Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Kotak Misterius


__ADS_3

✨✨✨


Lima hari kemudian....


"Dan yang paling sakit tentang rasa adalah dimana kamu bertekad kuat untuk tetap ada dan bertahan walaupun nyatanya salah satunya sudah remang dan bahkan hampir padam."


Tapi, kita harus bagaimana? Nyatanya terkadang perihal rasa memang harus sedikit egois. Bukan mengharapkan untuk kita menjadi satu-satunya, tapi dalam hidup setidaknya kita tidak patah perihal berjuang.


Soal rasa yang gue miliki. Itu akan akan persoalan tersendiri buat gue. Gue ga pernah menyalahkan kehadiran siapapun dalam saingan rasa.


Toh, nyatanya jika kita memang sudah terlalu jatuh sedikit mimpi untuk bisa meraihnya kembali tidak pernah ada aturan yang menghukum tentang itu.


*Buat lo, yang masih menjadi ratu dengan rasa yang sama dalam hati gue. Lo ga salah jika harus bertindak dan mampu menyakiti beberapa pihak. Karena ga ada satu orang pun yang mau tersakiti dengan pilihannya sendiri.


Gue hargai semua pendirian yang masih kokoh terbentang dalam diri lo.


Begitu pun gue, yang tetap gigih berdiri dan bertahan dengan rasa yang sama*.


"Gue sayang sama lo! Bahkan sampai detik ini pun masih sama tentang lo!" ucapnya tanpa sadar dari lamunannya yang mampu membawanya kembali ke kenyataan.


"Kenapa lo?" Tanya Bayu tiba-tiba heran mendengar ucapan sahabatnya.


"Entahlah. Gue udah gila kayaknya!" jawab Jeno melemah.


"Lo sesayang itu sama dia?" tanya Bayu lagi.


"Lo sendiri tahu bagaimana gue dan keadaan gue sekarang," ucap Jeno pasrah.


"Ya udah. Jangan menyerah tentang dia!" Ucap Bayu pasti.


"Lo pernah ga jatuh cinta?" tanya Jeno melirik ke arah sahabatnya.


"Pernah!" jawab Bayu dengan pandangan lurus.


"Gimana rasanya jadi lo waktu itu?" tanya Jeno penuh harap.


"Rasanya, bercampur jadi satu. Bahagia, Takut, dan juga ada beberapa yang kalau lo jadi tim penilai saat itu akan memasukkan beberapa hal yang mungkin menurut pikiran waras kita itu terkesan gila. Makanya, setelah gue lewati itu. Gue dapat pelajaran berharga dari hal tersebut," ucap Bayu serius.


"Contohnya?" tanya Jeno serius.


"Untuk masalah hati jangan pakai logika untuk berpikir karena ga akan pernah ada titik temunya. Kita cukup pakai hati untuk menghadapinya!" jawab Bayu pasti.


"Lo benar. Gue sering kali berpro kontra antara hati dan pikiran perihal rasa dan sampai hari ini gue baru menyadari hal itu!" ucap Jeno dengan tersenyum hangat.


"Baik-baiklah dalam bertindak jangan sampai salah pilihan. Karena gue ga mau liat lo menyesal nantinya. Sena orang baik, semua orang juga tahu itu. Hanya mungkin mereka yang memakai topeng dalam menyakitinya saat ini yang ga tahu seberapa baiknya dia buat orang-orang disekitar.


Mereka juga yang membencinya ga salah dalam hal itu.


Karena begitulah hidup. Semua yang lo lakuin ga semua baik di mata orang-orang!" ucap Bayu pasti tanpa memandang Jeno sedikit pun.


"Ya gue paham. Karena beberapa orang, walaupun ga suka akan keberadaan kita tapi mereka akan menjadi pamantau setia untuk melihat beberapa kekeliruan dalam tingkah dan laku kita!" ucap Jeno yang sudah bangkit mengambil jaketnya menuju tempat di mana motornya berada.


