
🌺 hem... 🌺
Hayooo.. pikirannya uda kemana aja ....
Diusahakan up setiap hari. Tapi gak bisa lebih dari satu bab.
Maklum emak banyak anak.
Selamat membaca... 🤗
* * *
Beberapa saat sebelumnya .
Usai mengantarkan Dion pergi bersama Siti dan yang lainnya, Bian bergegas menarik Nana naik ke atas.
Senyum pria berusia 28 tahun itu merekah sempurna.
Akhirnya saat yang ia tunggu datang juga .
Dalam hati ia pun mengingatkan diri , jika mereka pulang nanti ia harus berterima kasih .
Bian menoleh sesaat kebelakang, melihat wanita yang ia gandeng.
Begitu kaki memasuki kamar, bahkan pintu pun belum ditutup, Bian yang sudah tak sabar langsung menyambar tubuh Nana . Ia dekap erat dan ia raup bibir sang istri.
Hasratnya yang selama beberapa hari tertahan memang sudah diujung batasnya.
Bian ******* rakus, membuat Nana kewalahan mengimbanginya. Lalu ia menarik diri, melepas ciumannya untuk memandangi wajah Nana sesaat.
Puas menikmati ekspresi Nana, Bian kembali merapatkan tubuhnya dan menghujani Nana dengan kecupan lagi. Ia seret bibirnya ke seluruh permukaan wajah Nana ,lalu secara perlahan turun ke leher.
Bibir Bian menyapu habis dan menarik salah satu sudut baju dan tersibaklah bahu pemiliknya.
Nafas mereka sudah memburu. Pertanda sama-sama sudah bernafsu .
Bian menarik diri untuk yang kedua kalinya dengan tujuan yang sama. Ia tatap lekat-lekat wajah Nana yang merona.
Bian menyunggingkan senyum kala jemarinya yang menyusup ke belakang di balik baju Nana berhasil membuka pengait branya.
Bian menarik kedua tangannya keluar dan beralih pada bagian bawah baju Nana. Ia bermaksud menariknya keatas untuk membukanya.
Namun Nana menahannya sambil menggeleng, membuat senyum Bian seketika luntur .
'' kita tidak bisa langsung seperti ini, Bi ''
Bian mengernyit, tak mengerti sekaligus bingung apa maksud ucapan Nana.
Hampir lima tahun dan telah berhari-hari ia menahan diri untuk bercumbu dengannya.
Namun Nana menolak.
Bian mundur dua langkah.
Wajah yang tadinya penuh gelora asmara perlahan menjadi datar. Ia tak habis pikir.
Rasanya ia sudah cukup bersabar menghadapi Nana.
Namun Nana seakan tak pernah ada habisnya menguji sampai dimana batas kesabarannya dalam menahan diri.
'' apa maksudmu kita tak bisa seperti ini ?
Kita ini suami istri, Nana.
Jadi wajar jika kita melakukannya karena memang sudah lama kita tak melakukannya,kan ? ''
'' ak-aku merasa tak nyaman , Bi '' ucap Nana terbata.
'' apa lagi yang membuatmu tak nyaman ? ''
'' ... '' Nana berpaling untuk menutupi ekspresi kebingungannya.
Bian menghela nafas. Mencoba memupuk sabarnya sebab mulai merasa kesal. Bain pun mengingat diri agar jangan sampai tersulut emosi. .
Tapi, ia sadar jika tak bisa terus menahan diri dan mengalah seperti ini.
'' katakan. Apa lagi yang salah, Nana ?
Apa masih ada hal lain yang kau inginkan ? ''
Nana bergeming. Membuat Bian mulai frustasi dan emosi mulai menguasai.
'' meski tak semuanya , tapi aku sudah berusaha merubah keadaan.
Oma sudah gak ada.
Dan mamiku pun tak muncul dihadapanmu ?!
Jadi dimana lagi letak kekurangannya ?!''
Bian tak sadar jika suaranya meninggi hinggap menggema keluar kamar, bahkan sampai terdengar dilantai utama rumah.
Nana berbalik. Tatapannya tajam pada Bian. Bukan karena meninggikan suara. Tapi karena Bian secara tak langsung mengatakan jika itu semua adalah keinginannya.
Nana jelas tak terima.
" kenapa kau bicara seolah-olah kalau semuanya adalah karena keinginanku ?
Kau pikir aku senang mendengar Omamu sudah meninggal ?
Dan juga mamimu .
Memangnya aku pernah memintamu melakukan itu ?! ''
'' kau benar. Kau memang tak pernah mengatakan apapun keinginanmu padaku.
Sama seperti kau pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa "
' deg ' Nana tercekat.
'' kau pun pasti menyadari jika kemarin, kita sudah salah dalam menjalani pernikahan kita.
