas dari banyak hal, aku bahkan menangis setiap aku memikirkannya!” ucapku sedikit terbuka.
“Gue harap lo tetap seperti ini, tetap baik-baik saja seperti gue lihat lo sekarang,” ujar Jeno.
“Entahlah. Semoga saja gue bisa melewatinya dengan baik,” ucapku kembali melangkah dari tembok sandaran saat kami berbincang tadi.
“Gue tahu lo kuat. Lo hanya perlu istirahat saja. Gue bakal cari tahu siapa sebenarnya inti dari ini semua!” ucap Jeno ketika aku hendak masuk ke mobil untuk kembali pulang.
"Baiklah, sampai bertemu lagi!" ucapku mengakhiri perbincangan itu.
.
.
Semuanya berjalan seperti biasanya. Namun, ada satu hal yang sepertinya terasa kurang dalam hari-hari yang ku lewati.
"Ya, kak Rey tidak pernah muncul setelah kejadian itu. Apa yang sedang terjadi padanya?" gumam ku pelan sambil menikmati cokelat hangat di ruang keluarga.
"Apa dia sedang sakit?"
"Ah, entahlah mungkin ia banyak urusan apalagi dia semester akhir tentunya akan banyak kesibukan!" ucapku pada akhirnya.
Tok, tok, tok!
"Siapa sih?" Aku berjalan menuju pintu utama.
Clekk
"Ivan.... Astaga gue kangen banget!" Teriakku yang sudah meraih tangan junior ku itu lalu menariknya kuat untuk masuk kedalam rumah.
"Heheh- ku kira kakak udah lupa sama manusia terganteng ini!" balas Ivan tertawa ringan.
"Lo kemana aja sih?" tanyaku yang sudah duduk dengan nyaman di pinggir sofa.
"Gak kemana-mana hanya lagi sibuk sama kuliah aja!" Jawab Ivan yang sudah menarik beberapa cemilan di atas meja.
"Kakak seminggu ini perhatikan gue terus ya, kok tahu kalo gue ga masuk kampus!" tanya Ivan heran.
"Ya gimana gue ga tahu abisnya Lo ga pernah tuh main kesini selama seminggu terakhir! Lo kemana aja?" tanyaku penuh selidik.
"Itu, gue ada urusan keluarga yang ga bisa gue tinggal. Orang tua gue mengharuskan gue untuk ikut!" jawab Ivan dengan pandangan ke arah televisi.
"Oh,,, berarti lo izin ga masuk kampus dong beberapa hari ini?" tanyaku lagi.
"Hm, eh kak! Kakak udah tahu berita terbaru dari jurusan?" tanya Ivan antusias.
"Berita apaan? Berita perusahaan bisnis ternama yang lagi panas-panas?" tanyaku.
"Buka elah, gue aja yang ga masuk kampus update tuh. Jangan-jangan kakak ga sefamous yang gue kira ya!" ucap Ivan mengejek.
"Sekali lagi lo mojokin gue. Gue jamin lo balik tinggal nama!" ancam ku padanya dengan tatapan tajam.
"Gak. Becanda elah. Tapi serius, ini tentang kak Rey tau!" ucap Ivan santai.
"Tunggu. Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"Menurut yang gue denger ya. Dia ga pernah muncul di kampus, terus dosen-dosennya juga pada nyariin dia. Gak tau sih, pokok persoalannya apa. Yang jelas dia udah di anggap keluar dari kampus. Teman-temannya juga pada ga tau semua. Dia kek menghilang gitu aja tanpa jejak. Dan itu membuat banyak orang bingung!" ujar Ivan panjang lebar.
"Menghilang gimana maksud Lo?" tanyaku heran.
"Pokoknya menghilang ya, udah gitu aja! Emang kakak ga di kasih kabar apa gitu sama kak Rey? Secara kakak kan cukup dekat dengan kak Rey" ucap Ivan.
"Kakak malahan ga pernah ketemu dia lagi setelah kejadian itu. Sampai hari ini pun aku ga di kasih kabar apapun. Dan sekarang kakak juga baru tau dari lo kalo dia menghilang!" jawabku pasti.
"Ya udah biarin aja. Toh, kita juga ga tau gimana orang-orang hidup dengan caranya masing-masing kan? Selagi itu masih wajar dan ga mengusik ya udah biarin semestinya aja. Lebih baik kakak temani gue main game sekarang, kita udah lama ga tanding ya!" ucap Ivan yang sudah bangkit dan meraih tanganku untuk duduk di lantai tempat kami biasanya bermain game.
Kami pun tertawa ria sambil sesekali menyeruput cokelat hangat didamping ku seraya berpikir sejenak kemana kak Rey bepergian dalam waktu yang cukup lama itu.
__ADS_1
Tapi, melihat dan mengingat sejauh yang ku tahu tentangnya, ia selalu memberiku kabar jika tak punya waktu untuk menemui ku. Bukan merasa menjadi orang terpenting sih, tapi sejauh ini kami cukup dekat sebagai teman dan nyatanya dia bahkan selalu ada untuk ku.