"Balik lo?" tanya Bayu karena dari tadi mereka sudah terlalu larut dalam perbincangan di rumah Bayu.


"Balik gue. Noh, nyokap lo manggilin lo dari tadi!" seru Jeno yang sudah duduk nyaman di atas motornya.


"Ia denger gue elah. Lo mau kemana sekarang?" tanya Bayu lagi.


"Menjemput masa depan!" Ucap Jeno yang sudah menuju gerbang rumah Bayu.


.


.


.


"Halo" setelah deringan ketiga orang yang dihubungi pun bersuara di seberang sana.


"Lo dimana?" Jeno.


"Lagi di luar. Kenapa?"


"Sharlok!" Jeno.


"Ngapain? Mau ke sini?"


"Ga. Mau ke Madagaskar. Ialah kesitu, buat jemput Lo!" Jeno.


"Saraf lo? Perasaan gue ke sini datangnya sendiri deh dan bakal balik sendiri juga!"


"Hampir gila malahan!" Jeno tersenyum.


"Udah deh, mau ngopi gue ini!"


"Ya udah, buruan sharlok makanya!" Jeno kesal.


"Jangan kesini! Malas gue ketemu lo!"


"Gue-" ucapan Jeno menggantung.


"Tuh kan udah ga waras ini anak!"


"Cepatan kirim! Kalo ga gue cium nih!" Jeno terkekeh.


"Mau mati lo!"


"Mati bukanlah apa-apa!" Jeno pasti.


"Ga takut lo?"


"Karena yang menakutkan bagi gue adalah hidup sepenuhnya tanpa keberadaan lo!" Jeno serius.


"Perasaan lo semakin kacau dan ga jelas Jeno!" Teriaknya di sana.


"Tapi bukankah perasaan akan menjadi semakin jelas seiring berjalannya waktu?" tanya Jeno serius.


"Seperti apa?"


"Kerinduan!" Ucap Jeno.


"Maksudnya?"


"Gue rindu sama lo!" ucap Jeno kemudian dengan tanpa sadar leleh bening di pipinya terjatuh.


"Ga asyik lo!"


"Lo di mana sih, See?" Ucap Jeno dengan suaranya yang terdengar berat karena merasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Jeno lo kenapa? Lo gapapa? Ya udah buruan ke sini. Gue sharlok nih," ucapnya mengakhiri panggilan tersebut.


"Gue kenapa sih!!" Ucap Jeno frustasi.


Semenjak apa yang telah di alami Sena Minggu kemarin mampu membuatnya terpukul dan di penuhi dengan kekhawatiran terhadap keberadaan Sena.


Setelah tahu hal yang di alami gadisnya itu, eh belum gadisnya ya. Ia bukannya menjauh untuk membuat Sena tetap aman tapi malah terus berusaha untuk melindunginya. Ia bahkan tidak menyadari perasaannya juga makin bertambah pada gadis tersebut.


Setelah mendapat chat dari orang yang ia tunggu. Ia pun melakukan motornya dengan cepat seraya mengingat kembali pesan dari nomor yang tidak ia kenal barusan masuk ke ponsel yang mengingatkan untuk menjauhi Sena sejauh mungkin. Namun, bukannya menjauhi ia semakin menggapai gadis itu agar lebih dekat kepadanya.


Salahkah ia bersikap demikian?


Ku pikir tidak ada seorang pun yang mampu kalah jika itu perihal cinta!. Begitupun Jeno.


Lalu bagaimana dengan Rey yang tak kalah gigih darinya?


Sudah jelas bukan. Bahwa ia tidak mempersalahkan keberadaannya di sini.


Ia lebih memilih bersaing dengan positif perihal rasa.


20 menit kemudian...


Terlihat seorang gadis tengah duduk di sudut kafe paling ujung dekat jalan yang dibatasi kaca. Ia juga di temani secangkir kopi dan beberapa cake dihadapannya.