Entah memang aku yang tak peka atau kau yang tak pernah benar-benar menganggap ku sebagai suami.
__ADS_1
Tapi satu hal yang pasti . Selama kita menjalani pernikahan kita tak pernah saling terbuka.
Jadi sekarang, mari kita mulai dengan saling mendengarkan dan katakan apa yang belum sempat kita beritahukan ''
'' ... ''
'' baik. Aku yang akan memulainya ''
Bian menarik nafas panjang dan untuk pertama kalinya ia mengungkapkannya pada Nana.
Perasaan yang sudah lama mendekam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Yang tak sempat ia nyatakan.
'' aku mencintaimu , Nana .
Aku mencintaimu dan itu sudah sejak lama.
Aku tak tau pasti kapan rasa itu dimulai.
Mungkin ketika kita masih remaja atau mungkin juga jauh sebelum itu.
Yang ku tau hanya , saat kita masih bocah dulu, aku sudah sangat menyukai mu .
Dan perasaan ku tak pernah berubah meski telah dua kali terpisah dari mu ''
Nana terenyuh. Akhirnya setelah sekian lama, pernyataan yang ia tunggu terlontar juga dari bibir prianya.
Diam beberapa saat dengan masih tetap di tempat mereka berdiri.
'' ak-aku juga mencintaimu, Bi. Aku juga mencintaimu sudah sejak lama ''
'' lalu apa lagi masalahnya ? ''
Nana menggeleng. Ia sendiri pun bingung harus bagaimana menjelaskan apa yang begitu mengganjal dihatinya hinggap membuatnya merasa begitu tak nyaman.
Bukankah dengan keadaan yang sekarang, ia seharusnya sudah bisa menjalani rumah tangga seperti yang selama ini ia harapkan, kan ?
Tapi kenapa hatinya merasa ada kurang. Ia seperti merasa ada yang salah dengan keadaan ini.
'' katakan apa yang membuatmu tak nyaman ?
Jelaskan padaku apa maksud mu mengatakan kita tak bisa langsung seperti ini ?
Katakan Nana. Jangan diam saja ?! ''
Nana menunduk. Ia benar-benar bingung. Ia tak tau harus berkata apa .
'' aku sudah menyadari kesalahanku.
Aku juga sudah meminta maaf.
Apa kah itu masih kurang memuaskan mu ? ''
Nana menegakkan kepala, menatap tak percaya jika itu yang ada dipikiran Bian selama ini tentangnya.
'' memuaskan ku ? Jadi kau pikir apa yang kulakukan dan kenapa aku pergi meninggalkan mu hanya untuk mencari kepuasan untuk diriku sendiri ?! '' kini gantian Nana yang meninggikan suaranya.
'' kalau begitu katakan padaku alasan kenapa kau memutuskan pergi ?
Kenapa kau harus sampai meninggalkan ku dan memisahkan ku dari anak kita ?
Tidakkah kau merasa kau sudah begitu tega terhadapku, Nana ? ''
'' apa kau benar-benar tak tau kenapa ? ''
'' ... ''
'' sepertinya kau memang tidak peka, Bian ''
Nana menatap dan tersenyum sinis.
'' sekarang aku yang akan balik bertanya padamu.
Apa kau tau kehidupan seperti apa yang sudah kujalani selama ini ?
Oh, aku lupa.
Kau pasti sudah tau dari Han.
Tapi kau tak melakukan apapun meski tau bagaimana sulitnya kehidupan ku selama empat tahun itu .
Kau hanya diam dan menunggu aku datang dengan sendirinya.
Sepertinya kau sangat percaya diri jika aku akan kembali padamu ''
'' bukankah kau yang bilang pada Han untuk tidak mengatakan apapun tentangmu padaku ?
Kau bahkan mengancam akan memutus komunikasi jika dia sampai memberitahu ku, kan ?
Aku dan Han tau betul bagaimana sifat mu, Nana.
Kau tak pernah main-main dengan ucapan mu ''
'' ... ''
'' katakanlah aku pergi menyusul mu kesana, disaat kau masih dikuasai emosi.
Apa kau mau jika kuajak pulang ?
Dengan keadaan masih ada Oma dan juga mamiku ?
Tidak. Kau pasti menolak.
Karena itu ku putuskan menunggu sampai waktunya kau memang ingin pulang ''
Bibir Nana tertutup begitu rapat . Perkataan Bian begitu mengena dan menyentil perasannya. Ia tak bisa menyangkalnya. Semua yang Bian katakan memang benar .
'' aku minta maaf.
Maaf karena aku sudah salah mengira kalau kau pulang untuk ku.
Dan untuk sikapku yang sudah lancang dan memaksakan kehendaku padamu.
Jika memang masih sulit menerimaku, aku tak akan memaksamu.
__ADS_1
Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan .
Sama seperti dulu, aku tak akan menghalangi mu dengan apa yang menurutmu terbaik yang harus kau lakukan "
" .. "
" aku lelah, Nana. Rasanya sudah cukup aku menunggumu dan aku benar-benar sudah lelah .
Aku sudah melakukan semua yang bisa ku lakukan. Tapi jika kau masih merasa itu tak cukup untuk menebus semua kesalahan ku padamu, maka aku pun tak berdaya.
Aku tak tau lagi harus apa ''
'' apa maksud mu ? ''
'' aku menyerah, Nana.
Kau bebas dengan prinsip mu.
Tapi ku mohon jangan bawa Dion pergi.
Jangan pisahkan lagi aku dengannya.
Selebihnya terserah padamu ''
'' Bian - ? '' Nana tercekat. Nafasnya seperti dipotong.
'' aku akan berhenti. Aku tak akan lagi melakukan apapun lagi untuk membuatmu mau kembali padaku .
Tapi jangan menyalahkan ku lagi.
Karena kali ini aku tak tau , apa aku masih bisa menunggu mu atau tidak.
Sabarku ada batasannya Nana ''
Gila. Ini gila. Kenapa jadi aku yang terpojok gini ?
Apa memang ini juga salah ku ?
Nana mencoba menahan isaknya ketika Bian melangkah pergi meninggalkannya .
- -
Sementara itu . Mereka yang yang mendengar samar kini tau. Jika suara kencang-kencang yang Bi Gani katakan tadi adalah perdebatan suami istri .
'' biarkan mereka '' ucap Han membuat semua mata seketika tertuju padanya.
'' ya, memang itulah yang mereka butuhkan. Bicara, berdebat atau bertengkar . Mereka harus mengeluarkan semua hal yang mereka pendam satu sama lain.
Hanya itu cara untuk masalah diantara mereka ''
Siti dan Cicilia saling melemparkan tatapan. Ucapan Han terdengar masuk akal mengingat mereka yang telah mengetahui bagaimana hubungan suami istri itu selama ini.
' tapi. tap. tap ' langkah cepat yang tengah menuruni tangga.
Melihat itu, sontak membuat bi Gani dan Susan bergegas pergi.
Mereka tak mau jika ketahuan tengah berkumpul dan ikut menguping tadi.
Sedangkan yang lainnya masih di tempat mereka berdiri sambil menatap Bian .
'' lho, bukannya tadi pergi ?'' Bian balas menatap dengan heran .
'' Dion merengek minta pulang. Dia mau mamanya diajak juga '' ucap Han menilik si kecil yang sejak tadi anteng dalam gendongannya.
'' sini sama papa '' Bian merentangkan tangan yang langsung disambut Dion.
' cup ' Bian mengecup pipi Dion yang kini sudah di gendongannya.
'' mama badannya lagi gak enak.
Jadi mama sekarang tidur lagi .
Dion jalan-jalannya sama papa aja, ya ? ''
Dion bergeming dengan bola mata tertarik ke atas.
Bian menatap secara bergantian pada Han, kakaknya dan Siti. Seolah bertanya bagaimana pendapat mereka.
Siti pun menawarkan diri untuk tinggal. Ia mengatakan jika Dion tak akan tenang jika tau sang mama sakit sementara mereka semua pergi meninggalkannya dirumah .
'' mak ikut aja. Selain sama mamanya, Dion kan dekat dan juga cuma mau nurutnya sama neneknya.
Jadi mak harus ada buat nemanin Dion.
Biar aku aja yang tinggal '' ucap Han yang akhirnya disetujui.
Sebelum pergi, Cecilia sempat melemparkan tatapan lekat pada Han. Han yang menyadari sorot mata itu memiliki makna lain dari biasanya hanya membalasnya dengan anggukan.
Rasa ada sesuatu yang terjalin tanpa perlu di katakan diantara mereka.
Setelah mengantar mereka semua sampai di depan pagar, Han berbalik masuk kedalam rumah .
Han terlihat berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan bu Gani.
'' bi ''
'' eh, den Han '' wanita paruh baya yang tengah berdiri didepan wastafel berbalik seraya meletakkan baskom yang menjadi tempat mencuci sayuran.
'' tolong naik ke atas nemuin nyonya mister , ya ?
Bilang saya tunggu di bangku taman depan ''
Han beranjak setelah bi Gani menyanggupi permintaannya.
Meski ragu, namun Bu Gani memberanikan diri naik ke lantai dua menuju kamar sang majikan.
Sementara Han kini sudah berada di taman dan duduk menunggu Nana .
Sekitar lima belas menit , yang ditunggu pun muncul dengan raut wajahnya yang kusut.
Han menggeleng , melihat Nana yang menghentakkan langkah dengan tatapan super tajam .
" dasar "
__ADS_1
Han dan Nana sama-sama mengumpat dalam hati.