Tapi entahlah, mungkin dia punya suatu urusan yang gak bisa ditinggal dan sedang dalam kesibukkan yang tak bisa dihiraukan sampai dia tidak ga sempat untuk memberi kabar.
***
Di kampus...
"Haii, pagi benar lo datangnya?" sapa Selly yang sudah berjalan di sampingku.
"Lagi rajin aja gue. Lo sekarang udah jarang ya main ke rumah. Gue kesel ya!" ucapku merajuk.
"Maaf deh. Gue akhir-akhir ini benar-benar jadi anak rumahan serius sejak diceramahi karena pulang pagi minggu lalu!" ucap Selly memajukan bibirnya.
"Gimana ceritanya lo bisa pulang pagi? Emang lo pergi kemana?" tanyaku dengan kekehan karena tidak percaya apa yang ia ucapkan barusan.
"Gue di ajak main ke puncak bareng sepupu gue. Tapi di perjalanan pulang kitanya dapat musibah. Ah, sudahlah gue malas buat ingat cerita itu!" ucap Selly frustasi.
"Kebiasaan Lo!" ucapku yang sudah mendahului langkahnya.
Dalam perjalanan menuju ruang kuliah...
"Haii!" sapa Senior yang sudah berdiri di depan kami.
"Halo kak!" Jawabku.
"Lo Sena kan, yang waktu itu sempat datang bareng Rey di kantin atas?" tanya senior tersebut.
"Iya kak. Kenapa ya?" Tanyaku santai.
"Oh, kenalin gue Bagas temannya Rey ingat ga?" tanya Bagas meyakinkan.
"Ingat kak!" Jawabku tersenyum.
"Bisa minta waktunya sebentar dek, ga lagi buru-buru kan?" Tanya Bagas yang datang ditemani cowok disebelahnya yang sepertinya juga adalah teman kak Rey.
"Bisa kak. Belum jam juga!" Jawabku.
"Kita ngobrolnya di kantin ajalah biar nyaman gimana?" Tanya Bagas.
"Boleh kak, ayok! Takut terlambat juga nanti!" Ucapku yang sudah berjalan menuju kantin dengan Selly yang sudah ke ruang kuliah duluan karena belum selesai mengerjakan tugasnya.
Di kantin...
"Mau pesan apa dek?" Tanya Bagas ramah.
"Ah, ga usah kak. Langsung aja, dikit lagi mau kuliah soalnya!" Jawabku ramah.
"Oke deh. Jadi gini, kita tuh kesini buat nanya soal Rey. Lo tau ga dia kemana selama ini?" ucap Bagas to the point.
"Kalau itu sih gue kurang tahu kak. Gue aja baru dengar dari adek tingkat kemarin ngomong kalau kak Rey lagi dicariin gitu. Terakhir kali gue ketemu kak Rey pun waktu gue di rumah sakit waktu itu. Setelahnya, gue ga pernah ketemu lagi tuh!" Ucapku yakin.
"Yaaa. Kita kira lo tahu dimana dia. Dia tiba-tiba hilang kabar gitu aja sih, gak satu pun dari kita yang tahu dia kemana!." Ucap Teman Bagas yang di sampingnya.
"Gini ya kak akhir-akhir ini emang gue sama kak Rey cukup dekat karena juga tetanggaan gitu. Tapi untuk hal ini gue benar-benar ga tahu. Bahkan kak Rey juga ga pernah tuh hubungi gue setelah kejadian itu, yang kakak sendiri juga tahu kan waktu itu!" Ucapku mengingatkan kejadian beberapa minggu lalu.
"Ia. Gini aja dek, nanti seandainya Rey hubungi lo setelah ini, jangan lupa beritahu kita juga ya!" ucap Bagas final.
"Oke siap kak!" jawabku pasti.
"Ya udah kita balik ya. Lo juga mau kuliah kan! Makasih dek buat waktunya!" ucap Bagas yang sudah bangkit dan pergi bersama temannya.
"Kak Rey kemana ya? Kok gue ga sadar juga kalau akhir-akhir ini emang dia ga pernah datang dan hubungi gue lagi!
Dimana dan bagaimana pun lo, semoga lo tetap baik-baik aja kak! Gue sadar semua yang udah terjadi tidak sepenuhnya karena lo semata.
Dan gue juga paham betul bahwa ga semua orang suka sama apa yang kita miliki, yang kita gapai dan bahkan mungkin beberapa orang di samping kita juga banyak yang ga setuju untuk mereka ada buat kita.
__ADS_1
Gue harap lo hanya mungkin sibuk dengan beberapa urusan saja, gue ga yakin kalau lo menghilang karena sesuatu yang buruk terjadi. Karena gue tahu betul lo ga mungkin ada di fase seperti itu!" batin Sena seraya melangkah pergi menuju tujuannya.