Dari pintu depan ia bisa melihatnya dengan jelas, bahwa gadis tersebut tengah menikmati kesendiriannya entah dengan lamunan apa kali ini?


Bahkan saat ia melihat dan sudah hampir menggapainya pun ia masih saja dikelilingi rasa takut.


Takut kehilangannya, takut ia tidak menganggapnya ada atau bahkan takut ia mungkin tidak memilihnya dan juga beberapa ketakutan lainnya.


Namun, ditengah suasana tersebut. Ia masih menyelingi senyum seraya menghampirinya dengan langkah cepat sampai..


"See..," panggilannya lembut.


Dan orang yang di panggil pun menoleh seraya menatap heran lelaki tersebut. Dan entah dorongan dari mana ia bahkan sudah berdiri dengan masih terus menatapnya penuh tanya.


"Gue kangen sama lo!" Ucap Jeno yang sudah memeluk erat sasarannya saat ini.


"Lo kenapa?" tanya Sena menenangkan dalam pelukannya sambil menepuk bahu Jeno pelan.


"Gue takut lo pergi!" ucap Jeno ambigu.


"Gue gak kemana-mana!" ucap Sena sedikit kesal melihat tingkah Jeno saat ini. Ditambah lagi sebelumnya mereka memang kurang akur.


"Ia. Gue cuma becanda!" Jawab Jeno yang sudah melepas pelukannya cepat karena takut di tonjok oleh sang musuh.


"Anjing lo!!" Ucap Sena kesal.


"Guk, guk, guk!" Malah Jeno menirukan suara anjing sekarang.


"Babi!" teriak Sena makin kesal.


"Wek, Wek, Wek!" Jeno benar-benar sudah menguji kesabarannya.


"Jadi lo datang mau gangguin gue doang?" tanya Sena sinis.


"Ga lah. Mau balik kan? Ayok!" Ajak Jeno yang sudah meraih tangan Sena dan menarik keluar setelah membayar semua pesanan Sena barusan.


"Ada bagusnya juga lo jemput gue, sekalian bayarin ternyata hehe-" ucap Sena terkekeh.


Dan Jeno pun mengantarnya hingga sampai di gerbang rumahnya.


"Mau masuk dulu?" Tanya Sena.


"Lain kali aja. Lagi mau ke suatu tempat! Istirahat ya!" Ucap Jeno yang sudah melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Sena.


Di sepertinya akan menemui seseorang yang sudah melakukan tugasnya beberapa hari ini.


.


.


.


Sena yang sudah hampir sampai di pintu utama pun berjalan cepat agar bisa nyaman rebahan puas di istana ternyaman nya.


Setelah membersihkan diri, ia berniat akan melakukan rutinitas seperti biasanya yaitu mempercantik diri walaupun cuma sesekali sih.


Mencoba beberapa skincare yang di rekomendasikan oleh beberapa kenalannya. Dan jangan heran memang semua cewekkan hampir seperti ini bukan?


Mencoba beberapa prodak walaupun nyatanya gak seindah ekpektasi.


Dan ini ada salah satunya cara menghabiskan uang secara cepat dan tak terselamatkan.


Ditengah kesibukannya yang memakan waktu hampir satu jam tersebut ia pun di jeda oleh dering bel rumahnya yang sesekali di tekan oleh tamu tersebut.


"Siapa sih? Pasti Ivan tuh, kalo ga Selly!" Ucapnya yang sudah membuka masker wajahnya yang ditempel beberapa menit yang lalu.


Resiko juga ya ga punya pengerja dan teman satu pun di rumah. Jadi apa-apa harus sendiri.


Ting!


Bunyi pintu ketika sandinya di masukkan dan seketika terbuka dengan sendirinya.


"Sia-" ucapan Sena terpotong karena tidak melihat siapa-siapa di luar.


"Ivan!! Lo jangan jahilin gue ya!" teriak Sena mengarah ke samping rumah tetangganya.


Setelah beberapa menit yang di tunggu tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Ia pun berniat untuk menutup kembali pintu tersebut.


Namun, entah kenapa ia tak sengaja melihat sebuah kotak lagi di dekat kedua kakinya tempat ia berdiri sekarang.


Deg!


Perasaannya kembali tak terkontrol, ia kembali meremas ujung jarinya dan tak sadar ponsel yang disebelahnya pun ikut di remas.


Dengan segala keberanian ia perlahan mengangkat pelan kotak tersebut. Ia mencoba untuk tidak kembali pada kondisi seperti sebelumnya.


Dan ketika ia berhasil membukanya. Betapa ia kaget seketika


Di sana ia dapat melihat dengan jelas beberapa lembar fotonya dicetak dan di lumuri darah segar. Disertai kertas putih dengan tulisan "JAUHI REY DAN JENO!"


Setelahnya ia kembali menjatuhkan kotak berisi foto tersebut dan terus menjambaki rambutnya kuat.


Ia perlahan berjalan mundur ke dalam ruangan dan berakhir ia terjatuh di sudut sofa dengan tangan sebelahnya yang masih memegang ponselnya pun terjatuh.


Ia meringkuk dengan sangat miris kembali terngiang gambar ibunya yang berlumuran darah yang pernah dikirimkan untuknya saat itu.

__ADS_1


Ditengah kejadian yang dia alami tersebut ponselnya terus berdering menandakan ada yang menelponnya.


Dengan sekuat tenaga ia melawan kondisinya saat ini dengan perlahan menarik ponselnya yang sudah terjatuh di pojok meja itu. Akhirnya ia berhasil mengambilnya dan mengangkat telfon tersebut.


"Halo"


"Hmm," gumam Sena setelah tahu Jeno yang meneleponnya.


"Lo ngapain?"


"Jeno," panggilnya pelan.


"Lo gapapa?"


"Jeno sakitthh!!!" Ucapnya meringis pelan sambil membuka dadanya yang terasa sesak.


"See, Lo kenapa? Lo tenang ya, gue kesana sekarang! Jangan matiin sambungan telponnya!"


Setelahnya, ia kembali tak menguasai diri lagi. Ini benar-benar menyiksa!.


.


.


.


"See..," Panggil Jeno dengan suara keras ia cepat-cepat memasukkan sandi pintu rumah Sena karena ia sudah di beritahu oleh pemilik rumah dan dari dulu tidak pernah diganti oleh Sena.


Ketika ia berhasil masuk, dia seperti menendang sesuatu ketika ia menoleh ke lantai di sana ia melihat semuanya, kotak beserta isinya dengan darah yang sudah mengalir ke lantai. Tanpa mempedulikan itu ia berlari menuju dapur dan melewati keberadaan Sena di sudut sofa yang tengah duduk di lantai.


Setelah acara panik yang di alami Jeno akhirnya ia menemukan Sena tengah duduk dengan kedua tangannya yang terus menekan dadanya.


Sangat miris!


"See," ucap Jeno yang sudah memeluknya erat.


"Gapapa. Semuanya baik-baik saja! Tenang ya!" Ucapnya pelan dengan penuh kelembutan.


Setelah beberapa menit kemudian....


Jeno sudah mengangkat tubuh Sena dan mendudukkannya di sofa.


"Udah mendingan?" Tanya Jeno panik melihat Sena seperti kehabisan nafas ketika kembali meremas kuat tangannya.


"Rileks See, rileks!" Ucap Jeno makin panik.


"Sakitth banget Jen!!" Ucap Sena lirih.


"Ambil nafas pelan, lalu lepaskan!" Ucap Jeno menginterupsi.


"Akhhhh, Jeno!!" ucap Sena makin frustasi merasakan kesakitan.


"Sena! Tatap mata gue sekarang!


Lo liat gue sekarang!" Teriak Jeno kuat.


Sena perlahan mengangkat kepalanya dan berusaha menahan kesakitannya. Ia pun menatap manik mata Jeno sekarang.


"Masih sakit?" Tanya Jeno.


"Hmm,, sakitt banget Jeno!" Ucap Sena yang masih setia menatapnya.


"Bisa nafas?" Tanya Jeno pelan karena melihat Sena sudah hampir tak bernapas.


Namun, ia hanya menjawabnya dengan gelengan karena ia tengah berusaha menahan sakitnya seraya terus menarik nafas namun tak kunjung bisa.


Jeno yang melihat ini pun tak tahu harus bagaimana hingga pada akhirnya...


"See, percaya sama gue!


Please tatap mata gue sekarang dan setelahnya perlahan lo tutup mata dan berusaha untuk mengambil nafas-" ucap Jeno meyakinkan, Sena pun mengikuti arah Jeno dengan menatap kedua bola mata cowok di depannya dan perlahan ia menutup matanya dan bersamaan dengan itu jeno semakin menipis jarak antara mereka dengan Sena yang tubuhnya tengah ia papah. Semakin mendekat sampai kedua benda kenyal tersebut bertemu dalam satu titik.


Cup!


Lembut, hangat dan hanya menempel saja tanpa ada pergerakan.


Setelah merasa keadaan Sena semakin tenang, Jeno pun kembali menutup matanya dan dengan perlahan menggerakkan bibirnya. Ia ******* pelan bibir gadisnya sekarang tanpa ada balasan dari sang pemilik bibir tipis tersebut.


Seiringnya kegiatan mereka yang masih berlanjut. Keadaan Sena sudah membaik. Karena terbuai dengan ciuman tersebut Sena dengan ragu pun meremas kuat ujung baju Jeno.


Keduanya melupakan seketika kejadian yang terjadi barusan. Mereka tengah fokus pada kegiatan mereka sekarang. Dimana Jeno dengan sebelah tangannya menekan kuat tengkuk Sena untuk memperdalam ciumannya walaupun tak ada balasan dari lawannya.


Ini yang pertama untuk kedua orang tersebut. Mereka belum pernah melakukan ini sebelumnya tapi Jeno begitu percaya diri ternyata.


Sena yang kembali sadar pun memukul pelan dada Jeno. Dan akhirnya penyatuan itu terlepas karena Jeno memahami keadaan Sena saat ini.


"Maaf!" Ucap Jeno merasa bersalah setelah merasa kecanggungan antara mereka saat ini.


"Hmm," gumam Sena dengan mukanya yang sudah memerah karena malu.


"Rasa stroberi!" Ucap Jeno pelan sambil tersenyum.


"Apa sih!" Ucap Sena makin malu.


"Lo udah gapapa?" Tanya Jeno memecah suasana.


"Hm,!" Jawab Sena menunduk.


"Maafin gue!" Ucap Jeno kembali merasa bersalah karena melihat Sena sudah tak seperti biasanya.


"Ia" jawab Sena singkat.


"Lo marah juga gapapa, gue kelepasan bicara tadi!" Ucap Jeno lagi.


"Udah gapapa!" Jawab Sena.


"Sekali lagi maa-" ucapan Jeno terpotong.


"Dasar buaya Lo!" Ucapnya dan mereka pun akhirnya tertawa.


Pada akhirnya, mereka tetap kembali baik tanpa mempersalahkan apa yang sudah terjadi. Dan dari sini mereka bisa belajar bahwa sekeras apapun hujatan tak suka dari orang-orang, nyatanya mereka akan tetap ada dan menghadapi apa yang sedang menunggu di depan.


Karena, sekeras apapun kau berusaha untuk terlihat baik. Yang tidak suka akan tetap tidak suka dan begitu juga sebaliknya.


So, hiduplah dan terus melakukan apa yang mau kita lakukan!


_selasa, 27 July 2021

__ADS_1


__ADS_2